
Hamparan sawah dan kebun yang hijau membuat pikiran dan hati tenang. Sambil memandangi langit yang cerah, Ailey menarik napas sedalam mungkin untuk menghirup bersihnya udara pedesaan. Kakinya yang beralaskan sandal jepit berjalan perlahan menyusuri jalanan yang berkerikil dengan sedikit kendaraan bermotor yang lalu-lalang.
“Sejujurnya, Bapak kaget saat kamu memberitahu akan pulang kemarin. Tumben sekali, anak yang keras kepala ini mau mendengarkan perkataan Bapak untuk membantu di kedai.” Kata ayah Ailey yang berjalan di sebelahnya sambil menenteng ember yang berisi es batu.
“Oh, jadi Bapak menyesal aku pulang ke rumah?” Timpal Ailey menggoda.
“Jelas tidak! Bapak senang ada kamu yang menemani Bapak di kampung.” Jawab sang ayah dengan gembira.
“Aku juga kangen kembali ke rumah.” Kata Ailey.
“Sudah, kamu di sini saja. Tidak usah kembali lagi ke Jakarta. Bapak tahu hidup di Jakarta itu tidak semudah yang dibayangkan.”
“Iya, Pak. Aku di sini saja, deh sama Bapak supaya Bapak tidak cerewet lagi meminta aku pulang terus.” Jawab Ailey sambil menggandeng lengan ayahnya.
Hanya berjalan beberapa menit, akhirnya mereka sampai di kedai kopi yang sangat sederhana. Genteng yang sudah tidak tersusun beraturan dan tembok dengan cat berwarna hijau yang sudah banyak terkelupas memberikan kesan tak terawat. Semenjak Ailey merantau ke Jakarta, ayahnya jarang sekali memberikan perhatian kepada kedainya itu, apalagi dengan umurnya yang sudah tua membuatnya cepat kelelahan bila harus membenahi semuanya sendirian.
“Sudah lama sekali aku tidak ke sini. Sepertinya banyak yang harus aku benahi.” Kata Ailey sambil memperhatikan kedai tersebut.
“Itu nanti saja. Ayo, kita harus segera membuka kedai ini sebelum supir-supir truk itu datang!” Potong sang ayah.
Dengan semangat penuh, Ailey membantu ayahnya membuka kedai kopi tersebut dan menyiapkan barang-barang jualannya dengan rapi di etalase kaca yang seadanya. Situasi itu membawa nostalgia bagi wanita tersebut. Dulu, setiap kali pulang sekolah, ia pasti selalu menyempatkan dirinya membantu ayah di kedai, lengkap dengan seragam sekolahnya. Dari kecil, Ailey memang sudah terbiasa bekerja keras membantu ayahnya karena sang ibu telah lama meninggal dunia saat ia masih berusia 7 tahun.
***
Hari semakin terik, peluh-peluh keringat mulai menetes dari dahi Ailey. Tampaknya ia harus membiasakan diri bekerja tanpa AC seperti yang dialaminya saat bekerja di mall. Pelanggan yang datang juga tidak terlalu ramai. Biasanya yang singgah di kedai kopi tersebut adalah supir truk yang butuh beristirahat sejenak sambil minum kopi hitam. Jarang sekali ada pelanggan lain yang berkunjung.
“Kopinya satu, ya.” Kata seorang pengunjung pria.
Betapa kagetnya Ailey melihat siapa yang datang. Pemilik kafe Engelskraft ada di hadapannya sambil tersenyum memperlihatkan giginya yang putih dan rapi.
__ADS_1
“Milo? Bagaimana kamu bisa…” Kata Ailey tercekat.
“Eits, mana mungkin aku tidak tahu kamu di sini. Kamu lupa kalau aku…” Belum sempat Milo melanjutkan ucapannya, Ailey memasang jari telunjuknya di depan bibirnya sebagai tanda untuk tidak memberitahu bahwa dirinya adalah malaikat. Milo yang menyadari sinyal tersebut langsung mengunci mulutnya.
“Kamu ngapain di sini, sih?” Tanya Ailey.
“Aku tadi pagi ke tokomu tapi kata Siti kamu sudah tidak bekerja di Abram lagi dan kembali ke kampung. Makanya aku segera terbang ke sini.” Jawab Milo.
