Emily, Sang Gadis Bisu

Emily, Sang Gadis Bisu
Aku bukan Bonekamu Lagi


__ADS_3

Di tengah kebahagiaannya menemukan informasi Emily, Jeremy teringat dengan orang yang ingin membuang dokumen yang berisi informasi tentang Emily. Hal itu membuat kemarahan membakar jiwanya. Namun, ia segera sadar bahwa orang ini tidak mungkin bekerja sendiri. Pasti ada yang menyuruhnya sampai ia berani seperti itu.


"Siapa yang mengirimmu?" tanya Jeremy pada orang itu sambil menatapnya dengan tajam.


Orang itu diam tak berani bicara. Sepertinya yang menyuruhnya bukan orang biasa.


"Aku tanya, siapa yang mengirimmu?" Jeremy mengulangi pertanyaannya karena pria itu terus menundukkan kepalanya sambil terdiam.


"Jika kau tak ingin bicara, aku pastikan bukan hanya dirimu yang akan mati, tetapi semua orang yang kau sayangi juga akan berakhir sama!" ancam Jeremy.


Mendengar ancaman itu, sontak membuat orang itu mengangkat kepalanya. Wajahnya di penuhi air mata.


"To..Tolong ampuni saya, Pak Presiden.. Saya...."


"AKU BILANG SIAPA YANG MENGIRIMMU!!!" teriak Jeremy tidak sabar. Ia sampai menggebrak meja di hadapannya.


"T..Tuan Alexander Charlos..." jawab orang itu ketakutan.


Mendengar nama itu, Jeremy menggerakkan giginya dengan penuh amarah. Dalam kemarahannya, ia menarik pistol milik ajudannya dan menembak mati orang itu di tempat. Membuat semua yang ada di ruangan itu terkesiap kaget. Mereka sangat terkejut namun tidak ada satupun yang berani bicara atau berteriak, karena mereka tahu seperti inilah sifat Presiden, bahkan semenjak ia masih menjadi Gubernur, ia sangat membenci seorang pengkhianat.


"Kirim mayatnya pada pria tua itu. Patikan dia menerimanya dan membaca suratku!" perintah Jeremy pada ajudannya, lalu meletakkan pistol dan pergi begitu saja membawa berkas Emily.


*****

__ADS_1


Di kediamannya, Alexander Charlos menunggu berita hasil kerja orang suruhannya, namun siapa sangka ia justru mendapat kiriman mayatnya yang mulai membusuk dan sepucuk surat dari keponakannya.


'Aku telah memenuhi janjiku menjadi pemimpin Klan Charlos dan juga menjadi Presiden seperti yang kau mau. Aku juga telah membunuh ayahku untuk mendapatkan keadilan bagi ibuku. Jadi, berhentilah ikut campur dalam urusan pribadiku! Atau aku tidak akan segan untuk berbalik menyerang dirimu! Aku seorang presiden sekarang dan bukan lagi boneka yang bisa kau kendalikan, Pria Tua!!"


Alex tetap diam dan tak bereaksi apapun ketika selesai membaca surat itu. Ia hanya menyuruh untuk membakar mayat itu beserta surat tersebut.


'Jeremy, kau tidak tahu saja. Meskipun aku tidak ikut campur, istrimu sekarang pasti juga tidak akan tinggal diam. Kau tidak tahu, wanita kadang lebih licik daripada pria.'


****


Malam ini adalah malam kedua Jeremy berada di desa tersebut. Meskipun para warga tahu kalau Presiden pasti tidak akan keluar dari penginapan saat malam hari, mereka tetap berkumpul di balai desa. Di sana, mereka bernyanyi bersama dan menampilkan beberapa tarian daerah khas desa itu. Mereka ingin presiden tahu kalau mereka sangat bahagia dengan kedatangannya.


Malam ini, Emily sebenarnya tidak ingin keluar, karena ia tak ingin jika tiba-tiba bertemu Jeremy di luar sana. Namun, ia melihat Ferry terus memandang ke luar jendela, menatap lampu-lampu di jalanan yang terlihat berwarna-warni. Emily merasa kasihan padanya, dan tidak mungkin ia menyuruhnya pergi sendiri. Jadi ia mengajaknya untuk pergi ke sana.


