
Kevin termenung sendiri di dalam kamarnya sambil menatap matahari pagi yang bercahaya dari balik jendela. Ponsel yang menunjukkan kontak Ailey berada di genggamannya. Dia sedang menimbang-nimbang untuk menelepon wanita pujannya tersebut. Tetapi, dia mengurungkan niatnya karena takut akan memperumit keadaan.
Ibu memasuki kamar Kevin dengan perlahan sambil membawa teh hangat. Dia meletakkannya di atas meja kerja yang berada di sebelah pria itu. Jelas sekali dia mengkhawatirkan kondisi anaknya tersebut.
“Sudah berjam-jam kamu mengurung diri di kamar. Setidaknya keluarlah sebentar menyapa ayahmu.” Kata ibu.
“Bukannya aku tidak mau. Aku hanya takut emosiku mencuat jika melihatnya.” Ucap Kevin.
“Jangan seperti itu pada ayahmu sendiri! Kamu tidak kasihan padanya?” Kata ibu sambil duduk di tepi kasur.
“Lalu apa kalian tidak kasihan padaku?”
Sang ibu tertegun mendengar pertanyaan anaknya itu. Dia sadar betul bahwa Kevin tidak baik-baik saja.
“Bu, dari kecil aku selalu berusaha menjadi yang terbaik buat kalian. Semuanya aku turuti demi membanggakan kalian, termasuk meneruskan bisnis Abram. Sekali ini saja, aku ingin berbuat sesuatu demi diriku sendiri.” Ujar Kevin.
“Soal Ailey?”
Kevin mengangguk dan menoleh pada ibunya. Terpancar keteguhan hati di kedua bola matanya. Kemudian Kevin mengenggam kedua tangan ibu dan berlutut di depannya.
“Ibu adalah orang yang sangat aku hormati. Sebagai seorang wanita yang melahirkan aku, aku meminta restu padamu terlebih dulu. Aku benar-benar mencintai Ailey, Bu.” Jelas Kevin.
Melihat pendirian yang teguh dari anaknya, perasaan ibu mulai meleleh. Dia merasakan genggaman kuat namun hangat dari tangan anak satu-satunya tersebut. Sebagai seorang ibu yang telah membesarkan anaknya sekian lama, bagaimana bisa dia mampu mengindahkan permintaan Kevin.
“Aku tahu Ibu tidak seperti ayah. Jika aku mendapat restumu, setidaknya aku memiliki kekuatan lebih untuk bisa menghadapi ayah dan meyakinkannya.”
“Kamu yakin dengan perasaanmu?” Tanya sang ibu.
“Aku yakin. Selama ibu mendukungku, tidak ada yang tidak bisa aku lalui.” Kevin meyakinkan.
“Tapi bagaimana dengan ayahmu? Hidup dia tinggal tersisa beberapa bulan lagi.”
__ADS_1
“Aku tahu kecemasan ibu. Aku janji, aku akan pelan-pelan meyakinkan ayah dan tidak memperburuk kondisinya. Aku berjanji.”
Sang ibu menitikkan air mata. Dengan penuh kelembutan, ia mendekap anaknya tersebut. Hangat, sebuah pelukan yang menunjukkan betapa tulusnya kasih sayang seorang ibu pada anaknya.
“Kejarlah apa yang menjadi mimpimu. Jika Ailey memang yang terbaik untukmu, Ibu bisa apa. Bahagiakan ayahmu dengan caramu sendiri.” Ucapnya sambil membelai rambut anaknya.
“Terima kasih, Ibu.” Kata Kevin sambil membalas pelukan ibunya dengan perasaan bahagia.
***
Ailey terlihat grogi di dalam salah satu restoran yang ada di Mall Abram City. Dia duduk di salah satu sudut ruangan dengan sikap gelisah seolah sedang menunggu sesuatu yang tak kunjung datang. Pandangannya dia layangkan ke berbagai penjuru mencari seorang pria tua yang mengajaknya makan siang bersama.
Dari kejauhan, tampak ayah Kevin berjalan perlahan memasuki restoran tersebut. Dia memakai kaos polo sederhana dengan celana bahan dan sendal jepit. Penampilannya sama sekali tidak menunjukkan dirinya seorang yang kaya raya. Dengan senyuman lembut, dia berjalan menghampiri Ailey yang duduk seorang diri.
“Maaf, menunggu lama. Kali ini gantian saya yang terlambat, ya.” Kata ayah Kevin tidak enak.
“Tidak apa-apa, om. Saya belum lama menunggu di sini, kok.” Balas Ailey sopan.
“Wah, Anda baik sekali. Aku pesan teh hangat saja.” Ucap Ailey sungkan.
