Engelskraft: Cinta Malaikat Terbuang

Engelskraft: Cinta Malaikat Terbuang
Beban Anak Sulung


__ADS_3

Toko Abram Elektronik dibanjiri oleh pengunjung. Ailey dan Siti terlihat kewalahan menangani pengunjung yang datang. Mereka berdua bahkan tidak sempat mengobrol karena padatnya hari itu. Transaksi datang silih berganti, tampaknya strategi digital marketing yang diterapkan berjalan dengan efektif.


Setelah 8 jam berlalu, toko perlahan mulai sepi menjelang jam tutup mall. Kedua pegawai tersebut akhirnya bisa bernapas dan meregangkan otot-ototnya.


“Gila juga, ya hari ini! Kalau setiap hari ramai seperti tadi, aku jamin toko ini tidak akan gulung tikar.” Gumam Siti di meja kasir sambil memperhatikan daftar transaksi yang terjadi hari itu.


“Mudah-mudahan besok juga ramai, ya. Aku tidak mau kehilangan pekerjaan lagi.” Kata Ailey.


“Ai, kamu pasti tidak percaya dengan penjualan kita hari ini. Transaksi bertambah tiga kali lipat dibanding hari biasanya, lho.” Kata Siti sambil menunjuk ke arah monitor kasir.


“Yes!!!! Dengan begini, Bu Lina pasti akan lebih baik pada kita.” Ujar Ailey gembira.


“Jangan terlalu berharap, Ai!” Sanggah Siti sambil menggelengkan kepalanya. “Yang namanya kepribadian seseorang itu sudah terbentuk dari kecil, susah untuk berubah. Aku sama sekali tidak yakin.”


“Aku paham, sih. Tidak ada salahnya berharap sedikit, ‘kan.” Kata Ailey pasrah.


Sambil menunggu jam tutup mall, mereka berdua asyik mengobrol sambil sesekali melayani pelanggan yang datang meski pun tidak seramai tadi. Namun entah datang dari mana, Lanny muncul dan menyapa mereka berdua. Tampilannya malam itu sangat simpel, memakai kaos dan celana jeans, lengkap dengan sandal jepitnya.


“Tampaknya kalian senang sekali.” Ujarnya tiba-tiba.


“Lanny! Bikin aku kaget saja.” Kata Ailey.


“Ada apa, sih?” Tanya Lanny penasaran sambil mencuri pandang ke arah monitor. “Wah, hebat sekali!!!! Pasti kakakku akan senang melihat kenaikan penjualan ini.” Serunya.


“Kalau dia tidak senang, sudah dipastikan ada gangguan kejiwaan.” Ujar Siti gamblang.


“Hei, jangan mengolok-olok kakakku! Tapi, terkadang aku juga merasa dia sakit jiwa, sih. Hahahaha.” Katanya penuh canda.


Sungguh pribadi yang berbeda sekali dengan Lina. Lanny sangat mudah diajak bercanda dan tidak gampang tersinggung seperti kakaknya. Tapi ada satu kesamaan, Marliani bersaudara itu kalau ngomong pasti tidak ada filternya. Semua hal bisa terlontar begitu saja dari mulut mereka berdua.


“Eh, bagaimana kalau kalian tutup lebih cepat? Aku ingin mentraktir kalian minum kopi di Engelskraft.” Ajaknya.

__ADS_1


“Kamu belum kapok diomeli waktu itu?” Kata Ailey mengingatkan.


“Tidak ada kata takut bagi keluarga Marliani. Lagipula, aku masih penasaran dengan kafe itu. Pleaseeee!” Lanny merajuk.


“Aku tidak berani. Bisa-bisa dipecat nanti.” Ujar Siti khawatir.


“Tenang, aku akan melindungi kalian! Kakakku tidak seburuk itu, kok.” Jelasnya.


Ailey dan Siti melihat satu sama lain, mereka mengangkat bahunya tanda pasrah. Sepertinya kata-kata perempuan itu bisa dipercaya. Dengan sigap, mereka merapikan toko dan menutup Abram Elektronik lebih cepat dari biasanya. Mereka tidak ingin melewatkan traktiran kopi mahal yang tidak pernah bisa mereka beli sebelumnya. Jika biasanya mereka hanya bisa membeli kopi di kantin atau starling yang biasa berkeliling di jalanan, ini satu-satunya kesempatan mereka untuk tidak perlu memusingkan uang yang akan dikeluarkan hanya demi secangkir kopi.


***


Suasana di Engelskraft masih ramai sekalipun tersisa 1 jam lagi untuk beroperasi sebelum tutup mall. Namun, sudah tidak terlihat antrean di depan kafe yang mengular seperti biasanya. Untungnya, ketiga wanita tersebut mendapatkan tempat duduk tanpa perlu mengantre. Tidak bisa dibayangkan jika masih harus mengantre, pasti tidak akan keburu.


“Tumben sekali kalian benar-benar menjadi pengunjung kami, biasanya hanya mengintip dari luar seperti orang aneh.” Kata Mario ketus.


