
Berkat Dokter Darren, nyawa Emily akhirnya bisa terselamatkan. Namun, saat ini ia masih kehilangan kesadarannya. Sementara itu, Jeremy belum bisa berhenti merasa khawatir ketika melihat Emily yang tidak sadarkan diri. Ini sama seperti dulu, ketika Clea sudah mendapatkan obat tetapi masih tidak sadarkan diri.
Hal ini sungguh membuatnya takut.
"Apa dia benar-benar baik-baik saja?" tanya Jeremy untuk kesekian kalinya pada Dokter Darren.
"Ya, Nona Muda akan baik-baik saja. Aku sudah memberinya obat jadi Tuan Jeremy tidak perlu khawatir." jawab Dokter Darren sambil mengangguk.
"Apakah kau yakin? Bukankah alergi kacang almond itu sangat berbahaya dan bisa mengancam nyawa?" tanya Jeremy dengan kalut.
"Tentu saja alergi itu bisa membahayakan nyawanya. Nona Muda mungkin saja mati jika tidak ditangani dengan cepat, beruntung tadi Tuan Jeremy bisa menemukannya tepat waktu. Jika tidak, mungkin Nona Muda akan..." Dokter Darren menghentikan perkataannya, ketika Jeremy mengangkat tangannya sebagai isyarat baginya untuk berhenti bicara.
Jeremy tidak ingin mendengar apapun yang tidak baik bagi Emily. Jeremy mengusap pipi Emily dengan perlahan. Ia bisa merasakan suhunya mulai terasa hangat dan warna kulitnya sudah tidak sepucat tadi. Saat Jeremy memperhatikan Emily, pamannya yang sejak tadi memperhatikannya bertanya, "Jadi, kau tidak ingin dia mati?"
Jeremy hanya mendengarkan, ia tidak ingin menjawabnya. Alex menatap Jeremy yang berdiri membelakanginya.
"Apa kau mencintainya? Apa kau jatuh cinta pada wanita yang bisu ini? Jeremy, kau..."
"Dia tidak pantas untuk mati!!" kata Jeremy memotong perkataan Alex. Ia berbalik dan menatap pamannya dengan tatapan tajam.
__ADS_1
"Dia tidak pantas mendapatkan semua perlakuan ini!!" kata Jeremy sekali lagi.
Emily sama sekali tidak pantas untuk disakiti hanya untuk mewujudkan keinginan orang-orang sialan ini. Dia seharusnya tidak kehilangan lidahnya dan juga tidak seharusnya kehilangan kedua orang tuanya hanya karena tidak sengaja melewati jalan yang sama dengan Richard malam itu. Istrinya itu seharusnya tidak menderita. Istrinya itu seharusnya selalu tersenyum padanya. Alex terdiam sesaat mendengar perkataan Jeremy dan sikap keras kepalanya. "Perasaanmu membuatmu menjadi lemah, Jeremy. Istrimu yang bisu itu mungkin beruntung karena bisa selamat sekali lagi dari kematiannya, tapi tidak denganmu, Jeremy. Kau tidak bisa kembali." kata Alex dingin.
Jeremy menggertakkan giginya dan mengepalkan tangannya dengan kuat. Benar, dia tidak bisa kembali. Tidak ada jalan baginya untuk kembali.
*****
Perlahan Emily membuka matanya dan menemukan Jeremy sedang menatapnya. Emily tidak jadi mati tapi rasanya baru saja kembali dari kematian. Samar-samar ia mengingat apa yang telah terjadi padanya. Emily merasa sangat bodoh, seharusnya ia mengikuti kecurigaannya. Ia tidak pernah makan camilan di malam hari, namun pelayan itu justru memberikan sepiring penuh kue kering yang ternyata mengandung kacang almond padanya, terlebih kue itu dari Alexander Charlos yang tidak pernah menyukainya.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Jeremy dengan nada lembut membuyarkan lamunannya, kemudian membantunya duduk. Emily mengangguk pelan dan memegangi lehernya. Melihatnya, Jeremy mengambil segelas air dan memberikan pada Emily untuk ia minum. Setelah selesai minum, dengan masih memegang gelasnya, Emily memandang ke sekeliling kamarnya lalu menyadari kalau keadaan di sekitarnya sangat sepi dan terasa suram.
"Berita tentang kematianmu sudah di umumkan."
"Alergi kacangmu akan menjadi penyebab kematianmu. Kau bisa pergi dari sini." Jeremy mengatakannya dengan hati yang sangat berat.
Pamannya benar, orang-orang yang mendukungnya untuk menjadi pemimpin, mereka semua bukanlah orang-orang biasa. Dia tidak bisa kembali dan menghentikan seluruh rencana awal mereka. Tidak semua orang bisa menjadi seperti Bibi Liana ataupun Pak Wawan dan semua pelayan yang ada di Mansion ini yang bisa menerima keadaan Emily.
