
Ketika Jeremy dan ajudannya hilang dari pandangannya, Emily bergegas masuk ke dalam rumah. Ia mengambil beberapa potong pakaiannya dan juga sejumlah uang yang ia miliki. Ia memutuskan untuk pergi. Emily menyuruh Ferry untuk menyiapkan pakaiannya sendiri. Ferry tidak tau apa yang ibu angkatnya cemaskan. Ia hanya tahu Presiden telah datang ke rumah mereka dan ia ingin tahu mengapa presiden datang dengan menyamar. Jadi ia bertanya pada Emily,
"Ibu, apakah ibu mengenal Presiden?"
Namun, Emily tidak menjawab pertanyaannya. Ia justru berkata lewat isyaratnya,
'Ambil barang-barangmu. Sedikit saja, ambil yang penting untukmu. Kita akan pergi dari sini sekarang.'
"Memangnya apa yang terjadi, Bu? Mengapa kita harus pergi?" tanya Ferry tidak mengerti.
'Jangan bertanya dulu. Dengar saja kata-kataku dan segera berkemas!' isyarat Emily.
Meskipun tidak tahu apa yang terjadi dan masih memikirkan banyak hal di kepalanya, Ferry segera menyiapkan barang-barangnya. Terlebih saat ia melihat wajah ibunya yang penuh kecemasan. Ferry berkemas sambil mengingat-ingat percakapan presiden dan ibunya tadi. Setahunya, presiden tidak mengatakan sesuatu yang aneh kecuali bertanya tentang apakah ibunya mau tinggal di sebuah istana, namun ibunya menolak. Dan juga bertanya apa boleh menginap di sini, tetapi presiden juga mengatakan kalau semuanya itu hanya candaannya. Emily mengambil tas milik Ferry yang telah berisi pakaiannya, lalu menyerahkan anjing peliharaannya yang telah di pakaikan tali kekang pada Ferry.
'Pegang Blacky dan jangan sampai lepas. Pastikan dua tidak melarikan diri.' isyarat Emily kemudian membimbing anak itu lewat pintu belakang.
"Bu, mengapa kita keluar lewat pintu belakang?" tanya Ferry semakin tidak mengerti. Emily tidak menjawabnya. Ia bergegas membuka pintu, dan terkejut mendapati Alvin di sana.
"Ah.. Maafkan aku. Sebenarnya aku tidak percaya pada kedua orang yang mengaku sebagai temanmu itu. Jadi untuk berjaga-jaga, aku menunggu di sini." kata Alvin sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Emily terharu mendengarnya. Anak muda ini benar-benar memiliki hati yang baik.
__ADS_1
"Apa mereka sudah pulang?" tanya Alvin.
"Tunggu, kalian mau pergi kemana di tengah malam seperti ini?" tanyanya ketika melihat Emily dan Ferry membawa tas di pundaknya.
Emily tidak tahu harus menjelaskannya pada Alvin. Tetapi ia sadar, bepergian di malam hari dengan membawa seorang anak, akan sangat rawan baginya. Jadi ia memberitahu Alvin kalau ia ingin pergi ke desa lain yang jauh dari desa mereka tinggal sekarang. Sebenarnya ia ingin ke luar daerah, namun satu-satunya akses keluar desa itu adalah lewat jalur laut, dan ia yakin di pelabuhan akan ada orang-orang Jeremy di sana, jadi ia memutuskan untuk bersembunyi di desa lain dulu. Setidaknya sampai Jeremy pergi dari sana dan kembali ke istana negara.
"Apa? Kau ingin pergi meninggalkan desa ini? Tapi, mengapa? Dan mengapa harus pergi di malam hari seperti ini?" cecar Alvin terkejut.
"Ini sudah sangat larut, tidak ada kendaraan yang bisa mengantarkan kalian di sini. Tunggu besok pagi saja." lanjutnya.
'Aku minta maaf, aku tidak bisa mengatakan alasannya. Tapi, bisakah kau membantu kami pergi dari sini?' isyarat Emily bertanya.
