
Bagi Clarissa, anaknya sama sekali tidak berguna. Bahkan kehadirannya tak mampu mencegah kedatangan Emily ke tempat ini.
"Aw.. Ibu,, sakit.." rintih Jordan ketika Clarissa tanpa sadar memperkuat cengkeramannya, namun ibunya tidak tergerak mendengar rintihannya. Ia justru semakin menambah kekuatannya, membuat Jordan mulai menangis.
"Ibu,,, sakit..."
Clarissa sangat tidak menyukai wajah Jordan yang menangis, itu sangat mengganggunya. Kekuatan tangannya semakin bertambah, seolah ia ingin meremukkan bahu anak itu.
"Kau hanya bisa menangis dan menangis, tapi mengapa dia bisa sangat menyukaimu?? Mengapa aku bisa melahirkan anak yang tidak berguna sepertimu?!" Clarissa bertanya-tanya tanpa memperhatikan kesaktian Jordan.
"Aaaa.. Hikss, sakit, Ibu.. Hikss,, lepaskan aku.." pinta Jordan ketakutan, ia memberanikan diri menatap Clarissa namun tatapan Ibunya terlihat kosong, membuat merasa ngeri. Beruntung, Della membuka pintu dan melihat apa yang terjadi.
"Clarissa, hentikan! Kau menyakitinya." kata Della.
Mendengar suara Tantenya, Clarissa seketika tersadar. Akak sehatnya seolah kembali dan ia bisa melihat putranya menangis kesakitan. Cengkeramannya segera terlepas dan ia memandangi kedua tangannya dengan nanar, menyadari bahwa ia telah melakukan kesalahan. Ia menyakiti putranya bahkan menganggapnya tak berguna hanya karena Jeremy tidak memperhatikannya. Ia sadar, buka putranya yang salah, tetapi dirinya sendiri yang tidak ada harganya di depan Jeremy. Namun, terkadang syndrom baby blues yang di deritanya sering menguasainya, membuatnya berharap dan harapan itu membuatnya mencari alasan untuk menenangkan hatinya seperti ini, menyalahkan putranya. Saat pegangan Clarissa terlepas, Jordan segera berlari menuju Della.
"Nenek!"
Ia memeluk Della dan menangis dalam pelukannya, sementara Della menatap Clarissa yang juga tengah menangis dalam diamnya. Ia ingin menghibur Clarissa, tetapi dengan Jordan yang menangis di gendongannya, ia memilih untuk menenangkan anak itu lebih dulu.
"Bantu Ibu Presiden untuk kembali ke tempat tidurnya." perintah Della pada pelayan yang ada di sana, lalu menggendong Jordan keluar menuju kamar anak itu. Jordan masih terus menangis meskipun telah berada di tempat tidurnya, pelukannya pada Neneknya juga semakin erat.
"Hiks..Ibu Negara..hikss.. tidak menyukaiku..." ucap Jordan dengan suara bergetar karena tangisannya. Dell mengusal air matanya dan membelai rambutnya dengan lembut.
"Shhh, shh.. Jangan menangis lagi. Ibumu tidak membencimu." kata Della.
Ia bisa merasakan betapa sedihnya perasaan anak itu mendapat perlakuan kasar dari Clarissa. Ia tahu, sikap Clarissa sangat keterlaluan. Tapi itu terjadi karena sikap Jeremy. Semua ibu muda di dunia pasti akan mengalami baby blues jika mentalnya tertekan. Della tidak ingin cucunya membenci ibu kandungnya. Ia sangat berharap, suatu hari nanti, Jordan bisa mengubah kehidupan Clarissa menjadi lebih baik lagi.
__ADS_1
"Ta..tapi.. Ibu bilang a..aku tidak berguna.." suara Jordan semakin mengecil dan ia mulai menangis lagi.
"I...Ibu m.. membenciku.. Hikss.." Hati Della terasa sesak melihat kesedihan Jordan, ia segera memeluknya.
"Tidak, itu tidak benar. Ibu Negara menyayangimu dan tidak pernah membencimu. Ibu Negara seperti itu karena dia sedang sakit, sehingga tidak sadar dengan apa yang dia katakan." kata Della menenangkannya. Ia melepaskan pelukannya lalu mengusap air mata anak itu.
"Percayalah pada Nenek. Kau adalah putra kandungnya, jadi bagaimana bisa dia membencimu? Ibumu sangat mencintaimu, kau dan adikmu adalah kekuatannya dan alasannya bertahan." ujar Della.
"Jangan membenci Ibumu, Jordan..."
****
Setelah Jordan akhirnya tertidur, Della kemudian melangkah keluar menuju kamar tempat Clarissa berada. Ia mendapati ruangan itu gelap, tak ada satupun lampu yang menyala, membuatnya ikut merasakan betapa suramnya tempat ini. Sambil menghela nafasnya, Della menekan saklar dan membuat kamar itu terang benderang. Sosok yang ada di tempat tidur bergerak sedikit, dan berbicara dengan suara seraknya, menandakan ia baru saja menangis hebat.
