Engelskraft: Cinta Malaikat Terbuang

Engelskraft: Cinta Malaikat Terbuang
Atasan yang Cemburu


__ADS_3

Seluruh tim marketing dan operasional sudah berkumpul di ruang meeting, termasuk Kevin sang CEO. Ailey yang merupakan satu-satunya SPG di ruangan tersebut terlihat gugup. Sebelumnya, Siti ada bersamanya saat meeting kampanye kolaborasi dengan Engelskraft sehingga Ailey tidak terlalu stres saat itu. Tentunya pertemuan kali ini membuat Ailey cukup terintimidasi.


Lina dan Silvia duduk bersebelahan tepat di depan Ailey yang membelakangi jendela besar yang mempertontonkan gedung-gedung pencakar langit dan kemegahan CBD Jakarta. Mereka berdua tampak bersitegang tanpa melihat satu sama lain. Kevin duduk di paling belakang menghadap langsung ke depan untuk memudahkannya melihat papan putih dan layar presentasi. Suasana saat itu terasa lebih dingin dan kaku dari pertemuan sebelumnya.


“Ailey, saya dengar kamu yang mencetuskan ide kolaborasi dengan Engelskraft?” Kata Lina mengawali pertemuan tanpa basa-basi.


“Iya, Bu.” Jawab Ailey dengan anggukan seadanya.


“Bagaimana perasaanmu setelah kampanye tersebut dilakukan tanpa membawa kenaikan penjualan yang signifikan?” Lanjut Lina memojokkan.


Ailey cukup terkejut dengan pertanyaan sinis tersebut. Dia tidak pernah meminta idenya untuk dijalankan, lagipula seluruh perencanaan yang dibuat bukan dari buah pikiran Ailey.


“Apa kau tidak berlebihan menanyakan hal seperti itu?” Potong Silvia, “Keseluruhan strategi yang dijalankan adalah dari tim marketing dan operasional. Tidak adil bila Ailey jadi sasaran kemarahanmu.”


“Jika ide awalnya bukan dari dia, tentunya strategi yang kita buat akan jauh berbeda.” Kata Lina tidak mau mengalah.


“Kalian berdua, hentikan! Kita mengadakan pertemuan kali ini untuk membahas strategi berikutnya yang lebih baik dari sebelumnya. Tidak ada gunanya saling menyalahkan!” Kevin menyela, “Lagipula, saya yang menyuruh kalian melanjutkan idenya Ailey, bukan?”


Wajah Lina terlihat masam mendengar perkataan Kevin yang seakan-akan membela Ailey. Sesekali Lina mencuri pandang ke arah Kevin dan menemukannya sedang menatap Ailey dengan kasihan.


“Ailey, silahkan ajukan pendapatmu.” Kata Silvia dengan ramah.


Tangan Ailey berkeringat. Sambil menelan ludah, Ailey mengumpulkan segenap keberaniannya untuk berbicara.

__ADS_1


“Begini, saya rasa, kampanye yang kita lakukan cukup baik. Tapi karena tidak menyasar ke pembeli potensial, hasilnya bisa jadi kurang memuaskan. Bila kita bisa melakukan digital marketing dengan mengatur target pembeli berdasarkan demografi dan perilakunya, bisa jadi kampanye kita lebih berhasil.”


Silvia dan Lina melongo mendengar jawaban Ailey tersebut. Mereka berdua kompak menengok ke arah Kevin yang duduk di pojok belakang. Kevin membalas tatapan mereka dengan mengangkat kedua bahunya dan mengangkat kedua alisnya.


“Ailey, kamu tahu dari mana tentang digital marketing?” Silvia bertanya penuh penasaran.


“Ma…maaf, aku sok tahu, ya? Aku hanya tahu sedikit saja dari observasi saat masih bekerja di perusahaan sebelumnya.” Kata Ailey sungkan.


“Jangan terlalu berlebihan, Silvia! Semua orang juga tahu digital marketing jika sebatas itu saja pemaparannya.” Kata Lina tidak suka.


“Tetap saja, untuk sekelas SPG seperti dia, rasanya tidak mungkin,” sambung Silvia. “Begini, sebenarnya kami juga ingin melakukan digital marketing untuk Abram Elektronik dari dulu. Tetapi karena melihat performa yang selalu menurun dan masa depan yang suram, maka kami hilangkan budget digital marketing untuk memotong pengeluaran.”


“Ok! Kalau begitu kita masukkan kembali budget digital marketing ke perencanaan kalian.” Sahut Kevin antusias. “Kita gunakan juga influencer yang terkenal untuk membantu promosi kampanye ini.” Sambungnya.


