Emily, Sang Gadis Bisu

Emily, Sang Gadis Bisu
Bertamu


__ADS_3

"Aku tak menyangka akan bertemu denganmu di sini." kata Jeremy menahan emosi karena Emily terkesan acuh tak acuh terhadapnya. Perkataannya membuat ajudannya meliriknya sekilas lalu kembali sedangkan Emily hanya kembali mengangguk. Setelah terdiam beberapa saat, akhirnya Jeremy menyerah untuk berharap Emily akan menanyakan kabarnya, jadi ia yang bertanya,


"Bagaimana kabarmu?"


'Aku baik-baik saja.' isyarat Emily menjawab dengan singkat.


Hening lagi. Ferry yang duduk di samping Emily sampai tidak berani mengunyah camilannya karena takut berisik.


"Lalu bagaimana kabar Bibi Liana? Mengapa kau tidak keluar bersamanya?" tanya Jeremy berpura-pura tidak tahu apa-apa.


Emily menatap Jeremy sesaat sebelum menghela nafas dan melambaikan tangannya.


'Bibi Liana sudah meninggal setahun yang lalu.'


"Apa kau sudah lama tinggal di sini?" tanya Jeremy lagi.


'Tiga tahun.' jawab Emily.


"Dan siapa anak ini?" tanya Jeremy sembari menunjuk Ferry. Ia ingat, anak ini adalah anak yang duduk di pundak Alvin saat itu.


'Dia anakku.' Emily sepertinya tak berniat menjelaskan tentang asal-usul Ferry. Jeremy pun hanya sekedar basa-basi, tak ingin tahu lebih lanjut mengenai Ferry.


Reno tidak habis pikir, ternyata presiden bisa seperti ini. Jika tadi orang lain yang berbicara, pasti presiden tidak akan mau mendengarkan hal yang sudah diketahuinya. Tapi pada wanita bisu di depannya ini, presiden terlihat sangat perhatian.


"Di mana kamu tinggal? Apa boleh aku bertamu ke rumahmu?" tanya Jeremy penuh harap.


Emily terdiam. Ia sebenarnya tidak ingin Jeremy datang ke rumahnya. Tapi mengingat statusnya sekarang, Emily tidak mungkin menolak seorang presiden di depan ajudannya. Akhirnya Emily mengangguk. Kemudian menghampiri Alvin yang berdiri tidak jauh dari mereka.


'Alvin, aku dan Ferry akan pulang dengan mereka. Kau tidak perlu mengantar kami.' isyarat Emily pada Alvin.


"Siapa mereka?" tanya Alvin penasaran.


'Mereka adalah temanku.' jawab Emily lewat isyaratnya.


Alvin memandang Jeremy dan Reno sambil menilai mereka. Meskipun Emily mengatakan bahwa mereka adalah temannya, Alvin tidak langsung percaya begitu saja. Ia khawatir kedua orang itu akan berbuat jahat pada Emily. Namun Emily menjelaskan padanya agar tidak perlu cemas dan menyuruhnya untuk pulang. Mau tidak mau, Alvin pun berjalan pulang sendirian.

__ADS_1


Sementara Ferry yang terus mengikuti Emily sejak tadi, tidak berani berkata apa pun ketika menyadari siapa orang yang mengaku sebagai teman Emily. Sebenarnya ia sudah menyadari sejak tadi Jeremy datang di antar ibu-ibu tadi. Ia sadar pria berkumis itu adalah Presiden yang di nantikan kedatangannya oleh seluruh warga desa. Tetapi bukan itu masalahnya. Yang di pikirannya adalah bagaimana bisa ibunya berteman dengan Bapak Presiden? Ia ingin sekali bertanya, namun merasa sungkan.


Jeremy merasa emosi saat Emily bercakap-cakap dengan Alvin. Pria muda itu bahkan berani memandanginya dengan tatapan tak bersahabat. Ketika Emily kembali menghampiri mereka, ia bertanya dengan kesal,


"Siapa dia? Apa dia temanmu?"


Emily merasa Jeremy seperti menginterogasinya, namun ia berpura-pura bersikap biasa.


'Ya, dia temanku.' jawabnya.


*****


Emily menyajikan teh untuk Jeremy dan ajudannya, sedangkan Ferry diam-diam mengintip dari balik pintu. Emily tidak mengijinkan mereka untuk masuk ke dalam rumahnya, jadilah mereka duduk di kursi yang ada di teras rumahnya.


"Toko bunga milik siapa itu?" tanya Jeremy membuka percakapan. Ia tidak menyukai sikap diam Emily yang hanya duduk dan menatapnya. Entah apa yang di pikirkan olehnya.


