
Wangi bumbu dapur berhembus hingga membangunkan Kevin yang sedang tertidur pulas di ruang tamu. Masih setengah sadar, matanya memperhatikan sekeliling sambil mencoba mengangkat tubuhnya sendiri yang tampak kelelahan. Tampaknya dia lupa kalau telah tertidur semalaman di rumah Ailey.
“Pak CEO sudah bangun rupanya. Ternyata seorang pimpinan Abram bisa bangun siang juga, ya.” Ujar Ailey dari meja makan sambil menyiapkan peralatan makan yang seadanya.
“Selamat pagi, memangnya ini jam berapa?” Tanya Kevin setengah sadar.
“Jam 9 pagi. Sebenarnya aku ingin membangunkanmu saat subuh tadi karena kamu harus berangkat ke kantor, ‘kan. Tapi melihatmu tidur pulas sambil ngorok seperti itu rasanya aku tidak tega.” Kata Ailey menggoda.
“Maklum, kemarin kecapekan menyetir.” Jawab Kevin, “Sepertinya aku skip ke kantor, deh. Sudah tidak akan keburu untuk ke Jakarta jam segini.”
“Kamu yakin? Bu Lina pasti mencarimu, lho.” Timpal Ailey.
Kevin terdiam. Kejadian beberapa hari lalu tampaknya membuat hubungan keduanya renggang hingga pria itu enggan membicarakan tunangannya.
“Kamu masak apa?” Tanya Kevin sambil beranjak dari sofa malasnya.
“Bukan sesuatu yang mewah, hanya ayam goreng dan perkedel. Mudah-mudahan Bapak suka.” Jawabnya.
Sambil menempatkan sendok dan garpu di tempatnya, Ailey mengajak pria itu untuk duduk di meja makan bersamanya. Tanpa ragu, Kevin menarik kursi dan duduk tepat di sebelah Ailey. Perutnya sudah tidak sabar menyantap masakan rumahan tersebut.
“Ngomong-ngomong, ayahmu mana?” Tanya Kevin penasaran karena tidak melihat ayah Ailey di dalam rumah sederhana itu.
“Bapak sudah pergi ke kedai pagi-pagi sekali. Sepertinya dia lebih rajin dari seorang CEO Abram.” Godanya kembali.
“Ayahmu sepertinya seorang pekerja keras, ya. Tidak heran dia mampu membesarkan anaknya hingga menjadi seorang yang kuat dan tegar sepertimu.”
“Bapak bisa saja.” Ujar Ailey malu.
Sambil melahap makanan yang dihidangkan, Kevin terlihat sangat menikmati setiap gigitannya. Selama ini, dia selalu makan masakan chef pribadi di rumahnya dengan menu ala restoran bintang lima. Jadi, makanan rumahan yang dimasak oleh Ailey memiliki kelezatan tersendiri di lidahnya.
“Pak… Kamu tidak takut dengan penyakitku?” Tanya Ailey di sela-sela waktu makannya.
__ADS_1
Kevin terdiam sebentar. Sambil menelan perkedel yang sedang dikunyahnya, dia menyiapkan jawaban yang sekiranya tidak akan menyakiti hati perempuan itu.
“Jujur, awalnya aku takut. Tetapi setelah mencari tahu tentang virus HIV, tidak ada yang perlu ditakutkan. Selain karena penularannya yang terbatas pada darah, orang yang rutin meminum obat ARV akan memiliki kandungan virus dengan jumlah terkecil hingga tidak terdeteksi. Undetectable is Untransmittable. Jadi, aku tidak ada masalah denganmu.” Jawabnya sambil tersenyum.
Ailey yang mendengar penjelasan tersebut tampak takjub karena tidak menyangka Kevin melakukan riset hingga mengetahui seluruh hal tersebut. Dia membalas dengan senyuman kecil lalu menyeruput air putih di gelasnya.
“Bolehkah gantian aku yang bertanya?” Tanya Kevin.
“Silahkan. Aku akan menjawab sebisaku.” Kata Ailey.
“Maaf jika sedikit mengganggumu. Tapi, apa yang menyebabkanmu terjangkit HIV?” Ucap Kevin to the point.
Ailey tersentak mendengar pertanyaan tersebut. Sebenarnya, HIV bukanlah aib sesungguhnya yang ingin ditutupi oleh wanita itu, melainkan kejadian di balik penyakitnya.
“Tidak perlu dijawab jika kamu tidak mau.” Kata Kevin menyadari ketidaknyamanan di muka Ailey.