“Kami ini pelanggan, tolong lebih sopan sedikit!” Jawab Lanny yang sedang duduk sambil menyilangkan kakinya.


“Yang ini bukan bosku, dia adik dari Lina Marliani. Sebenarnya dia sangat baik, lho.” Jawab Ailey dengan suara pelan.


“Hidupmu sangat runyam, ya. Lina tidak menyukaimu, tapi kamu bisa mengambil hati adiknya. Aku tidak bisa membayangkan jalan hidupmu ke depannya.” Lanjut Mario.


“Sebagai malaikat, harusnya kamu bisa menanyakan ke Tuhan seperti apa nasibku berikutnya jika harus berteman dengan adik bosku yang membenciku.” Sambungnya.


“Tuanku tidak pernah mengijinkan kami untuk membocorkan rahasia kehidupan seseorang. Kamu banyak-banyak berdoa saja.” Jawab Mario.


“Kalian ini sedang membicarakan aku, ya? Ailey, apa yang dikatakan pramusaji itu padamu?” Protes Lanny melihat keduanya berbisik.


“Tidak ada, hehehe. Ayo, kita pesan sebelum tutup.” Jawabnya.


“Ai, sejak kapan kamu dekat dengan pegawai Engelskraft?” Tanya Siti penasaran.

__ADS_1


“Aku sering bertemu mereka di kantin. Lama-lama jadi sering mengobrol.” Jawab Ailey sekenanya.


Ketiga wanita tersebut sangat menikmati suasana kafe Engelskraft malam itu. Bagaikan teman yang sudah kenal lama, Lanny mempu membaur dengan Ailey dan Siti tanpa kendala. Mereka membicarakan banyak hal layaknya sahabat.


Belum lama mereka berbincang, tiba-tiba Lina menerobos masuk ke kafe dengan muka marah. Dia menggebrak meja tempat ketiga wanita tersebut berbincang hingga menumpahkan salah satu kopi yang ada di atasnya.


“Enak, ya kalian malah bermalas-malasan di sini? Kalian pikir toko tutup jam berapa, hah?” Teriak Lina kesetanan.


“Maaf, Bu. Anu…” Siti dan Ailey gelagapan menjawab atasannya tersebut.


“Kak, jangan marahi mereka! Aku yang mengajak mereka ke sini dan tutup toko lebih cepat.” Bela Lanny.


“Apa? Kamu bahkan tidak bekerja di Abram, berani sekali mengatur operasional kami?”


“Iya, aku minta maaf. Jadi jangan salahkan Ailey dan Siti lagi, ya.” Sambung Lanny.


“Harusnya sebagai anak keluarga Marliani, kamu memberikan contoh yang baik. Kamu membawa nama baik keluarga kita, lho.” Lanjut Lina emosi.


Tiba-tiba keheningan menyelimuti seisi ruangan. Pengunjung yang masih ada di dalam hanya memperhatikan pertengkaran kedua bersaudara itu tanpa berani menengahi. Sementara Lanny yang berusaha semampunya untuk membela kedua karyawan Abram Elektronik terlihat terpojok mendengar perkataan kakaknya tersebut.


Mario yang biasanya sigap untuk menegur orang yang membuat keributan di kafenya ikut mendiamkan diri. Ferdi menyikut pinggang Mario untuk menyuruhnya melerai pertikaian tersebut. Tetapi Mario tetap diam dan hanya memperhatikan dari meja bar dengan seksama. Tampaknya dia memang sengaja membiarkan pertengkaran dua bersaudara tersebut.


“Selalu begitu…” Lanny mulai berbicara, “Selalu saja membawa nama besar Marliani. Tak bisakah kakak memandangku sebagai manusia biasa? Memangnya apa bagusnya membawa nama keluarga jika kita tidak bisa menjadi diri sendiri?!”


“Kurang ajar. Kamu…” Belum sempat Lina melanjutkan amarahnya, dia terkejut melihat wajah Lanny yang memerah dengan matanya yang berkaca-kaca.


“Kakak sudah dibutakan oleh ambisi keluarga kita.” Lanjut Lanny lalu menerobos kakaknya yang berdiri di hapadannya dan meninggalkan Ailey dan Siti di sana.


Semua mata tertuju pada Lina hingga membuat wanita angkuh itu gemetar. Sepertinya dia malu dengan kejadian barusan. Dia mengepalkan kedua tangannya dan segera bergegas keluar dari kafe tersebut sambil menundukkan muka.


Ailey yang melihat pertengkaran itu merasa simpati pada kedua bersaudara tersebut. Hatinya pedih karena merasa iba mendengar pernyataan dari Lanny. Terlebih kepada Lina, yang menanggung beban nama besar Marliani karena merupakan anak sulung dari keluarga pengusaha minyak tersohor. Mario yang dapat membaca perasaan manusia, ikut merasakan kesedihan yang dirasakan Ailey. Pantas saja, Milo begitu melindunginya karena Ailey adalah seorang wanita yang sangat lembut dan rapuh, pikir Mario.

__ADS_1


__ADS_2