Emily, Sang Gadis Bisu

Emily, Sang Gadis Bisu
Alvin Diserang


__ADS_3

'Hubungan kita telah selesai, Jeremy.' isyarat Emily jengah.


"Hubungan kita tidak pernah selesai! Hanya kematian yang bisa menyelesaikannya!" kata Jeremy tegas.


Emily tersenyum sinis. Ia lalu melambaikan tangannya.


'Kalau begitu, aku memilih mati daripada kembali bersamamu!!'


Rahang Jeremy mengeras melihat yang di isyaratkan Emily padanya. Ketika melihat Emily hendak melambaikan tangannya lagi untuk bicara, Jeremy bergegas berkata pada ajudannya.


"Bawa dia masuk ke dalam mobil!"


"Siap, Pak Presiden!" ajudan itu mengangguk dengan patuh, lalu memberi isyarat pada pengawal wanita untuk bergerak, karena ia sadar, sang Presiden tidak ingin orangnya di sentuh oleh pria lain.


Alvin sejak tadi diam, karena ia sangat tahu diri bahwa ia tidak punya hak untuk bicara di depan presiden. Ia juga masih dalam mode terkejut karena baru tahu kenyataan kalau wanita yang diincarnya ternyata adalah istri presiden mereka. Tetapi ketika ia melihat orang-orang presiden ingin menangkap Lily-nya, ia memberanikan diri untuk menatap Jeremy dan berkata,


"Maafkan saya jika saya lancang, Bapak Presiden. Tapi Lily tidak ingin ikut dengan Bapak."


Alvin mendengar sendiri dengan jelas, Emily berkata berkali-kali bahwa hubungan mereka telah selesai. Bahkan jika mereka pernah menjadi pasangan suami-isteri, mereka tidak tinggal bersama lagi selama bertahun-tahun. Bukankah secara agama, artinya mereka sudah tidak sah lagi? Dan bukankah seorang Kepala Negara tidak boleh memiliki lebih dari satu istri? Seorang Kepala Negara sering di jadikan panutan oleh kebanyakan masyarakatnya, bagaimana bisa ia seenaknya memutuskan sesuatu sesuai kehendaknya?


Bahkan Alvin bisa melihat betapa kerasnya usaha Emily untuk tidak berhubungan lagi dengan presiden. Emily bahkan rela pergi di tengah malam meninggalkan desa, hanya demi menghindari sang presiden. Jadi, saat melihat presiden ingin membawa Emily dengan paksa, ia tidak bisa membiarkannya.


"Beraninya orang kecil sepertimu menentang perintah Presiden!!" bentak sang ajudan dengan marah.


"Maaf, Pak.. Saya hanya mengatakan apa yang saya lihat. Lily tidak ingin ikut pergi dengan Bapak Presiden. Tapi mengapa Bapak Presiden tetap ingin membawanya dengan paksa?" tanya Alvin terdengar berani, padahal dalam hatinya ia merasa takut di depan para pengawal tersebut.

__ADS_1


Jeremy menatap Alvin dengan tajam, seakan ingin menusuknya dengan tatapan itu. Sejak pertama kali melihatnya, ia sudah sangat tidak menyukai pria muda ini. Namun, Jeremy memilih mengabaikan pertanyaan Alvin, sebaliknya ia kembali menatap Emily.


"Benarkah apa yang di katakan pemuda ingusan itu? Apakah kau sungguh tidak ingin ikut denganku, dan lebih memilih pergi bersamanya?" tanya Jeremy pada Emily.


Emily terdiam mendengar pertanyaan itu. Jelas Jeremy hanya sekedar memberi pilihan, tetapi Emily tahu apa yang akan terjadi jika Emily tidak memilihnya. Apapun jawabannya, Jeremy pasti akan tetap membawanya. Dan karena Jeremy adalah tipe orang yang akan melakukan segala cara untuk memenuhi keinginannya {sama seperti pamannya yang mengajarinya}, Jeremy mungkin akan membunuh Alvin jika Emily memilih pilihan kedua.


Tidak! Alvin adalah orang luar. Ia tidak ada sangkut pautnya dalam hubungan mereka. Ia tidak boleh menjadi korban. Dengan sangat terpaksa dan berat hati, Emily mengisyaratkan bahwa ia akan ikut dengan Jeremy, membuat pria itu tersenyum penuh kemenangan.


"Lily..." Alvin masih ingin mencegahnya, tetapi Emily memegang tangan Alvin dan menggelengkan kepalanya, sebagai tanda agar dia tidak bicara lagi. Tanpa Emily sadari, tindakannya itu justru semakin menyulut kemarahan Jeremy. Hatinya terasa terbakar melihat Emily memandangi pemuda itu dengan pandangan yang lembut. Ia merasa getir. Emily pasti sangat peduli pada Alvin. Itu sebabnya Emily mengubah keputusannya begitu saja.


"APA YANG KALIAN LAKUKAN!! BAWA DIA SEKARANG!!" bentak Jeremy pada bawahannya.


