Engelskraft: Cinta Malaikat Terbuang

Engelskraft: Cinta Malaikat Terbuang
Memori Jutaan Tahun


__ADS_3

Kerumunan manusia memadati pintu masuk ballroom yang sudah terbuka dengan lebarnya. Suara riuh dari pengunjung menunjukkan antusiasme yang besar untuk melihat pameran seni berkelas dunia bertajuk “Angel in Us”. Banyak di antaranya merupakan para pejabat dan public figure yang hanya sekedar melihat-lihat bahkan hingga membeli karya bernilai miliaran yang ada di sana.


Milo berdiri di sebelah pintu masuk menunggu kedatangan Ailey. Dengan dua lembar tiket yang ada di tangannya, dia mengharapkan kedatangan wanita itu dengan gugup.


“Hei, sedang mencariku?” Sapa Ailey di sebelahnya dengan pakaian serba putih dan tas yang menggantung di lengannya.


“Akhirnya kamu datang. Aku kira kamu tidak akan muncul.” Kata Milo lega.


“Mana berani aku tidak muncul di hadapan malaikat? Bisa-bisa aku kena karma.” Timpalnya.


“Ayo, kita masuk!” Ajak Milo.


Mereka berdua memasuki ruangan megah tersebut. Meskipun sudah yang kedua kalinya, Ailey tetap terpukau melihat deretan karya seni yang indah di sana. Mungkin karena suasananya berbeda sehingga kekaguman yang dirasakan pun berbeda. Ramainya pameran hari itu membuat Ailey semakin bersemangat untuk menikmati pameran seni bertemakan malaikat tersebut.


“Detil sekali, ya patung-patung di sini. Benar-benar menyerupai sosok malaikat sebenarnya.” Ujar Milo.


“Merasa tersaingi dengan buatan manusia?” Timpal Ailey.


“Hahaha. Buatan manusia itu rapuh, tidak ada yang mampu menyaingi karya Tuanku.”


“Aku penasaran dengan rupa Tuhan. Seperti apa rupanya?” Tanya Ailey penasaran sambil memperhatikan patung di depannya.


“Rupa Tuan tidak bisa digambarkan. Yang jelas, tidak ada yang sanggup melihat kemuliaan Tuanku.” Balasnya.

__ADS_1


Ailey termenung sejenak. Jika Tuhan begitu mulia, mengapa dirinya tidak kunjung disembuhkan dari penyakit HIV oleh kemuliaan-Nya? Apa wanita itu kurang berdoa?


Milo yang menyadari pikiran Ailey segera mengalihkan pembicaraan, “Aku masih penasaran dengan seniman yang membuat karya-karya ini. Dari mana dia mendapatkan ilham untuk menggambarkan kaumku, ya? Sangat presisi sekali.”


“Seperti yang kamu bilang, ada banyak malaikat bekerja berdampingan dengan manusia, bukan? Pasti ada manusia lain selain dari aku yang pernah melihat sosok malaikat sesungguhnya. Mungkin saja seniman-seniman ini juga begitu.” Jawab Ailey.


“Lihat, ini lukisan para Serafim! Mereka sedang mengangkat pujian kepada Tuan dengan nyanyian dan terompet.” Seru sang malaikat penuh semangat.


Ailey tertawa kecil melihat tingkah malaikat itu. Tingkahnya polos sekali seperti anak kecil. Sepertinya Milo sudah lama tidak kembali ke surga sehingga dia terlihat norak melihat karya manusia yang benar-benar merepresentasikan malaikat surga.


Mereka berdua menyusuri setiap patung dan lukisan malaikat dengan penuh antusias. Beberapa kali mereka melihat karya seni yang absurd dan tidak dapat dimengerti, namun mereka tetap menikmati apa yang dipajang di sana. Hingga kaki Milo berhenti di salah satu lukisan besar yang membuat hatinya perih.


“Akhir dari Sang Pemberontak.” Gumam Milo membaca judul lukisan yang tertempel di bawahnya.


Milo tidak menjawab apa-apa. Dia hanya termangu menatap lukisan kelam tersebut. Tapi bukan sebuah pesona yang tercermin di matanya, melainkan tatapan penyesalan seolah dirinya menyaksikan hal yang sama dengan yang dialami malaikat bersayap hitam itu. Matanya tak berkedip, seolah tersihir oleh goresan magis yang terdapat pada karya seni megah yang dilihatnya.


Ailey memperhatikan sang malaikat dengan seksama. Terpancar kesedihan yang sama dari matanya. Kesedihan yang dialami oleh malaikat dalam lukisan terpantul di raut muka Milo yang tak bisa disembunyikan.


