
Mendengar mereka sangat antusias membahas keponakan, Emily buru-buru melambaikan tangannya. Bisa gawat kalau mereka sampai mengatakan tentang hal itu pada Jeremy. Padahal ia sendiri tahu kalau itu sama sekali tidak mungkin.
'Maafkan aku. Aku bukannya ingin menghancurkan impian kalian, tapi sangat mustahil memiliki anak di saat kondisi kesehatanku yang seperti ini.'
visual Emily
"Kau jangan berpikiran buruk dulu, Emily. Dengan berjalannya waktu, kesehatanmu pasti akan membaik." kata Tante Agnes.
"Benar, Kak. Bukankah Dokter Darren selalu merawat kakak setiap hari? Kak Emily pasti akan segera sembuh." kata Indriana memberi semangat.
"Lagipula, apakah kamu tidak mau memiliki anak dengan suamimu?" tanya Tante Agnes lagi.
Emily terdiam. Tentu saja dia ini sekali mempunyai anak, tapi dengan Jeremy? Hah.. Itu adalah sesuatu yang sangat yang tidak mungkin. Melihat Emily tidak menanggapi pertanyaannya, Tante Agnes kembali berkata,
"Emily, milikilah seorang anak sebelum suamimu mati seperti suamiku. Memiliki anak akan menjadi suatu penyemangat di saat suamimu tidak ada."
Emily menunduk dengan sedih.
"Apa Tante baru saja menyumpahi kakak laki-lakiku untuk segera mati?" tanya Fernando pada Tante Agnes.
"Tante tahu, itu sangat salah." ujar Steven menambahkan.
Tante Agnes mengangkat bahunya.
"Tidak ada yang tahu bagaimana hidup seseorang berjalan. Aku hanya mencoba memberi nasehat. Di tinggalkan oleh orang yang kamu cintai di dunia ini, sudah cukup untuk membunuh dirimu secara perlahan." Tante Agnes menarik nafasnya sejenak lalu menambahkan,
"Keberadaan seorang anak akan menjadi kekuatanmu di masa depan. Lagipula, maaf, aku masih curiga kalau sepupumu itu mempunyai niat lain padamu. Kau harus berhati-hati padanya."
'Tante, dia tidak seburuk yang Tante pikirkan.' isyarat Emily sambil tersenyum.
"Kamu terlalu berpikiran positif, Emily. Pokoknya kau harus selalu ingat untuk berhati-hati dengannya, dan selalu jaga kesehatanmu dengan baik. Aku sangat merindukan saat-saat bersamamu di toko roti milikmu." Tante Agnes berkata sambil menggenggam tangan Emily.
"Apa yang di katakan Tante Agnes itu benar, Kak." kata Fernando.
__ADS_1
"Kakak harus menjaga kesehatan kakak dengan baik." kata Indriana.
"Kak Emily, aku berharap kakak cepat sembuh." ujar Adriana.
Emily merasa bersalah mendengar semua doa dan harapan mereka agar ia cepat sembuh, namun saat ini ia hanya bisa tersenyum dan mengucapkan terima kasih lewat isyaratnya.
Mereka terus melanjutkan perbincangan mereka tanpa menyadari kalau Clarissa diam-diam mendengar semuanya. Ia mengepalkan tangannya mendengar mereka menuntut Emily untuk memiliki anak dengan Jeremy. Dalam hatinya, terselip rasa iri dan juga sedih, karena saudara-saudara Jeremy tidak menyukainya. Mereka bahkan tidak ingin ia ikut serta dalam perbincangan hangat mereka.
******
Jeremy pulang ketika jam di dinding menunjukkan pukul sebelas lewat dua puluh menit. Pekerjaan yang tertinggal selama ia dan Emily hilang, mengharuskannya untuk lembur hari ini. Begitu ia sampai, Pak Wawan langsung memberi tahu kalau Emily ingin bertemu dengannya secara pribadi.
Visual Jeremy
Jeremy pun langsung menemui Emily tanpa berganti pakaian lagi. Clarissa yang sejak tadi menunggu jeremy pulang, terlambat keluar dari kamarnya. Ia menelan rasa pahit di hatinya ketika melihat Jeremy berjalan masuk ke dalam kamar Emily. Dengan kesedihannya ia kembali masuk ke kamarnya yang sunyi.
*****
"Apa kau ingin makan atau minum sesuatu? Aku akan meminta pelayan untuk membawakannya untukmu." kata Jeremy saat ia dan Emily duduk berdampingan di sofa yang ada dalam kamar Emily.
