Engelskraft: Cinta Malaikat Terbuang

Engelskraft: Cinta Malaikat Terbuang
Teman Baru


__ADS_3

Ailey tampak tidak fokus seperti sedang memikirkan sesuatu. Siti yang sedang merapikan baju kerjanya memperhatikan rekannya tersebut dengan cemas. Lima menit lagi toko akan dibuka, perempuan itu tidak bisa membiarkan temannya tersebut menunjukkan wajah muramnya di depan para pengunjung nanti.


“Ailey, kamu baik-baik saja? Perlu minta ijin untuk tidak bekerja hari ini?” Tegur Siti dengan ramah.


“Oh, aku tidak apa-apa. Hanya ada sesuatu yang mengganjal.” Jawab Ailey.


“Kamu yakin? Aku siap mendengarkan jika kamu butuh teman curhat.” Sambung Siti khawatir.


“Terima kasih. Bukan hal yang serius, kok.” Balas Ailey sambil tersenyum kecil.


Tampaknya Ailey masih terganggu dengan konfrontasi yang dilakukan Lina kemarin. Rasanya sulit sekali untuk bekerja dengan atasan yang tidak cocok. Niat untuk mengundurkan diri sempat timbul, tapi Ailey tidak boleh gegabah karena dia bisa menjadi pengangguran tanpa pemasukan bila mengundurkan diri tanpa rencana cadangan. Dilema.


“Tunggu, sepertinya aku melupakan sesuatu!” Kata Ailey tiba-tiba.


“Apa itu?” Tanya Siti penasaran.


“Aku ke toilet sebentar.” Kata Ailey dengan panik sambil membawa tasnya dan lari terbirit-birit.


“Aneh sekali anak itu. Padahal toko sudah mau buka.” Gumam Siti.


Di dalam toilet wanita yang masih sepi, Ailey mengobrak-abrik isi tasnya seperti sedang mencari sebuah barang yang sangat penting. Tidak butuh waktu lama, dia menemukan sebuah botol obat yang dicarinya dari tadi. Obat ARV untuk HIV-nya.


“Syukurlah aku bawa obatnya. Tadi pagi aku benar-benar lupa meminumnya karena terlalu banyak pikiran.” Katanya sambil memasukkan obat ARV yang dibawanya ke dalam mulut.


Seharusnya, obat tersebut diminum setiap hari dalam jam yang sama. Namun, tampaknya Ailey harus mengubah jam minum obatnya karena lupa. Entah siapa yang harus disalahkan, dirinya sendiri atau Lina yang telah merusak konsentrasinya.


“Kamu butuh minum?” Suara seorang wanita mengagetkannya.


Ailey yang baru ingat kalau dia tidak membawa botol minumnya hanya bisa mengangguk sambil menahan obat yang sudah terlanjur ada di dalam mulutnya. Wanita yang tiba-tiba ada di sebelahnya tersebut mengulurkan botol minum miliknya yang berwarna merah muda ke hadapan Ailey. Tanpa pikir panjang, Ailey meraih botol tersebut dan menenggaknya bersamaan dengan obat itu.


“Minumnya yang sabar nanti kamu tersedak.” Kata wanita itu.


“Terima kasih, ya.” Kata Ailey ramah sambil mengembalikan botol minum itu kepada wanita asing tersebut.


“Pegawai Abram Elektronik, ya?” Tanyanya.


“Iya, bagaimana kamu bisa tahu?”


“Terlihat dari seragammu. Hehe.” Jawab wanita itu sambil tertawa.


“Oh, maaf! Saya harus segera kembali bekerja. Terima kasih sekali lagi atas minumnya.” Kata Ailey dengan tergesa-gesa lalu segera meninggalkan toilet tersebut dengan kaki seribu. Dia tidak ingin terlambat bekerja dan membuat keributan baru dengan Lina. Selain itu, dia juga tidak mau orang lain menyadari obat yang diminumnya adalah untuk penderita HIV. Jika sampai tersebar, bisa saja dia dijauhi dan memperburuk reputasinya di Abram.


***

__ADS_1


“Bagaimana keadaanmu? Yakin masih bisa bekerja hari ini?” Tanya Siti melihat kondisi Ailey yang masih kurang baik.


“Iya, tenang saja.” Jawab Ailey.


“Oh, jadi kamu yang namanya Ailey?” Suara seorang pengunjung wanita mengagetkan mereka berdua.


Ailey melihat wanita yang memberikannya minum di toilet tadi ada di belakangnya. Wanita itu berambut panjang dengan mata bulat yang cantik. Senyumnya yang menawan menambah kecantikan parasnya. Dia kelihatan seperti seorang bangsawan karena pakaian yang dikenakannya tampak mahal namun terlihat sopan dan bersahaja.


“Maaf, ada yang bisa saya bantu?” Kata Ailey dengan ramah.


“Perkenalkan, aku adalah Lanny Marliani.” Tegurnya sambil mengulurkan tangan dengan jari-jarinya yang lentik.


“Marliani? Jangan bilang Anda adalah saudara Ibu Lina!” Siti terperanjat.


Lanny hanya meringis dan menggaruk kepalanya. Tidak perlu jawaban verbal jika gesture-nya saja sudah cukup menjelaskan.


“Maaf, Bu Lanny! Saya tidak tahu Anda berkunjung.” Sambung Siti panik.


“Santai saja, aku tidak bekerja untuk Abram. Lagipula umurku belum setua itu, kok sampai harus dipanggil ibu.” Kata Lanny tidak enak. “Jadi kamu yang namanya Ailey?” Tanya wanita itu kepada Ailey.


“Iya.” Ailey mengangguk.


“Pantas dia cemburu. Kamu cantik meskipun sedikit berisi, sih.” Kata Lanny sambil memperhatikan penampilan Ailey dengan seksama.


