Engelskraft: Cinta Malaikat Terbuang

Engelskraft: Cinta Malaikat Terbuang
Pengakuan Perasaan


__ADS_3

Kopi panas disuguhkan oleh Ailey di atas meja kayu yang sudah reyot. Kevin yang duduk di ruang tamu dengan bantalan kursi yang kurang nyaman hanya bisa menahan dirinya untuk tetap bersikap santai sambil menyeruput kopi yang dihidangkan. Ailey duduk di sebelahnya dengan grogi, karena baru pertama kalinya ada seorang CEO di dalam rumah sederhana itu.


“Pelan-pelan minumnya, Pak. Kopinya masih panas.” Kata Ailey sungkan.


“Terima kasih. Aku sudah terbiasa meminum kopi sepanas ini.” Balas Kevin sok kuat.


Keduanya saling terdiam. Keheningan memenuhi seisi rumah karena kegugupan menguasai mereka berdua. Maklum, ini baru pertama kalinya mereka berada dalam satu rumah tanpa gangguan publik.


“Maaf, kamu… HIV?” Tanya Kevin dengan tidak enak.


Ailey kaget mendengar pertanyaan tanpa basa-basi tersebut. Sekalipun dia tahu bahwa Kevin pasti sudah diberitahu oleh tunangannya, tetap saja bila ditanya secara langsung akan membuat rasa tidak nyaman.


“Betul. Maaf, jika hal itu mengganggumu dan karyawan lainnya.” Jawabnya.


Kevin memalingkan pandangannya ke cangkir kopi yang ada di meja. Matanya menerawang menatap warna hitam pekat yang ada pada kopi tersebut.


“Maafkan aku.” Suara Kevin bergetar seakan ingin menangis. Ia teringat akan diskriminasi verbalnya terhadap penderita HIV di hadapan Marliani bersaudara. “Maaf, karena aku tidak bisa berbuat apa-apa sebagai seorang CEO.”


Ailey menatap pria itu tanpa berkedip sedikit pun. Dia merasakan ketulusan dari setiap perkataan yang diucapkan oleh Kevin. Saat itu, wibawa seorang CEO tergantikan dengan sosok laki-laki biasa yang sangat rapuh.


“Terima kasih telah mengenyampingkan egomu yang besar itu untuk meminta maaf. Aku sudah memaafkanmu, Pak.” Kata Ailey.


Kevin menatap Ailey dengan mata berkaca-kaca. Baru kali ini ada wanita yang berbesar hati menghadapi dirinya. Jika di hadapannya adalah wanita lain, pastinya orang itu akan mengambil kesempatan dalam kesempitan untuk menjatuhkan dirinya, ataupun memerasnya karena kekuasaan dan kekayaan yang dia miliki.


“Aku yang seharusnya berterima kasih karena kamu telah banyak mengubah caraku berpikir dan berperilaku.” Balas pria itu.


Wajah Ailey memerah seketika mendengar perkataan Kevin. Lagi-lagi dia merasa dirinya spesial di mata pria itu. Entah karena sekedar ge-er atau memang salah tingkah.


“Sudah mulai larut, Pak. Sebaiknya Bapak pulang. Aku tidak enak dengan Bu Lina.” Kata Ailey mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


“Aku tidak peduli.”


Ailey kaget mendengar ucapan itu keluar dari mulut pria yang sudah bertunangan. Lidahnya tercekat tak mampu berkata apa-apa. Pikirannya mengembara mencari penjelasan atas perkataan tersebut.


“Aku menyukaimu, Ailey.” Kata Kevin dengan lembut.


Hati Ailey berdebar-debar. Wajahnya memanas seakan-akan asap keluar dari pori-porinya. Wanita itu tidak tahu harus merespon apa. Sebenarnya dia senang atas pengakuan Kevin, tapi di lain sisi, dia tidak ingin merusak hubungan orang lain.


“Bapak silahkan pulang. Tidak enak bila ada tamu laki-laki berkunjung hingga malam hari di rumah seorang wanita di perkampungan seperti ini.” Ujarnya sambil beranjak dari kursi dan berjalan ke arah pintu.


Kevin menyadari bahwa waktunya tidak tepat untuk menyatakan perasaannya. Dia juga tidak mau Ailey makin menjauhinya. Oleh karena itu, dia berdiri meninggalkan kursinya dan bersiap untuk pulang.


“Baiklah, aku akan pulang. Tapi kamu harus tahu, baru kali ini aku benar-benar menyukai seseorang dengan tulus. Jadi, jangan menjauh dariku, ya!” Jelas Kevin.


