
Ferdi terlihat kewalahan menyambut pengunjung yang datang ke kafe. Sejak produk kopi terbaru yang diluncurkan, Engelskraft makin diramaikan oleh pengunjung yang hendak mencoba minuman tersebut. Mario yang berada di sebelahnya berusaha untuk memastikan pesanan pengunjung tidak ada yang terlewat.
“Ailey belum kembali?” Tanya Mario pada Ferdi.
“Belum. Padahal sedang ramai begini, tapi dia lama sekali makan siangnya.” Jawab Ferdi.
“Wah, coba kamu telepon dia. Dia harus segera membantu pekerjaan kita.” Suruh Mario kepada rekannya tersebut.
Karena kesal dengan keramaian yang sulit dibendung, Mario menuju outdoor kafe untuk menghampiri bosnya yang sedang duduk tepat di bawah jendela yang terbuka. Dia meletakkan sebotol air putih di meja tampat Milo berada.
“Wanita pujaanmu belum datang juga. Bagaimana ini? Kafe sedang ramai-ramainya dia malah terlambat.” Kata Mario.
“Sudah lewat 10 menit, ya. Tidak biasanya dia telat.” Jawab Milo dengan santai.
“Pokoknya kamu harus memarahi Ailey sesampainya dia di sini.” Tegur Mario.
Ailey datang dengan terengah-engah menghampiri Ferdi yang sedang menyiapkan kopi bagi para pengunjung. Wanita itu segera mengambil celemek yang ada di laci dan mengenakannya dengan cepat.
“Giliran kamu datang, Mario yang menghilang. Coba kamu panggil dia di luar. Sepertinya dia sedang melaporkan keterlambatanmu pada bos.” Keluh Ferdi.
“Maaf, ya aku terlambat. Aku akan memanggilnya.” Balas Ailey sambil berjalan menuju outdoor.
Sementara itu, Mario masih menuntut Milo untuk bersikap profesional dan tegas pada Ailey. Meskipun rekan malaikatnya itu memiliki perasaan khusus terhadap Ailey, dia harus mampu memisahkan perasaan pribadi dengan profesionalisme kerja.
“Milo, aku tidak mau tahu. Kamu harus mendisiplinkan semua karyawanmu, termasuk Ailey!” Protesnya.
“Iya, urusan perasaan harus dipisahkan dari pekerjaan. Begitu, ‘kan maksudmu?”
__ADS_1
“Aku serius. Jangan salahkan aku jika aku membocorkan rahasia terbesarmu padanya, ya!” Kata Mario tegas.
“Rahasia yang mana?” Tanya Milo sambil memandang tajam pada temannya itu.
“Kalau kamu yang menyulut niat busuk laki-laki yang memperkosa Ailey dulu.”
Milo segera beranjak dari kursinya. Mukanya terlihat tidak senang dengan singgungan Mario tersebut.
“Tidak usah mengungkit hal itu lagi! Sebenarnya apa, sih masalahmu sampai harus mengatakan hal tersebut?” Protes Milo.
Ketegangan terjadi di antara mereka berdua. Dikarenakan Milo berdiri tepat sejajar dengan jendela kafe, dia tersentak melihat Ailey sedang menatapnya dengan penuh kekecewaan dari balik jendela. Kegugupan terlihat jelas di muka Milo hingga membuat Mario penasaran dengan apa yang dilihat rekannya tersebut.
“Ailey?” Mario terperangah melihat wanita tersebut tepat di sebelahnya dengan hanya bersekat jendela.
Kedua mata perempuan itu memandang mereka dengan jijik. Rasa perih di dadanya muncul kembali setelah sekian lama dia kubur untuk melupakan kejadian buruk yang menimpanya saat remaja dulu. Dia tidak menyangka kebenaran itu harus didengarnya tanpa disengaja melalui obrolan para malaikat tersebut.
“A…Ailey, sudah berapa lama kamu di sana?” Tanya Milo gugup.
“Baru datang sudah pergi lagi.” Gumam Ferdi seorang diri tanpa mengetahui apa yang terjadi.
“Ailey, tunggu!” Milo spontan mengejarnya hingga menimbulkan rasa heran bagi siapa pun yang melihatnya.
“Mario, mereka berdua kenapa?” Tanya Ferdi penasaran pada Mario yang berjalan menghampirinya.
