
“Dia bermalam di kontrakanmu???!” Siti berteriak histeris.
Ailey yang mendengar respon temannya tersebut langsung menundukkan kepala dan menyembunyikan mukanya dengan rambut yang tergerai. Seisi kantin Mall Abram City spontan menoleh ke arah dua perempuan itu yang sedang asyik mengobrol.
“Lalu apa yang terjadi di kamar?” Tanya Siti berbisik karena menyadari suaranya terlalu menggelegar.
“Tidak ada. Jangan berpikir yang macam-macam!” Jawab Ailey malu-malu.
“Lalu setelah itu, apakah dia kembali ke rumah?”
“Tampaknya dia sedang minggat. Tadi saat aku berangkat kerja, dia bilang padaku akan menetap sementara di sebuah apartemen di dekat sini.” Terangnya.
“Pelik sekali kehidupan orang kaya. Aku rasa dia sedang berseteru dengan orang tuanya karena mempermasalahkan hubungannya denganmu.” Lanjut Siti.
“Hebat sekali kamu bisa menebak dengan benar!” Puji Ailey.
“Melihatmu seperti ini sungguh membuatku lega. Kamu sudah kembali bekerja dan tampaknya hubunganmu mulai membaik dengan Pak Kevin, jadi seharusnya tidak perlu berpikir terlalu jauh. Yang penting tetap semangat! Aku tidak mau melihatmu murung lagi.”
“Iya, terima kasih Siti!” Balas Ailey sambil tersenyum.
Waktu makan siang sudah mulai habis. Ailey segera mempersiapkan diri untuk kembali ke kafe. Tetapi bagian terpentingnya adalah Milo akan melakukan kunjungan di sore hari. Entah bagaimana caranya, ia harus bisa bersikap profesional di depan Milo.
***
Milo bersantai di outdoor kafe seperti rutinitas yang biasa dia lakukan. Semenjak datang tadi, dia dan Ailey tidak bertegur sapa sedikit pun. Hal itu jelas membuat Ailey lebih lega karena tidak perlu berbasa-basi dengannya. Namun, ia masih mengingat pesan Milo yang mengajaknya berbicara saat dia kembali masuk kerja.
Sambil mencuri pandang ke arah Milo, dada Ailey terasa sakit karena kenyataan di balik kasus pemerkosaannya dulu. Tetapi dia juga penasaran dengan penjelasan lebih lanjut dari Milo. Karena merasa diperhatikan, Milo membalas tatapan wanita itu dan memberikan senyuman ramahnya. Kemudian Ia menyuruh Ailey untuk menghampirinya.
Dengan perlahan, Ailey menghampiri Milo yang sedang duduk dengan santai. Semakin dekat dirinya, semakin meluap emosinya seakan dia ingin menghajar malaikat itu dengan tangan kecilnya.
__ADS_1
“Duduk sini. Aku tahu kamu masih belum bisa memaafkanku. Mari kita berbicara.” Ajak Milo sambil menawarkan kursi kosong di sebelahnya.
Ailey mengambil kursi tersebut dan duduk dengan perasaan tak karuan. Dia juga tak mampu untuk menatap wajah Milo tanpa menimbulkan rasa benci.
“Sebelumnya terima kasih karena sudah kembali bekerja. Ferdi dan Mario kewalahan tanpa kehadiranmu.” Kata Milo basa-basi.
“Aku… Aku yang minta maaf karena membolos.” Balas Ailey dengan permintaan maafnya yang terpaksa karena masih melihat Milo sebagai sosok atasannya.
“Tidak apa-apa. Aku mengerti. Jadi…” Milo memberikan jeda sejenak, “Jadi, sehubungan dengan hal yang menimpamu dulu. Aku sungguh-sungguh minta maaf.” Lanjutnya sambil membungkukkan badannya hingga kepalanya hampir menyentuh meja.
Ailey kaget karena selama ini dia tidak pernah melihat Milo meminta maaf hingga membungkukkan badan seperti itu. Tangannya gemetar, di saat seperti inilah dia ingin memaki-maki malaikat yang sedang menurunkan harga dirinya itu.
“Sebagai malaikat jatuh yang berniat untuk merusak manusia ciptaan-Nya, itu adalah salah satu tugasku untuk menghasut manusia dan menumbuhkan kebencian satu dengan yang lain. Tapi, aku benar-benar sudah menyesali perbuatanku tersebut. Aku sudah kembali ke jalan Tuanku.” Jelasnya.
