
Entah sejak kapan Clarissa berada di depan pintu itu, tapi yang jelas gadis muda itu pasti sudah mendengar perkataan mereka. Wajahnya memucat dengan air mata yang memenuhi matanya dan siap tumpah kapan saja. Melihat pandangannya yang terluka, Emily tidak bisa melakukan apapun. Ini adalah resiko yang Clarissa pilih untuk mencintai pria yang sudah beristri.
Emily berjalan keluar meninggalkan kedua insan itu. Ia berpikir untuk membiarkan mereka berdua untuk bicara. Jeremy ingin mengejar Emily namun kepalanya belum bisa memikirkan alasan yang tepat untuk membuat Emily tetap berada di sisinya. Saat Jeremy keluar dari pintu, Clarissa menatapnya dengan tatapan kecewa.
"Kau tidak ingin melepaskannya?" tanya Clarissa dengan mata berkaca-kaca dan suara yang bergetar.
"Kenapa?" tanya Clarissa lagi ketika Jeremy hanya diam.
"Katakan padaku, kenapa kamu tidak ingin berpisah dengannya?" tanyanya menuntut.
Ia menarik tangan Jeremy dan menggoyangkannya.
"Itu tidak benar, kan? Katakan padaku, Jeremy. Itu tidak benar bukan?" tanyanya lagi hampir putus asa dan mulai menangis.
Jeremy masih tidak mengatakan apa-apa. Dia terus terdiam di tempatnya. Sampai akhirnya ia mulai tidak tahan mendengar suara tangisan gadis itu. Jeremy melepaskan tangannya yang terus digoyang-goyangkan oleh Clarissa, lalu menatapnya dengan tatapan datarnya.
"Jika aku memang tidak ingin berpisah dengannya, memangnya kenapa? Apa yang ingin kau lakukan?" tanyanya dingin.
Bagaimanapun, menjadi pemimpin Klan keluarga Charlos adalah keinginan pamannya. Dan ia ingin menjadi pemimpin Klan hanya karena ingin menunjukkan kalau ia lebih hebat dari ayahnya dan juga membalaskan dendam kematian ibunya yang dicurigai telah dibunuh oleh ayahnya.
Namun, karena hal ini, ia harus melukai Emily dan kehilangannya bahkan hampir membunuhnya. Emily dan kedudukan sebagai seorang pemimpin, mana yang lebih berat di hatinya? Dulu, setelah kepergian Emily, hatinya menjadi hampa, dan menjadi pemimpin Klan adalah satu-satunya tujuan ia hidup. Walaupun dia tidak tahu apa yang akan ia rasakan jika ia berhasil menjadi pemimpin Klan.
Apakah ia akan merasa puas setelah mendapat apa yang dia inginkan? Tidak! Dia hanya akan merasakan kekosongan di hatinya. Mendengar apa yang Jeremy katakan, Clarissa menatapnya dengan tidak percaya. Ia menggigit bibirnya dan menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kuat.
__ADS_1
"Lalu bagaimana denganku?" tanyanya lirih.
"Katakan, bagaimana denganku? Bagaimana dengan semua hal yang telah kamu janjikan padaku? Kau bilang kau akan...."
"Aku berubah pikiran." kata Jeremy dengan tegas memotong perkataan Clarissa membuat gadis itu terdiam.
"Aku telah merubah pikiranku dan kau tahu apa yang aku pikirkan." ulang Jeremy sekali lagi.
Clarissa merasakan rasa yang amat menyakitkan di dadanya. Dengan marah dan kecewa, ia meraih kedua kerah kemeja Jeremy, dan kembali bertanya dengan frustasi,
"Bagaimana denganku?"
Bagaimana dengan Clarissa? Belum sempat Jeremy menjawab, Pak Wawan datang memberitahu kalau ada yang ingin bertemu dengannya. Alexander Charlos, pamannya yang merawatnya sejak kecil, datang menemui Jeremy.
"Kamu kembalilah dulu ke kamarmu. Kita akan bicarakan hal ini lagi nanti." kata Jeremy padanya.
Clarissa langsung berlari ke kamarnya sambil menyeka air matanya yang terus berjatuhan. Di kamarnya, ia langsung membuang dirinya ke atas kasur. Di sana ia menumpahkan segala rasa yang ada di dadanya lewat tangisan. Jeremy menghela nafas sejenak melihat Clarissa yang pergi sambil berlari dan menangis, lalu berjalan ke ruang kerjanya untuk menemui pamannya.
