Emily, Sang Gadis Bisu

Emily, Sang Gadis Bisu
Tangkap Dia!


__ADS_3

Kepala Desa mengusap keringat di dahinya saat melihat tumpukan kertas yang menggunung. Ia akhirnya berhasil mengumpulkan data-data yang diinginkan presiden. Wilayahnya mungkin tidak sebesar wilayah lain di negeri ini, tapi tetap saja orang yang hidup dan tinggal desa ini tidaklah sedikit.


"Sebenarnya, siapa yang Bapak Presiden cari di desa ini? Apa orang itu sangat penting baginya sehingga beliau ingin mencarinya sendiri?" tanya istri Kepala Desa saat membantu suaminya.


"Mana aku tahu? Kita sudah menyiapkan begitu banyak hal untuk menyambut kedatangan beliau dan juga jamuan yang mewah itu, tetapi akhirnya sia-sia. Bapak Presiden sudah kehilangan nafsu makannya karena orang itu." jawab Kepala Desa dengan lesu.


"Apa perlu kita juga ikut mencari tahu orang yang dicari oleh Bapak Presiden?" tanya istrinya lagi.


"Tidak! Sebaiknya kita jangan ikut campur." jawab Kepala Desa sambil menggelengkan kepalanya.


Istrinya berkata lagi dengan ragu-ragu,


"Tapi, bukankah Tuan Alex, Pamannya Presiden, meminta kita untuk melaporkan apa punya dilakukan oleh presiden di tempat ini?"


Astaga.. Perkataan istrinya membuat Kepala Desa merasa pusing. Dia tidak berhenti berkeringat dan cemas, sebab terjebak di antara dua orang yang berkuasa. Di satu sisi, ia takut dan hormat pada Presiden, di sisi lain ia juga takut pada Pamannya Presiden. Tetapi pada akhirnya, Kepala Desa tetap mengirim pesan kepada Alex mengenai apa yang di lakukan Presiden Jeremy di desa itu. Ia hanya bisa berdoa dan berharap semoga hal itu tidak membawa masalah padanya.


*****


Malam harinya, Jeremy sibuk membuka dan membaca tumpukan kertas yang tadi di berikan oleh Kepala Desa. Sudah hampir tengah malam dan ia belum juga menemukan yang ia cari. Ajudannya merasa khawatir, makan ia pun mencoba memberanikan diri untuk berkata,


"Maaf, Bapak Presiden. Besok Bapak harus pergi untuk melihat pembangunan pembangkit listrik di desa ini. Bapak beristirahatlah, saya dan yang lainnya akan melakukan pekerjaan ini untuk Bapak."


Perkataan ajudannya membuat Jeremy menghentikan gerakan tangannya. Ia terdiam sesaat memikirkan alasan yang dia pakai untuk datang ke sini. Selain meninjau pembangunan infrastruktur listrik, ia juga harus meninjau pembangunan pelabuhan karena tempat ini mulai ramai dikunjungi wisatawan.


"Bapak Presiden.." panggil ajudannya lagi ketika Jeremy hanya diam.


"Aku akan beristirahat sebentar lagi, jadi jangan ganggu aku." kata Jeremy dingin.


Ajudannya pun menyerah dan undur diri. Sedangkan Jeremy terus sibuk dengan kertas-kertas itu.

__ADS_1


'Emily, aku sangat merindukanmu. Apakah kau tidak merasakan hal yang sama denganku? Haruskah aku langsung ke toko bunga itu untuk menemuimu? Tapi, aku belum siap dan sepertinya tidak akan siap menerima jika benar kau telah menikah lagi.'


*****


Pagi harinya, Jeremy dengan berat hati harus menghentikan pencariannya karena harus melakukan peninjauan. Sepanjang malam ia mencari dan masih belum menemukan apa-apa. Ia tidak tertidur sama sekali. Jeremy pergi namun ia menyuruh orang-orangnya untuk terus mencari setelah memberikan informasi mengenai Emily pada mereka. Selama proses kunjungan itu, Jeremy kurang fokus dengan apa yang mereka katakan. Rasanya ia ingin kembali dan melanjutkan pencariannya. Setelah melihat-lihat dan bertanya serta membahas beberapa hal dengan para pejabat dan juga para pekerja di sana, Jeremy lalu kembali ke tempatnya menginap. Meninggalkan Kepala Desa Nixon bersama para pejabat lainnya setelah menolak jamuan mereka lagi.


"Mengapa Bapak Presiden sepertinya bersikap sedikit aneh? Setahuku, beliau tidak pernah menolak perjamuan yang di sediakan untuknya."


