Engelskraft: Cinta Malaikat Terbuang

Engelskraft: Cinta Malaikat Terbuang
Rekan Malaikat


__ADS_3

Mall Abram City penuh keramaian siang itu. Ailey yang sedang bergantian makan siang dengan Siti berpapasan dengan Mario dan Ferdi di kantin karyawan yang tengah duduk sambil mengunyah nasi padang. Ailey yang bingung untuk duduk di mana karena ramainya kantin itu, memutuskan untuk bergabung dengan mereka berdua sambil membawa piring yang berisi ayam penyet dengan taburan cabe merah di atasnya.


“Halo, pria-pria kafe! Aku duduk di sini, ya!” Sahut Ailey menyambut sebuah kursi yang tersisa di sana.


“Eh, itu… itu…” Ferdi yang mulutnya penuh berusaha untuk mengatakan sesuatu sambil menunjuk ke arah bangku yang hendak diduduki Ailey.


“Iya, tidak apa-apa. Aku akan makan dengan cepat dan segera beranjak dari sini.” Potong Ailey sok tahu dan duduk dengan nyaman bersama kedua pegawai Engelskraft itu.


Entah karena sedang kelaparan atau stres karena penjualan yang kurang bagus, Ailey menyantap makanannya dengan beringas layaknya hewan buas yang sedang melahap korbannya. Mario dan Ferdi yang duduk di depannya hanya bisa melongo tanpa berkata apa-apa. Bahkan, Ferdi menghentikan seruput es teh manisnya dan membiarkan sedotannya menempel di bibir begitu saja. Tampaknya baru kali ini mereka melihat seorang perempuan yang makan tanpa jeda.


“Kenapa kalian melihatku seperti itu? Tidak pernah melihat orang kelaparan?” Protes Ailey menyadari tatapan heran kedua pria itu.


“Makannya pelan-pelan saja. Nanti tersedak, lho.” Kata Ferdi.


“Kamu memangnya belum makan berapa hari, sih?” Tanya Mario penasaran.


“Begini, ya. Aku kelaparan karena stres. Penjualan di toko masih belum membaik, ditambah atasanku yang memiliki sentimen pribadi padaku. Hal itu membuat metabolismeku bertambah cepat.” Jawab Ailey ngawur sambil mengunyah makanannya.


Mario menatap tajam ke Ailey seperti sedang memperhatikan setiap jawaban yang diberikan. Dia kembali menyeruput es teh manisnya dengan pandangan tertuju kepada wanita itu yang tengah makan dengan lahapnya.


“Tapi…” Ailey melanjutkan, “Bagaimana pun juga aku tidak boleh mengeluh, bukan? Aku hanya bisa berdoa semoga atasanku diberi pencerahan dan dapat melihatku dengan sudut pandang yang berbeda. Aku tidak ingin bermusuhan dengan siapa pun.”


Mario yang mendengar hal tersebut menaruh kagum padanya. Dia mengira wanita itu akan melanjutkan keluhannya dengan nada benci, namun yang terjadi sangatlah berbeda. Ailey malah mendoakan Lina yang selalu membencinya.


“Kamu tidak terlihat benci pada atasanmu. Kamu sabar juga, ya.” Ferdi mengomentari jawaban tersebut.


“Kesal sih pasti ada. Tapi aku tidak mau sampai membencinya. Jika aku menaruh kepahitan padanya, apa bedanya aku dengan dia? Capek, tahu menaruh dendam pada orang lain.” Sambung Ailey.

__ADS_1


“Fer, belikan aku gado-gado, dong.” Tiba-tiba Mario memotong.


“Belum kenyang? Baru saja kamu makan nasi padang, lho.” Kata Ferdi.


“Sudah, belikan saja. Jangan menolak permintaan seniormu ini!” Perintah Mario.


“Huh, kalau ada maunya pasti selalu membawa senioritas. Baiklah, jangan sampai tidak dimakan, ya!” Balas Ferdi sambil beranjak dari kursinya.


Mario memperhatikan Ferdi berjalan menjauh untuk memastikan rekan kerjanya tersebut tidak menguping pembicaraan yang akan terjadi berikutnya. Dia memindahkan es teh manisnya dari hadapannya dan melipat kedua tangannya di atas meja. Laki-laki itu menghela napas seperti ingin mempersiapkan sebuah obrolan yang serius.


“Bagaimana kamu bisa berpikir sepolos itu?” Lanjut Mario dengan nada serius.


