
Sementara itu, dari atas bukit, Emily akhirnya bisa melihat Jeremy lagi setelah sekian lamanya berpisah. Meskipun dari kejauhan, ia bisa melihat dengan jelas, pria itu nampak tidak terlalu berubah. Dia masih seorang pria yang menawan, di tambah jabatannya sebagai kepala negara membuatnya semakin bersinar.
"Bapak Presiden benar-benar terlihat luar biasa!" puji Ferry saat melihat rombongan tersebut. Bocah itu merasa puas, baginya ini adalah hari bersejarah. Tidak tahu kapan lagi ia bisa melihat presiden secara langsung. Ia tidak mungkin melupakan momen ini.
"Di mana Ibu Negara?" tanya Ferry ketika menyadari kalau Jeremy hanya sendirian di mobil.
"Oh, aku membaca beritanya. Katanya kandungan Ibu Negara tidak memungkinkan untuk melakukan perjalanan dan kunjungan bersama Bapak Presiden." ujar Alvin menjawab.
"Oooh.." wajah Ferry nampak sedikit kecewa.
"Hei! Tolong jangan mendorong!" suara Alvin terdengar, tangannya reflek menarik Ferry yang hampir terjatuh karena orang-orang yang duduk di bukit mulai berkerumun ketika mobil yang di tumpangi Presiden mendekat. Karena khawatir tubuh kecil Ferry akan terinjak-injak, Alvin tiba-tiba mengangkat anak itu dan meletakkannya di atas pundaknya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Ferry. Ia merasa tidak nyaman di perlakukan seperti itu.
"Turunkan aku!" katanya sambil menarik rambut Alvin. Alvin meringis kesakitan, namun ia tidak marah.
"Hei, berhenti menarik rambutku. Kau bisa membuat kepalaku menjadi botak." ujar Alvin.
"Kalau begitu, turunkan aku." kata Ferry lagi.
"Ya ampun, aku cuma mau menolongmu. Kalau kau terjatuh, kau akan di injak-injak. Hargai kebaikanku ini." ucap Alvin.
"Aku bisa.." ucapan Ferry terhenti ketika merasa Emily menyentuh tangannya.
'Jangan membuat keributan. Kau akan membuat orang lain merasa terganggu.' isyarat Emily.
'Alvin hanya mencoba melindungimu.' isyaratnya lagi.
Ferry pun terdiam dan duduk dengan tenang di pundak Alvin.
"Lagi pula, dengan begini kau bisa melihat Presiden lebih jelas." kata Alvin sambil tertawa.
"Hmmph!" Ferry merajuk, ia merasa malu jadi ia membuang wajahnya ke samping.
"Astaga.. Apa anak ini marah lagi? Aku heran, mengapa aku selalu salah di matanya." ujar Alvin.
__ADS_1
Emily tertawa melihatnya. Mereka bertiga terlihat seperti keluarga kecil yang bahagia, saat pandangan Jeremy tidak sengaja tertuju ke arah bukit. Saat pertama kali melihat Emily, Jeremy melebarkan matanya. Jantungnya terasa berdetak lebih cepat dari biasanya. Dia tidak mungkin salah lihat, wanita itu benar-benar Emily, dan dia di sana sedang tertawa bahagia bersama seorang pria yang menggendong seorang anak di pundaknya.
Apa Emily sudah menikah lagi dan mempunyai anak? Tidak, tidak!! Anak itu terlihat seperti berusia tujuh atau delapan tahun. Sedangkan mereka baru berpisah sekitar tiga tahun. Jadi, apa Emily menikah dengan duda dan bocah itu adalah anak tirinya? Beraninya pria itu mengambil Emily-nya!
Melihat kebahagiaan mereka dari kejauhan, membuat Jeremy merasa terbakar di dalam jiwanya. Dengan penuh rasa tidak senang, ia turun dari mobilnya yang masih melaju. Untungnya mobil itu di kendarai dengan sangat perlahan oleh supirnya. Tindakan Jeremy sungguh mengejutkan semua orang yang berkumpul di situ, dan mereka otomatis memberikan jalan saat tiba-tiba ia ingin menerobos kerumunan.
"Apa yang terjadi?"
"Mengapa Presiden tiba-tiba turun?"
"Apa yang Bapak Presiden lakukan?"
"Siapa yang tahu apa yang di pikirkannya."
"Bapak Presiden, tolong lihat ke sini!"
"Bapak Presiden!"
"Presiden Jeremy!"
