Engelskraft: Cinta Malaikat Terbuang

Engelskraft: Cinta Malaikat Terbuang
Pergumulan Seorang Malaikat


__ADS_3

Ailey duduk berhadapan dengan Milo di bangku taman doa yang berada di rumah sakit. Dengan mengenakan sweater cokelat, Ailey berusaha menahan dinginnya angin yang berhembus malam itu. Milo dengan kemeja lengan pendeknya tidak merasa terganggu sama sekali dengan hawa dingin. Mungkin karena dia malaikat sehingga tidak terpengaruh oleh hal-hal dunia.


“Ada apa memanggilku ke sini? Kamu baik-baik saja?” Tanya Milo cemas.


Ailey menggigit bibirnya seolah ingin mengutarakan suatu hal namun tertahan karena ego. Bahkan matanya tak mampu memandang sosok malaikat itu.


“Katakan padaku, ada apa?” Milo kembali bertanya.


Ailey masih terdiam. Sepertinya dia binung untuk mengutarakan maksudnya.


“Jangan diam saja! Kamu malah membuatku makin khawatir.” Paksa Milo.


“Milo… Aku ingin meminta bantuanmu.” Kata Ailey karena merasa tersudutkan.


Malaikat itu menatapnya tanpa bergeming. Tampaknya dia sudah bisa menebak kalimat yang akan keluar berikutnya dari mulut Ailey. Ia menatap wanita itu dengan penuh belas kasih.


“Tolong selamatkan ayah Kevin!” Sambung Ailey dengan air mata.


“Sudah kuduga.”


“Tolong! Dengan kekuatan malaikat yang kamu miliki, pasti kamu bisa menyadarkannya.” Lanjut Ailey putus asa.


“Kenapa kamu ingin menolongnya? Bukankah pria itu tidak merestui hubunganmu dengan Kevin?” Bantah Milo.


Ailey terdiam sejenak. Air mata terus mengalir di pipinya. Wajahnya memerah akibat kesedihan yang bercampur dengan udara dingin malam itu.


“Aku tidak kuat melihat Kevin menyalahkan dirinya sendiri atas kondisi ayahnya. Jika memang aku harus mundur demi hubungan darah mereka berdua, aku rela. Aku tidak mau Kevin menderita.”

__ADS_1


Ketulusan hati wanita itu terpancar dari setiap derai air mata yang menetes. Bagai tersentuh oleh kepedihan yang mendalam, Milo mendongakkan kepalanya untuk menahan dirinya ikut menangis.


“Milo, aku tahu mungkin kamu masih kesal padaku karena aku bersikap ketus padamu belakangan ini. Aku janji aku tidak akan mengingat lagi masa lalu dan perbuatanmu terhadapku dulu. Tapi aku mohon, bantu aku satu kali ini saja.” Lanjut Ailey memohon.


“Kamu benar-benar jatuh cinta pada Kevin, ya hingga kamu rela mengesampingkan egomu untuk meminta pertolonganku.” Ujar malaikat itu.


“Milo…”


“Tapi aku minta maaf, kali ini aku tidak bisa membantumu. Mintalah pertolongan pada Tuanku, Dia yang memiliki wewenang atas hidup dan mati seseorang.” Jawabnya.


Suara jangkrik mengisi kesunyian malam. Seolah tidak ada yang bisa diperdebatkan lagi, mereka berdua hanya saling bertatapan.


“Ailey…” Milo menahan diri sebentar. Sambil membetulkan posisi duduknya, dia melanjutkan, “Apakah kamu akan tetap memaafkanku jika aku tidak bisa membantumu?” Milo bertanya khawatir.


Tiba-tiba Ailey menangis terisak-isak. Pertanyaan tersebut menembus hati Ailey. Dia sadar begitu jahatnya dia menggadaikan permintaan maaf dengan sebuah bantuan. Kekecewaan mengisi relung hatinya yang paling dalam.


“Wajar saja seorang manusia bisa merasakan kebencian. Tapi malaikat yang sudah bertobat sepertiku tidak diperbolehkan untuk menyimpan kebencian. Seperti apa pun caramu memandangku, aku tetap akan menjadi malaikat pelindungmu. Aku tidak akan marah jika kamu masih belum bisa memaafkanku.” Jelas Milo dengan bijak.


