Engelskraft: Cinta Malaikat Terbuang

Engelskraft: Cinta Malaikat Terbuang
Inisiatif Tak Terduga


__ADS_3

Semakin siang, mall Abram City semakin ramai pengunjung. Begitu pula dengan kafe Engelskraft yang antreannya tidak pernah habis. Promo hari pertama mereka jelas membawa keramaian yang lebih banyak dari hari-hari sebelumnya. Sayangnya, pemandangan tersebut berbanding terbalik dengan toko elektronik Abram, tempat Ailey bekerja.


“Dari pagi tadi, kenapa toko kita mengenaskan sekali, ya? Dari sekian banyak pengunjung mall, masa hanya dua orang yang bertransaksi di toko ini?” Siti mengeluh dengan kesal.


“Jam buka mall ini masih tersisa 8 jam lagi. Pasti akan ada transaksi baru.” Jelas Ailey menenangkan.


“Apa yang bisa diharapkan dari 8 jam lagi?” Lanjut Siti menyerah.


Ailey diam sebentar untuk berpikir. Kalau dia tidak bisa membantu kelangsungan toko ini, dia akan kehilangan pekerjaannya dalam waktu beberapa bulan saja. Dia butuh memikirkan suatu terobosan untuk mendatangkan banyak pengunjung ke tokonya. Semakin banyak pengunjung yang datang, semakin banyak kemungkinan transaksi akan bertambah.


“Siti, kita harus mempertahankan toko ini. Aku tidak mau rekam jejakku di Abram hanya hitungan bulan.” Kata Ailey menegaskan.


“Kamu ada ide?” Siti bertanya memastikan.


“Serahkan padaku! Kamu berjaga dulu di sini, ya. Jika Bu Lina arogan itu datang, cepat miss call aku!” Kata Ailey penuh semangat sambil mengambil setumpuk brosur yang ada di meja kasir.


“Mau ke mana, Ai?” Sahut Siti cemas melihat rekan kerjanya itu bergegas meninggalkan toko.


“Tenang saja, aku akan membuat toko ini ramai!” Jawab Ailey sambil berjalan cepat meninggalkan Siti yang berjaga seorang diri di sana.


Ailey melangkahkan kakinya dengan cepat menembus keramaian pengunjung di jam sibuk siang itu. Sepertinya dia menemukan sebuah ide cemerlang yang dapat membantu menyelamatkan pekerjaannya. Senyum sumringah terlukis di bibirnya dengan mata berbinar. Tampaknya dia tidak sabar untuk mengerjakan inisiatif yang tergambar di otak perempuan muda itu.


“Selamat siang, pengunjung Engelskraft!!!!” Teriak Ailey dari ujung antrean yang mengular di kafe tersebut. Hal itu sontak membuat kaget pengunjung yang mengantre. Dengan raut wajah penuh tanya, para pengantre melihat satu sama lain sambil sesekali menoleh ke belakang karena penasaran.


Dengan wajah penuh semangat, Ailey membagikan selebaran kepada masing-masing pengunjung tersebut. Tangannya sangat cekatan menyerahkan brosur berisi informasi produk terbaru dari tokonya. Tidak sampai di situ, dia menjelaskan sedikit tentang produk tersebut dan mengajak orang-orang untuk mampir.


“Silahkan mampir ke toko elektronik Abram, ya! Produk airfryer terbaru kami merupakan yang nomor satu di kelasnya. Jaminan mutu!” Jelas Ailey ke semua pengunjung yang mengantre satu per satu.

__ADS_1


“Ehem!” Mario berdeham di belakang Ailey, “Apa yang sedang kamu lakukan di sini?”


“Oh, hai! Silahkan mampir ke toko kami.” Seru Ailey bersemangat sambil mengulurkan brosur ke hadapan Mario.


“Kamu yang waktu itu ‘kan? Siapa yang memberimu ijin untuk promosi di kafe kami?” Tanya Mario ketus dengan pandangan sinisnya sambil merebut brosur yang diberikan Ailey dengan kasar.


“Oh, pegawai kafe Engelskraft yang waktu itu. Hehehe. Maaf, saya hanya membagikan brosur saja, kok.” Kata Ailey cengengesan.


“Kamu tidak bisa seenaknya begitu. Hal seperti ini bisa mengganggu pengunjung kami!” Protes Mario.


Keributan yang terjadi di luar kafe menarik perhatian orang-orang di sekitar sana, tidak terkecuali Milo yang sedang berbicara dengan Kevin di dalam. Milo yang penasaran meminta maaf kepada Kevin untuk meninggalkannya sebentar dan melihat apa yang terjadi di depan. Ferdi yang melihat Milo mencoba mencegahnya keluar dan meyakinkan bahwa mereka akan mengurusnya. Namun, Milo yang tidak tahan dengan suasana berisik melewati Ferdi begitu saja.