“Itu… Aku tidak bisa menjelaskannya. Terlalu rumit.” Jawabnya.
Air mata berderai mengalir ke pipi perempuan itu. Dia berlari sekencang mungkin menjauhi Milo. Pikirannya campur aduk dipenuhi berbagai emosi yang berkecamuk. Bagaimana mungkin sosok yang dianggap sebagai malaikat pelindungnya itu ternyata adalah dalang dibalik kasus pemerkosaannya dulu? Pikirnya.
__ADS_1
“Ailey, dengarkan aku dulu!” Suara Milo terdengar mengikutinya dari belakang namun Ailey tetap tidak memperlambat langkahnya.
Kerumunan orang di Mall Abram City melihat dengan heran Ailey yang sedang berlari menghindari kejaran Milo. Dia tak peduli terhadap sekelilingnya. Yang dia pikirkan hanyalah pergi menjauh karena rasa sakit yang dirasakan. Ailey merasa dikhianati oleh salah satu sosok terdekatnya.
Sayangnya, langkah kaki Milo terlalu lebar dan cepat. Ia berhasil menangkap tangan Ailey hingga membuatnya berhenti berlari.
“Ailey! Dengarkan aku dulu!” Kata Milo dengan gugup.
“Lepaskan aku! Aku tidak mau berbicara denganmu!” Timpal Ailey sambil berlinang air mata.
Milo yang melihat wajah sembab yang basah karena tangisan itu merasa terpukul. Dia bahkan tak sanggup untuk menjelaskan apapun.
“Ailey…” Suara Milo terdengar sedih.
“Bukan hanya Kevin, bahkan kamu pun tidak jujur padaku! Seharusnya aku tidak perlu percaya lagi dengan laki-laki mana pun itu!” Ujar Ailey penuh isak tangis.
“Ailey, aku tidak bermaksud membohongimu!” Milo pun berurai air mata.
“Malaikat pelindung apanya? Berani-beraninya kamu muncul setelah merusak hidupku. Kamu tidak punya perasaan!” Balasnya dengan penuh amarah.
Milo tertegun mendengar pernyataan tersebut. Dia melihat Ailey bukan seperti Ailey yang biasanya. Perempuan itu dipenuhi oleh api amarah. Setiap tetesan air mata yang mengalir, tersirat kebencian yang tidak terbantahkan dari Ailey.
“Ailey…” Milo merasa bersalah melihat keterpurukan dari wajah wanita itu dan perlahan melepaskan genggamannya dari tangan Ailey.
Selama beberapa detik, wanita itu menatap Milo dengan terisak-isak. Sampai akhirnya dia membalikkan badan dan berjalan pergi. Kali ini, Milo tidak mengejarnya. Ia hanya memperhatikan punggung Ailey yang saat itu tampak ringkih hingga akhirnya menghilang dari hadapannya.
Milo menundukkan wajahnya berusaha untuk menyembunyikan tangisan penyesalan dari orang-orang di sekeliling yang menonton drama itu dari tadi. Dadanya terasa sesak. Dia tidak menyangka bahwa rahasia yang selama ini disimpan rapat-rapat akhirnya terkuak dengan cara yang tidak dia duga. Nasi sudah menjadi bubur, malaikat itu hanya bisa menyesali perbuatannya dengan menangis pedih.
__ADS_1
Ramainya Mall Abram City tidak serta merta mengusir kesunyian yang ada di hati Ailey. Ia merasakan kepedihan yang memilukan. Berkali-kali dia berusaha untuk tidak mempercayai apa yang didengarnya, namun mengingat latar belakang Milo yang merupakan malaikat jatuh, semuanya menjadi masuk akal.
Sungguh miris. Belum lama Ailey mendengar hal yang tidak mengenakkan dari ayah pria pujaannya, kini dia harus menerima kenyataan pahit tentang malaikat yang ia percaya sebagai pelindungnya. Ailey merasa hancur, sudah tidak ada lagi yang mampu menjadi tempatnya mengadu. Dia benar-benar merasa seorang diri. Tidak ada lagi yang bisa memberikan penghiburan. Hatinya hancur dan porak-poranda. Dalam pikirannya, dia menyesali keputusannya karena sempat mempercayai malaikat bersayap kusam tersebut. Pada akhirnya, kepercayaan itu menjadi kekecewaan yang lebih dalam.