
Perasaan Ailey campur aduk memikirkan apa yang akan dibahas oleh Kevin. Dia merasa tidak melakukan kesalahan apa pun, tapi penjualan kemarin memang tidak sesuai harapan. Jika alasannya karena penjualan, sepertinya Ailey akan membela diri karena dia hanya menjalankan arahan perusahaan saja. Tapi jika bukan karena itu, tidak terbayangkan oleh Ailey apa yang harus dilakukannya. Dia benar-benar tidak bisa berpikir dengan jernih akibat ajakan meeting sang CEO.
Pertemuan hari itu dilakukan di salah satu kafe di Mall Abram City agar memudahkan Ailey untuk segera bertugas di toko elektronik Abram setelah meeting dengan Kevin. Itu pun jika dia tidak dipecat saat itu juga.
“Selamat pagi, Ailey!” Sapa Kevin sambil menghampiri Ailey yang sudah duduk di dalam kafe tersebut.
“Pagi, Pak!” Jawab Ailey sambil beranjak dari kursinya karena sontak melihat Kevin menghampirinya. Sekali pun dia tidak tahu pembahasan hari itu, dia tetap harus menunjukkan sikap hormatnya kepada CEO tempatnya bekerja.
“Sudah pesan?” Tanya Kevin dengan ramah yang terlihat berbeda sekali dengan sikapnya yang biasa ditampilkan di depan karyawannya.
“Tadi saya sudah pesan teh manis, Pak.” Lanjut Ailey dengan sungkan, “Kira-kira ada apa, ya Pak mengajak saya berdiskusi di kafe ini?”
“Hahaha. Kamu langsung ke inti pertanyaan, ya.” Timpal Kevin sambil tertawa sumringah. “Saya mau berterima kasih padamu.”
Ailey yang mendengar pernyataan tersebut langsung diam seribu bahasa saking kagetnya. Dia berusaha mencerna kata demi kata yang dilontarkan Kevin.
“Terima kasih untuk apa, Pak?” Tanya Ailey heran.
“Kamu ingat kejadian kamu membolos karena membagikan brosur di Engelskraft?”
“Ingat, Pak. Maafkan saya sekali lagi.” Ailey menunduk malu.
“Tenang, tenang. Saya tidak akan memarahimu lagi, kok. Memang itu tetaplah sebuah kesalahan karena kamu tidak disiplin. Tetapi jika bukan karena hal tersebut, saya tidak terpikir untuk melakukan promosi di Engelskraft, lho.” Sambung Kevin.
“Jadi, Anda sudah tidak marah lagi?”
“Sumpah, saya sudah memaafkanmu karena idemu cukup pintar waktu itu. Lihat saja, tanpa kejadian tersebut, kampanye dengan Engelskraft mungkin tidak akan pernah terjadi.” Jelas Kevin.
__ADS_1
“Iya, tapi bukankah penjualan hari pertama kampanye juga tidak memenuhi target?” Ailey kembali bertanya.
“Hmm. Memang benar, tapi jumlah pengunjung dari Engelskarft yang datang ke toko kita meningkat sangat signifikan. Jangan lupa bahwa itu juga adalah sebuah pencapaian.” Terang Kevin dengan bersemangat.
Ailey yang mendengar perkataan Kevin menundukkan kepalanya karena malu akibat sanjungan Kevin. Ternyata usaha yang dia lakukan tidak sia-sia meskipun sempat diomeli karena membolos. Bisa dibilang, blessing in disguise.
“Kamu kira-kira ada ide apa lagi?” Kevin bertanya penuh antusias.
“Eh? Bapak bertanya pada saya?” Muka Ailey terlihat memerah karena seorang CEO bertanya kepada pegawainya seakan-akan Ailey adalah personal assistant-nya. Ekspresi Kevin terlihat bersemangat menunggu jawaban dari Ailey.
“Hmm. Saat ini ‘kan semua sudah serba digital. Apa tidak lebih baik kita bergerilya di digital marketing?” Jawab Ailey ragu.
“Patut dicoba. Lini bisnis kita yang lain juga melakukan digital marketing, sementara toko elektronik Abram terbengkalai karena dianggap sudah tidak bisa bersaing. Idemu ini akan saya sampaikan kepada tim terkait.” Kata Kevin sependapat.
“Pak, 15 menit lagi toko sudah harus buka. Sebaiknya saya segera bersiap.” Kata Ailey sambil melihat jam di dinding.
