Emily, Sang Gadis Bisu

Emily, Sang Gadis Bisu
Tak Sabar untuk Bertemu


__ADS_3

Mereka bertiga kini sedang duduk di sebuah warung makan, menyantap makanan mereka. Warung itu ramai di kunjungi pengunjung. Mereka sibuk membicarakan kedatangan Presiden esok nanti. Desa mereka adalah desa terpencil dan seorang kepala negara ingin datang berkunjung, tentu itu sangat luar biasa bagi para warga desa.


"Apa besok kau juga akan pergi melihat Presiden?" tanya Alvin di sela-sela makannya.


'Ya, aku dan Ferry akan pergi melihat.' isyarat Emily sambil mengangguk.


"Kalau begitu, bagaimana kalau kalian ikut denganku? Aku tahu tempat yang bagus untuk bisa melihat Presiden." kata Alvin dengan bersemangat.


"Benarkah?" Ferry bertanya dengan mulut penuh dan mata berbinar. Ia sangat antusias mendengarnya.


Alvin mengangguk.


"Ya, aku tahu satu tempat." ujarnya.


'Apakah tempat yang kau maksud itu di atas bukit?' isyarat Emily bertanya.


"Ah.. Jadi kau juga sudah tahu tentang tempat rahasia itu?" tanya Alvin terkejut.


Emily tersenyum dan melambaikan tangannya.


'Itu bukan tempat rahasia, Alvin. Semua orang mengetahui tempat itu. Hanya saja, di sana terlalu jauh untuk melihat.'


"Yah.. Kau benar." kata Alvin dengan lesu.


"Tempat itu terlalu jauh jika kau ingin memberikan bunga pada Presiden. Lily, apa kau juga ingin memberi bunga padanya?" tanya Alvin.


Emily terdiam sesaat, untuk apa ia memberinya bunga? Seingatnya, pria itu tidak suka bunga, dan kalaupun suka, ada banyak orang yang ingin memberikan bunga padanya, dan pria itu tidak mungkin mengambil semua bunga-bunga itu. Emily menoleh ke arah Ferry yang tengah asyik mengunyah.


'Ferry, apa kau ingin memberi bunga untuk Presiden?' isyaratnya.


Bocah kecil itu merasa malu di tanyai seperti itu. Tentu saja ia ingin memberikan bunga pada orang nomor satu di negeri ini, tapi pasti di sana akan ada banyak orang, dan jalanan akan penuh sesak dengan orang-orang yang ingin melihat Presiden. Ferry tidak ingin membuat ibu angkatnya menjadi tidak nyaman hanya karena keinginannya. Lagi pula, dengan tubuhnya yang pendek, ia mungkin akan tenggelam dalam kerumunan dan Presiden tidak bisa melihatnya untuk mengambil bunga darinya. Jadi ia memutuskan untuk menggeleng.

__ADS_1


'Apa kau yakin?' isyarat Emily bertanya ketika ia melihat Ferry seperti menahan sesuatu dalam pikirannya.


'Jangan khawatir, ada banyak bunga di toko. Kau bisa memilih mana yang kau sukai untuk kau berikan pada Presiden nanti.' isyaratnya lagi.


Ferry tersentuh melihat apa yang di katakan Emily namun ia tetap menggelengkan kepalanya.


"Aku hanya ingin melihatnya. Aku sangat pendek, Presiden pasti tidak bisa melihatku membawa bunga di tengah kerumunan. Lebih baik, kita melihatnya dan atas bukit. Aku bisa melihatnya dengan jelas dari sana dan tidak perlu berdesak-desakan." katanya bijak.


Emily kembali tersenyum dan mengusap kepala anak itu.


'Baiklah. Kita akan melihatnya dari bukit.' isyaratnya.


"Bagus! Kalau begitu, kita bisa pergi bersama besok." ucap Alvin sambil bertepuk tangan.


Selesai makan, mereka masih berjalan-jalan sebentar. Emily singgah di sebuah toko yang menjual benang, dan ia membeli beberapa benang wol.


"Apa kau ingin merajut sesuatu?" tanya Alvin penasaran.


"A.. apakah kau tidak keberatan jika membuatkan sesuatu untukku?" tanya Alvin dengan gugup.


Emily menoleh dan tersenyum menatapnya.


'Warna apa yang kau suka?' isyaratnya.


"Maroon." sahut Alvin.