"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Alexander Charlos. Pria yang berusia setengah abad lebih itu sedang berdiri menatap keluar jendela saat pintu ruang kerja Jeremy terbuka lalu tertutup kembali. Ia bahkan tidak ingin repot-repot berbalik untuk melihat ke arah pintu karena ia tahu, yang masuk itu pasti Jeremy.
Jeremy mengikuti arah pandangan pamannya. Ia bertanya-tanya, apa yang di lihat oleh adik ayahnya itu, karena yang dilihat Jeremy di luar sana hanyalah kegelapan.
Jeremy tidak mengatakan apa-apa saat mendengar pertanyaan itu, karena ia tahu pertanyaan pamannya bukan hanya sekedar menanyakan apa yang sedang ia lakukan ketika pamannya datang, tapi maknanya lebih dalam dari itu.
__ADS_1
"Antonio Charlos sudah terlalu tua untuk mengurus sebuah Klan. Meskipun ia masih bisa menghadiri dan memimpin beberapa pertemuan penting, dia tetaplah seorang pria tua yang sakit-sakitan." kata Alex lalu berbalik menatap Jeremy.
Pria berumur enam puluh enam tahun ini masih terlihat gagah dan tegas meskipun uban sudah menutupi hampir seluruh kepalanya. Ayahnya Jeremy sendiri, Antonio Charlos, berusia tujuh puluh tahun saat ini. Empat tahun lagi tua dari Alexander.
"Dan mengapa aku belum mendengar apa-apa pun darimu? Mengapa kamu belum juga bergerak? Apa sebenarnya yang kamu lakukan dan pikirkan? Mengapa kau terus menunda-nunda?" tanya Alex mencecar.
Jeremy masih memilih untuk berdiam diri membuat Alex menghela nafas.
"Aku dengar, kau berhasil mengambil hati putri dari mendiang Tuan Eden. Namamu semakin terkenal beberapa waktu ini. Lalu, mengapa kau terus membuat penundaan? Apakah kamu belum yakin dengan kekuatanmu yang sekarang?" tanya Alex sekali lagi.
Alex adalah pria yang sangat keras. Apapun yang ia mau dan ia inginkan, harus ia dapatkan. Dia juga mendukung Jeremy menjadi ketua Klan karena akan membawa keuntungan sendiri baginya. Namun, saat ini, Jeremy tidak menginginkan posisi itu lagi. Jeremy hanya ingin kembali ke masa lalu di mana hanya ada dirinya dan juga Clea.
Clea saja sudah cukup untuknya. Bahkan sekarang Jeremy mengerti apa yang petani tua di hutan itu rasakan. Kehadiran orang yang dicintai dalam hidupmu sudah lebih dari cukup. Sudah cukup satu kali ia melakukan kesalahan dan melepaskannya. Sekarang, Tuhan sudah berbaik hati dan mengirim kembali Clea kepadanya, dia tidak ingin melepaskannya lagi.
"Aku..."
"Apakah karena kamu tidak bisa menyingkirkan istrimu yang bisu itu?" tanya Alex memotong perkataan Jeremy.
"Kau memang tidak bisa diandalkan. Sepertinya, aku sendiri yang harus turun tangan untuk menyingkirkannya."
"Apa?"
Jeremy melebarkan matanya dengan terkejut. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya mendengar apa yang dikatakan oleh pamannya. Alexander Charlos adalah jenis orang yang tidak pernah main-main dengan perkataannya. Dia selalu melakukan apa yang ia katakan, dan yang paling penting, biasanya ia sudah melakukan sesuatu sebelum ia mengatakannya. Alex memandangi wajah Jeremy yang terkejut dengan heran.
__ADS_1
"Ada apa denganmu? Kau tahu, di luar sangat dingin. Aku dengar istrimu itu alergi pada kacang almond. Jika ia memakannya dan terlambat ditolong, ia akan mati karena alerginya. Pelayan yang mengantar kue kering untuknya tidak tahu kalau kue itu mengandung kacang almond. Dan dia tidak berani bertanya apakah kue itu mengandung kacang atau tidak karena kue itu dariku. Dengan meninggalnya istrimu yang bisu itu, pernikahan kalian akan selesai dan kau bisa menikah dengan puteri dari mendiang tuan Eden..."