Sementara Emily tiba di sana, tepat saat itu juga Jeremy dan ajudannya serta seorang wanita paruh baya yang di mintai tolong untuk mengantar mereka, tiba di rumah Emily. Jeremy menyamar dengan menggunakan kumis dan rambut palsu. Ajudannya di perintahkan menyamar menggunakan pakaian wanita. Tentu saja ajudannya tidak berani menolak walaupun dalam hatinya ia sungguh tidak rela. Mereka berdua terlihat sebagai pasangan dari kota yang datang ke desa itu untuk mencari Emily. Mereka juga mengaku kalau mereka adalah teman Emily di kota.


Jeremy menatap rumah Emily yang terlihat sederhana dengan perasaan lega. Akhirnya ia akan bertemu dengannya lagi. Ia hanya tinggal mengetuk pintu lalu begitu pintu itu terbuka, ia akan melihat Emily.


"Jadi ini rumahnya?" monolog Jeremy pada dirinya sendiri, namun ibu yang tadi bersama mereka mengira pertanyaan itu untuknya, jadi ia menjawab,


"Benar, Tuan. Di sini adalah rumah Dik Lily, dan yang di depan sana adalah toko bunga miliknya." Ia berkata sambil menunjuk bangunan yang tepat berada di depan rumah Emily.


Beruntung Jeremy sudah mengetahui kalau Emily mengubah namanya, kalau tidak, ia akan kesulitan bertanya nama Emily pada warga. Jeremy terdiam sesaat membaca nama toko bunga itu. Apakah waktu itu Pak Wawan tidak memberi uang yang cukup pada Emily, sehingga ia harus menjual bunga untuk melanjutkan hidupnya? Rasanya ia ingin menyalahkan Pak Wawan saat ini, namun ia lalu teringat, Emily sendiri yang menolak black card serta perhiasan yang di berikannya. Jadi Emily juga pasti tidak mengambil semua uang yang di beri Jeremy lewat Pak Wawan.

__ADS_1


"Dengan siapa ia tinggal?" Jeremy akhirnya bertanya.


"Dik Lily tinggal dengan anak angkatnya, Ferry. Dia mengadopsi anak itu saat Liana masih ada, karena kedua orang tua anak itu telah meninggal." jawab ibu tersebut.


Bibi Liana, hati Jeremy merasa tidak enak mendengar nama itu. Ia tidak bisa berkata apa-apa saat mendengar wanita paruh baya itu telah tiada.


"Oh ya, Dik Lily juga memelihara seekor anjing yang di beri nama Blacky." lanjut ibu itu. Ia tidak menyadari kalau Jeremy tersenyum mendengar perkataannya.


Seekor anjing? Emily benar-benar tidak berubah. Saat kecil, Clea juga sangat menyukai hewan penjaga itu. Jika melihat hewan itu di mana saja, tak perduli itu milik siapa, ia akan meminta ijin untuk mengelus kepala hewan itu sebentar.


Jeremy menarik nafas sebentar, kemudian maju selangkah dan mengetuk pintu rumah Emily, tetapi tidak ada jawaban. Setelah mengetuk beberapa kali, ia baru menyadari kalau rumah itu kosong, karena tidak ada satupun lampu yang menyala di dalam.


"Ah,, saya lupa. Sepertinya Dik Lily dan Ferry sedang pergi ke balai desa." kata ibu tersebut sambil menepuk dahinya.


"Balai Desa?" ulang Jeremy membeo.


"Ya, Bapak Presiden sedang berkunjung ke desa ini, jadi kami semua mengadakan tari-tarian di sana karena sangat senang beliau datang kemari. Pasti mereka juga ikut pergi menonton di sana." jawab ibu itu.


"Tempatnya tidak jauh dari sini. Apa Tuan dan Nyonya mau ikut ke sana?" tanyanya.


Jeremy mengangguk.


"Baiklah, tolong tunjukkan jalannya." katanya. Ia merasa tersentuh mendengar para warga sangat antusias menyambutnya. Namun ia juga merasa geram dengan pemikirannya sendiri.

__ADS_1


'Apa Emily pergi bersama pria itu lagi?'


__ADS_2