'Kau sendiri, apakah sudah makan malam?'
"Sudah, aku sudah makan tadi di kantor bersama Lukas." jawaban Jeremy jujur.
Dia sebenarnya ingin makan malam bersama Emily hari ini, tetapi pekerjaannya tidak memungkinkan baginya untuk pulang lebih awal. Dan asistennya yang handal itu tidak mungkin membiarkannya terlambat makan.
"Lalu, apa yang ingin kamu bicarakan denganku?" tanya Jeremy.
'Ayo kita akhiri ini semua dengan cepat.' isyarat Emily.
Jeremy melebarkan matanya.
"Apa maksudmu?" tanyanya.
__ADS_1
'Kurasa kamu tahu apa maksudku, Jeremy. Saat kita terjebak di hutan, aku sudah ingin mengakhiri semuanya. Tapi kau mengingatkan aku tentang Bibi Liana dan kupikir itu benar. Aku tidak ingin membuatnya bersedih jadi aku memutuskan untuk mendengarkanmu. Tapi sekarang, kurasa semuanya sudah cukup. Semua orang sudah tahu aku sakit dan kondisi kesehatanku terus menurun. Jika aku mati sekarang, tidak ada yang curiga dengan ini semua.' Emily mengisyaratkan semuanya dengan begitu jelas.
"Apa yang kau bicarakan?" Jeremy begitu marah dalam hatinya mendengar Emily membicarakan tentang kematiannya. Meskipun itu hanya pura-pura, Jeremy belum siap menerima kepergiannya.
'Aku bicara mengenai perjanjian kita.' isyarat Emily memperjelas.
Jeremy merasa tersengat hatinya, mengapa Emily sangat ingin pergi dari sisinya? Mengapa semua kesalahpahaman ini harus terjadi? Melihat Jeremy terdiam dengan ekspresi bingung di wajahnya, Emily kemudian kembali melambai.
'Kurasa ini adalah waktu yang tepat. Kita bisa berkonsultasi dengan Dokter Darren mengenai hal ini. Lagi pula, aku yakin kau juga tidak ingin terus terikat denganku.'
'Siapa yang bilang tidak ingin terikat dengannya?' pikir Jeremy. Ia mengepalkan tangannya dengan kuat.
"Mengapa kau begitu terburu-buru?" tanyanya.
'Bukankah kau yang sudah terburu-buru sejak awal?' isyarat Emily balik bertanya.
Bola mata Jeremy membesar karena terkejut. Ya! Dia sangat terburu-buru hingga sengaja mengirim orang untuk membunuh istrinya. Jeremy menggeram. Mengapa ia begitu bodoh di masa lalu? Dia bahkan tidak menyukai Emily karena dianggap hanya menjadi beban dan menghalangi mimpi-mimpinya, padahal Emily sendiri pun tidak bersalah dan tidak tahu apa-apa karena pernikahan ini di rancang oleh kakek nenek mereka.
'Saat ini, semuanya sudah sesuai dengan rencana. Lebih cepat kita berpisah, itu akan lebih baik.' isyarat Emily saat melihat Jeremy terus diam.
'Hanya itu yang ingin aku bicarakan. Kau bisa pergi sekarang.' lanjut Emily lalu bangkit berdiri hendak membuka pintu.
"Bagaimana jika aku tidak ingin berpisah?" Jeremy akhirnya bersuara, membuat gerakan tangan Emily yang memegang gagang pintu seketika berhenti. Ia terdiam sesaat sebelum berbalik dan menatap Jeremy yang juga tengah menatapnya.
"Bagaimana jika aku tidak ingin berpisah?" Jeremy mengulangi pertanyaannya.
Tidak ingin? Secercah rasa hangat merayap di dada Emily, namun saat ia teringat pada sesosok gadis muda yang saat ini bernaung di atap yang sama dengannya, ia segera menepis perasaan itu.
'Itu sama sekali tidak berguna.' isyaratnya.
"Mengapa?" tanya Jeremy parau.
'Karena aku tetap ingin pergi.' isyarat Emily dengan tegas.
Ia memilih untuk mengakhiri semuanya, tanpa memberikan kesempatan pada Jeremy untuk mengatakan apa yang ada dalam hatinya. Hati Jeremy terasa teriris, ia merasa ngilu di hatinya saat melihat Emily tetap ingin pergi darinya. Ia berjalan maju hendak meraih Emily ke dalam pelukannya, tetapi Emily lebih dulu membuka pintu kamar dan menemukan Clarissa berdiri di sana.
__ADS_1
Visual Clarissa