Emily, Sang Gadis Bisu

Emily, Sang Gadis Bisu
Meminta Keponakan


__ADS_3

Emily sangat senang bertemu dengan mereka semua.


"Lama tidak bertemu, sayang." kata Tante Agnes masih memeluk Emily.


"Kakak, bagaimana keadaanmu sekarang? Maaf, baru bisa menemuimu. Setiap kali kami datang, kak Jeremy selalu menyuruh kami kembali dengan alasan kakak perlu istirahat yang cukup." kata Steven dengan wajah menyesal.


Emily tersenyum lembut, Jeremy tentu saja tidak mau membiarkan mereka bertemu karena takut kebohongan ini terbongkar.


'Seperti yang kalian lihat, aku baik-baik saja.' isyarat Emily.


"Kakak, kami dengar kakak dan kak Jeremy mengalami kecelakaan. Ada yang menyerang kalian. Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Fernando tidak sabaran.


"Ya, apa yang terjadi? Bagaimana kak Emily dan kak Jeremy di serang dan ke mana kalian menghilang?" tanya Indriana dengan khawatir.


Emily mengerutkan alisnya, ia terhenyak. Semua orang menatapnya dengan wajah penasaran menuntut jawaban. Dari mana mereka tahu? Bukankah kata Pak Wawan, mereka tidak memberi tahukan berita hilangnya Jeremy dan Emily kepada keluarganya dan juga publik?


Bibi Liana datang menghilangkan teh dan beberapa kue kering untuk camilan, mengalihkan atensi Emily sesaat. Emily menatap Bibi Liana dengan ekspresi bertanya, namun Bibi Liana yang tidak tahu apa yang barusan mereka bicarakan, hanya terdiam lalu pamit undur diri.


"Kami tidak sengaja mendengar beberapa pelayan tadi membicarakan hal itu ketika kami sampai. Kakak, mengapa kalian bisa menyembunyikan hal sebesar ini?" kata Fernando gusar.


Emily menarik nafas pelan.


'Kami tidak memberi tahu kalian karena kami takut kalian khawatir dan tidak memberi tahu siapapun karena takutnya akan berimbas ke perusahaan jika ada yang tahu kalau Jeremy hilang. Kami juga tidak ingin mengganggu momen kebersamaan ayah dan ibu, bukankah mereka sedang berlibur?' isyarat Emily membuat mereka mengangguk.


'Lagipula, kami baik-baik saja sekarang. Saat itu kami sedang ingin berlibur di Villa yang ada di puncak. Aku tidak pernah ke sana sebelumnya dan sedikit tertarik untuk melihat-lihat ke sekitar Villa. Aku tidak sengaja sampai ke tebing yang ada di dekat danau, dan baru sadar kalau Jeremy mengikutiku. Di sana tiba-tiba ada yang menyerang kami.' isyarat Emily bercerita.


"Memangnya tidak ada anak buah kak Jeremy yang menjaga kalian?" tanya Steven.


'Para anak buahnya berjaga di depan Villa. Siapa yang akan menyangka kalau orang-orang suruhan musuhnya sudah berada di sana sebelum kami tiba?' isyarat Emily lagi.


"Darimana mereka tahu kalau kalian akan ke sana?" tanya Tante Agnes. Emily mengangkat bahunya.

__ADS_1


"Dan orang hebat seperti Tuan Jeremy tidak bisa sama sekali melindungimu dari mereka?" tanya Tante Agnes lagi, ia merasa bebas bertanya karena saat ini Jeremy sedang pergi ke perusahaan.


"Itu benar! Kakak Jeremy sangat hebat. Mengapa dia tidak bisa melindungi kak Emily? Dan bukankah kak Emily juga menguasai sedikit bela diri? Mengapa kalian tidak melawan?" kali ini Fernando yang bertanya. Ia sendiri juga merasa heran.


'Kalian tidak tahu saja, jumlah mereka terlalu banyak dan mereka membawa pistol. Sekalipun kami berdua bisa bela diri, tapi berkelahi dengan tangan kosong melawan senjata api, tentulah kami akan mati sia-sia. Jadi Jeremy memilih untuk membawaku melompat dari tebing dan kami jatuh ke sungai di bawahnya.' isyarat Emily menjelaskan.


Mereka semua saling memandang.


"Maafkan kami, kakak. Kami tidak tahu kalau kejadiannya seperti itu." sesal Steven dan yang lain mengangguk.


'Tidak apa-apa.' Emily tersenyum.


'Jangan selalu berpikiran buruk tentang Jeremy.' lanjutnya.


"Benarkah Tuan Jeremy melakukan itu?" tanya Tante Agnes. Emily mengangguk.


