Engelskraft: Cinta Malaikat Terbuang

Engelskraft: Cinta Malaikat Terbuang
Berusaha Mengerti


__ADS_3

Desiran angin pantai menenangkan hati dan pikiran yang jenuh. Suara ombak yang menderu seolah menyapu kepenatan yang terjadi belakangan ini. Di bawah teriknya sinar matahari, sebuah es kelapa muda menemani Ailey yang sedang duduk sambil menatap pemandangan yang biru.


“Bagaimana rasanya? Kelapa muda di sini yang terbaik, lho.” Sahut Lanny yang duduk di sebelah Ailey.


“Wah, pantas saja begitu menyegarkan. Terima kasih, ya sudah mengajakku ke sini!” Kata Ailey.


“Santai saja. Liburan itu penting untuk menjaga kesehatan mental. Healing namanya.” Ujar Lanny penuh semangat.


“Aku baru tahu ada pantai seindah ini di Jakarta.”


“Mainmu kurang jauh, sih. Di utara Jakarta, sebenarnya banyak tepi pantai yang bisa dikunjungi. Memang tidak seindah dan se-vibrant Bali, tapi lumayan, ‘kan.” Jelas Lanny.


Ailey kembali menyeruput es kelapa muda yang ada di tangannya. Wajahnya terlihat puas menikmati minuman yang menyegarkan di tengah teriknya matahari siang itu.


“Dengar-dengar sudah beberapa hari ini kamu tidak masuk kerja.” Kata Lanny membuka pembicaraan.


“Hehehe. Iya, banyak yang terjadi belakangan ini.” Ujarnya.


“Kamu tidak seperti Ailey yang biasanya. Bukankah kamu karyawan yang paling rajin dan tidak pernah takut akan apa pun juga?”


Sambil meletakkan es kelapa mudanya di meja, Ailey menerawang ke langit biru. Dia menyadari ada yang berbeda pada dirinya. Kepribadiannya yang bersemangat dan tidak pantang menyerah seperti raib begitu saja setelah merasa dikhianati oleh orang-orang terdekatnya.


“Kenapa diam saja? Apa yang sedang kamu pikirkan?” Tanya Lanny.


“Jujur, aku tidak mengerti apa yang harus aku lakukan sekarang.”

__ADS_1


Lanny memasang telinganya dengan tajam. Sebenarnya, dia sudah diberitahu hal yang sebenarnya terjadi oleh Kevin secara garis besar. Tetapi dia juga ingin mendengar sudut pandang dari temannya itu.


“Apakah laki-laki memang selalu seperti itu, hanya bisa mementingkan egonya sendiri?” Lanjut Ailey.


“Maksudmu Kevin?”


“Mungkin memang seharusnya dia tetap bersama dengan kakakmu.” Ujarnya.


Lanny menghembuskan napasnya, “Kalau boleh jujur, dari awal aku tidak melihat kecocokan antara mereka berdua. Saat tahu mereka membatalkan pertunangan itu, aku sebenarnya merasa lega.”


Ailey menoleh melihat Lanny. Dia cukup kaget ternyata Lanny mempunyai pikiran seperti itu pada kakaknya sendiri.


“Mungkin aku masih terlalu muda untuk memahami sebuah hubungan. Tapi, menurutku hubungan yang dipaksakan karena ambisi semata tidak akan memiliki pondasi yang kuat.” Kata Lanny.


“Seharusnya aku tidak pernah hadir dalam hubungan mereka. Aku telah menyakiti banyak orang, termasuk diriku sendiri.”


Ailey kembali menyeruput es kelapa muda sambil mengipas-ngipaskan tangannya di area leher karena panas yang menyengat.


“Percuma cocok jika tidak mendapat restu. Mungkin kami memang tidak berjodoh.” Ucap Ailey.


Lanny memperhatikan Ailey dengan tatapan simpati. Dia mengerti betapa sulitnya warga biasa menembus keluarga konglomerat dimana segala sesuatu harus menguntungkan dari sisi bisnis. Itulah mengapa dia memilih untuk mengejar mimpinya di dunia fotografi ketimbang harus menuruti semua kemauan orang tuanya yang berfokus pada bisnis. Kadang kala dia juga merasa kasihan pada kakaknya karena ia harus membiarkan Lina menanggung beban orang tuanya sendirian.


“Ayah Kevin mengidap kanker hati.” Sambung Lanny tiba-tiba.


