Engelskraft: Cinta Malaikat Terbuang

Engelskraft: Cinta Malaikat Terbuang
Usaha Pertama


__ADS_3

Hari pertama kampanye marketing dengan Engelskraft dimulai. Ailey dan Siti tampak sibuk menyiapkan banner dan materi promosi lainnya di toko elektronik Abram. Dengan teliti, mereka memastikan tidak ada satu pun yang terlewat supaya strategi marketing yang diarahkan tidak terbuang percuma. Ailey meletakkan roll banner di depan etalase toko dengan hati-hati. Sementara Siti mengatur penempatan produk teranyar agar dapat terlihat dengan mudah oleh pengunjung.


Bu Silvia yang paling menantikan kampanye tersebut ikut memonitor persiapan mereka berdua di toko. Tidak hanya menyuruh saja, Bu Silvia juga mengarahkan dua pegawainya tersebut dengan sangat telaten dan berhati-hati. Benar-benar seorang sosok pemimpin idaman.


“Bu Silvia, apakah Bu Lina tidak datang hari ini?” Tanya Ailey.


“Tentu datang! Saat ini, Bu Lina sedang di Engelskraft untuk memastikan kampanye kolaborasi kita sudah disiapkan juga di sana. It takes two to tango.” Jawab Silvia.


“Eh, promo kita juga dipajang di kafe itu?” Potong Siti.


“Tentu saja! Kalian lupa kalau diskon hanya kita berikan bagi pengunjung Engelskraft yang membeli cheesecake di sana?” Lanjut Silvia menjelaskan.


“Bu, apakah boleh aku melihat-lihat ke sana sebentar?” Kata Ailey.


Bu Silvia menggelengkan kepalanya, “Bu Lina cerita kepadaku kalau kamu beberapa kali bolos saat jam kerja untuk pergi ke Engelskraft. Aku tidak tahu apa yang kamu cari di sana, tapi jangan sampai kamu mengecewakan Bu Lina lagi. Nanti saja saat jam istirahat kamu ke sana, jangan sekarang! Aku tidak mau ikut diomeli oleh wanita itu.” Timpal Silvia sambil mengedipkan matanya.


Ailey dan Siti tertawa melihat tingkah pimpinan tim marketing itu. Andai saja Bu Lina bisa akrab dengan pegawainya seperti halnya Bu Silvia, pasti mereka dapat bekerja dengan lebih menyenangkan. Tapi bagaimana pun juga, dengan adanya Bu Silvia hari ini, mereka merasa jauh lebih dihargai sebagai seorang karyawan.


Sementara itu, Lina sedang mengawasi persiapan kampanye marketingnya di kafe Engelskraft. Mario dan Ferdi terlihat sibuk bagai di bawah tekanan dengan adanya wanita itu. Terkadang, Lina seperti bos mereka berdua yang menyuruhnya ini itu tanpa sungkan.


“Pak, tolong beritahu wanita dari Abram itu untuk tidak semena-mena, seolah ini kafe miliknya saja.” Keluh Ferdi pada Milo yang tengah duduk santai.


“Kamu lanjutkan saja persiapannya. Biar saya yang mengurus Bu Lina.” Jawab Milo.


Mario mengisyaratkan Ferdi untuk kembali bekerja daripada mengeluh. Sesekali dia melihat Bu Lina yang sedang berdiri di depan memperhatikan. Tatapan awasnya membuat bulu kuduk Mario berdiri. Sungguh menyeramkan cara kerja wanita ini, pikirnya.


“Bagaimana persiapan kami? Sudah sesuai rencana, bukan?” Tanya Milo sambil menghampiri Lina.

__ADS_1


“Ya, lumayan. Kapan promo kolaborasi ini akan ditayangkan di media sosial kalian?” Lina menjawab kurang puas.


“Satu jam sebelum makan siang akan kami post. Besok juga akan kami tayangkan secara berkala.”


“Satu jam sebelum makan siang? Seharusnya dari sebelum hari kampanye, dong.” Protes Lina.


“Hei, masih untung kami tayangkan. Jika bukan karena CEO kamu yang memohon padaku, kampanye ini tidak akan berjalan.” Jawab Milo terlihat kesal.


