Engelskraft: Cinta Malaikat Terbuang

Engelskraft: Cinta Malaikat Terbuang
Pergolakan Batin


__ADS_3

Mata Ailey terlihat mengantuk selama berjaga di toko. Sudah tak terhitung berapa kali dia menguap pagi itu. Siti yang melihatnya lemas terduduk di meja kasir terlihat gemas.


“Ai, ini masih jam 10 pagi tapi kenapa kamu menguap terus? Padahal kemarin kita tidak mengikuti pesta pertunangan Bu Lina sampai selesai, lho.” Tanya Siti penasaran.


“Aku kurang tidur, nih. Semalam di Jepang sampai larut. Hoaaaaam.” Jawabnya tanpa menyadari apa yang diucapkannya.


“Jepang? Wah, tampaknya otakmu mulai geser, ya. Kelihatannya kamu terpukul melihat CEO Abram bertunangan semalam.” Katanya.


“Jangan gila! Aku tidak ada urusannya dengan Pak Kevin. Dia sudah berbahagia.” Ujar Ailey sambil merebahkan kepalanya di atas meja.


“Kamu benar-benar jatuh cinta pada bos kita, ya? Aku kasihan melihatmu. Tapi bagaimana pun juga, mimpi harus ada batasan. Jika terlalu liar, kita sendiri yang akan kecewa.”


“Jatuh cinta? Aku tak tahu apa itu cinta. Yang aku rasakan cuma ngantuk.” Balas Ailey dengan lemas.


“Ayo, bangun! Kamu digaji untuk bekerja, jadi jangan merepotkan aku!” Protes Siti sambil menegakkan badan Ailey yang terkulai lemas.


Belum sempat Ailey mengumpulkan nyawanya, sosok Lina datang menghampiri mereka berdua. Wajahnya terlihat bahagia, namun aura kesombongan masih terpancar dengan jelas. Sepertinya dia memiliki maksud tertentu berkunjung ke toko pagi itu.


“Terima kasih, ya telah datang ke pesta pertunanganku semalam. Sayang sekali kalian tidak hadir sampai selesai. Padahal ada souvenir mahal yang dibagikan di akhir acara, lho.” Kata wanita itu dengan angkuh.


Kedua karyawan tersebut hanya bisa diam dan saling melirik satu sama lain. Ingin rasanya mereka menampar atasannya itu tapi mereka tidak ingin mempertaruhkan karirnya begitu saja.


“Oh, ya Ailey. Kamu masih ingat komentarku terkait penampilanmu waktu pertama kali kita bertemu di kantor? Penampilanmu semalam masih sama saja, tidak berkelas.” Katanya ketus.


Ailey segera beranjak dari kursinya. Amarah terlihat jelas di mukanya. Sudah lama dia bersabar terhadap kelakuan atasannya itu


“Bu Lina, saya memang tidak berkelas seperti Anda karena saya bukan orang kaya. Tapi, meskipun saya punya uang, saya tidak sampai hati untuk merendahkan orang lain.” Balasnya.


“Saya tidak merendahkanmu. Saya hanya berbicara sejujurnya. Seharusnya, sebagai karyawan Abram, kamu harus bisa merepresentasikan perusahaan dengan baik.”

__ADS_1


“Apakah cerminan perusahaan hanya dari tampilan luarnya? Menurut saya, jika perilaku masih minus, tidak usah berbicara tentang penampilan.” Kata Ailey cukup berani.


Lina tampak tersinggung dengan jawaban karyawannya itu. Dia hanya menggigit bibir sambil mengepalkan tangannya. Sementara Ailey berdiri dengan tenang karena dia merasa benar terhadap pendiriannya. Kedua wanita itu saling beradu tatap beberapa lama.


“Bu, pengunjung sudah mulai berdatangan. Saya dan Ailey ijin bekerja dulu, ya.” Kata Siti menengahi. Dia tahu bahwa dibiarkan lebih lama lagi akan terjadi pertumpahan darah di toko itu. Selain itu, dia juga ingin menyelamatkan Ailey agar tidak sembarangan terhadap atasannya.


***


Kejadian tadi pagi yang cukup membuat Ailey kesal membuatnya meninggalkan toko sebentar. Dia berjalan keluar mall untuk mencari jus segar untuk mendinginkan hatinya. Kebetulan cuaca siang itu cukup panas jadi dia ada alasan untuk ijin sebentar membeli minuman dingin.


Belum jauh dari pintu keluar, Ailey berpapasan dengan Kevin yang baru saja datang. Kaki Ailey terhenti sejenak. Kedua orang itu terlihat gugup saat berhadapan.


“Terima kasih telah datang ke pesta pertunanganku.” Kata pria itu gugup.


