
Ruang kerja Lina terasa sangat panas hingga dia berkali-kali menurunkan suhu ac. Hatinya masih diliputi kemarahan karena Ailey masuk ke kantornya tanpa ijin dan berani terhadapnya. Setumpuk dokumen yang tersusun di atas meja masih terlihat rapi tak tersentuh olehnya karena emosi yang membuatnya tidak fokus bekerja.
Kevin terlihat berjalan memasuki ruangan wanita itu dengan napas ngos-ngosan. Sepertinya dia sangat terburu-buru sampai berlari menuju kantor Lina.
“Hai, Kevin! Tumben sekali kamu mengunjungi ruanganku.” Sapa Lina seolah tidak terjadi apa-apa.
“Kamu memecat Ailey?” Tanyanya to the point seraya mendekati wanita itu yang sedang duduk dengan gusar.
Lina menghela napas dan menatap mata Kevin dengan tajam. Dia berdiri dari kursinya dan menyandarkan telapak tangannya ke atas meja.
“Untuk apa kita mempertahankan seorang karyawan yang terjangkit HIV. Dia itu unfit untuk bekerja.”
“Tapi kenapa harus disebarkan ke seluruh jaringan kantor melalui email? Itu sama sekali tidak profesional dan menyalahi kode etik!” Protesnya.
“Kenapa marah sekali? Hal itu tidaklah penting. Bukannya kamu pernah bilang padaku bahwa penderita HIV itu najis? Yang terpenting, dia sudah tidak bekerja lagi di sini.” Bisiknya di dekat telinga Kevin.
Kevin terhenyak dan memundurkan kakinya. Dia merasa tersinggung dengan perkataan tunangannya itu. Mungkin lebih tepatnya, dia merasa tersinggung dengan fakta bahwa dirinya secara tidak langsung pernah menolak Ailey karena HIV yang dideritanya.
“Bagaimana pun juga kamu telah melanggar kode etik perusahaan. Aku akan memberikan surat peringatan padamu.” Kata Kevin dengan geram.
Mereka berdua bertatapan tajam seolah ada aliran listrik yang bertemu di antara keduanya. Lalu Lina membalikkan badannya dan kembali duduk dengan sikap tenang. Peluh keringat menetes dari dahinya karena tidak nyaman dengan ancaman dari CEO-nya tersebut.
“Apa sebenarnya kamu sudah tahu kalau obat HIV yang ditemukan di dalam mobilmu adalah milik Ailey?” Tanya Lina dengan tenang.
Kevin hanya terdiam sambil mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Dia tidak ingin salah menjawab tunangannya yang dominan itu.
__ADS_1
“Aku sudah mengkonfirmasi ke orang-orang yang pernah menumpang di mobilmu dan mereka tidak merasa kehilangan obat apa pun. Tetapi yang menjadi pertanyaan adalah, mengapa obat Ailey bisa ada di mobilmu? Oh, lebih tepatnya mengapa Ailey bisa semobil denganmu?” Tanya Lina memojokkan.
Kevin menelan ludah. Dia menyadari bahwa dirinya tidak bisa terus diam.
“Iya, Ailey pernah semobil denganku. Tapi bukan berarti kamu bisa memecatnya dengan cara yang keji seperti itu.” Kata Kevin.
Brak!
Lina kembali berdiri dari kursinya sambil menggebrak meja. Terlihat jelas amarah di kedua matanya. Kevin tidak bisa mundur lagi, dia membalas tatapan Lina tanpa takut seolah ingin menunjukkan siapa yang lebih berkuasa di tempat itu.
“Bisa-bisanya kamu membiarkan pegawai rendahan sepertinya menumpang di mobilmu. Katakan padaku, apa yang dia lakukan hingga kamu bisa memperlakukannya sebaik itu? Dia menggodamu, ‘kan?” Balas Lina seperti orang kesetanan.
“Tidak! Dia tidak pernah menggodaku sedikit pun. Sebaiknya kamu memperbaiki sifatmu yang terlalu posesif dan ambisius itu. Banyak orang akan merasa tidak nyaman denganmu.” Jawab Kevin lalu membalikkan badannya menuju pintu keluar.
Langkah Kevin terhenti sejenak, tanpa menoleh ke belakang dia berkata, “Aku tetap akan memberikanmu surat peringatan.” Lalu dia pergi meninggalkan Lina di dalam ruangannya sendirian.