“Penjelasanmu tetap tidak merubah apa pun. Kamu tahu, karena perbuatanmu itu aku harus berjuang melawan HIV dengan mengkonsumsi obat seumur hidup! Sementara kamu bebas berkeliling dunia hanya dengan mengepakkan sayapmu. Kamu kira hal ini adil untukku?” Balas Ailey dengan menjaga volum suaranya agar tidak terlalu menarik perhatian.
“Ailey, justru karena aku telah berbuat dosa besar padamu makanya aku dikirim ke dunia untuk membantu hidupmu. Melihatmu setiap hari merupakan sebuah hukuman bagiku karena terus mengingatkanku atas dosa yang kuperbuat dulu. Hal ini juga tidak mudah.” Milo mengangkat mukanya dan menatap Ailey dengan mata berkaca-kaca.
“Maafkan aku. Aku akan menebus dosaku.” Sambung Milo.
“Aku harus kembali bekerja. Terima kasih atas penjelasannya.” Balas Ailey menghindari pembicaraan lebih lanjut.
Ailey lalu meninggalkan Milo yang masih terduduk dengan muka merah. Tampaknya wanita itu masih mengeraskan hati meskipun sang malaikat telah menunjukkan ketulusan atas permintaan maafnya.
Saat berjalan ke arah meja bar, Ailey melihat sosok Lina yang sedang berdiri menghadapnya. Sambil menyeruput kopi pahit di tangannya, dia menyunggingkan senyuman pada pelayan kafe tersebut.
“Apa kabarmu?” Sapa Lina sinis.
“Kabarku baik. Ada yang bisa saya bantu?” Tanya Ailey seadanya.
__ADS_1
“Kamu tidak malu karena telah memperburuk hubungan keluarga Kevin?” Kata Lina mengkonfrontasi.
“Maaf, saya sedang sibuk bekerja.” Balas Ailey tidak mau memberikan respon apa-apa.
Lina menggenggam lengan Ailey dengan kuat berusaha menahannya untuk pergi. Kemarahan terpancar dari kedua mata wanita itu.
“Kevin minggat dari rumah karena kamu, ‘kan? Kamu tahu akibat perbuatanmu itu?”
Ailey tercengang melihat Lina yang terlihat marah dan panik. Nafasnya terdengar tidak beraturan seakan menunjukkan keresahan dalam hatinya. Ailey yang tidak tahu apa-apa hanya memandangnya dengan heran.
“Ayah Kevin saat ini dilarikan ke rumah sakit. Kesehatannya memburuk setelah Kevin tidak pulang ke rumah.” Lanjut Lina.
Bagaikan tersambar petir, Ailey tersentak mendengar kabar yang tidak mengenakkan tersebut. Tangannya gemetar hingga getarannya bisa dirasakan oleh Lina yang sedang memegangnya erat. Kekhawatiran meliputi dirinya.
“Bagaimana dengan Kevin? Apakah dia tahu hal ini?” Tanya Ailey cemas.
“Tentu saja, dia saat ini sedang di rumah sakit menemani ayahnya.”
“Aku… Aku harus ke sana.” Kata Ailey terbata-bata.
“Tidak boleh! Kehadiranmu hanya akan memperburuk keadaan.” Lina memperkuat genggamannya.
“Lepaskan aku!”
“Benar-benar wanita tidak tahu diri! Sudah cukup kamu membuat rumit keadaan!” Tegas Lina.
Ailey menghempaskan genggaman tangan Lina. Sambil menatapnya dengan kesal, Ailey merapikan lengan bajunya yang kusut karena perbuatan anak sulung keluarga Marliani itu.
“Aku tidak akan pernah meninggalkan Kevin lagi. Jika memang aku adalah penyebab dari semua ini, aku akan menyelesaikannya.” Kata Ailey dengan penuh keteguhan.
__ADS_1
Setelah berkata demikian, Ailey pergi meninggalkan Lina yang masih berdiri dengan penuh rasa kesal. Langkah kaki seribu dia lancarkan untuk menemui Kevin dan ayahnya. Ia merasa dirinya bertanggung jawab penuh atas kondisi ayah Kevin dan retaknya hubungan ayah dan anak tersebut. Sambil berlari, Ailey berdoa dengan sungguh-sungguh agar Tuhan dapat memberikan keselamatan pada ayah Kevin dan jalan keluar atas permasalahan yang terjadi di keluarga mereka.