"Aku bilang matikan lampunya!”
"Clarissa." Della memanggilnya dengan lembut. Ia merasa iba pada keponakannya itu. Clarissa yang sejak tadi terpejam, perlahan membuka matanya dan berbalik, nampak masih ada sisa-sisa air mata yang mengalir di sana.
"Berhentilah menangis." ucapnya. Clarissa merasa miris dengan dirinya sendiri, satu-satunya orang yang benar-benar tulus padanya hanyalah Tantenya sendiri. Sementara orang yang ia harapkan, sama sekali tidak pernah peduli padanya. Tapi ia selalu mengharapkannya, berandai-andai suatu hari nanti pria itu akan kembali bersikap baik padanya seperti dulu, saat pria itu membutuhkannya.
"Apa Jordan baik-baik saja?" tanya Clarissa akhirnya.
"Hmm.. Dia baik-baik saja, dan sedang tidur sekarang." sahut Della sambil mengusap air mata Clarissa, tapi bukannya diam, Clarissa justru semakin menangis.
"Aa..aku tidak bermaksud menyakitinya.." lirihnya pilu. Della mengangguk sambil terus mengusap air mata Clarissa.
"Tante tahu, jangan khawatir. Tante tidak menyalahkanmu." katanya. Clarissa terdiam beberapa saat.
__ADS_1
"Bagaimana kalau dia menyalahkanku?" tanyanya.
"Siapa yang kau maksud? Presiden atau putramu?" Della balik bertanya. Clarissa terdiam, bingung hendak menjawab apa.
"Apa kau lebih khawatir di salahkan Presiden dari pada di benci putramu sendiri?" tanya Della saat Clarissa terus saja diam. Della menghela nafasnya, lalu berkata dengan hati-hati.
"Sayang, Tante menasehatimu karena Tante peduli padamu. Jordan adalah putramu, darah dagingmu. Presiden adalah suamimu, tapi beliau tidak mencintaimu bahkan menganggapmu tidak ada. Bagimu, mana yang lebih penting, Presiden atau putramu?" Mendengar ini, hati Clarissa bagaikan di tusuk berulang-ulang.
"Tapi aku mencintainya.." gumamnya.
"Tante tahu." sahut Della menahan nafasnya.
"Dan aku sangat menginginkannya." gumam Clarissa lagi.
"Hufft.. Tante tahu, tapi yang kau cintai tidak mencintaimu dan yang kau inginkan tidak menginginkanmu. Dia mencintai dan menginginkan orang lain." papar Della.
Kata-kata Della barusan membuat hati Clarissa semakin hancur, ia bangun dengan putus asa dan berteriak:
"Apa yang Tante katakan?? Apa Tante tidak mau mendukungku lagi? Tante tahu aku sangat mencintainya, jadi mengapa Tante mengatakan hal seperti itu? Itu membuatku sangat sakit. Apa Tante juga ingin menyalahkanku?" Clarissa terisak dan terengah-engah, Della memegang kedua tangannya, mencoba menenangkannya.
"Tante selalu mendukungmu. Tapi, Tante juga ingin yang terbaik untukmu. Tante ingin melihatmu bahagia bukan terpuruk seperti ini." ucap Della lembut, namun Clarissa masih saja keras kepala.
"Jika Tante ingin melihatku bahagia, maka bantu aku menyingkirkan wanita bisu itu. Bantu aku bersatu dengan Jeremy. Tante tahu, hanya dia yang bisa membuatku bahagia. Aku mencintai dan mengi..."
"Tiga tahun." potong Della dengan cepat.
"Apa?" tanya Clarissa bingung.
__ADS_1
"Tiga tahun. Kalian telah bersama selama tiga tahun, dan itu tanpa kehadiran wanita bernama Emily. Apa kau pernah merasa bahagia?" tanya Della. Clarissa mengedipkan matanya, tertegun.
"Clarissa, kau tahu, dulu Tante membantumu karena awal Jeremy ke rumahmu, dia selalu memperlakukanmu dengan baik. Tante pikir waktu itu ia hanya sedikit kehilangan arah saat ingin mengembalikanmu ke rumah lama kedua orang tuamu. Dan saat itu kau juga meyakinkan Tante kalau Jeremy mencintaimu, dan hanya sedikit berkabung karena istrinya meninggal. Tante juga sama sepertimu, berpikir kalau waktu dan keadaan bisa mengubah Jeremy untuk mencintaimu. Itu sebabnya saat itu Tante membantumu untuk memiliki anak darinya. Tapi sekarang, Tante sadar, semuanya salah. Tante tahu, kau tidak bahagia sama sekali. Kau terus menerus tersiksa setiap hari. Hingga akhirnya kau menjadikan putramu sebagai sasaran kemarahanmu." kata Della panjang lebar, membuat Clarissa kehilangan kata-katanya.