
Clarissa termenung, yang di katakan Tantenya itu, semuanya tidak salah. Sejak kepergian Emily, ia telah melakukan segalanya untuk mendapatkan perhatian Jeremy. Tapi, meskipun ia telah memiliki anak dengan pria itu, Jeremy tetap tidak peduli dan terus saja bersikap dingin padanya.
"Clarissa,, bisakah kau berhenti membohongi dirimu sendiri? Mulai sekarang berhentilah menginginkan sesuatu yang tidak mungkin kau miliki. Ada atau tidaknya Emily, di hati Presiden cuma ada wanita itu. Sementara Tante hanya bisa mengamankan hak-hak Jordan, tapi tidak bisa membuat Presiden untuk jatuh cinta padamu. Kau tahu, hati seseorang terkadang tidak bisa diubah. Setidaknya, cintailah dirimu sendiri dan apa yang sudah menjadi milikmu." kata Della. Ia lalu membantu Clarissa untuk berbaring, lalu menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Belajarlah untuk melupakannya. Tante yakin, kau pasti bisa melakukannya. Tante akan selalu ada di sini untukmu." Della lalu mengecup kening Clarissa sebelum memutuskan untuk keluar membiarkan Clarissa beristirahat.
****
Emily menatap ke kejauhan dari jendela kamar tempat ia di kurung. Nampak banyak orang sibuk mempersiapkan pesta penyambutan dan pernikahan untuknya. Meskipun pesta di adakan mendadak, mereka tetap bekerja dengan baik. Karena tindakannya kemarin, Jeremy memajukan rencananya untuk menjadikan Emily sebagai istri keduanya. Ia memutuskan untuk menikahi Emily hari ini. Jeremy sengaja membuat pesta ini sebagai pesta terbesar dan termegah yang pernah tercatat dalam sejarah negeri itu. Ia mengundang semua orang tanpa terkecuali untuk menghadiri pesta itu, bahkan ia juga mengundang beberapa tamu penting dari negara lain. Semua hidangan dipersiapkan dan orang-orang yang di tugaskan memastikan makanan cukup untuk menjamu semua tamu. Kabar tentang kembalinya istri bisu sang Presiden dari kematiannya masih menggemparkan seluruh pelosok negeri. Banyak orang memutuskan untuk datang dan melihat sendiri, meskipun sebagian dari mereka tidak benar-benar peduli padanya dan hanya ingin bersenang-senang di pesta yang di adakan oleh Presiden.
"Nyonya, anda harus bersiap-siap sekarang." seorang pelayan yang bertugas merias Emily berkata dengan ramah. Emily menatapnya dengan kekosongan di hatinya, ingin sekali ia menolak, namun kata-kata Jeremy terus terngiang-ngiang di kepalanya.
"Nyawa anak itu ada dalam genggamanku. Kau harus mendengarkan semua perkataanku, dan jika tidak, aku akan membunuhnya."
Pria gila itu memiliki kelemahan Emily, dan Emily tentu saja tidak ingin sesuatu yang lebih buruk lagi terjadi pada Ferry, jadi ia hanya bisa mengikuti semua yang di inginkan Jeremy, sambil terus memikirkan cara untuk melarikan diri dari tempat ini bersama Ferry. Ia ingin meminta pertolongan dari keluarganya, tetapi saat ia tiba di Istana Negara, ia baru mengetahui jika Felipe Hopkins beserta istri dan putrinya keduanya telah meninggal dunia dalam sebuah insiden perampokan. Emily ingin berziarah ke makam mereka, tetapi tentu saja ia tak di ijinkan untuk keluar Istana oleh Jeremy. Sejujurnya Emily heran, mengapa saat ia di desa, ia tak mendengar sama sekali tentang berita perampokan itu. Padahal perampokan adalah suatu berita besar, apalagi sampai satu keluarga dibunuh. Apakah ada campur tangan Jeremy di dalamnya? Tapi mengapa ia harus membunuh mereka?
__ADS_1
Emily menghela nafas dengan frustasi dan menghembuskannya lagi, mencoba untuk tidak terlalu memikirkannya. Ia kemudian hendak bangkit dari duduknya ketika tiba-tiba Jeremy masuk ke dalam ruangan. Jeremy tersenyum melihat Emily yang masih memakai piyamanya, lalu berjalan mendekatinya dan mengulurkan tangannya meraih helaian rambut Emily dan membawanya ke hidungnya untuk dicium. Emily yang tak menyukai tindakan Jeremy, segera menepis tangan Jeremy tetapi pria itu segera menangkap pergelangan tangannya dan menggenggamnya dengan erat. Jeremy menyipitkan matanya dan menatap Emily dengan tajam.
