
Segelas kopi americano berdiri tegak di atas meja. CEO Abram terlihat duduk termenung tak bergairah. Dia hanya menatap kosong ke arah kopinya yang belum disentuh sama sekali. Keramaian kafe Engelskraft dengan musik yang mengalun dari sound system dan suara para pengunjung bahkan tidak mampu menggubrisnya sedikit pun.
“Apa yang sedang kamu lakukan di sini? Tidak malu pernah komplen ke karyawanmu karena membolos ke tempat ini? Double standard!” Seru Milo yang berdiri di belakang Kevin.
“Aku sedang tidak ingin ribut denganmu!” Balasnya sambil menghela napas panjang.
“Sepertinya ada yang lagi banyak pikiran, nih.” Kata Milo sambil duduk di kursi yang ada di sebelahnya tanpa meminta ijin.
“Apa pedulimu? Kamu tidak akan tertarik.” Jawab Kevin ketus.
Milo menatapnya dengan malas. Dia tidak ingin berurusan dengan CEO arogan tersebut, tapi dirinya sangat penasaran.
“Jika kamu hanya malas-malasan di kafeku, sebaiknya kamu kembali ke kantor sana! Mataku iritasi melihatmu di sini.” Ujar Milo memancing emosi.
Kevin yang daritadi terlihat tak bersemangat langsung menunjukkan tatapan matanya yang tajam tepat ke arah pemilik Engelskraft tersebut. Tampaknya Milo berhasil mengalihkan perhatiannya.
“Atau kamu sedang bosan mengejar Ailey? Good timing! Aku akan mengambil kesempatan ini untuk mendapatkan hatinya.” Sambung Milo.
Terlintas amarah di benak Kevin. Tangannya mengepal dengan keras seakan ingin meninju wajah pria itu. Namun, dia tahu ada yang tidak benar dengan sikapnya. Badannya dilemaskan kembali.
“Kamu bicara apa? Seorang CEO sepertiku mengejar pegawai biasa seperti dia? Jangan bercanda!” Balas Kevin.
“Mulutmu harimaumu! Tapi kalau memang benar seperti itu, aku cukup lega karena rivalku berkurang.” Jawab Milo dengan santai.
“Sebenarnya apa yang kamu inginkan dariku? Mengapa kamu membahas hal yang tidak masuk akal ini?” Tanya Kevin dengan kesal.
“Tidak apa-apa, aku hanya ingin mengganggumu saja. Mukamu terlalu kusut untuk seorang CEO besar, sepertinya butuh untuk disiram bensin sedikit dan disulut api supaya kamu bersemangat kembali.” Katanya.
__ADS_1
Entah mengapa, perkataan itu membuat Kevin terenyuh. Sepertinya Milo tidak sepenuhnya membenci dirinya. Setidaknya, dia berhasil membuat Kevin bersemangat sesaat karena mendengar nama Ailey.
“Kamu jangan macam-macam dengan Ailey!” Kata CEO Abram tersebut.
“Wah, seperti dugaanku. Mulutmu harimaumu. Kalau seperti ini ‘kan jadinya seru, tidak enak jika aku berkompetisi seorang diri.” Balas Milo sambil menyilangkan kedua tangannya.
Ferdi yang menyadari ketegangan di antara keduanya mulai mengambil kuda-kuda untuk segera melerai mereka berdua apabila dibutuhkan. Mario yang berada di sebelahnya hanya menepuk pundak rekannya itu sambil menggelengkan kepala. Dia tahu bahwa urusan Ailey ini hanya bisa diselesaikan oleh kedua pria dominan itu. Tidak boleh ada yang mengganggu.
Kevin yang lelah menghadapi pemilik kafe tersebut menengok ponselnya yang bergetar. Dia membaca sebuah pesan masuk yang dikirimkan oleh Lina.
“Tidak sabar menunggu pesta pertunangan kita malam ini. Love you!” Tulis Lina.
***
Salah satu restoran yang terletak di dalam gedung Abram Corporation terlihat ramai. Hiruk pikuk orang-orang dengan pakaian formal dan mahal berseliweran.
Ailey dan Siti yang ikut diundang tidak berani masuk ke dalam. Mereka hanya memperhatikan antrean dari depan pintu masuk.
“Kenapa Bu Lina mengundang kita berdua ke pesta pertunangannya, ya? Padahal kita ‘kan hanya SPG toko.” Tanya Siti.
“Entahlah, aku juga heran. Tapi pertanyaan terbesarnya bukan itu, bagaimana cara kita membaur dengan pakaian tak bermerk ini? Lihat, semuanya memakai gaun mahal!” Bisik Ailey.
Siti yang menyadari hal tersebut segera memperhatikan pakaiannya. Dia mengenakan kemeja putih dengan rok bermotif bunga yang dibelinya di sebuah toko online saat promo akhir tahun kemarin. Sementara Ailey mengenakan pakaian terusan berwarna pink yang dibelinya di pasar pagi.