'Itu punyaku.' isyarat Emily.


"Mengenai pria tadi, apa kalian sudah berteman cukup lama?"


'Ya, kami berteman lumayan lama, tepatnya sejak aku membuka toko bungaku. Aku menjadi langganan di toko bunga tempat Alvin bekerja selama ini. Dan dia yang selalu mengantar semua bunga pesananku. Dari situlah kami berteman baik.' Emily menjelaskan dengan panjang lebar.


"Apakah toko bungamu berjalan dengan lancar?" tanya Jeremy mengalihkan pembicaraan. Ia tak ingin membahas pria muda itu lagi.


'Ya, berjalan dengan baik.' jawab Emily lewat lambaian tangan.


"Apa kau tidak kekurangan apapun di sini?”


Emily menggeleng.


'Tidak.'


"Benarkah?" tanya Jeremy tidak yakin. Emily mengangguk.


Jeremy lalu terdiam. Ia merasa Emily sepertinya tidak ingin berbicara dengannya. Jawabannya sangat singkat. Ia hanya akan menjawab jika di tanya, dan tidak balik bertanya tentang Jeremy. Ia tidak tahu saja, Emily sungguh merasa tidak nyaman dengan kehadirannya. Bagaimanapun mereka sudah bukan suami istri lagi, dan Clarissa istri sahnya tidak ada di sini.

__ADS_1


"Apa kau bahagia tinggal di tempat ini?" Jeremy bertanya lagi dan seperti dugaannya lagi-lagi Emily hanya mengangguk.


"Lalu, jika suatu hari kau harus meninggalkan tempat ini dan tinggal di sebuah istana, apa kau akan bahagia?" Jeremy terus bertanya.


Emily menggeleng dengan cepat.


'Sepertinya aku tidak akan bahagia.'


"Mengapa? Di istana itu, semu kebutuhanmu akan tercukupi. Kau tidak perlu melakukan apa-apa dan tidak perlu bekerja keras seperti sekarang. Kau hanya tinggal menikmati hidupmu." ucap Jeremy dengan mudahnya tetapi Emily tetap menggeleng.


'Benar, di istana semu kebutuhanku akan tercukupi. Tapi aku tetap tidak akan bahagia karena aku kehilangan kebebasanku.' isyarat Emily yakin. Melihatnya, Jeremy tersenyum sinis.


Emily semakin tidak nyaman dengan keberadaan Jeremy dan ajudannya, ia mulai memutar otak untuk mengusir mereka. Dan sepertinya jam berpihak pada mereka.


'Maafkan aku, tapi ini sudah mulai larut malam. Di sini, di larang bertamu melebihi jam sepuluh malam. Maafkan ketidaksopananku, tapi kalian harus pergi.' isyarat Emily dengan mengatupkan tangannya di depan dada.


Jeremy meminum tehnya sampai habis, lalu mengangguk.


"Kau benar, ini sudah larut. Jadi, apa boleh kami menginap di sini?" tanyanya.


'Tidak!!' Emily menolak dengan cepat.


'Kau tidak bisa menginap di sini.' ulangnya.


"Kenapa?" tanya Jeremy.


'Karena aku adalah seorang janda, dan kau adalah seorang pria yang sudah memiliki istri dan anak.' isyarat Emily tegas.


Jawabannya membuat Jeremy terdiam dan merasakan kegetiran di hatinya. Ia bangkit sambil tersenyum pahit, senyum yang sangat terlihat di paksakan.


"Aku hanya bercanda. Apa kau pikir aku serius dengan semua kata-kataku?" tanya Jeremy tanpa memandang Emily.


Emily menatapnya.


'Kuharap itu benar, kau hanya bercanda.' isyaratnya.

__ADS_1


Jeremy lalu melangkah pergi tanpa berpamitan, hanya sang ajudan yang membungkuk hormat kemudian berbalik mengikuti Jeremy. Emily memandangi kepergian pria itu bersama ajudannya. Ia sungguh berharap, semua kata-kata pria itu hanya candaan, namun ia juga tahu, Jeremy bukanlah orang yang suka bercanda.


Sikap dan pertanyaan yang di ajukan Jeremy, membuat Emily khawatir pria itu masih menyimpan rasa padanya dan Emily takut, dengan kekuasaannya, Jeremy akan memaksanya kembali. Emily tak ingin kembali, ia sudah tak memiliki rasa apapun pada pria itu. Dan ia tak ingin berada di posisi yang sama seperti Clarissa dulu, menjadi orang ketiga.


__ADS_2