
Siti terlihat terburu-buru merapikan baju kerjanya. Hari ini dia lupa mengaktifkan alarm sehingga bangun kesiangan dan hampir terlambat. Ailey yang sudah siap berjaga di toko hanya bisa melihatnya sambil sesekali merapikan peralatan elektronik yang ada di etalase.
“Ailey, tolong ambilkan ikat rambutku!” Seru Siti terlihat panik.
“Ini! Satu menit lagi toko buka, lho.” Kata Ailey sambil menyerahkan ikat rambut kepada Siti.
“Iya, aku tahu! Duh, kok jadi aku yang seperti anak baru, ya.” Balas Siti sambil menguntai rambutnya.
Tepat jam 10 pagi Mall Abram City terbuka untuk pengunjung. Dengan gasrak-gusruk, Siti menyalakan komputer di meja kasir sementara Ailey bersiap di depan toko untuk menyambut pengunjung yang datang. Pagi itu pengunjung mall belum terlalu ramai, biasanya keramaian akan muncul pada saat jam 12 siang dimana pegawai kantor di sekitar area tersebut datang untuk melihat-lihat sekalian makan siang. Sambil memperhatikan sekeliling, Ailey berjaga-jaga jika sewaktu-waktu ada pengunjung yang datang.
Dari kejauhan, terlihat CEO dan kepala operasional yang sombong mendekat. Mereka berdua berjalan berdampingan, terlihat serasi. Sepertinya karena keduanya sama-sama memiliki aura yang buruk, kedua orang itu terlihat serasi dan cocok satu sama lain. Ailey yang bersiap menyambut bahaya tersebut, membungkukkan badannya untuk menunjukkan penghormatan yang palsu.
“Oh, si anak baru. Jangan membungkuk terlalu lama, kasihan nanti baju kerjamu kusut.” Kata Lina terdengar sinis.
“Jadi kamu yang merekrut dia? Apa yang kamu lihat dari wanita ini, Lin?” Tanya Kevin.
Lina tersenyum manja, sepertinya dia menaruh hati pada CEO itu, “Yah, sebenarnya tidak ada kandidat lain yang bisa dipekerjakan sesegera mungkin. Mau tidak mau. Lagipula kasihan juga saat mengetahui bahwa dia pengangguran.”
Ailey menegakkan kembali badannya. Dengan tatapan muak, dia melancarkan protesnya. “Jaga ucapan Anda! Anda sama sekali tidak berhak memperlakukan saya seperti ini.”
Kevin tertegun mendengar respon Ailey. Selama ini, tidak ada yang berani dengan Lina. Lina selalu menjadi wanita satu-satunya di Abram yang paling ditakuti oleh semua karyawan. Bahkan, CEO sekelas Kevin pun segan padanya dan sering meminta nasihat darinya.
“Apa kau bilang? Beraninya pegawai rendahan sepertimu berbicara tidak sopan kepadaku!” Tegur Lina.
“Hei, sudahlah! Tidak perlu ditanggapi, jangan memberinya panggung!” Kata Kevin melerai.
__ADS_1
Segera sesudah itu, mereka berdua berlalu dari hadapan Ailey. Sambil sesekali menengok ke belakang, Kevin memperhatikan Ailey yang sedang berdiri di depan toko. Tampaknya ada rasa penasaran yang hinggap di kepala Kevin terhadap wanita pemberani itu.
“Kamu tidak apa-apa, Ailey?” Tanya Siti khawatir.
“Heran, kenapa orang-orang kaya itu angkuh sekali? Seenaknya saja memperlakukan karyawannya.” Jawab Ailey.
“Yah, bersabar saja. Toh, kita makan dari gaji yang mereka berikan. Lama-lama pasti kamu terbiasa.” Balas Siti pasrah.
***
Kevin dan Lina duduk bersebelahan di sebuah restoran mewah di dalam Mall Abaram City. Mereka berdua terlihat sibuk mendiskusikan operasional mall dan penambahan tenant di sana.
“Lina, aku baru lihat kafe ini. Sejak kapan menjadi tenant kita?” Tanya Kevin sambil menunjuk ke arah denah mall yang ada di laptop Lina.
“Oh, kafe itu baru seminggu menjadi tenant di sini. Konsep gothic-nya unik, ya.” Jawab Lina.
“Setauku, kafe ini dimiliki oleh perseorangan dan baru buka pertama kali di Indonesia, di mall kita.” Kata Lina menjelaskan.