Lina yang mendengar hal itu tidak mampu membalas. Dia tidak memiliki peluru yang cukup untuk berdebat dengan Milo. Yang penting, semua persiapan di hari pertama kampanye sudah dijalankan. Jika bukan karena permintaan tunangannya, Lina juga ogah bersusah payah untuk toko elektronik yang sudah di ujung tanduk itu.


“Sudah, kamu kembali ke tokomu sana! Biar kami mengurus persiapan di sini. Husss husss.” Milo terlihat kesal.


Lina yang tersinggung dengan kelakuan pemilik kafe itu langsung melenguh dan beranjak dari sana. Dia tidak mau merusak kolaborasi keduanya hanya karena sumbu pendek yang dimilikinya itu. Sambil berjalan cepat, Lina berusaha meredam amarahnya.


***


“Bagaimana penjualan hari ini?” Tanya Ailey pada Siti yang sedang berada di meja kasir.


“Pengunjung yang datang sih tiga kali lipat dibanding hari biasanya. Tapi, kalau bicara penjualan, kenaikannya tidak signifikan.” Jawab Siti.


“Hmmm, apa mungkin karena baru hari pertama promosi, ya?”


“Entahlah, setidaknya banyak pengunjung yang datang, Ai. Sebuah pembukaan yang baik, bukan?” Kata Siti menenangkan.


Ailey tersenyum kecil membalas Siti. Sebenarnya, Ailey masih kurang puas dengan hasil penjualan hari ini. Namun, setidaknya dia sudah berusaha semaksimal mungkin. Pun pengunjung yang datang jauh lebih banyak melebihi target yang diestimasikan oleh Silvia.


“Ai, Bu Lina dan Pak Kevin datang.” Kata Siti memberitahu.

__ADS_1


Kevin dan Lina memasuki toko dengan langkah yang pasti. Lina yang sudah tahu laporan penjualan hari itu memasang muka masam. Dia seakan-akan ingin memuntahkan luapan amarahnya akibat penjualan yang masih tidak mencapai target.


“Terangkan padaku, kenapa dari sekian banyak pengunjung yang datang hari ini, penjualan kalian masih begitu-begitu saja?” Tanya Lina tanpa ba-bi-bu.


“Kami sudah berusaha maksimal, Bu. Tapi tampaknya pengunjung yang datang hanya penasaran saja dengan promo yang ada.” Jawab Siti agak ragu.


“Justru bagus kalau mereka penasaran. Tapi tugas kalian adalah membuat rasa penasaran itu menjadi sebuah transaksi, dong. Sudah capek-capek tim marketing memikirkan strategi, tapi kalian tidak bisa menangkap kesempatan yang ada!” Lina mengeluarkan amarahnya.


“Maaf, Bu. Besok akan kami perbaiki.” Jawab Siti.


Lina kemudian melirik ke arah Ailey, “Kenapa diam saja? Kerjamu sudah becus hari ini?”


“Besok saya akan lebih maksimal lagi, Bu.” Jawab Ailey.


“Sudah, sudah. Ini ‘kan masih hari pertama. Mari kita pelajari lagi apa yang kurang untuk perbaikan besok.” Timpal Kevin menengahi.


Ailey dan Siti saling bertatapan heran. Tidak biasanya Kevin selembek ini karena sifatnya sebelas dua belas dengan Lina. Apa yang terjadi pada otak CEO itu?


“Ailey, besok sebelum toko buka, saya ingin berbicara denganmu. Kosongkan waktumu, ya.” Lanjut Kevin.


“Hah? Kevin?!” Lina terlihat kaget namun langsung disanggah oleh Kevin dengan gesture matanya.


Mereka berdua meninggalkan toko itu. Lina masih terlihat protes sepanjang jalan karena undangan Kevin terhadap Ailey. Ailey yang masih tidak mengerti kenapa CEO ingin membuang waktunya untuk pegawai rendahan seperti dia hanya bisa berdiri mematung.


“Wah, apa Pak Kevin akan memarahimu besok, Ai?” Bisik Siti tepat di telinga Ailey.


Ailey hanya mengangkat bahunya. Dia sendiri tidak yakin apa yang akan dibicarakan esok hari oleh CEO Abram. Jujur, Ailey akan menerima dengan lapang dada jika harus dimarahi karena penjualannya kurang bagus. Tapi dia berharap tidak dikeluarkan dari pekerjaannya itu.

__ADS_1


__ADS_2