“Jangan menangis lagi! Simpan tenagamu untuk berdoa kepada yang kamu sebut Tuhan. Selain itu, kamu pun harus menjaga Kevin yang sedang berada di titik terendahnya. Kamu butuh energi untuk bisa melakukan itu semua. Jadi, simpan air matamu. Bukankah kamu ingin menunjukkan ke banyak orang betapa kuatnya dirimu?” Balas Milo menyemangati.


“Terima kasih. Aku sungguh-sungguh berterima kasih.” Ailey menyeka air mata yang mengalir di pipinya.


Mereka berdua tidak melanjutkan percakapan lagi. Keduanya saling terdiam berhadapan berusaha untuk memahami keadaan yang terjadi.


***


Suara burung hantu memenuhi seisi hutan. Gemerisik dedaunan bersahutan tersapu oleh kencangnya angin. Vila yang menjadi markas Milo dan Mario terlihat masih terang benderang di tengah gelapnya langit malam.

__ADS_1


Milo bersujud di sebuah ruangan megah dan meletakkan siku tangannya di atas bantal berwarna putih. Sayapnya yang kusam terjuntai lemas di punggungnya. Kepalanya tertunduk hingga menyentuh kedua tangannya yang mengepal. Sunyi dan sepi.


Mario berjaga di depan pintu ruangan seakan menunggu Milo untuk keluar dari sana. Tapi tampaknya hal itu tidak akan terjadi dengan segera. Sang malaikat berdoa dengan kusyuk dan tak ingin diganggu.


“Tuan, aku sudah mendengar suara-Mu. Inikah yang Engkau kehendaki? Inikah hukuman terberat yang harus aku tempuh demi kembali seutuhnya pada-Mu?” Gumam Milo dengan suara yang lirih.


Tubuhnya gemetar. Ada rasa takut yang luar biasa menjalar ke seluruh tubuhnya. Air mata yang ditahannya seharian akhirnya tak terbendung dan mengalir keluar hingga membasahi bantal yang menjadi alas sikunya. Kepalanya semakin tertunduk hingga ia membenamkan wajahnya di atas bantal.


Tangisan nyaring terdengar hingga ke luar ruangan. Mario menoleh sejenak, berniat untuk membuka pintu. Rasa cemas meliputinya. Namun, dia mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam. Dia tahu bahwa rekan malaikatnya sedang berbicara empat mata dengan Sang Tuan. Dia harus memberikan batasan karena saat itu bukanlah saat yang tepat untuk ikut campur dengan kesedihan yang dialami Milo.


***


Hari semakin larut, Milo duduk di sofa dengan perasaan yang kalut. Tampak dengan jelas raut wajah yang sedang memikirkan sesuatu.


“Jadi, aku rasa kamu sudah mendapat jawabannya.” Ujar Mario yang duduk di sebelahnya.


“Iya. Tuan sudah memberikanku pencerahan.” Jawab Milo sambil menghela napasnya.


“Lantas apa yang akan kamu lakukan? Sebagai malaikat yang taat, tentu kamu harus menuruti perintah-Nya, bukan?” Sambung Mario.


Milo mengangguk ragu. Dia menelan ludahnya karena takut akan sesuatu.


“Milo, kamu tahu ‘kan bahwa keberadaan kita di dunia hanyalah untuk melayani Tuan, bukan yang lain. Jadi apa pun itu jawaban-Nya, percayalah pasti akan membawa kebaikan untukmu.” Terang Mario.


“Aku mengerti. Lagipula, ini adalah hukuman terakhir yang harus aku jalani. Aku tidak akan mengecewakan-Nya lagi apapun itu taruhannya.” Ucap Milo.


Mario menepuk bahu Milo dengan lembut lalu mengusapnya untuk memberikan sedikit kelegaan. Saat tangannya beradu dengan pundak Milo, dia sungguh bisa merasakan ketakutan yang dialami oleh rekannya tersebut.

__ADS_1


“Aku titip Ailey, ya.” Kata Milo pasrah sambil memandang temannya itu dengan berkaca-kaca.


Mario mengangguk dan melempar senyuman lembut seakan memberi tanda bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. Dia menemani rekannya tersebut dan terjaga sampai pagi. Cahaya bulan samar terlihat seakan disembunyikan oleh awan kepedihan. Binatang-binatang malam tiba-tiba tidak menunjukkan suaranya dan memberikan keheningan penuh di pelosok hutan seakan ikut merayakan kekalutan yang dirasakan oleh sang malaikat. Tapi, sebenarnya apa yang ditakuti oleh malaikat seperti Milo? Apakah ada hal lain yang belum diungkapkannya?


__ADS_2