“Ada apa ini?!” Milo bertanya pada Mario yang tengah berdebat dengan Ailey.


“Ini, Pak! Perempuan ini tiba-tiba membagikan brosur promosi ke pengunjung kita tanpa ijin.” Terang Mario.


“Hai, Milo. Hehehe.” Sapa Ailey terlihat malu-malu.


“Apa yang kamu lakukan di sini? Bukannya ini masih jam kerja kamu, ya.” Tanya Milo sambil menggelengkan kepalanya.


“Iya, sih. Tapi tokoku sedang sepi makanya aku ke sini untuk numpang berpromosi. Tamu kamu ‘kan banyak, boleh lah bagi-bagi.” Rajuk Ailey.


“Tapi tidak begini caranya. Cepat kamu kembali bekerja, bisa gawat kalo bosmu tahu kamu berkeliaran di jam kerja.” Saran Milo sambil menepuk jidatnya mengingat CEO Abram ada di dalam kafenya.


“Hehehe, iya aku balik, deh. Tapi kamu tidak marah ‘kan?” Lanjut Ailey.


“Mau marah pun percuma, seluruh pengunjung yang mengantre sudah menggenggam brosurmu, tau!” Kata Milo terdengar protes.

__ADS_1


“Ailey!” Suara Kevin tiba-tiba terdengar. Nadanya yang membentak membuat Ailey dan Milo kaget. Sepertinya karena Kevin tidak sabar menunggu Milo di dalam, dia mengikutinya ke luar.


“Ah, Pak Kevin.” Ailey terperanjat. Dengan ketakutan dia menutup wajah dengan brosur-brosur yang ada di tangannya.


“Maaf, Pak Milo. Ini karyawan toko elektronik Abram. Jika dia mengganggu pengunjungmu aku akan memecatnya sekarang juga.” Lanjut Kevin.


Ailey dan Milo sama-sama terkejut mendengar pernyataan Kevin. Tampaknya dia tidak main-main dalam menindak karyawannya yang kurang disiplin. Ailey terlihat gemetar karena perkataan Kevin tersebut. Milo yang menyadari hal itu segera menengahi.


“Tidak apa-apa, Pak Kevin. Dia karyawan baru ‘kan? Kamu beruntung, lho memiliki karyawan seperti dia. Lihat, dia membagikan brosur tokomu dengan sigap. Bukankah tandanya dia adalah karyawan yang loyal?” Tegas Milo.


“Tapi…” Kevin agak ragu dengan jawaban Milo.


“Sudahlah, mungkin yang dia butuhkan adalah pelatihan supaya tidak gasrak-gusruk seperti ini. Tidak perlu sampai memecatnya segala.” Jelas Milo meyakinkan.


“Baiklah, maaf jika mengganggu kafe Anda. Sepertinya saya harus kembali ke toko. Mari kita lanjutkan lagi obrolan kita lain waktu.” Kata Kevin setuju sambil menginstruksikan Ailey untuk kembali ke toko dengan kedua matanya.


Kevin berjalan ke arah tokonya dengan langkah yang terlihat kesal. Ailey yang mengikutinya dari belakang menoleh ke arah Milo sebentar dan menundukkan kepalanya sebagai tanda terima kasih. Milo hanya membalas dengan senyuman geli. Mario yang ada di sampingnya memperhatikan gelagat Milo. Jarang sekali dia melihat pimpinannya tersenyum setulus itu.


“Milo, apanya yang lucu?” Bisik Mario.


“Eh, tidak ada, kok. Ayo, lanjutkan pekerjaanmu! Antrean sudah semakin panjang. Jangan sampai pengunjung kita menunggu kelamaan di luar.” Kata Milo sambil menahan tawanya dan kembali masuk ke dalam.


“Bos kenapa? Tumben sekali dia seperti itu. Bukankah seharusnya dia marah, ya pada perempuan tadi?” Tanya Ferdi penasaran menghampiri Mario.


“Tampaknya hati nurani bosmu berfungsi dengan baik.” Kata Mario sambil menyunggingkan senyuman tipis di bibirnya.


Ferdi hanya berdiri mematung, masih dengan pertanyaan yang sama di otaknya. Bukankah seharusnya Milo marah terhadap perempuan yang membuat keributan di kafenya? Ferdi melihat ke arah bosnya yang sudah kembali duduk di dalam. Sepertinya, Engelskraft akan semakin menarik dalam beberapa waktu ke depan.

__ADS_1


__ADS_2