“Tidak apa-apa.” Jawab Ailey sambil menghela napas sedalam mungkin. “Dulu, kejadian buruk pernah menimpaku. Aku pernah… aku…” Katanya ragu-ragu. “Aku pernah diperkosa. Hal itu yang menyebabkan aku mengidap HIV.” Lanjutnya dengan suara gemetar.
“Sekali lagi aku minta maaf jika aku lancang.” Katanya penuh penyesalan.
“Sungguh tidak apa-apa, kok. Lagipula kejadian itu sudah lama sekali. Memang seharusnya aku sudah tidak perlu lagi mempermasalahkan kejadian yang sudah lewat.” Balas Ailey.
Keheningan menyelimuti seisi ruangan selama beberapa detik. Keduanya tampak gugup membicarakan hal tersebut. Suara denting sendok dan garpu di atas piring pun terdengar sangat jelas saking sunyinya.
“Eh, bagaimana makanan buatanku, Pak?” Tanya Ailey mencairkan suasana.
“Oh, enak sekali, lho! Fun fact, ini pertama kalinya aku makan perkedel. Sedikit mirip dengan mashed potato, ya. Hehe.” Jawab Kevin cengengesan.
“Bapak serius baru pertama kali makan perkedel? Selama ini di rumah makan apa, sih?” Tanya Ailey tidak percaya.
“Di rumahku selalu ada chef yang memasak. Biasanya dia memasak makanan Eropa. Jarang sekali ada masakan Indonesia.”
__ADS_1
“Ya, ampun Pak! Sekali-kali hidup merakyat biar tidak kaget. Hahaha.” Timpal Ailey.
“Hei, jangan panggil aku Bapak lagi. Ingat, kamu bukan karyawanku lagi, lho.” Kata Kevin.
“Iya juga, sih. Tapi tetap saja kamu adalah CEO.”
“Panggil nama saja, Kevin. Seperti itu.” Kata Kevin sambil sesekali salah tingkah.
Ailey yang mendengar itu tidak luput dari rasa malu. Apakah boleh wanita kampung sepertinya memanggil pria kaya itu hanya dengan nama? Pikirnya.
“Ayo, panggil Kevin!” Ajak CEO itu untuk memanggil namanya.
“Ke… Kevin.” Kata Ailey perlahan.
Muka sang CEO tiba-tiba memerah mendengar namanya dipanggil oleh wanita pujaannya tanpa embel-embel jabatan. Hatinya berdegup dengan kencang terhadap lantunan suara Ailey memanggil namanya dengan merdu.
“Aduh, aku tidak biasa, Pak!” Tambah Ailey malu-malu sambil memalingkan mukanya.
“Panggil namaku sekali lagi.” Kata Kevin dengan lembut.
Suara jantung Ailey terdengar hingga ke telinganya. Dia tahu perasaannya pada laki-laki itu sudah tidak bisa disembunyikan lagi. Apakah dengan menyebut namanya saja menandakan bahwa ada perkembangan hubungan antara keduanya? Pikiran tersebut jelas telah mengacaukan pandangan Ailey.
“Kevin.” Sebut Ailey.
Kevin terlihat senang mendengarnya. Entah karena situasi yang sudah terbangun dengan baik atau karena cuma ada mereka berdua di rumah itu, Kevin tergerak untuk mendekatkan wajahnya pada Ailey. Ciuman kecil dia lepaskan ke bibir Ailey. Wanita itu terkejut mendapatkan kecupan manis dari bibir sang CEO, namun anehnya dia tidak menolak sama sekali. Bukan karena rasa trauma terhadap laki-laki yang telah sirna. Mungkin lebih tepatnya karena rasa percaya telah tumbuh terhadap Kevin hingga dia membiarkan bibirnya bertemu dengan bibir Kevin.
“Aku akan membatalkan pertunanganku dengan Lina.” Bisik Kevin tepat di telinga Ailey.
“Kevin…” Kata Ailey gugup.
“Aku tidak akan membiarkanmu direndahkan lagi oleh orang lain.” Sambung pria itu memberikan keamanan pada Ailey.
__ADS_1
Ciuman kedua dilayangkan kembali oleh Kevin. Kali ini, Ailey membalasnya dengan menutup mata seolah ingin menikmati momen tersebut tanpa ada gangguan dari alam semesta. Bagaikan mimpi, ini pertama kalinya Ailey menerima sebuah sentuhan dari seorang pria tanpa penolakan sedikit pun. Seakan waktu berhenti berputar, sejatinya dunia sudah menjadi milik mereka berdua.