Emily, Sang Gadis Bisu

Emily, Sang Gadis Bisu
Hanya Butuh Satu Alasan


__ADS_3

"Nenek, apa Ibu sakit parah? Dia baik-baik saja, kan?" Jordan bertanya dengan cemas.


"Sayang, kalau kamu khawatir, mengapa kamu tidak pergi mengunjungi dan melihatnya sendiri? Ibumu pasti akan merasa lebih baik jika bertemu denganmu." ujar Della membujuk Jordan. Anak kecil itu terdiam, ia terlihat ragu-ragu. Apakah ia bisa mempercayai kata-kata Neneknya. Ibunya, Clarissa, bahkan tidak pernah tersenyum padanya, bagaimana mungkin kehadirannya bisa membuatnya merasa lebih baik? Jordan menoleh menatap Emily seolah meminta persetujuannya, namun hal itu justru semakin membuat Della semakin tidak senang.


"Pergi temui Ibumu, Tuan Muda Jordan." kata Della tegas memberi perintah.


"Baiklah. Aku akan pergi bersama Bunda." ucap Jordan memutuskan.


"Tidak! Kau akan pergi dengan pengasuhmu. Dia yang akan mengantarmu." ujar Della tak ingin di bantah. Jordan masih tak bergeming di tempatnya.


"Dengarkan kata-kata Nenekmu, pergilah." kata Ferry menerjemahkan ketika melihat Emily membuat gerakan.


"Pergilah. Ada yang ingin Nenek bicarakan dengannya, jadi dia tidak bisa ikut denganmu." kata Della sambil mengusap kepala Jordan saat anak itu masih nampak ragu-ragu. Mendengarnya, Jordan mengangguk paham.


"Baiklah." jawabnya lalu melambaikan tangannya pada Emily dan Ferry sebelum pergi bersama pengasuhnya.


Angin yang berhembus kencang membuat tubuh mereka yang ada di taman menjadi kedinginan. Namun, Emily masih tetap diam di tempatnya. Ia menatap Della dan menunggu apa yang ingin di katakan wanita itu padanya. Sementara itu, semua yang terjadi di taman tidak lepas dari pengamatan salah seorang pelayan yang di tugaskan Jeremy untuk selalu mengawasi Emily. Diam-diam ia mengirimkan pesan pada Jeremy, memberitahukan bahwa Della datang menemui Emily dan Jordan di taman.

__ADS_1


Sebuah seringai muncul di wajah Jeremy saat membaca pesan singkat yang dikirim oleh orang kepercayaannya. Ia tahu, Della pasti menyuruh putranya untuk menemui Clarissa yang beberapa hari ini terus berbaring di tempat tidurnya. Semua orang bilang wanita itu sakit, tapi bagi Jeremy, Clarissa hanya sedang berusaha mencari perhatiannya. Jeremy yakin Clarissa hanya pura-pura sakit agar Jeremy pergi menemuinya. Hah,,, Jeremy tidak ingin membuang waktunya untuk hal yang tak berguna. Baginya, dengan mengirim dokter dan sejumlah pelayan untuk merawat Clarissa, itu sudah lebih dari cukup. Bahkan menurutnya, Jordan juga tak perlu pergi ke sana. Sebab itulah, ia memberi larangan pada semua orang agar tidak memberitahukan pada anak itu mengenai kondisi Clarissa. Bagi Jeremy, jika putranya memiliki waktu luang, maka lebih baik ia gunakan kesempatan itu untuk lebih dekat dengan Emily.


Clarissa adalah seorang wanita yang sangat pencemburu. Ia tidak mempercayai hampir semua pelayan wanita, bahkan tidak segan-segan menyingkirkan mereka jika merasa ada yang mencoba menarik perhatian Jeremy. Sekarang Emily menjadi istri kedua suaminya, dan suaminya memberikan perhatian yang tidak pernah Clarissa dapatkan selama menjadi istrinya, jadi wanita itu pasti tidak akan tinggal diam. Begitu pun juga dengan Della, Tantenya Clarissa itu pasti akan berdiri di sisi keponakannya.


'Biarkan ia melakukan apa yang ingin dia lakukan pada Emily.' bunyi pesan yang dikirimkan Jeremy pada pelayannya. Ia sengaja, karena jika mereka melakukan sesuatu pada Emily, itu akan menjadi bukti dan alasan kuat untuk menyingkirkan mereka.