Ailey benar-benar tidak menyangka bahwa Kevin bisa sesopan dan seramah ini dengan pegawainya. Terbesit di benak Ailey, jangan-jangan bosnya itu habis terbentur sesuatu hingga sikapnya berbeda 180 derajat. Bagaimana pun dia tidak mau ke-geer-an hanya karena Kevin memujinya.
Sambil melewati etalase-etalase toko yang sudah mulai buka, Ailey yang berjalan berdampingan di sebelah Kevin terlihat sangat canggung. Saking kakunya, Ailey hanya menundukkan muka di sepanjang jalan karena tidak tahu harus berbicara apa. Berbeda dengan Kevin, dia berjalan penuh percaya diri dengan menyilangkan kedua tangan di dadanya.
“Kamu tinggal dengan siapa? Orang tua sehat?” Kevin tiba-tiba memecah kesunyian.
“Aku tinggal sendiri, Pak. Ayahku sehat dan ada di Banyuwangi. Sementara ibuku sudah tiada saat aku dilahirkan.” Jawab Ailey.
“Oh, maaf. Saya tidak bermaksud menyinggungnya.” Kata Kevin tidak enak.
“Tidak apa. Lagipula aku memang tidak memiliki kenangan sedikit pun dengan ibuku. Terdengar menyedihkan, ya.”
__ADS_1
“Tidak juga. Mempunyai orang tua lengkap kadang merepotkan, lho. Banyak sekali kemauan yang harus dituruti. Kadang saya jengah jika harus berargumen dengan mereka.” Keluh Kevin.
“Wah, Anda jahat sekali, Pak. Bukannya justru orang tua yang suka kerepotan dengan tingkah anaknya? Atau jangan-jangan, Pak Kevin terlalu dimanja sehingga bisa berpikiran seperti itu.” Goda Ailey terbawa suasana.
“Pintar ngomong juga kamu. Kalau saya adalah Lina, sudah dipastikan kamu tidak bekerja lagi hari ini. Hahaha.” Kevin tertawa geli.
“Hehe. Selama Bapak masih memiliki ayah dan ibu, Bapak harus tetap bersyukur karena rasanya pasti beda jika memiliki orang tua yang sudah tidak utuh lagi. Meskipun kita kadang bertengkar, tapi hal itu lah yang membuat kita semakin dekat dengan orang tua kita, bukan?” Lanjut Ailey.
Kevin yang mendengar perkataan Ailey tersenyum dengan hangat. Tampaknya baru kali ini ada seorang wanita yang berani menasihatinya. Wanita di sekitarnya biasanya hanya peduli tentang bisnis dan kekayaan Kevin sehingga jarang sekali ada yang berusaha untuk mengerti perasaannya.
“Ayahmu membesarkanmu dengan sangat baik rupanya.” Timpal Kevin.
“Hehe. Bisa dibilang seperti itu.” Ailey tersipu malu.
“Nanti setelah pulang kerja, kamu ada rencana kemana?” Tanya Kevin penasaran.
“Tidak ada. Biasanya, sih saya langsung pulang.” Jawab Ailey sambil mengernyitkan dahinya.
“Saya antar pulang, ya. Tidak baik wanita muda pulang malam-malam sendirian.”
Ailey bengong mendengar perkataan Kevin. Lagi-lagi perlakuannya tidak seperti biasa.
“Tidak perlu, Pak. Saya sudah terbiasa pulang sendiri, kok.” Jawab Ailey panik.
“Tidak usah sungkan, anggap saja saya membalas budi karena ide yang kamu berikan tadi.” Sanggah Kevin menenangkan Ailey.
Senyuman Kevin merekah dan terekam di penglihatan Ailey dengan indahnya. Bagaikan hangatnya matahari di pagi hari, visual Kevin meresap ke dalam hati Ailey dan menimbulkan sengatan di wajahnya. Muka Ailey memerah, ia segera memalingkan mukanya dari hadapan Kevin. Sepertinya wanita itu salah tingkah.
__ADS_1
Kevin yang menyadari kegugupan dari tingkah Ailey hanya bisa tertawa kecil. Sudah lama dia tidak merasakan kehangatan saat mengobrol dengan seorang wanita. Sekali pun hubungan mereka terbatas antara atasan dan bawahan, Kevin merasakan aliran energi yang menenangkan menyebar ke seluruh tubuhnya. Tampaknya, ada sebuah percikan kecil yang hampir terbentuk dari kedua kutub manusia itu. Layaknya menonton kembang api yang sudah siap untuk berpendar tapi terguyur oleh air hujan karena alasan profesionalisme pekerjaan.