Ailey yang khawatir identitas malaikat itu diketahui orang langsung menepuk lengan Milo dan kembali memberikan isyarat untuk berhati-hati dengan omongannya. Tapi kelihatannya Ailey cukup senang melihat keberadaan sang malaikat di kedainya.
“Kamu yakin tidak ingin kembali bekerja di Jakarta? Kedai ini sudah reot sekali.” Bisik Milo.
“Kamu jangan macam-macam, ya! Tidak sopan sekali mulutmu.” Balas Ailey sambil mencubit lengan Milo.
Ayahnya yang menyadari kedatangan sosok baru di kedai tersebut bergegas menghampiri mereka berdua. Wajah pria tua itu terlihat penasaran dengan kedekatan mereka.
“Eh, halo om! Saya Milo.” Balasnya sambil menjabat tangan pria tua itu.
"Jadi ini yang membuat anak perempuan saya tidak mau pulang ke rumah?” Timpalnya.
"Pak, bukan seperti itu!” Sanggah Ailey sambil menyikut pinggang ayahnya.
Wajah Milo memerah karena tersipu malu oleh perkataan ayah Ailey. Sesekali dia menggaruk kepalanya karena salah tingkah.
“Maklum, saya tidak pernah melihat anak saya berpacaran. Tidak disangka bahwa pilihanmu bibit unggul, ya. Ganteng, lho.” Tambah sang ayah.
“Aku sudah bilang bukan seperti itu! Milo tidak lebih dari temanku. Betul, 'kan Milo?” Balas Ailey.
"Bagaimana, ya? Seharusnya kamu jujur saja pada ayahmu.” Milo memanas-manasi.
__ADS_1
“Kalian berdua benar-benar, ya! Tadi kamu pesan kopi, 'kan? Tunggu sebentar!” Kata Ailey mengalihkan pembicaraan saking malunya dan bergegas ke belakang untuk menyeduh kopi.
Kedua pria berbeda generasi itu saling tertawa terbahak-bahak melihat reaksi perempuan tersebut. Beberapa supir truk yang tidak sengaja mendengar pembicaraan tersebut juga tertawa geli melihat situasi di kedai kopi.
"Jadi kamu benar berpacaran dengan anakku?” Ayah Ailey masih bertanya penuh rasa penasaran.
"Tidak, om. Kami hanya teman, kok.” Jawab Milo dengan tidak rela karena dia berharap mereka berdua memang berpacaran.
“Sayang sekali. Padahal kamu tampan dan kelihatannya baik.”
“Om bisa saja.” Kata Milo masih dengan tangannya yang menggaruk kepala karena tersipu malu.
Sang ayah terdiam sejenak sambil menengok ke belakang untuk memastikan Ailey sedang sibuk menyiapkan kopi. Dia berdeham dan menatap Milo dengan raut muka yang serius.
"Milo, apakah kamu tahu alasan yang sebenarnya mengapa Ailey pulang ke kampung?”
“Ailey tidak cerita pada om?” Milo balik bertanya.
“Dia hanya bilang kalau tidak betah dengan suasana kerja di sana. Tapi detilnya tidak diceritakan. Anak itu hanya bilang untuk tidak usah mengkhawatirkannya.” Jawab ayah.
“Oh, itu... Saya juga kurang tahu, om.” Milo menahan penjelasan dari mulutnya. Sebenarnya dia sudah tahu apa yang terjadi dari Siti, tetapi tidak bijak rasanya bila alasan yang sebenarnya tidak disampaikan oleh anaknya secara langsung.
Ayah Ailey melemparkan pandangannya ke etalasa kaca yang sudah tidak bening lagi dengan tatapan murung. Dia tidak puas dengan jawaban yang diberikan oleh laki-laki muda itu. Jari tangannya terlihat mengetuk-ngetuk meja di bawahnya seolah sedang memikirkan sesuatu yang serius.
"Kenapa om?” Tanya Milo.
“Tidak apa. Saya merasa ada yang disembunyikan oleh anak saya di balik senyuman cerianya itu. Sudahlah, mungkin prasangka buruk om saja. Hehe.”
Saat itu Milo melihat kesedihan dari ayah Ailey. Sekuat apapun Ailey berusaha untuk menutupi bebannya dengan sikap santainya, firasat orang tua tidak pernah salah. Ingin rasanya Milo memberitahukan sang ayah agar terlepas dari rasa penasaran, tetapi apa yang akan dirasakan oleh Ailey apabila ayahnya tahu hal tersebut dari orang lain.
__ADS_1