"Wajah beliau juga terlihat lesu. Apakah ada yang mengganggu pikirannya?"


"Kemarin Bapak Presiden seperti mengejar seseorang. Siapa yang beliau kejar?"


"Mungkin Bapak Presiden bersikap seperti itu karena sedang memikirkan Ibu Negara yang sedang hamil besar." ujar Kepala Desa memotong pertanyaan-pertanyaan para pejabat.


"Yah.. Mungkin Kepala Desa benar."


****


Sementara itu, orang-orang yang di perintahkan Jeremy untuk mencari data tentang Emily, masih sibuk dan serius mencari, kecuali satu orang yang tiba-tiba terdiam melihat kertas yang ada di tangannya. Dia melihat ke sekitar dan memastikan tidak ada yang memperhatikannya. Dia lalu menyatukan kertas tersebut dengan tumpukan kertas yang akan di buang. Lalu pura-pura melanjutkan mencari. Setelah beberapa saat ia pun memutuskan untuk membuang berkas-berkas yang telah selesai di periksa.


"Aku akan membuang ini lebih dulu." ujarnya sambil menunjuk ke tempat sampah yang telah penuh, dan yang lain hanya mengangguk mengiyakan.


Tetapi, tepat di depan pintu, ia bertemu dengan Jeremy yang telah kembali lebih awal. Saat melihat Jeremy, orang itu merasa jantungnya hampir copot. Ia menunduk memberi hormat.


"Kau mau kemana?" tanya ajudan Jeremy dengan tegas.


"Saya akan membuang semua dokumen yang telah kami cek." ujar orang itu. Ia berusaha semaksimal mungkin agar tidak terlihat gugup.


"Kalau begitu, minggir! Kau menghalangi jalan Presiden." kata ajudan tersebut.

__ADS_1


Orang itu pun lalu minggir dan memberi jalan. Ketika Jeremy memasuki ruangan, orang itu perlahan berjalan pergi. Namun baru dua langkah ia berjalan, Jeremy bersuara menghentikan langkahnya.


"Tunggu!!"


Orang itu membeku karena ketakutan, terlebih saat Jeremy mendekatinya dan berdiri di depannya.


"Bawa masuk kembali semua yang kau bawa dan periksa kembali di hadapanku!" perintah Jeremy dengan nada dingin membuat tubuh orang itu bergetar.


"Semua berkas ini sudah saya periksa, Bapak Presiden." jawabnya tanpa berani mengangkat wajahnya.


"Beraninya kau menolak perintah Presiden!! Cepat bawa masuk dan periksa kembali!!" bentak ajudan Jeremy.


Ajudan itu tidak mengerti mengapa presiden ingin orang itu memeriksa kembali kertas-kertas yang akan di buang itu, namun orang itu tidak berhak menolak perintah seorang presiden.


"Ta..Tapi, ini hanya sampah, Pak Presiden." kata orang itu dengan gemetar.


"Kau mau memeriksanya kembali atau harus aku sendiri yang memeriksa?!" tanya Jeremy marah.


Ajudannya menjadi cemas melihat perubahan wajah Jeremy. Ia berkata pada orang itu,


"Cepat bawa dan periksa kembali semuanya!!"


Namun orang itu masih berdiri diam di tempatnya, membuat Jeremy kehilangan kesabarannya.


"Tangkap dia!! Bawa semua berkas yang ia bawa dan letakkan di mejaku. Aku akan memeriksanya sendiri." perintah Jeremy pada ajudannya yang langsung di laksanakan olehnya.


Orang yang ingin membuang berkas itu di seret dan di paksa berdiri di depan Jeremy yang mulai memeriksa kertas-kertas tersebut. Orang itu gemetar ketakutan karena tahu ia tidak akan selamat. Sementara mereka yang tadi masih memeriksa di dalam, terdiam di tempatnya masing-masing. Mereka tidak menyangka kalau teman mereka berani melawan Presiden.


Jeremy terus mengambil dan membaca satu per satu kertas itu, hingga setelah beberapa lembar ia berhenti. Sebuah berkas berisi pas foto Emily ada di sana. Namun namanya yang tertulis adalah Lily White. Jeremy tidak tahu bagaimana Emily mengubah identitasnya, yang jelas ia sangat senang bisa menemukan berkasnya. Terlebih pada kertas itu tertulis 'Belum Kawin'. Hatinya di penuhi rasa gembira seolah baru saja menemukan harta karun.

__ADS_1


__ADS_2