'Kalau begitu, aku akan membuatkan topi berwarna maroon untukmu.' isyarat Emily lalu memilih bola wol berwarna maroon.


Melihatnya membuat perasaan Alvin menghangat.


"Benarkah kau akan membuatkannya untukku?" tanyanya senang.

__ADS_1


Emily kembali mengangguk.


'Aku akan membuatnya untuk kalian berdua.' isyaratnya sambil menunjuk Alvin dan Ferry.


"Terima kasih, Ibu." ucap Ferry bahagia.


Alvin tertegun sejenak, lalu mengucapkan terima kasih dan mengantar Emily dan Ferry sampai ke rumah mereka.


*****


Keesokan harinya, mereka pergi ke atas bukit. Dari sana, mereka bisa melihat banyaknya orang yang berdiri di pinggir jalan menanti kedatangan Presiden.


"Lihat di sana, benar-benar penuh sesak." komentar Alvin sembari menunjuk ke jalanan.


Dia benar, tempat itu seperti lautan manusia. Meskipun desa itu kecil, namun penduduknya lumayan padat. Di atas bukit tempat mereka berada sekarang pun tidak jauh berbeda, banyak orang yang berada di sana, terutama yang mempunyai anak kecil. Para aparat kepolisian berjaga di sepanjang jalan yang akan di lewati Presiden.Semua orang ingin melihat Presiden, begitu pun Emily, ia merasa sudah sangat lama tidak melihatnya.


"Kira-kira berapa lama lagi rombongan presiden akan sampai?" tanya Ferry tidak sabar.


"Entahlah, aku dengar rombongan sudah sampai di pelabuhan. Mungkin sebentar lagi akan melewati jalan ini." sahut Alvin sambil terus memandang ke arah jalanan.


Desa itu tidak memiliki bandar udara, satu-satunya akses ke sana adalah lewat jalur laut. Emily mengusap kepala Ferry dan meminta anak itu agar bersabar.


Sementara itu, Jeremy baru saja tiba di pelabuhan ketika ajudannya mengatakan kalau semuanya sudah siap. Ia menghirup udara sebanyak yang ia bisa, lalu menghembuskannya dengan perlahan. Selama ia menjadi Presiden, ia sudah bepergian ke banyak tempat. Menjadikan kunjungan sebagai kedok untuk mencari Emily. Namun pencariannya selalu nihil.


Tetapi kali ini, kunjungannya tidak akan sia-sia. Karena ia sudah tahu kalau Emily ada di desa ini. Dia bisa saja langsung menuju ke toko bunga Lily Florist itu dan menemui Emily di sana, namun ia tidak ingin terjadi kehebohan dan membuat Emily menjadi tidak nyaman. Jadi ia memutuskan untuk membiarkan semuanya berjalan perlahan, seolah-olah ia tidak sengaja menemukannya. Dengan rasa rindu yang membuncah dan segala macam perasaan yang berkecamuk di dadanya, Jeremy memasuki mobil yang akan membawanya ke balai pertemuan di desa itu.


Sebagai seorang Presiden, dia akan selalu menarik banyak perhatian. Orang-orang akan berkumpul untuk melihatnya, dan Jeremy berharap Emily akan ada di antara kerumunan orang-orang itu.


Saat memasuki jalanan desa, Jeremy membuka kaca mobil dan melambaikan tangan menyapa semuanya. Orang-orang segera menyambutnya, mereka bersorak dan mendoakan dia agar umur panjang dan sehat selalu. Mereka juga memanggilnya agar presiden melihat ke arah mereka dan mengambil bunga yang mereka bawa. Jeremy mengambil bunga-bunga itu sebagai formalitas, dia hanya mengambil bunga dari orang-orang tua dan anak-anak.


Saat melakukan itu semua sambil tersenyum, ia terus melihat ke sekitar, mencari keberadaan Emily. Tapi ia tidak berhasil menemukannya. Ada begitu banyak orang dan semuanya seakan bercampur menjadi satu, bahkan jika Emily hadir di sana, ia mungkin tenggelam dalam kerumunan dan sulit di jangkau oleh netranya. Namun, Jeremy tidak menyerah. Ia terus berusaha mencari lewat pandangannya. Tetapi, setelah begitu lama, ia masih belum menemukan Emily.

__ADS_1


Dia tidak melihat Emily di tengah kerumunan, atau mungkin Emily tidak hadir karena tidak ingin melihatnya?


__ADS_2