"Kuharap kau tidak lupa dengan kata-kataku, Emily. Perkataanku kemarin tidaklah main-main. Kau harus selalu memikirkan semua tindakanmu. Kau tidak tahu apa saja yang bisa aku lakukan saat aku marah. Berperilaku baiklah." kata Jeremy sambil mencium punggung tangan Emily.
"Kau tahu, aku sangat bahagia sekarang. Kita akan menikah sekali lagi. Berdandanlah dengan cantik, walaupun setiap saat kau selalu cantik." lanjutnya. Emily menarik tangannya kembali.
'Apa kau bahagia saat bersama dengan orang yang tidak ingin bersama denganmu?' isyarat Emily bertanya dengan kesal, sontak membuat Jeremy mengerutkan dahinya.
"Bukankah aku baru saja mengingatkanmu untuk berhati-hati dengan ucapanmu?" tanya Jeremy. Emily terdiam, mencoba menahan dirinya untuk tidak berkata lebih banyak lagi. Ia kemudian berbalik dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
******
Flashback On
Saat itu, beberapa bulan setelah Jeremy terpilih dan dinobatkan menjadi Presiden. Mantan mertuanya, Felipe Hopkins beserta Istrinya dan Isabella Hopkins, putrinya, datang mengunjunginya di kediamannya sebagai keluarga. Jeremy awalnya tidak ingin menemui mereka, alasannya tentu saja karena ia tidak menyukai mereka, terlebih saat Emily di kabarkan meninggal saat itu, tidak ada satupun dari mereka yang datang melayat. Kabarnya mereka sedang di luar negeri, mengurus sesuatu yang sangat penting di sana. Entah benar atau tidak.
__ADS_1
Namun, saat ia mengingat kemungkinan mereka tahu Emily ada di mana, dan juga karena ia ingin tahu mengenai masa lalu Emily, akhirnya Jeremy memutuskan untuk menemui mereka. Setelah di paksa dengan iming-iming uang dan sedikit kekerasan, mereka akhirnya mengakui jika sebenarnya Emily bukanlah anggota keluarga mereka.
Mereka menemukannya dalam keadaan sekarat saat sedang melintas di jalan menuju ke kota L.
Ketika mereka menemukannya, bukan hanya lidahnya yang hilang tetapi kepalanya juga terbentur dan terluka parah, sepertinya ia terjatuh dan kepalanya mengenai batu yang cukup besar. Saat itu, ia koma dan sekarat, bahkan berhari-hari kemudian barulah ia bangun dari tidur panjangnya. Tetapi, saat ia sadar, dan mereka bertanya tentangnya, pandangannya kosong dan ia tidak ingat sama sekali tentang dirinya. Dokter memvonis jika gadis kecil itu terkena amnesia.
Mereka lalu membawanya pulang dan membesarkannya karena ia memiliki wajah yang sangat cantik. Mereka memberinya nama Emily agar bisa memanggilnya, dan menambahkan marga Hopkins padanya. Ia di bawa ke rumah mereka untuk menjadi teman dari Isabella Hopkins, putri kandung Felipe Hopkins, yang sebenarnya di jodohkan dengan Jeremy. Namun, karena ia bisu, semua yang ada di sana memperlakukannya dengan semena-mena.
Hingga pada saat berita perjodohan cucu keluarga Hopkins dan Charlos muncul, Isabella menolak perjodohan itu karena ia tidak ingin menikah dengan Jeremy si anak haram dan yang di anggap benalu serta aib dalam keluarga Charlos. Mereka lalu memutuskan untuk menggantikan Isabella dengan Emily, mengatakan jika Emily adalah putri pertama mereka. Beruntungnya keluarga Charlos tidak bertanya banyak, sebaliknya memberi mereka mahar pernikahan yang sangat banyak, yang semuanya di ambil oleh ibunya Isabella. Keluarga Hopkins juga mendapatkan banyak keuntungan bisnis dari pernikahan Jeremy dan Emily.
Jeremy yang sangat marah mendengar semua itu, mengusir mereka pulang. Dan malamnya, ia menyuruh orang-orang anggota mafianya untuk merampok dan membunuh Felipe Hopkins sekeluarga. Lalu melarang media untuk mempublikasikan berita itu, dengan alasan takut menimbulkan trauma bagi keluarga Hopkins yang lain.
Flashback Off
*****
__ADS_1
"Aku melakukan ini semua untukmu, Clea." gumam Jeremy, sebelum akhirnya melangkah keluar dari kamar itu.