“Kamu tahu lukisan ini?” Tanya Ailey berbisik.


“Lebih tepatnya, aku tahu kejadian yang tergambar di sini.” Jawab Milo dengan parau.


“Apa maksudmu?”

__ADS_1


Malaikat itu terdiam seolah sedang memikirkan sesuatu. Pikirannya melayang menuju berjuta-juta tahun silam. Matanya berkaca-kaca mengingat kejadian kala itu.


“Aku salah satu malaikat yang memberontak.” Jawabnya singkat.


***


Saat itu, pimpinan malaikat tertinggi dari ordo Serafim yang menyebut dirinya sebagai Lucifer menyaksikan penciptaan manusia pertama di bumi. Tuan menciptakan manusia pertama penuh dengan kemuliaan sehingga seluruh makhluk harus sujud dan menyembahnya.  Pimpinan malaikat tertinggi itu merasa terusik dengan perintah tersebut. Sebagai ciptaan Tuan yang dibentuk sejak dunia tercipta, dia tidak setuju disetarakan, atau dilebihi oleh manusia mortal. Sang malaikat geram karena merasa iri dan tidak ingin takhtanya tergantikan. Ia protes kepada Tuan dan mengeluarkan semua isi hatinya. Namun, hal itu tidak dipedulikan oleh Sang Pencipta. Semua makhluk, bahkan Lucifer harus menghormati manusia ciptaan-Nya.


Di saat proses diskusi sudah tak lagi bekerja, dia menghasut malaikat-malaikat lain untuk mengikutinya. Milo, malaikat junior yang saat itu mengidolakan Lucifer karena cahaya kemuliaan yang tak terbantahkan mengambil keputusan untuk menjadi pengikutnya. Dia setuju kepada pimpinan malaikat tersebut. Tidak mungkin ada makhluk ciptaan-Nya yang lebih mulia dari Lucifer. Manusia diciptakan dari tanah, mana mungkin bisa mengalahkan cahaya fajar yang begitu menyilaukan seperti pimpinan malaikatnya.


Merasa bahwa keseimbangan dunia mulai terancam karena pemberontakan Lucifer dan kawanannya, para malaikat tinggi lainnya mengajak Lucifer untuk bertobat dan kembali ke jalan yang benar. Tetapi, proses diskusi antar malaikat itu tidak berjalan baik. Lucifer menyerang para malaikat tinggi yang lain dan terjadi kekacauan di surga. Perang besar antar makhluk bercahaya tersebut tidak terelakkan. Milo yang telah menjadi pengikut Lucifer pun tak luput dari peperangan. Namun, mereka harus mengakui kehebatan para malaikat surga hingga akhirnya terdesak dan terhempas ke dasar bumi. Lalu Tuan memberi tanda untuk memisahkan malaikat yang memberontak dengan malaikat yang setia dengan mengubah warna sayap para malaikat pemberontak menjadi hitam pekat.


***


Air mata mengalir di pipi Milo. Memori tersebut masih membekas di benaknya meskipun sudah melewati berbagai jaman. Terlukis jelas penyesalan dalam hatinya akan keputusannya waktu itu.


“Tetapi aku sudah mengakui kesalahanku. Aku sudah kembali pada Tuan untuk melayani-Nya sepenuh hati.” Lanjut Milo


Ailey hanya mampu menatap malaikat tersebut dengan wajah iba. Ternyata bukan hanya dirinya yang pernah merasakan masa kelam di hidupnya, namun Milo juga pernah mengalaminya. Bahkan, apa yang dirasakan Milo jauh lebih menyakitkan karena dia hidup abadi dengan kenangan pahit yang tidak pernah bisa dilupakannya.


“Lalu, kenapa sayapmu berwarna putih kusam?” Tanya Ailey penasaran.


“Tuan memberiku misi. Setiap misi yang berhasil aku lakukan akan mencuci sayapku. Itu lah mengapa warna hitam di sayapku mulai memudar. Sedikit lagi, aku akan mendapatkan kembali sayap putihku yang bersih.” Jawabnya.

__ADS_1


Ailey tersenyum dengan lega. Dia melihat harapan dan keteguhan hati dari sang malaikat terhadap Tuannya. Perempuan itu tidak melanjutkan lagi rasa penasarannya untuk menjaga perasaan sang malaikat. Ia kembali menatap lukisan megah tersebut selama beberapa waktu dan pergi meninggalkan Milo yang masih terbawa suasana di depan lukisan tersebut. Ailey ingin memberikan waktu pada sang malaikat untuk mengatur kembali hatinya tanpa diganggu oleh kehadirannya.


__ADS_2