"Bapak Presiden, ada apa? Apa ada yang Bapak inginkan? Biarkan saja saya yang mencari dan mengambilnya untuk Bapak." kata ajudannya dengan kebingungan.
Namun Jeremy tidak mendengarkan. Ia terus mempercepat langkahnya yang panjang, membuat sang ajudan tergesa-gesa mengikutinya.
Sementara itu, Emily bersama Alvin dan Ferry tidak menyadari hal itu. Karena Emily dan Alvin sibuk menertawakan Ferry, dan bocah yang sedang di tertawakan itu, tiba-tiba berseru saat memalingkan wajahnya ke samping,
"Aku melihat Blacky. Dia sedang mengejar seorang anak!"
Blacky adalah nama anjing yang dirawat oleh Emily dan Ferry. Tadi, mereka sudah mengurungnya, tapi entah bagaimana ia bisa lepas. Meskipun hewan itu jinak pada mereka, namun belum tentu terhadap orang lain ia juga begitu.
Emily yang khawatir peliharaannya berbuat sesuatu yang merugikan, bergegas menuruni bukit menuju Blacky. Dan secara otomatis, Alvin pun mengikutinya sambil tetap menggendong Ferry di pundaknya.
kepergian emily ditangkap oleh mata jeremy yang sedang berjalan dengan tidak sabar iya lalu berteriak memanggil namanya emily emily sayangnya diantara sore-sore dan kerumunan orang-orang yang berisik itu emily tidak mendengarkan panggilannya dan perlahan ia menghilang dari pandangan jeremy tenggelam dalam kerumunan membuat pria itu menjadi hampir gila emily.
jeremy sampai dia bawah bukit dengan perasaan putus asa rasanya ya sudah sangat dekat dengannya emily tepat di depan matanya tetapi ia tidak bisa menjangkau nya jeremy merasa kecewa dengan dirinya sendiri. mau tidak mau akhirnya ia terpaksa kembali game mobilnya dengan wajah yang sangat burung tidak ada yang berani bertanya karena menyadari suasana hatinya sedang buruk.
__ADS_1
*****
"Mohon maaf, Bapak Presiden. Sebenarnya, apa yang bapak cari?" tanya Kepala Desa Nixon saat mengantarkan Jeremy tempatnya beristirahat.
"Apa Bapak mencari seseorang atau sesuatu di desa ini? Mungkin saya bisa membantu Bapak untuk mencarinya. Bagaimana pun, sejak lahir saya di sini. Tidak ada tempat ataupun orang yang tidak saya ketahui di tempat ini." lanjutnya membanggakan diri.
Mendengar itu, Jeremy menatap Kepala Desa tersebut dengan tajam.
"Kau tahu identitas semua orang yang ada di sini?" tanyanya.
"Iya, Bapak Presiden. Kami selalu mendata setiap orang di desa ini dan memperbaruinya setiap tahun. Kami tahu siapa yang datang dan siapa yang pergi." jawab Kepala Desa Nixon dengan yakin.
"Jika Bapak Presiden sedang mencari seseorang, katakan saja namanya dan ciri-cirinya, saya dan bawahan saya akan mencarinya untuk Bapak dan membawa orang itu pada Bapak secepat mungkin." katanya lagi.
"Tidak perlu." kata Jeremy menolak.
"Aku ingin semua data sejak tiga tahun yang lalu hingga data terakhir tahun ini. Kirimkan padaku semuanya." perintahnya. Ia hanya ingin memastikan sesuatu.
Kepala Desa terkejut mendengar kata-katanya. Data-data itu sangat banyak. Apakah Bapak Presiden ingin memeriksanya sendiri?
"Bapak Presiden, data-data itu sangat banyak dan saya tidak ingin Bapak menjadi lelah jika mencarinya sendiri. Bapak bisa mempercayai saya dan orang-orang saya untuk...." Kepala Desa langsung terdiam ketika Jeremy menatapnya dengan tajam.
"Apa yang aku katakan kurang jelas?" tanya Jeremy.
"Sangat jelas, Bapak!" jawab Kepala Desa dengan cepat.
"Saya akan mengirimkan datanya segera."
Melihat sang Presiden mengangguk puas mendengar jawabannya, Kepala desa berkata dengan gugup,
"Bapak Presiden, kami sudah menyiapkan jamuan untuk menyambut Bapak."
"Aku akan melewati itu." jawab Jeremy lalu kembali terdiam.
Kepala Desa tidak bisa berbuat banyak. Ia kemudian pamit undur diri meninggalkan Jeremy untuk beristirahat.
__ADS_1