***
Tampak Ailey sedang duduk di lantai sambil melipat baju-bajunya dan mengemasinya ke dalam tas besar. Kamar kosnya yang sempit kini terlihat luas karena sudah rapi dan bersih dari dari barang-barang pribadinya. Wanita itu melihat ke sekeliling untuk merasakan suasana terakhir di dalam kos tersebut.
“Tampaknya ungkapan yang mengatakan bahwa ibukota lebih kejam dari ibu tiri memang benar.” Gumamnya sendiri sambil tertawa kecil.
Lipatan baju terakhirnya dimasukkan ke dalam tas kemudian ia menutup resleting tasnya. Dia berdiri dengan lemas sambil menjinjing tas besarnya itu. Mukanya terlihat sedih karena harus meninggalkan kamar yang biasanya ia tempati selama ini.
Lalu dia mengeluarkan ponsel dari sakunya dan mengetik sebuah pesan untuk ayahnya.
__ADS_1
“Pak, saya pulang hari ini. Jangan lupa sediakan makanan kesukaan Ailey, ya! Ailey kangen dengan perkedel dan telur balado masakan Bapak. Sampai ketemu di rumah.”
Ailey memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya menggunakan tabungannya yang sudah dia simpan sejak bekerja di Abram. Tampaknya dia sudah menyerah untuk bertahan di Jakarta dan ingin melupakan seluruh kenangan buruk yang terjadi di Abram. Mungkin menjaga kedai kopi ayahnya memang pilihan terbaik yang seharusnya dilakukan sejak dulu. Jika dia tidak memilih bekerja di Jakarta, tentunya kepahitan di Abram tidak akan dia alami.
Dengan langkah lesu dia meninggalkan tempat tinggalnya. Di ujung jalan, dia melihat Siti dengan seragam SPG-nya berdiri sambil berlinang air mata.
“Siti, sedang apa kamu di sini? Bukankah masih jam kerja?” Tanya Ailey sambil berjalan menghampirinya.
Siti memeluk rekannya tersebut dengan tangisan yang deras. Dia mendekap Ailey dengan erat seolah akan berpisah selamanya.
“Ailey, maafkan aku. Maafkan aku karena sempat takut akan kondisimu.” Katanya terisak-isak penuh penyesalan.
“Sudahlah, aku tidak pernah marah kepadamu, kok. Terima kasih, ya atas semuanya.” Balas Ailey sambil melingkarkan tangannya di punggung Siti.
“Kamu yang kuat, ya. Tunjukkan pada mereka yang pernah merendahkanmu kalau penderita HIV juga bisa hidup dengan normal dan sukses!” Lanjut Siti.
Ailey lalu melepaskan pelukannya dengan lembut dan memandang wajah Siti yang sembab karena air mata. Dia tersenyum karena masih ada teman yang mendukungnya sekalipun tahu akan penyakitnya.
“Jangan menangis lagi! Aku akan merasa berat untuk meninggalkanmu jika kamu menangis begini. Ingat, kamu masih harus berjuang di Abram jadi tetap semangat! Aku ingin melihatmu menjadi top SPG bulan ini.” Kata Ailey menenangkan.
“Kamu mau pergi kemana?” Tanya Siti menyadari tas besar yang dibawa temannya.
“Aku akan pulang ke kampungku. Tapi aku pasti akan kembali ke Jakarta untuk menemuimu.”
“Atau aku yang akan berkunjung ke rumahmu, ya. Hehe” Sambung Siti sambil tersenyum.
__ADS_1
“Aku berangkat dulu, ya. Taksi online ku sudah tiba. Kamu juga kembalilah ke toko, jangan sampai kamu ikut dipecat sepertiku. Hehehe.” Kata Ailey sambil tertawa kecil.
Udara sore hari menghembuskan kesejukan namun sedikit lembab dirasakan di kulit. Rintik air hujan mulai turun seolah mengantarkan kepergian Ailey. Tekad kuat untuk menyembuhkan rasa sakitnya terbentuk di hati wanita itu sebelum akhirnya memiliki keberanian untuk kembali lagi ke Jakarta. Dia akan memastikan, kelak tidak ada kepahitan saat menjejakkan kakinya lagi di kota itu.