Ailey terdiam mendengar pertanyaan tersebut. Matanya melirik ke langit-langit kantin memikirkan jawaban, “Memangnya cara berpikirku polos, ya? Setiap manusia ‘kan hidup berdampingan, daripada menyulut api bukankah lebih baik menciptakan perdamaian? Setidaknya, dengan tidak reaktif terhadap perilaku negatif orang lain, aku dapat berpikir lebih jernih untuk hal-hal lain yang lebih berguna.” Katanya sambil tersenyum kecil.


“Pantas saja Milo begitu tertarik padamu. Aku rasa banyak malaikat yang tertarik pada aura positif yang kamu miliki.” Balasnya sambil mengukir senyuman simpul di bibirnya.


“Malaikat? Kamu tahu kalau Milo…” Ailey terkejut.


“Uhuk, uhuk!” Ailey tersedak karena terkejut dengan apa yang didengarnya. “Kamu… kamu malaikat juga?”


“Betul! Hehehe. Karena Milo sudah memberitahu identitas dirinya, aku juga tidak perlu menyembunyikan identitasku padamu. Lagipula, kamu terlihat seperti manusia yang bisa menjaga rahasia dengan baik.” Jelas Mario mengiyakan.


“Apakah rekanmu yang tadi juga malaikat?” Tanya Ailey penasaran.


“Bukan. Dia manusia biasa sepertimu. Jangan sampai dia tahu, ya! Cuma kamu manusia yang tahu kami berdua adalah malaikat.” Bisik Mario sambil mengarahkan jari telunjuk di depan bibirnya.


“Ngomong-ngomong, aku belum tahu namamu. Namaku Ailey.”

__ADS_1


“Aku Mario. Temanku yang tadi itu bernama Ferdi. Salam kenal, ya manusia.” Katanya.


“Apakah cuma kalian berdua malaikat yang menyamar sebagai manusia?” Ailey kembali bertanya dengan antusias.


“Tentu tidak. Tanpa manusia sadari, banyak sekali malaikat yang turut hidup berdampingan dengan kalian untuk membantu hidup kalian.”


Mata Ailey berbinar-binar. Bukan hanya satu, tapi ada dua malaikat yang dia kenal. Pastinya hal ini membuat dirinya bersemangat dan makin penasaran dengan makhluk tersebut.


“Lalu kalian memiliki tugas seperti apa hingga mendirikan Engelskraft seperti itu?” Lanjut wanita itu.


“Sejujurnya, ini adalah misi rahasia yang diberikan kepada Milo. Aku sendiri bahkan tidak tahu seperti apa misi tersebut. Aku hanya ditugaskan membantu Milo untuk tetap pada jalur kemalaikatan.” Jelasnya.


“Pasti sulit, ya untuk menjalankan sebuah tugas tanpa diberitahu tujuan dari tugas tersebut.” Balas Ailey.


“Siapa bilang? Tujuanku sudah jelas, yaitu untuk membantu Milo dan memastikannya dapat kembali ke surga. Selain itu, aku tidak terlalu peduli pada yang lain, termasuk tugas rahasia yang sedang dijalankan oleh Milo.” Terangnya.


Seperti jelangkung yang tidak diundang, tiba-tiba Milo datang dan mengagetkan mereka berdua. “Nah, membicarakan aku, ya?”


Ailey dan Mario hanya membalasnya dengan tertawa kecil. Mereka sadar telah tertangkap basah karena telah membicarakan malaikat bersayap kusam tersebut.


“Mario, siapa yang menyuruhmu membocorkan identitasmu, hah?” Protes Milo.


“Oh, malaikat yang satu ini lupa berkaca rupanya. Aku tidak akan membocorkannya bila kamu juga menutup rapat mulut embermu itu. Tapi, aku percaya dengan Ailey, kok.” Kata Mario sambil mengedipkan matanya ke arah Ailey.


“Oh, iya. Ngomong-ngomong kursi yang kamu duduki itu adalah tempatku. Ehem!” Kata Milo pada Ailey.


“Ya ampun! Maaf, pantas saja tadi Ferdi terlihat panik saat aku duduk di sini.” Jawab Ailey tidak enak.

__ADS_1


“Duduk di sini saja, mumpung Ferdi masih mengantre pesanan gado-gadoku.” Tunjuk Mario pada kursi yang sempat diduduki oleh Ferdi.


Kemudian mereka bertiga saling berbincang dan tertawa bersama. Suasana ramai yang ada di kantin tidak membuat Ailey sulit untuk memahami pembicaraan satu dengan yang lain. Mungkin karena ada dua malaikat di sana, sehingga pendengaran Ailey terbuka untuk menerima setiap pesan yang diberikan oleh kedua sosok malaikat tersebut.


__ADS_2