Ajudan dan para pengawalnya cepat-cepat melaksanakan tugas mereka karena tidak ingin membuat suasana hati presiden menjadi lebih buruk lagi.


Mendengar itu, Emily menghentikan langkahnya dan menggeleng.


'Aku akan pergi sendiri.' isyaratnya.


"Bukankah dia anakmu dan hewan itu temanmu?" tanya Jeremy.


"Mereka akan menemanimu di Istana agar kau tidak kesepian." katanya lagi sembari mengulurkan tangannya ingin mengelus kepala Emily, namun Emily melangkah mundur menghindarinya dan kembali menggeleng.


'Tidak. Aku akan pergi sendiri. Biarkan mereka ikut dengan Alvin.' isyarat Emily lagi.


Emily tidak ingin mereka ikut terpenjara bersamanya di sana. Jika mereka ikut dengannya, pasti akan sulit baginya untuk melarikan diri dari sana nantinya.

__ADS_1


Namun, Emily tidak tahu saja, Jeremy juga sudah memikirkan kemungkinan Emily akan melarikan diri suatu hari nanti. Saat pertama kali melihat Ferry, Jeremy sadar anak itu memiliki tempat yang spesial di hati Emily. Emily tidak mungkin tega meninggalkannya ataupun membiarkan sesuatu yang buruk terjadi padanya. Hewan peliharaan itu pun pasti akan di butuhkan suatu saat nanti. Jeremy berencana akan menggunakan mereka untuk membuat Emily tetap berada di sisinya. Memikirkan hal itu, membuat Jeremy tersenyum miring.


"Aku tidak berkewajiban mendengarkan semua kata-katamu." ujarnya.


Selesai mengatakan itu, Jeremy segera berjalan duluan menuju mobil, tak memberi kesempatan pada Emily untuk menolak lagi. Emily hanya bisa menatap Ferry dan Blacky di dorong secara halus mendekatinya.


"Ibu.."


'Tidak apa-apa. Jangan khawatir. Semuanya akan baik-baik saja.' isyarat Emily menenangkan. Ia sendiri tidak yakin dengan perkataannya.


Mereka membawa Emily dan Ferry beserta anjing peliharaan mereka menuju mobil. Alvin memandangi kepergian Emily dengan tidak rela. Dia tahu, Emily membuat keputusan itu hanya untuk melindunginya. Dia ingin melakukan hal yang sama, tetapi jika ia memaksa untuk melawan orang yang berkuasa ini, ia yakin, dirinya hanya berakhir dengan kematian dan Emily tetap harus ikut dengan mereka.


Alvin terus menatap mereka hingga tidak terlihat dan bunyi deru mesin mobil tidak terdengar lagi di telinganya. Ia duduk sejenak di tempat mereka makan tadi sambil menundukkan kepalanya, sebelum memutuskan untuk kembali. Bagaimana pun, ia tidak bisa membiarkan keluarganya khawatir karena ia tidak kembali dan tidak memberi kabar sejak semalam. Mereka pasti sedang sibuk mencarinya. Ia lalu mendorong kembali motornya ke jalan aspal lalu menghidupkannya lalu kembali berjalan pulang.


Tetapi, di dalam perjalanan, ia di hadang oleh salah seorang yang tadi berada bersama presiden. Alvin langsung merasakan firasat buruk mengenainya. Presiden sudah membawa pergi Emily, lalu mengapa orangnya masih berada di sini?


"Ada apa?" tanya Alvin dengan waspada.


Orang tersebut yang ternyata adalah Reno, sang ajudan, tak menjawab tetapi langsung menyerang Alvin. Ternyata presiden ingin pemuda yang mendapatkan banyak perhatian dari Emily ini mati. Jadi ia dengan sengaja dan diam-diam tanpa sepengetahuan Emily, mengirim ajudannya untuk melenyapkan Alvin.


Alvin tentu saja tidak ingin mati begitu saja. Ia ingin mempertahankan hidupnya karena mengingat kedua orang tuanya yang menyayanginya. Karena itu ia pun menangkis serangan Reno dan melawannya. Sayangnya, pada akhirnya ia harus menerima kenyataan, bahwa bukan hanya di depan Presiden, tapi di depan bawahan sang Presiden pun ia bukanlah apa-apa.


Ketrampilan dan ketangkasan Reno sang ajudan presiden, tidak bisa di samakan dengan orang biasa sepertinya. Alvin harus menerima kekalahan dengan sejuta penyesalan di hatinya. Jika saja ia tahu kalau pada akhirnya ia akan mati di bunuh, ia akan memilih untuk bertarung dengan Presiden tadi dan menunjukkan ketulusannya pada Emily. Setidaknya, kematiannya tidak akan sia-sia.


Haaaaah... Dunia kadang tidak benar-benar adil. Pemimpin yang dikenal bijaksana dan sering dijadikan panutan, bisa menyembunyikan perbuatan kotor mereka dan bebas melakukan sesuatu sesuka hati mereka. Sementara orang-orang kecil hanya akan menjadi korban dari ketidakpuasan mereka. Sungguh miris!!

__ADS_1


__ADS_2