“Tidak apa. Saya permisi dulu, Pak.” Balas Ailey sambil melanjutkan langkahnya.


“Tunggu sebentar! Aku ingin memberimu ini.” Sela Kevin sambil menyodorkan dua buah tiket di depan Ailey.


“Tiket untuk ke pameran Angel in Us. Aku tahu kamu menyukain pameran itu, jadi silahkan datang lagi secara gratis.” Jelasnya.


Ailey hanya menatap tiket yang diulurkan CEO tersebut tanpa menunjukkan reaksi apa pun. Dia bingung dengan perlakuan Kevin yang sangat baik terhadapnya. Untuk apa dia melakukan ini semua kepada lawan jenisnya? Apakah tidak terlalu berlebihan untuk seorang pria yang sudah memiliki tunangan? Pikir Ailey.


“Maaf, Pak saya tidak bisa menerimanya. Tapi terima kasih banyak.” Kata Ailey tanpa melihat Kevin sedetik pun.


“Jangan begitu! Kebaikan seseorang tidak boleh ditolak.” Paksa Kevin sambil menaruh tiket tersebut di tangan Ailey. “Kamu ada waktu malam ini?” Sambungnya.


Pertanyaan tersebut mengusik Ailey. Dia mendongakkan kepalanya dan menatap Kevin dengan tatapan kesal seolah ingin memberitahunya untuk berhenti.


“Tidak, saya sudah ada acara. Sekali lagi terima kasih.” Jawab Ailey sambil berlalu dari hadapan CEO itu.

__ADS_1


Kevin terdiam dengan perilaku Ailey yang dingin. Dia hanya bisa melihat wanita itu berjalan meninggalkannya. Wajah pria itu terlihat sedih, seolah menyesali keputusannya bertunangan. Namun, nasi sudah menjadi bubur. Demi mempertahankan kekayaan dan menjadi orang yang paling berpengaruh, pertunangan itu seolah menjadi takdirnya yang sudah mengalir di dalam darahnya.


Tangan Ailey meremas tiket yang ada di dalam genggamannya dengan kuat. Sambil menahan rasa marah, dia terus berjalan dengan cepat supaya tidak ada orang yang menyadari raut mukanya yang kesal. Ingin rasanya wanita itu membentak Kevin untuk berhenti memperlakukan dirinya seperti seseorang yang spesial. Tapi apa daya, hal itu tidak mungkin dia lakukan kepada seorang CEO yang memperkerjakannya. Dia ingin menangis, tapi buat apa. Dia tidak ingin merasa dikasihani oleh siapa pun.


“Buru-buru sekali. Mau kemana, sih?” Tanya Milo tiba-tiba.


“Kaget aku! Kenapa, sih kamu selalu muncul tiba-tiba?” Kata Ailey terkejut.


“Hahaha! Galak sekali. Ngomong-ngomong, apa itu yang kamu pegang?” Kata Milo setelah melihat kertas tiket mengintip dari sela-sela genggaman Ailey.


“Ah, ini tiket untuk ke pameran seni.” Jawabnya sambil mengulurkan dua lembar tiket yang sudah lecek.


“Wah, kenapa lecek sekali? Jangan bilang mau kamu buang! Sayang banget, lho kalau tidak digunakan!” Protes malaikat berwujud manusia itu.


“Ya, sudah buat kamu saja.” Kata Ailey santai sambil mengulurkan tiket itu.


“Dua tiket buatku? Aku ke sana sama siapa? Eits, aku tidak akan mengajak Mario ataupun Ferdi! Tidak akan seru!” Tegasnya sambil mengambil dua tiket tersebut.


Ailey tidak merespon perkataannya. Dia hanya menunduk menatap lantai.


“Begini saja, karena kamu sudah memberikannya padaku maka aku akan mengajakmu untuk melihat pameran itu! Jadi tiket-tiket ini tidak ada yang mubazir.” Lanjutnya.


“Hah? Aku tidak mau!” Tolak Ailey.


“Hei, kamu terlihat sedang tidak baik-baik saja. Bukankah lebih baik refreshing sejenak menggunakan tiket ini?”


“Terserah kamu saja. Aku sedang tidak ingin berdebat.” Kata perempuan itu sambil melanjutkan langkahnya.


Milo yang bingung dengan kelakuan Ailey hanya bisa berdiri mematung melihatnya berjalan pergi. Dari kejauhan, dia berteriak, “Baiklah, besok kamu tidak ada shift ‘kan? Aku akan menunggumu di ballroom besok siang, ya!”

__ADS_1


Ailey terus berjalan tanpa mengindahkan malaikat itu. Namun, di balik rasa kesalnya dia menyimpan rasa syukur karena masih ada sosok Milo yang memperhatikannya. Tanpa disadari, senyuman kecil terlukis di bibirnya.


__ADS_2