Ailey hanya bisa menatap matanya yang penuh dengan kepastian. Pria itu tidak main-main dengan ucapannya. Dia bisa merasakan hal tersebut dari perkataan dan tatapannya.


Belum sempat Kevin menyentuh gagang pintu, ayah Ailey sudah membuka pintu rumahnya terlebih dahulu sehingga membuat Kevin dan Ailey terperanjat saking kagetnya.


“Ba…Bapak, kenapa buka pintu tiba-tiba?! Jantungku mau copot!” Kata Ailey grogi.


“Ini ‘kan rumah saya sendiri, kenapa harus meminta ijin untuk masuk?” Timpalnya.


“Halo, om! Saya teman Ailey dari Jakarta. Salam kenal!” Kata Kevin gugup sambil menjabat tangan ayah.


“Wah, dua pria hari ini menemui putriku. Tampaknya kamu populer juga di Jakarta, ya.” Goda sang ayah.


“Pak, bukan begitu!” Balas Ailey salah tingkah.


“Om, saya pulang dulu, ya.” Sambung Kevin.

__ADS_1


“Pulang? Jauh, lho ke Jakarta apalagi sudah larut begini. Nginap di sini saja.” Ajak ayah.


Ailey dan Kevin kaget mendengar ajakan polos itu. Muka keduanya merah padam.


“Tidak apa-apa, om! Saya pulang saja.” Kata Kevin memaksa.


“Be…Benar! Nanti apa kata tetangga ada laki-laki menginap di rumah ini.” Tegas Ailey.


Ayah hanya menghela napas. Dengan sigap, ia menutup pintu dan menguncinya. “Tidak ada yang boleh pulang! Anak muda, kamu menginap di sini malam ini. Sungguh keterlaluan ada tamu datang dari jauh lalu dibiarkan pulang malam-malam begini.”


“Bapak??!!!” Ailey terperanjat melihat kelakukan ayahnya yang seperti anak kecil. Sementara Kevin yang tidak tahu menahu hanya memegang dahi sambil menggelengkan kepala.


“Ayahmu ini memaksa. Kamu tidak kasihan melihat Kevin pulang malam-malam begini? Kalau dia mengantuk di tengah jalan lalu tabrakan dengan truk gimana? Kamu mau tanggung jawab?” Protes ayah.


“Ya, bukan begitu juga, sih. Ahhh… Terserah Bapak saja!” Ujar Ailey kesal sambil meninggalkan kedua pria itu dan masuk ke kamarnya.


Ayah hanya tertawa kecil melihat tingkah laku anaknya yang salah tingkah. Sesekali dia melihat Kevin dan beradu mata dengannya. Kevin hanya bisa mengangguk sopan merasa tidak enak.


“Kamu tidur di ruang tamu tidak apa-apa, ‘kan? Maaf, rumah ini sudah lama. Perabotannya juga sudah jadul. Mudah-mudahan tidak masalah untukmu.”


“Tidak apa-apa, om. Saya yang seharusnya minta maaf karena merepotkan. Terima kasih, ya karena dibolehkan menginap.” Balas Kevin dengan sungkan.


“Anggap saja rumah sendiri. Saya mau mandi dulu, ya.” Kata ayah sambil melangkahkan kakinya. Namun, baru maju selangkah dia membalikkan badannya dan mendekatkan dirinya ke telinga Kevin. “Berani sekali kamu menyatakan cinta kepada putriku satu-satunya. Tapi, keberanianmu itu saya acungi jempol.”


Bagaikan bom atom yang jatuh ke atas kepala Kevin, wajahnya merona sangat merah. Ternyata ayah Ailey sudah mencuri dengar pembicaraannya dengan Ailey. Saking groginya, Kevin diam mematung tak bergeming.


“Lain kali, coba kamu tembak dia dengan lebih romantis. Jangan sampai kalah dengan laki-laki yang bernama Milo!” Godanya sambil terkekeh-kekeh.


“Ba…baik, om.” Jawab Kevin seadanya sambil menahan malu.

__ADS_1


Segera setelah ayah Ailey masuk ke kamar mandi, Kevin menjatuhkan dirinya di atas sofa yang sudah tidak empuk lagi. Matanya menatap lampu yang tergantung di atap sambil menahan tawanya karena malu telah tertangkap basah oleh ayah wanita pujaannya. Mukanya masih memerah memikirkan pernyataan cinta yang didengar oleh ayah. Tampaknya, malam itu Kevin tidak akan bisa tidur dengan tenang karena merasa dipermalukan oleh dirinya sendiri.


__ADS_2