“Kenapa kafe tidak jelas ini kamu ijinkan untuk sewa di sini?” Protes Kevin.
“Aku tidak tahu persis bagaimana ceritanya karena itu adalah bagian tenant relation yang mengurus. Tapi sejak hari pertama buka, Engelskraft selalu ramai. Kafe itu menjadi salah satu penyumbang pengunjung terbanyak di mall kita, lho.” Jelas Lina.
Sambil mendengarkan penjelasan Lina, Kevin mencari tahu tentang kafe tersebut di internet melalui ponselnya. Tetapi tidak ditemukannya jejak satu pun terkait kafe Engelskraft. Jiwa bisnisnya pun mulai meronta, dia tidak ingin reputasi mall nya hancur hanya karena keberadaan kafe baru tersebut.
“Tidak usah terlalu dipikirkan. Lagipula, mall kita makin ramai karena Engelskraft juga. Lebih baik memikirkan pertunangan kita yang akan dilangsungkan 2 bulan lagi, Kevin.” Kata Lina manja.
__ADS_1
“Hei, jangan memanggilku dengan nama saja! Aku ini masih bos kamu, lho.” Kevin menegaskan.
“Kaku sekali, sih. Pada akhirnya kita akan bertunangan juga, lalu menikah. Tidak ada bedanya memanggilmu dengan nama saja dari sekarang.” Protes Lina mendengar pernyataan Kevin.
Kevin hanya menghela napasnya seakan tidak tahu lagi bagaimana harus menghadapi wanita super benar itu. Entah apa yang ada di pikiran orang tuanya hingga harus menjodohkan Kevin dengan Lina. Lina memang berasal dari keluarga terpandang Marliani, anak dari pengusaha minyak terbesar di Indonesia, sehingga pernikahan antar dua konglomerat besar ini dapat memperkuat bisnis keduanya. Kevin pun tak menolak ketika dijodohkan, karena bagi Kevin bisnis Abram milik keluarganya patut untuk dipertahankan. Namun, yang menjadi beban bagi Kevin adalah mengapa harus Lina yang dijodohkan dengannya di antara 2 anak perempuan Marliani. Kalau boleh memilih, Kevin lebih mengharapkan Lanny, sang adik bungsu yang lebih ceria dan ramah.
“Ngomong-ngomong, bagaimana kinerja karyawan baru itu?” Kevin mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Karyawan baru? Ailey maksudmu?” Tanya Lina meyakinkan. “So far so good, baru beberapa hari bekerja, sih. Tapi aku suka sebal melihatnya karena kurang sopan denganku.”
“Menarik. Jarang sekali ada yang berani membalas perkataanmu.” Kevin tertawa terkekeh.
“Tidak ada yang lucu. Kalau dia tidak bisa menghormatiku selama masa percobaan, aku akan langsung memecat dia.” Balas Lina kesal.
“Jangan terburu-buru! Bukankah seru bila melihatmu sewot begini hanya gara-gara pegawai baru itu?” Kevin kembali menggoda.
“Siapa yang sewot pada pegawai rendahan seperti dia?” Balas Lina kesal.
“Oh, sepertinya ada yang baru mendapatkan musuh baru yang sepadan, nih.” Kata Kevin sambil memicingkan matanya.
Lina menyenggol sikut Kevin yang berhasil menjahilinya. Namun rasa tersinggung sedikit mengganggunya karena seumur hidup wanita itu, ini pertama kalinya dia merasakan pegawainya sendiri berani membalas perkataannya. Memang menyebalkan, namun di lain sisi, Lina merasa tertantang untuk dapat menaklukkan Ailey karena sikap beraninya tersebut.
Sementara Lina memikirkan cara untuk dapat membuat Ailey bertekuk lutut padanya, Kevin masih penasaran dengan Engelskraft. Untuk sebuah kafe baru, bagaimana bisa dia menarik begitu banyak pengunjung hanya dengan konsep gothic-nya. Sebagai CEO Abram, Kevin tertarik sekali kepada bisnis yang dijalankan Milo tersebut, termasuk penasaran dengan strategi apa yang dilakukannya.
“Lina, bagaimana kalu kita melihat-lihat Engelskraft sebentar? Kamu mau menemaniku?” Tanya Kevin dengan lembut.
__ADS_1
“Tidak perlu bertanya. Apa, sih yang tidak aku lakukan demi kamu?” Jawab Lina dengan penuh percaya diri.