"Wow.. Tuan Jeremy pasti sangat mencintaimu, itu sebabnya dia tidak mengabaikan keselamatanmu." kata Tante Agnes dengan antusias.


"Lalu, apa yang terjadi setelah itu?" tanya Adriana.


'Kami terbawa arus dan kaki Jeremy terluka parah. Untungnya, kami di tolong oleh seorang kakek petani yang tinggal hutan. Dia membantu merawat luka Jeremy dan mengijinkan kami untuk tinggal di rumahnya. Kakek itu juga menunjukan jalan pada kami untuk kembali.' isyarat Emily memberi tahu. Namun ia tidak memberi tahu mengenai istri petani itu.


"Kakek itu sangat baik. Dia harus diberi hadiah karena sudah menolong kalian." kata Fernando.


'Kemarin Jeremy sudah menyuruh asistennya untuk mengantar hadiah ke sana. Sayangnya, kakek petani itu menolak uang dan barang yang diberikan Jeremy padanya. Dia bilang, ia tidak memerlukan semua itu di tengah hutan. Jadi ia hanya menerima beberapa ternak yang di bawa Lukas untuk ia rawat. Aku sangat berterima kasih padanya. Karena dia, nyawa kami bisa selamat.' Emily tersenyum ketika mengisyaratkan ini.


"Kalian berdua sangat beruntung." kata Tante Agnes. Ia lalu mengambil satu kue kering dan menggigitnya, kemudian berbalik menatap Emily.


"Lalu, apakah ada hal baik yang terjadi diantara kalian berdua?" tanyanya sambil mengedipkan matanya.


Emily mengerjap bingung. Hal baik?

__ADS_1


"Ya, hal baik. Kalian selalu bersama di hutan, jadi aku bertanya-tanya apakah ada hal baik yang terjadi?" tanya Tante Agnes lagi sembari menurunkan arah pandangannya ke perut Emily.


Emily yang melihat arah tatapan Tante Agnes merasa malu. Ia teringat perkataan Jeremy saat itu.


'Apa salahnya berganti pakaian di depan suami sendiri?'


Wajah dan telinganya menjadi memerah saat mengingat hal itu.


'Tidak ada apa-apa yang terjadi diantara kami selama di sana.' isyaratnya.


Tante Agnes berdecak kesal sementara para sepupu Jeremy merasa bingung. Mereka masih tidak mengerti dengan maksud pertanyaan Tante Agnes tentang hal baik.


"Ada begitu banyak kesempatan tetapi mengapa tidak ada apa-apa yang terjadi diantara kalian?" tanyanya dengan gemas. "Katakan padaku, apakah kamu sudah tidur dengannya?" tanya Tante Agnes lagi.


Apa yang Tante Agnes tanyakan? Tentu saja ia tidak pernah tidur dengan.... Tunggu dulu! Dia selalu tidur bersama Jeremy di ranjang yang sama di rumah petani tua. Tapi mereka berdua tidak melakukan apa-apa selain tidur.


Melihat Emily antara diam, Tante Agnes memijat keningnya dan merasa frustasi.


"Astaga, Emily... Kalian sudah menikah begitu lama dan Tuan Jeremy sudah kembali berbulan-bulan, tapi aku belum juga mendapatkan tanda-tanda akan memiliki keponakan. Apakah kalian berdua ini benar-benar masih suami istri?" tanyanya dengan sangat gemas.


Keponakan? 'Tante Agnes berpikir terlalu jauh.' pikir Emily. Namun sepertinya perkataan Tante Agnes membuat keempat saudara Jeremy menjadi bersemangat.


"Keponakan?" tanya mereka berempat secara bersamaan seperti akan melakukan paduan suara.


Tante Agnes tersenyum senang.


"Ya, keponakan. Apa kalian tidak ingin memiliki keponakan dari kakak kalian Bayangkan, jika Emily dan Tuan Jeremy memiliki anak. Tidak peduli apakah nanti anak itu laki-laki atau perempuan, yang jelas anak mereka pasti akan sangat imut dengan tubuh bulat mungil dan wajah yang berisi serta mata yang bersinar cerah, pipi yang kemerah-merahan dan rambut yang berkilau indah. Pasti akan sangat menggemaskan bukan?" kata Tante Agnes.


Mendengar ini, mata keempat bersaudara itu berbinar cerah. Si kembar Adriana dan Indriana sampai bertepuk tangan.


"Itu pasti akan sangat menyenangkan." seru mereka.

__ADS_1


"Tentu saja itu pasti akan sangat menyenangkan. Jadi minta pada kakak laki-laki kalian untuk bekerja lebih keras lagi memberi kalian keponakan." kata Tante Agnes memprovokasi.


__ADS_2