Jeremy sudah sangat muak dengan Clarissa, tapi posisi wanita itu sebagai Ibu Negara tidak bisa di lengserkan begitu saja. Jadi ia hanya bisa berharap mereka melakukan sesuatu pada Emily agar ia bisa menghukum mereka berdua sekaligus. Jeremy pun tak jadi kembali melanjutkan pekerjaannya, ia membalikkan badannya kemudian berjalan menuju taman. Dari kejauhan, ia memandangi Della dan Emily dengan semangat. Ferry dan para pelayan yang ada di sana tidak nampak di matanya, karena baginya mereka sama sekali tidak penting. Namun, udara yang semakin dingin karena angin terus bertiup kencang, membuat Ferry menggigil dan ia juga mengkhawatirkan Ibu angkatnya.


"Ibu, ayo kembali ke dalam. Di sini terlalu berangin." ujarnya pada Emily yang masih diam di tempatnya menunggu Della mengeluarkan kata-katanya. Tapi sepertinya Neneknya Jordan itu tidak ingin mengatakan apapun atau ia hanya sedang menahan dirinya untuk tidak memaki Emily di depan para pelayan. Emily memutuskan meminta bantuan Ferry untuk menerjemahkan isyaratnya karena ia yakin Della pasti tidak paham bahasa isyarat.


"Kau terlihat sangat tenang setelah menipu banyak orang, Nyonya Emily." Langkah Emily seketika berhenti, ia berbalik dan menatap Della.


"Aku bahkan tidak sedikitpun rasa bersalah di wajahmu." kata Della menambahkan.


"Apa bagimu, sangat menyenangkan melihat orang-orang yang menyayangimu menangis saat peti matimu yang berisi jasad orang lain diturunkan ke dalam kuburan?" lanjutnya.


Emily menghela nafasnya mendengar itu. Ia sedikit membungkuk lau melambaikan dan mengatupkan tangannya di depan dadanya.

__ADS_1


"Ibuku minta maaf." ujar Ferry. Setelahnya, Emily kembali berbalik dan kembali berjalan lagi. Di luar terlalu dingin, mereka tidak bisa berada terlalu lama di taman, Emily tidak ingin Ferry sampai sakit. Emily juga tak ingin mengatakan apapun lagi pada Della selain minta maaf, karena Della pasti tidak akan mendengarkannya dalam keadaan marah seperti itu. Jadi, daripada bertengkar, Emily memutuskan untuk pergi meninggalkannya.


Tetapi, Della tidak membiarkan Emily pergi. Ia bergegas maju menarik tangan Emily dan mencengkeramnya dengan kuat.


"Kau akan pergi begitu saja tanpa menjelaskan apapun?" tanyanya marah.


"Jangan kasar pada Ibuku!" marah Ferry yang tidak terima tindakan kasar Della, dan menendang tulang keringnya. Meskipun rasanya sakit, Della sama sekali tidak bergeming. Ia justru memberi Ferry tatapan tajam ala nenek sihir yang membuat nyali bocah itu menciut. Emily tak ingin mereka berdua bertengkar, jadi ia berusaha menarik tangannya tetapi Della semakin mengeratkan pegangannya dan menolak melepaskan.


Tanpa mereka sadari, darah Jeremy terasa mendidih saat melihat Della menarik tangan Emily. Beraninya wanita tua itu menyentuh istrinya! Jeremy sangat marah tetapi saat ini ia hanya bisa menahan amarahnya. Ia hanya membutuhkan satu alasan saja. Jika Della sampai melukai Emily, ia bukan hanya akan membunuhnya tetapi juga akan memotong tangannya yang menyentuh Emily saat wanita tua itu masih hidup.


Namun, yang Jeremy harapkan sam sekali tidak terjadi. Ia pikir, demi Clarissa, Della akan melakukan segalanya termasuk menyakiti Emily. Siapa sangka, Della tiba-tiba melepaskan tangan Emily dan mereka mulai berjalan masuk ke dalam bersama-sama. Ia terlalu fokus dengan amarah dan rencana jahatnya hingga tak memperhatikan isyarat Emily pada Della tadi.


"Apa k-kau akan m-mempercayai Ibuku jika I-Ibuku menjelaskan semuanya padamu?" tanya Ferry terbata-bata sebab takut, menerjemahkan kata-kata Emily.


"Aku akan mendengarnya lebih dulu, baru memutuskan apakah aku bisa mempercayaimu atau tidak." kata Della menatap Emily.


"Kalau begitu, ayo kita bicara di dalam." kata Ferry.

__ADS_1


__ADS_2