Jeremy tahu, jika ia tetap bersikeras untuk berhenti, akan ada sesuatu yang dilakukan oleh orang-orang itu padanya dan juga pada Emily. Orang-orang yang ada di belakang punggungnya adalah jenis orang seperti Alex yang akan menghalalkan segala cara untuk memuluskan jalan mereka. Mereka akan menyingkirkan apa pun yang di anggap sebagai duri yang menghalangi, dan keberadaan Emily saat ini adalah salah satu duri di mata mereka.
__ADS_1
Semalam saja, ia baru mengetahui jika penyerangan di Villa waktu itu, tujuan sebenarnya adalah Emily dan bukan dirinya. Pantas saja orang-orang itu bisa berada di dalam Villa padahal ada anak buahnya yang berjaga di sana. Jika Jeremy tetap keras kepala menahan Emily di sampingnya, ia tentu tidak bisa menjamin keselamatan Emily. Ini satu-satunya cara agar Emily tidak di targetkan oleh mereka.
Emily tidak tahu apa yang pria itu pikirkan, tetapi ia berusaha untuk tidak memikirkannya. Walaupun tentu saja ada rasa sakit di dadanya memikirkan bahwa mulai hari ini ia bukanlah istri dari Jeremy lagi.
'Terima kasih untuk segalanya.' isyarat Emily. Lalu tiba-tiba ia memberanikan diri memeluk dan mencium pipi Jeremy untuk yang pertama dan terakhir kalinya. Membuat tubuh pria itu membeku sebab terlalu bahagia. Ia baru saja hendak balas memeluk, namun Emily sudah melepaskan dirinya sambil tersenyum iklhas, membuatnya menelan kekecewaannya.
*****
Emily terpaku menatap layar yang ada di kamarnya. Di sana menampilkan keadaan di luar. Tampak di dalam peti ada sebuah mayat wanita yang wajahnya persis seperti Emily, entah dia di pakaikan topeng atau memang wajahnya mirip dengannya. Tentu tidak sulit bagi Jeremy dan Alex untuk menemukan mayat pengganti dirinya, mengingat mereka berdua adalah mafia yang kejam, tidak seperti Antonio, yang meskipun di sebut pemimpin mafia, namun ia tidak melakukan sesuatu yang ilegal. Antonio menentang tindakan jual beli organ tubuh manusia maupun transaksi obat-obatan terlarang. Hal inilah yang membuat beberapa anggota tidak menyukainya karena pemasukan pundi-pundi uang mereka berkurang, dan mulai berkhianat.
Emily memejamkan matanya. Dia bisa mendengar orang-orang menangis di luar sana. Si Kembar Adriana dan Indriana menangis paling keras. Mereka mengatakan kalau mereka menyesal. Seandainya saja mereka memutuskan untuk menginap hari itu, mungkin semuanya tidak akan terjadi. Emily tidak menyangka bahwa akan ada banyak sekali orang yang peduli padanya. Mendengar mereka menangis membuat hatinya terus di penuhi oleh rasa bersalah. Ia tidak bisa melakukan apa-apa, ia hanya bisa meminta maaf dalam hatinya.
***
Banyak orang hadir di pemakamannya dan membuat pemakaman itu penuh sesak. Dari kejauhan, Emily melihat peti matinya yang berisi mayat orang lain perlahan di turunkan dan di kuburkan di dalam tanah.
"Nona Muda." suara Bibi Liana mengalihkan atensinya.
Emily menoleh dan menatap Bibi Liana yang sudah siap untuk pergi dengannya. Emily mengangguk. Ia menutupi kepalanya dengan selendang, lalu memakai kacamata dan masker. Kemudian segera pergi dari sana untuk memulai kehidupan barunya.
__ADS_1
Jeremy tidak mengantarkan kepergiannya. Semalam setelah mengatakan bahwa semuanya telah selesai, Jeremy tidak pernah menemuinya lagi. Seolah menghindarinya, pria itu menyerahkan semua urusan pada Pak Wawan dan Bibi Liana untuk mengurus semua yang diperlukan Emily sebelum pergi. Melalui Pak Wawan, Jeremy memberikan black card miliknya, perhiasan dan juga uang tunai untuk Emily, Tetapi Emily meninggalkan black card dan perhiasan itu. Dia hanya membawa sejumlah uang tunai untuk digunakannya dalam perjalanannya nanti.
Sebelum pergi, Emily bisa melihat kalau Clarissa menatap kepergiannya. Ia tidak tahu apa yang gadis muda itu pikirkan, tapi yang pasti, gadis itu bisa bernafas lega sekarang karena ia bisa memiliki Jeremy seutuhnya.