“Sedikit, sih. Masih oke lah. Kalau pipimu ditirusin lagi dan berdandan dengan lebih baik, aku rasa hidupmu akan lebih tidak tenang karena kakakku pasti kesal.”


“Kamu ngomong apa, sih? Hidup siapa yang tidak akan tenang?” Tanya Ailey kesal.


“Ahahaha, tidak apa-apa. Aku hanya ngelantur. Oh ya, mari kita berteman, Ailey!” Kata Lanny dengan riang tanpa alasan sambil merangkul lengan Ailey.


“Eh, apa ini? Jangan sok akrab, deh!” Protes Ailey tanpa menepis rangkulan Lanny.


“Tampaknya hidupmu sangat menarik, ya.” Bisik Siti di telinga Ailey.


Kelakuan Lanny tersebut menarik perhatian seluruh SPG lain yang sedang berjaga di toko. Sikap Lanny yang energic dan easy-going membuat semua orang yang melihatnya ikut merasakan energi positif perempuan itu. Bahkan tanpa disadari, Lanny yang sedang bergelantungan di lengan Ailey langsung dikerumuni oleh karyawan Abram Elektronik karena penasaran ingin ikut berkenalan.


“Ailey, maukah kamu menemaniku melihat-lihat Engelskraft?” Pinta Lanny manja.


“Jangan bercanda! Ini masih jam kerja.” Kata Ailey takut kena omel.


“Sebentaaaaar aja! Aku yang tanggung jawab kalau kamu dimarahi kakakku. Pleaaaaseee!”


“Ya, sudah. Sebentar saja, ya!” Kata Ailey menyerah karena tidak sanggup menangani rajukan perempuan itu.

__ADS_1


Kafe Engelskraft terlihat ramai seperti biasanya. Antrean pengunjung pun masih panjang seperti biasa, seolah-olah pemandangan itu memang normal terjadi di kafe hitz tersebut. Lanny yang baru pertama kali melihat kafe tersebut langsung melongo saking herannya terhadap hiruk pikuk di sana.


“Sudah puas lihatnya belum? Aku kembali ke toko, ya.” Ajak Ailey khawatir.


“Mana puas kalau hanya lihat dari luar, aku mau masuk sebentar.” Kata Lanny sambil melewati antrean yang mengular.


“Hei, jangan menyelak! Nanti kamu dimarahi!” Sahut Ailey sambil mengejar Lanny yang seenaknya menyerobot antrean.


Baru sampai di depan pintu kafe, Mario sudah mencegat kedua wanita tersebut. Raut mukanya terlihat tidak senang dengan kedua tangan yang bersilang di depan dadanya.


“Kamu lagi. Kenapa, ya pegawai Abram suka sekali mencari keributan?” Kata Mario pada Ailey.


“Maaf, kami akan segera pergi,” kata Ailey. “Lanny, ayo kita pergi saja!”


“Eits, tidak ada yang bisa mengaturku,” tolak Lanny. “Begini, saya datang hanya untuk melihat-lihat. Tenang saja, saya tidak akan membeli apa pun dan duduk di dalam. Jadi, saya tidak perlu mengantre, bukan?” Lanny beralasan.


“Sungguh tidak masuk akal. Kalau memang tidak berniat membeli apa pun, lebih baik pergi dari sini. Ada-ada saja.” Kata Mario terdengar kesal.


“Ah, ok kalau begitu saya mau pesan. Kamu kira saya tidak mampu bayar? Mana buku menunya?” Kata Lanny tidak mau kalah.


“Kalau mau pesan, silahkan antre dulu, ya nona.” Balas Mario ketus.


Lanny dan Mario sama-sama tidak mau kalah. Mereka berdua hanya beradu tatapan tajam seperti anak kecil yang menunggu lawannya berkedip dan menyerah. Melihat situasi yang semakin memanas, Milo yang berada di dalam kafe segera keluar untuk melihat apa yang sedang terjadi.


“Kenapa lagi ini? Orang Abram lagi?” Tanya Milo kepada Mario.


“Sepertinya orang-orang Abram tidak ada yang tahu sopan santun, bos! Lihat, mereka menyelak antrean!” Jelas Mario.


Menyadari ada Ailey di situ, Mario hanya bisa menghela nafasnya, “Ailey, kamu tidak bosan, ya dimarahi bosmu? Cepat kembali ke tokomu dan bawa entah siapa wanita ini pergi bersamamu.”


“Heh? Tidak sopan, ya! Aku Lanny Marliani yang akan menjadi adik ipar CEO Abram Corporation.” Seru Lanny tidak terima.


“Sudah, sudah. Kita pergi saja, yuk. Jangan macam-macam sama pemilik kafe ini! Hihihi. ” Kata Ailey terkekeh-kekeh sambil menarik tangan Lanny.


Sambil membawa Lanny kembali ke toko, Ailey menoleh ke belakang dan memberikan kedipan kepada Milo. Pemilik kafe Engelskraft itu hanya bisa tersenyum kecil sambil menggelengkan kepalanya.


“Wah, ada apa di antara kalian berdua? Kamu turun ke bumi bukan untuk menjalin perasaan dengan manusia bumi, lho.” Kata Mario perlahan.


“Kamu terlalu serius, ah!” Balas Milo.


“Aku sekedar mengingatkan. Jika kamu terikat dengan manusia, akan sulit untukmu menjalankan tugasmu. Ingat, kita tidak selamanya ada di bumi.” Terang Mario.


Perkataan Mario tepat menusuk ke hati Milo. Dia sadar, cepat atau lambat dia akan pergi meninggalkan bumi. Meninggalkan bumi berarti meninggalkan Ailey.

__ADS_1


__ADS_2