
Di balai Desa, Emily tidak sengaja bertemu dengan Alvin. Sebenarnya Alvin yang melihat Emily terlebih dahulu, jadi ia memanggilnya.
"Lily!" serunya dengan senyum cerah menghiasi wajahnya.
Ia tadi ingin mengajak Emily kemari, namun ketika melihat sudah ada beberapa pria yang mengajak Emily dan Ferry, tetapi di tolak oleh mereka, ia pun mengurungkan niatnya. Ia pikir Emily tidak ingin keluar. Siapa sangka ia justru bertemu dengannya di sini.
"Kau datang juga?" tanya Alvin yang di jawab anggukan oleh Emily.
'Aku membawa Ferry untuk menonton.' isyaratnya.
Mereka kemudian menikmati pertunjukan itu bersama. Di sana, para muda-mudi menampilkan tarian tradisional berpasangan. Alvin berpikir, apakah Emily mau jika ia mengajaknya menari bersama? Ia berkali-kali menoleh pada Emily untuk bertanya namun ia tak berani mengatakannya. Hingga tiba-tiba Ferry datang dan pura-pura tidak sengaja mendorongnya, membuat Alvin menyenggol Emily.
"Oh.. Aku minta maaf." kata Alvin sungkan.
Emily menggeleng sambil tersenyum.
'Tidak apa-apa.' isyaratnya.
Ia tahu tempat ini sangat ramai dan Alvin tak sengaja. Alvin yang melihat Emily seperti itu tidak bisa menahan diri untuk bertanya,
"Maukah kau bergabung dan menari bersamaku?" Setelah menanyakan hal itu, ia merasa gugup sendiri. Terlebih saat Emily mengangguk mengiyakan.
Emily tidak keberatan untuk menari bersama Alvin karena ia sudah menganggap pria muda itu seperti adiknya sendiri. Ia tidak tahu, Alvin sekuat tenaga menahan degup jantungnya yang berdetak lebih kencang dari biasanya. Ia diam tak bergerak karena kegugupannya, membuat Ferry menginjak kakinya dengan kuat, membuatnya tersentak.
"Ah.. Maafkan aku." ujarnya lalu mengulurkan tangannya pada Emily.
__ADS_1
Mereka berdua menari tarian tradisional itu dengan sangat baik, hingga menjadi hiburan dan pusat tontonan beberapa orang di sana termasuk Jeremy yang baru saja tiba. Seharusnya ia merasa lega telah menemukannya, tetapi yang ada justru kemarahan yang melingkupi hatinya saat melihat Emily menari dengan pria lain dan pria itu adalah pria kemarin yang tidak di sukai Jeremy karena mengira ia adalah suami Rasanya Jeremy ingin menembak mati kepala pria itu di tempat.
'Sebenarnya ada hubungan apa Emily dan pria itu?' pikirnya.
Dan lagi, mengapa Emily terus tersenyum pada pria itu? Selama menjadi istrinya, Emily tidak pernah tersenyum semanis itu. Atau mungkin saja ia yang tidak pernah melihat Emily tersenyum karena sibuk memikirkan tujuannya. Jeremy mengepalkan kedua tangannya dengan geram saat beberapa pria di sekitarnya mulai membicarakan Emily.
"Hei, bukankah itu Lily? Siapa pemuda yang menari bersamanya?" tanya seorang pria yang berada tepat di samping Jeremy.
"Kau tidak mengenalnya? Dia salah satu pria yang mengejar Lily, sama seperti kita. Aku dengar namanya Alvin. Dia bekerja sebagai pengantar bunga di toko langganan Lily. Dan dia yang selalu mengantar bunga ke toko milik Lily." sahut pria lain.
"Waah.. Sepertinya dia yang beruntung. Karena hanya dia yang berhasil mengajak Lily menari."ujar yang lain menambahkan.
"Benar. Alvin tahu bagaimana caranya mendekati seorang wanita. Ia memilih menjadi temannya dulu, dan sepertinya Lily juga menyukainya. Atau mungkin, karena Alvin adalah pria termuda dari semua pria yang mengejarnya?" timpal yang lain sembari tertawa.
"Memangnya berapa umurnya?"