Ailey menghentikan kipasan tangannya dan menatap temannya itu dengan wajah kaget. Dia mengambil posisi siaga untuk mendengarkan kelanjutan ceritanya.

__ADS_1


“Sudah bertahun-tahun ayahnya berjuang melawan kanker hati. Kalau aku tidak salah dengar, dokter memvonis hidupnya tinggal beberapa bulan lagi. Menurutku, itulah yang menyebabkan kaki Kevin tertahan di tempat. Dia jadi sulit untuk bergerak mengikuti kemauannya sendiri karena kondisi ayahnya yang memprihatinkan.” Jelasnya.


“Jadi, maksudmu…” Gumam Ailey.


“Kevin benar-benar mencintaimu. Tak pernah terlintas di benaknya untuk meninggalkanmu. Dia hanya butuh waktu untuk menghadapi ayahnya sendiri.” Sela Lanny.


“Lantas aku harus bagaimana?” Tanya Ailey.


“Percaya pada Kevin. Aku yakin, dia akan menemukan solusinya.”


“Aku tak perlu melakukan apa-apa?”


Lanny menggelengkan kepala, “Tidak ada yang bisa kamu lakukan selain berdoa. Biarkan ayah dan anak itu menyelesaikan permasalahan mereka.”


Ailey menunduk tanda kecewa pada dirinya sendiri. Andai dia tahu lebih awal, tentu dia tidak memperlakukan Kevin seperti itu di ballroom. Kini dia merasa bersalah atas perbuatannya padahal Kevin mencoba untuk memikirkan kondisi ayahnya juga. Saat itu, Ailey merasa menjadi orang yang paling egois.


“Semangat! Tunjukkan pada orang-orang bahwa kamu adalah wanita yang kuat! Aku tahu kamu tidak selemah itu.” Ucap Lanny menyemangati.


“Terima kasih, Lanny. Kata-katamu sungguh berarti untukku.” Balas Ailey dengan perasaan lega.


Kesedihan Ailey mulai memudar. Tidak semestinya dia memikirkan masalah ini hanya dari sudut pandangnya sendiri. Ia berusaha untuk mengerti keadaan yang sebenarnya dan mempercayai Kevin untuk menyelesaikan masalah dengan ayahnya. Kini, tinggal satu hal yang mengganggu pikirannya, yaitu Milo. Ailey tidak bisa terus melarikan diri dan menutup mata. Setidaknya, dia harus tetap profesional bekerja di Engelskraft meskipun sakit hati masih menghantuinya apabila melihat wajah Milo.


Kemudian, Ailey memeriksa ponselnya dan melihat beberapa pesan masuk datang dari kedua rekan kerjanya di Engelskraft. Ferdi dan Mario meminta wanita itu untuk kembali masuk kerja. Tampaknya, mereka cukup kelelahan mengurus kafe tanpa sentuhan seorang wanita di sana. Selain itu, terdapat satu buah pesan dari Milo yang belum dibukanya dari kemarin. Dia sengaja menjauhkan dirinya dari pria itu sambil menunggu pikirannya tenang. Akhirnya, Ailey memberanikan diri untuk membaca pesan dari malaikat tersebut.


“Ailey, aku tahu kamu marah padaku. Tapi, bagaimana pun juga selama ini aku tidak memberitahumu karena aku ingin menjaga perasaanmu. Mari kita bicarakan lagi saat kamu sudah siap bekerja. Kami selalu menunggumu kembali ke Engelskraft. Tetap semangat!” Begitu isi pesan dari Milo.

__ADS_1


Ailey mengukir senyuman manis di bibirnya saat membaca pesan tersebut. Sekalipun rasa sakit masih dirasakan olehnya, dia tidak bisa lari terus-menerus. Dia harus bisa menghadapi Milo apapun caranya dan kembali bekerja dengan baik. Selain itu, Ailey tidak mau membuat ayahnya khawatir lagi jika ayahnya tahu dia kembali menyerah hidup di Jakarta.


Cahaya matahari seakan memberi jawaban pada kegundahan hati Ailey. Deburan ombak yang menyentuh batu karang seolah mengajaknya untuk bangkit dan tidak menjadi lemah. Keinginan untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahannya di Jakarta kembali mencuat. Bagaimana pun juga, dia tidak boleh terlihat lemah di mata orang-orang yang pernah meremehkannya. Semuanya harus ia lakukan, bukan semata-mata untuk ayahnya ataupun orang lain, tapi demi berdamai dengan dirinya sendiri.


__ADS_2