
Mobil sport mewah Kevin berhenti di depan sebuah restoran Italia di kawasan Kemang. Dengan tergesa-gesa dia keluar dari kendaraannya dan memberikan kunci mobilnya kepada pengurus valet parkir di sana. Kevin berhenti sebentar di depan pintu restoran untuk merapikan kemejanya yang terlihat agak kusut. Setelah dirasa sudah rapi, dia memasuki restoran itu dengan penuh semangat.
“Kak Kevin!!” Teriak salah seorang perempuan berambut panjang yang duduk di pojok restoran. Kevin yang mendengar suara tersebut langsung berjalan dengan cepat menuju ke arah perempuan itu.
“Lanny, kapan kamu tiba di Jakarta?” Tanya Kevin bersemangat.
“Maaf, tidak memberitahumu karena aku ingin memberikan kejutan padamu.” Jawab perempuan muda yang bernama Lanny tersebut.
“Sebenarnya dia sudah memberitahuku sejak seminggu lalu jika dia ingin kembali ke Jakarta. Tapi dia bilang tidak boleh memberitahumu dulu.” Lanjut Lina yang duduk di sebelah adiknya itu.
“Coba ceritakan padaku, bagaimana kuliahmu di Tokyo?” Kevin lanjut bertanya sambil duduk di depannya.
“Sama sekali tidak seru karena tidak ada kalian berdua.” Timpal Lanny dengan manja.
Percakapan saat itu terlihat mengalir dengan mudahnya meskipun Kevin sudah 1 tahun tidak bertemu dengan adik Lina itu. Kevin memang sempat berharap untuk dijodohkan dengan Lanny ketimbang Lina karena sifatnya yang ceria dan ramah. Tapi seiring berjalannya waktu, ia bisa menerima perjodohannya dengan Lina dan menganggap Lanny sebagai adiknya sendiri.
Lanny merupakan adik Lina dari keluarga Marliani yang kaya raya. Sekali pun mereka berdua dibesarkan bersama dengan cara didik yang sama, tapi kepribadian mereka berdua sama sekali berbeda. Sifat Lina yang terkenal kaku dan mudah mengkritik tidak turun ke adiknya sama sekali. Lanny memiliki kepribadian yang riang dan easy going sehingga dia sangat mudah bergaul dengan orang di sekitarnya. Tidak heran Kevin pernah menyukai gadis itu.
“Bagaimana persiapan pertunangan kalian? Tinggal 1 bulan lagi, lho.” Kata Lanny penasaran.
“Aku, sih sudah mempersiapkan semuanya sendiri dengan matang. Kevin tidak ada waktu untuk membantuku.” Keluh Lina.
“Wah, kamu kejam sekali. Awas saja kalau kakakku sampai sakit karena mengurus semuanya sendirian.” Protes Lanny.
“Tidak usah membesar-besarkan. Ingat, ini hanya pertunangan belum pernikahan.” Balas Kevin gerah.
__ADS_1
“Semua laki-laki sama saja. Mereka tidak mengerti bahwa pertunangan itu sama pentingnya dengan pernikahan bagi perempuan. Aku bersimpati padamu, Lina.” Lanjut Lanny sambil menggenggam tangan kakaknya.
“Sudahlah, tidak apa-apa. Lagipula Kevin sedang sibuk dengan pekerjaannya. Apalagi sejak ada SPG baru itu, pasti sering sekali menyulitkannya.” Sambung Lina.
“Tampaknya ada cerita seru, nih di Abram. Cepat katakan padaku!” Kata Lanny bersemangat.
“Semua baik-baik saja, kok. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Bahkan Ailey lah yang memberiku ide untuk berkolaborasi dengan Engelskraft. Lina, turunkan sedikit kekesalanmu padanya, dia lumayan pintar, lho.” Jelas Kevin.
“Pokoknya aku tidak suka dengan SPG baru itu!” Tegas Lina.
“Ailey? Engelskraft? Tampaknya aku melewati banyak hal.” Lanny berpikir keras.
“Jika kamu penasaran, kapan-kapan mampir saja ke Mall Abram City, ada Engelskraft, kafe yang cukup populer di sana. SPG itu sering membolos untuk pergi ke sana.” Lanjut Lina.
“Hentikan, Lina! Dia tidak seburuk itu.” Suara Kevin meninggi.