“Sa…saya juga setuju. Kita juga bisa menggunakan konten mereka untuk kita unggah di media sosial dan kita promosikan melalui digital marketing.” Tambah Ailey sambil melihat ke arah Kevin.


Kevin tersenyum melihat Ailey yang mulai menunjukkan kepercayaan dirinya dalam menyampaikan pendapat. Secara menyeluruh, Kevin puas dengan diskusi yang dilakukan pada pertemuan tersebut. Namun, tampaknya dia lebih sering memperhatikan Ailey dibanding yang lainnya. Karisma yang ditunjukkan oleh Ailey semakin memikat hati sang CEO muda.


“Saya akan berbicara kembali dengan Milo untuk memperpanjang kolaborasi Abram dengan Engelskraft. Saya serahkan eksekusi dari pertemuan hari ini kepadamu, Silvia. Lina, tolong kamu siapkan seluruh karyawan toko Abram Elektronik untuk kampanye berikutnya. Kali ini, saya ingin menerapkannya untuk seluruh cabang Abram Elektronik di Indonesia, bukan hanya di Mall Abram City.”


Sambil menghela napas panjang, Kevin memusatkan pandangannya pada Ailey, “Terima kasih atas pendapatmu. Good job!”


Semua orang yang ada di dalam ruangan tersebut heran melihat sikap bosnya yang tidak biasa, tidak terkecuali Lina. Dia terlihat sangat kesal dengan perlakuan yang diterima oleh Ailey dari Kevin. Apalagi jika melihat wajah Ailey yang tidak bisa menyembunyikan rona merahnya yang tersipu malu akibat keramahan langka dari CEO-nya sendiri.

__ADS_1


***


Sore itu merupakan hari yang seru bagi Ailey. Dia keluar dari gedung Abram Corporation dengan hati puas karena berhasil mendapatkan kepercayaan dari Kevin dan Silvia untuk mendengarkan pendapatnya. Sekalipun dia belum mendapatkan hati dari atasan langsungnya, Lina, Ailey semakin percaya bahwa dia bisa bertahan lebih lama di perusahaan tersebut.


Belum sempat melangkah lebih jauh dari lobi gedung, tangan Ailey ditarik dengan kasar dari seseorang di belakangnya. Betapa kagetnya Ailey saat melihat Lina yang ternyata menarik tangannya.


“Eh, maksudmu apa menatap Kevin seperti itu di meeting tadi?” Tanya Lina dengan emosi.


“Aku tidak mengerti apa yang Ibu maksud.” Jawab Ailey takut.


“Kamu jangan bohong, ya! Saya tahu kamu mencoba untuk menggoda Kevin, iya ‘kan?”


“Tidak mungkin aku melakukan hal seperti itu, Bu. Siapa lah saya ini.” Terang Ailey.


“Bagus jika kamu paham siapa kamu. Karena jika kamu berani macam-macam, aku bisa langsung memecatmu dari pekerjaan ini.” Ancam Lina.


Suara napas Lina terdengar menggebu-gebu karena emosi yang tidak bisa ditahannya. Kedua matanya terpaku pada karyawan tokonya itu. Genggaman tangannya semakin kuat seakan ingin memberikan tanda peringatan untuk tidak mengganggu calon tunangannya.


“Bu, saya menghormati Ibu sebagai atasan saya. Lagipula, saya tidak ada maksud apa pun, apalagi menggoda Pak Kevin.” Jelas Ailey terdengar lirih.


“Saya pegang ucapan kamu. Jika saya melihat kamu main mata dengan calon tunangan saya, saya tidak akan segan untuk membuangmu ke jalanan.” Kata Lina sambil menghempaskan tangan Ailey yang digenggamnya.


Tanpa minta maaf, Lina langsung beranjak pergi meninggalkan Ailey yang keheranan di depan lobi gedung Abram. Detak jantung Ailey terasa lebih cepat dari biasanya. Dia tidak pernah menyangka akan seperti ini hubungan dengan atasannya sendiri. Secara sadar, Ailey mengerti bahwa Lina tidak akan pernah menerima dirinya sebagai bawahannya dengan ikhlas. Sekali pun Lina salah paham tentangnya, Ailey berniat untuk tidak terlalu dekat dengan CEO-nya tersebut. Dia tidak ingin terlibat lebih jauh ke dalam politik perusahaan yang bisa saja menjatuhkan karirnya.

__ADS_1


__ADS_2