“Kamu yakin kita masuk ke dalam?”
“Sudah sampai di sini, masa kita diam saja di luar.” Ajak Ailey sambil melangkah masuk.
__ADS_1
Mereka berdua memasuki restoran mewah yang sudah didekorasi sedemikian rupa. Karangan bunga terpajang hampir di seluruh sisi ruangan dengan chandelier menggantung di tengah yang menampilkan kesan megah. Sebuah meja bundar tersebar di restoran tersebut dengan satu meja menggunakan taplak emas berada di tengah ruangan. Tampaknya meja itu untuk Kevin dan Lina beserta keluarganya.
Tidak lama, keluarga Kevin dan Lina memasuki ruangan dan menempati meja yang paling menonjol itu. Bersama dengan kedua keluarga, mereka duduk bak bangsawan.
Tanpa disengaja, Ailey dan Kevin beradu tatap. Pria itu melihat Ailey dengan senyuman bahagia dan memberi anggukan kecil padanya. Hal itu membuat hati perempuan tersebut berdebar, dia hanya membalasnya dengan senyuman dari kejauhan. Lalu Kevin menolehkan mukanya dan menampilkan wajah masam. Perubahan raut wajah CEO tersebut membuat tanda tanya di benak Ailey. Mengapa tampaknya Kevin tidak antusias dengan pertunangan itu?
Di lain sisi, Ailey merasakan sedikit sesak di hatinya saat melihat Kevin dan Lina duduk bersebelahan. Perasaan aneh memenuhi tubuh Ailey sedikit demi sedikit. Saat itulah, dia menyadari ada kecemburuan di dalam dirinya. Dadanya sesak, namun dia tidak bisa berbuat apa-apa.
“Kamu tidak apa-apa, Ai?” Tanya Siti yang melihat kemuraman di wajah temannya.
“Tidak, aku tidak apa-apa.” Sanggahnya.
Lina berdiri dari tempat duduknya. Dia melihat ke arah Ailey dan memberikan tatapan sombong seolah telah mengalahkannya. Wanita itu seakan puas telah berhasil memperlihatkan pesta pertunangan dengan CEO Abram kepada karyawan toko tersebut.
“Terima kasih semuanya telah menyempatkan diri datang ke pesta pertunangan anak kami. Sungguh sebuah kehormatan dapat menjamu Anda di sini. Saya, sebagai ayahanda dari Kevin Abram ingin memberikan kabar gembira bahwa hari ini, Lina Marliani telah resmi menjadi tunangan anak saya satu-satunya.” Kata seorang bapak tua yang menyebut dirinya sebagai ayah dari Kevin.
Tepuk tangan meriah memenuhi seisi ruangan. Tergambar wajah-wajah bahagia dari setiap orang yang ada di sana. Tapi tidak dengan Kevin, wajahnya muram dengan tatapan kosong seolah dia menyesali pertunangan itu.
“Oleh karena itu, saya akan memberikan waktu kepada anak saya untuk memberikan sepatah dua patah kata sebelum kita menyantap hidangan malam ini.” Sambungnya.
Seluruh tamu serentak memberikan keheningan sejenak untuk mendengar kata sambutan dari CEO Abram akan pertunangannya. Namun, Kevin tidak beranjak dari kursinya. Dia hanya duduk mematung seperti sedang melamun. Lina yang berada di sebelahnya menyadari ada yang aneh pada tunangannya itu. Tidak ingin menghancurkan pesta pertunangan impiannya, Lina segera berdiri sambil menarik lengan Kevin. Pria itu terhenyak dan ikut berdiri dengan lemas.
“Tampaknya tunangan saya masih tidak percaya akan tibanya hari ini. Mohon dimaklumi, ya. Pasti dia sangat bahagia selayaknya saya. Kami berdua mohon doa restunya ya hingga hari pernikahan nanti.” Kata Lina dengan hati bahagia.
Tapi Lina tidak puas sampai di situ. Ia belum merasa pertunangannya tervalidasi. Wanita itu berinisiatif mengangkat tangan kirinya untuk menunjukkan cincin pertunangan yang melingkar di jari manisnya. Melihat Kevin yang tidak bereaksi, dia mengangkat tangan kiri Kevin dengan tangan kanannya. Sempurna, kedua pasangan tersebut telah bertunangan dengan bukti cincin di jari manis masing-masing.
Seluruh tamu undangan memberikan tepuk tangan yang meriah seakan ikut merasakan kebahagiaan dari pasangan tersebut. Namun, kedua tangan Ailey terasa berat untuk bercampur dengan suara gemuruh di ruangan itu. Matanya berkaca-kaca ketika melihat jari manis Kevin sudah diikat oleh sebuah janji pertunangan. Sesak yang dirasakan di dadanya semakin berat. Mengapa dia memiliki perasaan yang tidak seharusnya diberikan kepada CEO-nya sendiri? Pikirnya.
__ADS_1