“Kalau ada waktu datanglah ke mall. Sudah lama kamu tidak ke sana ‘kan?” Kata Kevin.
“Iya, aku pasti akan ke sana. Aku penasaran dengan kafe yang kalian bicarakan tadi. Sebenarnya, sepopuler apa, sih tempat itu? Aku tidak mau kehilangan momentum untuk konten TikTok aku.” Balas Lanny sambil mengedipkan matanya.
Kevin hanya tersenyum kecil melihat tingkah gadis muda itu. Sesekali dia melihat ke arah Lina dan melihatnya menatap Kevin dengan pandangan yang mengintimidasi. Tampaknya Lina masih terganggu dengan perubahan sikap yang ditunjukkan Kevin tadi.
“Ada apa, Lin?” Tanya Kevin.
“Tidak apa-apa. Aku hanya memikirkan strategi ke depan untuk meningkatkan penjualan Abram Elektronik.”
__ADS_1
Kevin kemudian mengalihkan pandangannya. Kedua orang tersebut terlihat canggung.
“Kamu tidak ingin bertanya tentang pendapatku? Atau kamu lebih memilih berdiskusi dengan SPG baru yang tidak memiliki pengalaman itu?” Sindir Lina.
“Sebenarnya apa yang ingin kamu sampaikan?” Protes Kevin.
Lina hanya menatapnya dalam diam tanpa membalas sepatah kata pun. Lanny yang berada di sebelahnya merasakan ketegangan dari sikap kakaknya tersebut. Sebagai seseorang yang tidak tahu apa-apa, dia memilih diam daripada berbicara dan memperkeruh suasana.
“Lain kali aku ingin ikut denganmu berdiskusi dengan SPG yang pintar itu, bagaimana?” Lanjut Lina sambil merubah raut wajahnya yang dingin menjadi senyuman ramah.
“Tentu saja. Kita bisa mengajak tim marketing juga.” Jawab Kevin lega melihat senyuman yang terukir di bibir Lina.
“Baiklah, kalau begitu akan aku jadwalkan meeting dengan Ailey dan Silvia.” Katanya sambil mengeluarkan ponsel dari tasnya. Tanpa ragu-ragu dia menelepon Ailey meskipun jam kerjanya sudah selesai. Tanpa menunggu waktu lama, panggilan tersebut tersambung.
“Ailey, besok tolong datang ke kantor untuk meeting bersama tim marketing.” Kata Lina tanpa basa-basi. Sambil menarik napas sebentar, ia melanjutkan, “Pak Kevin juga akan hadir untuk membahas strategi selanjutnya.” Segera setelah itu, ia menutup panggilan dan memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas.
“Mendadak sekali, besok? Kamu bahkan tidak menanyakan jadwalku besok apakah kosong atau tidak.” Sela Kevin.
“Kamu lupa kalau aku memegang jadwal harianmu? Besok kamu hanya ada meeting di pagi hari. Tentu tidak masalah jika kita mengadakan pertemuan siang harinya.” Balas Lina.
“Tapi kamu tidak bisa seenaknya begitu. Ailey harus bekerja di toko juga.”
“Aku adalah bosnya. Aku punya kebebasan untuk menugaskannya kapan saja dan di mana saja. Lagipula, Siti masih bisa mengurus toko dengan baik tanpa bantuan Ailey.” Jawab Lina tak terbantahkan.
Lanny yang tidak mengerti pembicaraan keduanya hanya bisa menyaksikan drama tersebut tepat di depannya seakan-akan sedang menonton film Korea sungguhan. Sepertinya dia sedikit menyesal untuk pulang ke Jakarta hari itu. Waktunya sungguh tidak tepat.
__ADS_1
Kevin yang tidak bisa membantah wanita super dominan itu hanya bisa menghela napas panjang. Sekali pun dia tidak nyaman dengan sikap Lina yang sulit untuk dipahami, Kevin sedikit senang karena dia akan kembali bertemu dengan Ailey di kantornya besok, entah karena apa. Namun yang pasti, sudah terbayang di benaknya keseruan meeting besok. Apalagi ada Ailey yang cukup berani dalam menghadapi Lina. Kevin menutupi senyuman kecilnya saat membayangkan hal tersebut.
“Baiklah, aku tak sabar mendengar hasil diskusi kalian besok. Jangan kecewakan aku!” Kata Kevin seolah menerima tantangan dari Lina.