“Tidak usah malu-malu. Di sini ayam rica-ricanya enak, lho.” Katanya meyakinkan.
“Eh, uh… Terserah om saja. Hehe.”
Setelah menentukan beberapa pilihan menu, ayah dari CEO Abram tersebut memanggil pelayan restoran dan memesan menu-menu terbaik di sana. Tampaknya restoran itu sudah menjadi langganan karena pelayannya terlihat akrab dengan pria tua itu.
“Bagaimana hubunganmu dengan Kevin?” Tanya ayah tanpa basa-basi.
“Ah, itu… Tampaknya Kevin sibuk belakangan ini jadi kami jarang bertemu.” Jawab Ailey.
Ayah Kevin melihat kegusaran dari wajah perempuan itu saat menjawab pertanyaannya. Matanya tidak berani menatap ayah sang CEO, Ailey hanya menundukkan kepalanya sedikit.
__ADS_1
“Om percaya kamu adalah wanita yang baik. Tapi kamu juga harus mengerti posisi Kevin saat ini.”
“Maksud om?”
“Begini, seperti yang kamu bilang, Kevin sibuk sekali mengurus perusahaan. Pada akhirnya kamu yang akan menderita karena tidak akan menjadi prioritasnya. Kamu yakin mau menjalani hubungan seperti itu?” Lanjutnya.
“Aku… Sebenarnya apa yang ingin om katakan?” Tanya Ailey penasaran karena merasa ada maksud tersembunyi dari ayah Kevin.
Ayah Kevin menghela napasnya sejenak. Dia mengerti bahwa seharusnya tidak perlu basa-basi terhadap wanita itu.
“Putuskan hubunganmu dengan Kevin.”
Ailey tersentak mendengar pernyataan tersebut dari mulut sang ayah. Tanpa meminta pendapatnya terlebih dulu, itu lebih terdengar seperti sebuah perintah. Akhirnya, Ailey berani beradu tatapan dengan ayah pria pujannya.
“Aku tidak apa-apa om dengan kesibukan Kevin. Aku sudah cukup dewasa untuk mengerti.” Bela Ailey pada dirinya sendiri.
“Anak muda zaman sekarang tidak pernah memikirkan jangka panjang. Bagaimana jika suatu saat kamu tidak bisa mentolerir kesibukannya lagi. Pada akhirnya, kalian berdua yang akan menderita.” Jelasnya.
“Tapi om…”
“Sudahlah, Kevin harus fokus pada Abram. Itu hal yang tidak terbantahkan dan kamu harus mengerti. Jika kamu benar-benar menyayanginya, biarkan dia menjalani hidupnya dan terbang lebih tinggi lagi. Jangan hanya karena hubungan kalian, kakinya tertahan dan tidak bisa bergerak maju!” Jelasnya tanpa membiarkan Ailey berbicara.
Belum sempat Ailey menanggapi, pelayan restoran datang dan menyajikan makanan yang dipesan oleh ayah Kevin. Heningnya suasana membuat suara dentingan piring dan peralatan makan yang diletakkan terdengar dengan jelas. Kesunyian tersebut menusuk hingga ke hati Ailey. Dia masih tidak percaya pertemuan kedua dengan ayah Kevin akan berakhir seperti ini.
“Silahkan disantap dulu makanannya.” Kata sang ayah.
Ailey hanya duduk membatu tanpa menggerakkan tangannya sedikitpun untuk menyentuh makanan-makanan tersebut. Ajakan makan itu terdengar seperti sebuah kegiatan menyuap dirinya untuk menyetujui permintaan pria tua tersebut. Perasaannya campur aduk, bagaimana dia bisa menyantap makanan di hadapannya dengan hati yang kalut? Kegundahan yang menyelimutinya membuat dia teringat pada Milo. Hanya Milo satu-satunya orang yang bisa dia datangi untuk berbagi cerita.
“Om, terima kasih atas hidangannya. Saya baru ingat jika saya ada janji. Saya pamit dulu, ya.”
Segera setelah berkata demikian, Ailey meninggalkan meja makan. Saat itu, ia baru menyadari alasan Kevin menjauhi dirinya secara tiba-tiba. Bukan tanpa alasan Kevin bersikap seperti itu. Sudah jelas, perbedaan status yang cukup tinggi menjadi jurang pemisah dua insan itu.
__ADS_1
Ayah Kevin hanya bisa melihatnya pergi dengan terburu-buru seolah ingin menghindar dari pertanyaan-pertanyaan lain. Tanpa merasa bersalah, pria tua itu melanjutkan makan siangnya dengan tenang. Meskipun dia tahu dia tidak akan bisa menghabiskan hidangan yang sudah tersaji dengan banyaknya di meja, dia tetap berusaha menikmati makanan yang sudah dipesannya.