"Tapi keduanya memang terlihat cocok. Lily juga cantik dan awet muda. Sepertinya tidak masalah jika dia menikah dengan Alvin. Anak itu bisa di bimbingnya untuk cepat dewasa. Hahahaha.."
Mendengar orang-orang itu membicarakan kecocokan Emily dan Alvin, membuat Jeremy menahan sekuat tenaga untuk tidak mengamuk dan menghancurkan kepala mereka. Menurut Jeremy, tidak ada kecocokan di antara Emily dan pemuda itu. Dan jika benar kalau Emily menyukai pria dengan penampilan yang muda, Jeremy rasa ia juga awet muda. Ia tidak terlihat seperti para pejabat yang berkumis tebal dan perut buncit. Walaupun rambutnya sudah ada uban satu atau dua helai, menurut Jeremy, ia jauh lebih tampan dari pria muda yang bersama Emily sekarang.
Jeremy dan ajudannya terus memperhatikan Emily yang menari dengan lincah hingga musiknya selesai, dan semua yang di atas panggung turun dan di gantikan oleh orang lain. Kemudian mereka bersama ibu yang mengantar mereka tadi pun menemui Emily yang sedang di puji oleh orang-orang tua di situ.
"Dik Lily, ada yang mencarimu." kata ibu tersebut memanggil Emily.
"Katanya teman lama Dik Lily dari kota." lanjutnya.
__ADS_1
Emily menoleh dan menunjukkan wajah terkejutnya. Bagaimana tidak, Jeremy berdiri di depannya sekarang. Meskipun dia menyamar dengan memakai kumis dan rambut palsu, Emily tidak mungkin tidak mengenal mata mantan suaminya yang setajam elang itu. Sementara itu, Alvin sudah menghilang di balik kursi-kursi yang ada di sekitar panggung.
"Kau kenapa?" tanya Ferry ketika melihatnya.
"Diamlah. Biarkan aku sendiri." jawab Alvin. Ia merasa lututnya sangat lemas sehingga ia jongkok di sana. Menahan debaran jantungnya yang menggila karena begitu senang bisa menari bersama Emily.
Ferry pun hanya mengedikkan bahunya lalu berjalan menuju Emily. Ia terdiam ketika melihat Emily bersama dua orang asing.
"Bisakah kita bicara?" tanya Jeremy dengan nada suara yang di ubah selembut mungkin agar tidak ada yang menyadari kalau ia adalah presiden.
Emily pun mengangguk tanda setuju dan melambaikan tangannya mengucapkan terima kasih pada ibu yang tadi telah mengantar Jeremy dan ajudannya.
*****
Mereka kini duduk di warung yang menjual aneka makanan dan minuman. Emily masih penasaran apa yang di lakukan Jeremy di tempat ini tanpa pengawalan, dan siapa wanita di sampingnya. Ia tidak ingat pernah bertemu dengannya. Reno, ajudan Jeremy yang di paksa memakai pakaian wanita itu, terpaksa juga harus duduk di samping Jeremy untuk menghindari kecurigaan orang-orang karena mereka mengaku suami istri.
Melihat Emily yang terus melihat ke arah ajudannya, Jeremy merasa kesal meskipun ia tahu Emily menatapnya hanya karena penasaran.
"Dia Reno, ajudanku." kata Jeremy memberi tahu agar Emily berhenti memandangi. Tetapi yang ada justru Emily melebarkan matanya.
'Dia.. laki-laki?' isyarat Emily bertanya.
"Ya, jadi berhenti menatapnya." jawab Jeremy tidak senang.
Sang ajudan yang di perkenalkan secara pribadi pada orang yang selalu di cari-cari Presiden, membungkuk memberi hormat dengan sopan. Emily mengangguk padanya kemudian menatap Jeremy dengan tatapan bertanya.
__ADS_1
"Aku hanya ingin melihat-lihat dengan tenang, jadi aku sengaja menyamar." kata Jeremy.
Oh.. Emily mengangguk mengerti. Dia sudah mengetahui sendiri betapa banyaknya orang yang sangat heboh melihat presiden. Jeremy merasa tidak puas melihat Emily hanya mengangguk dan tidak berinisiatif bertanya mengenainya. Apakah Emily tidak ingin tahu tentang kabarnya selama ini? Apa Emily benar-benar tidak peduli lagi padanya?