"Apakah kedua orang tadi mengganggumu? Dan alasan kau ingin pergi itu karena mereka? Lily, kalau mereka mengganggu dirimu, maka katakan saja. Aku dan orang-orang di desa ini pasti akan menangani mereka untukmu." kata Alvin dengan serius.
'Kau bisa mengantar kami atau tidak? Kalau tidak, kami akan pergi sendiri.' isyarat Emily. Ia tahu, Jeremy bukanlah orang yang bisa ditangani oleh Alvin maupun warga desa.
Meskipun Alvin sangat ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi melihat Emily yang bersikeras ingin pergi, ia tak punya pilihan selain menuruti keinginan Emily. Alvin membawa Emily dan Ferry ke tempat ia menyimpan motornya yang sering di gunakan untuk mengantar bunga, lalu bergegas memulai perjalanan.
Di sepanjang perjalanan, hati Emily tidak bisa tenang. Bahkan mungkin ia tidak bisa tenang sebelum meninggalkan pulau ini. Alvin terus mengendarai motornya, melewati jalanan malam yang sepi. Emily bersyukur mereka berhasil melewati batas desa tanpa hambatan dan memasuki desa tetangga. Ia mengusap kepala Ferry yang duduk di depannya.
*******
__ADS_1
Pagi harinya, tepat seperti dugaan Emily, Jeremy datang lagi ke rumah Emily sambil membawa rombongan pengawalnya. Perbuatannya itu membuat orang-orang tidak berhenti bertanya-tanya, apa yang dilakukan oleh presiden di depan rumah seorang wanita bisu. Jeremy tidak peduli pada pandangan bertanya dan bisik-bisik orang di sekitarnya. Ia menyuruh salah satu pengawalnya untuk mengetuk pintu. Jeremy merasa ia datang tidak terlalu pagi, karena jalanan sudah ramai dan orang-orang sudah memulai aktivitas mereka. Tapi mengapa pintu rumah Emily masih tertutup dan tokonya belum buka?
Pengawal Jeremy mengetuk pintu beberapa kali, namun tidak ada jawaban sama sekali. Jeremy mengerucutkan alisnya. Apa Emily masih tidur? Tidak, setahunya Emily bukanlah orang yang suka tidur sampai siang hari. Ataukah dia sakit? Tapi, semalam ia terlihat baik-baik saja.
"Maaf, Bapak Presiden. Sepertinya tidak ada orang di dalam." kata pengawal yang tadi disuruh mengetuk pintu.
"Buka pintunya." perintah Jeremy. perasaannya menjadi tidak enak.
"Tapi, Pak Presiden..."
"AKU BILANG BUKA PINTUNYA!!" bentak Jeremy membuat para warga desa terkesiap. Tak menyangka seorang presiden akan berteriak sekasar itu.
Belum sempat pengawal itu membuka pintu, Reno, sang ajudan yang sudah hafal watak sang presiden, bergegas maju dan menendang pintu rumah itu hingga terbuka lebar. Semua orang bertanya-tanya, apa kesalahan Lily sehingga ia dicari oleh presiden, bahkan presiden terlihat sangat marah ketika tidak menemukannya?
Jeremy lalu masuk ke dalam rumah untuk mencari Emily. Ia melihat gelas bekas ia meminum teh semalam masih terletak di atas meja. Namun, tidak ada tanda-tanda keberadaan orang yang di carinya. Jeremy sempat berpikir jangan-jangan pamannya menyuruh orang untuk menyerang Emily, namun tidak ada tanda-tanda kerusakan ataupun penyerangan di tempat itu. Sepertinya penghuninya yang memang ingin pergi.
"Bapak Presiden! Pak Presiden!" salah satu pengawal masuk menemui Jeremy.
"Pak Presiden, seorang warga melihat wanita dan anak laki-laki yang tinggal di rumah ini pergi menuju desa sebelah saat tengah malam!" kata pengawal itu.
Desa sebelah? Alis Jeremy hampir menjadi satu saat ia mengerutkannya. Emily benar-benar pergi? Emily benar-benar pergi dari desa ini, apakah karena dirinya ada di sini? Mengapa Emily pergi begitu bertemu dengannya? Apa ia sungguh-sungguh tidak ingin bersama dengannya lagi?
__ADS_1