Engelskraft: Cinta Malaikat Terbuang

Engelskraft: Cinta Malaikat Terbuang
Malaikat yang Jatuh Cinta


__ADS_3

Hujan deras baru saja mengguyur kota Jakarta dengan lebatnya sehingga menyisakan malam berawan dengan udara yang sangat dingin. Ditemani secangkir kopi americano, Milo menatap ke langit malam dengan pandangan menerawang dari outdoor kafe Engelskraft. Mata bulatnya tidak berkedip, dia hanya melihat dengan tatapan kosong.


“Tuan, mengapa Engkau memberikan misi yang begitu sulit ini kepadaku?” Gumamnya sendirian.


Malaikat itu menghela napas lalu mengambil cangkir kopi yang ada di meja dan menyeruputnya perlahan. Uap panas masih terlihat menyembul dari permukaan cangkir itu seakan menuntunnya untuk kembali ke dunia yang ada di atasnya. Pikirannya mengawang tidak jelas.


“Mengapa kamu memanggilku ke sini, Milo?” Tanya Ailey yang baru datang ke kafe Engelskraft dan segera duduk di sebelah malaikat itu.


“Hei, Ailey!” Milo menyadari kedatangan Ailey, “Hanya ingin mengobrol saja, kok.” Lanjutnya.


“Mau ngobrol apa? Kenapa tidak mengajak Mario yang sesama malaikat?” Kata Ailey polos.


“Hahaha. Justru karena dia juga malaikat, sudut pandangnya sama sepertiku. Aku butuh manusia sepertimu yang bisa memberikan sudut pandang lain.” Jawab Milo.


“Heran, justru harusnya manusia yang meminta pendapat pada entitas suci sepertimu.”


“Mulai lagi, ‘kan. Semua ciptaan Tuanku pasti suci, kok. Kadang pilihan hidupnya saja yang membuatnya ternoda.” Ujar Milo sambil menerawang ke langit malam.


Ailey hanya tersenyum kecil karena kembali ditegur hal yang sama yang pernah dijelaskan oleh Milo. Wanita itu ikut menyandarkan tubuhnya santai ke kursi dan ikut menatap ke atas. Dia penasaran mengapa Milo begitu serius melihat langit.


“Menurutmu, Tuan akan marah tidak kalau makhluk ciptaan-Nya melanggar aturan yang ditetapkan oleh-Nya?” Milo membuka pembicaraan.


“Serius sekali pertanyaanmu. Seharusnya kamu lebih tahu dari aku.” Jawab Ailey bingung.


Milo hanya terdiam sambil menutup matanya seakan mendalami pertanyaan yang diucapkannya sendiri. Ailey melihat pemandangan di sebelahnya tersebut dengan heran. Namun, entah kenapa dia merasakan kesedihan di wajah malaikat yang sempurna itu.


“Begini, mungkin ada saatnya Tuhan marah pada ciptaan-Nya, tapi bukan berarti dia membencinya, bukan?” Lanjut Ailey karena merasa tidak enak pada Milo.

__ADS_1


“Iya, sih. Aku cuma takut Dia akan merebut hal yang berharga dariku jika Dia marah.” Sambungnya.


“Bukankah tidak ada yang lebih berharga dari Tuhan itu sendiri?” Tanya Ailey.


Milo kembali menghela napasnya, “Justru itu masalahnya. Sepertinya aku sudah menyalahi aturan.”


Angin malam berhembus semakin kencang. Gemerisik tanaman di sekitar memecah keheningan. Ternyata bukan cuma manusia yang kesulitan berjalan lurus di jalan-Nya, tapi malaikat pun juga demikian.


“Sebenarnya ada apa denganmu?” Wanita itu semakin penasaran, nada suaranya terdengar khawatir.


“Ailey.” Milo berhenti sejenak. “Apakah Tuan akan memaafkanku jika aku mencintai seorang manusia?” Katanya sambil mengalihkan pandangannya ke arah Ailey.


Jantung Ailey berdebar begitu matanya bertatapan langsung dengan malaikat itu. Seakan manusia yang dimaksud oleh Milo adalah dirinya sendiri. Tatapannya terkunci oleh kedua mata Milo yang melihatnya begitu dalam. Kedua entitas hidup tersebut saling bertatapan selama beberapa waktu. Tidak bergeming.


“Ailey.” Gumam Milo menyebut nama wanita itu sekali lagi sambil mendekatkan wajahnya pada Ailey yang sedang bersandar di kursi.


“A…aku tak mengerti maksudmu.” Potong Ailey sambil menegakkan kembali tubuhnya.


Milo yang menyadari kegugupan di hati Ailey langsung menarik kembali wajahnya menjauhi wanita itu. Entah apa yang ingin dilakukannya. Ataukah malaikat itu ingin menciumnya?


“Sebaiknya aku pulang. Hari sudah semakin malam.” Kata perempuan itu grogi sambil beranjak dari kursinya.


Belum sempat Ailey beranjak dari tempat itu, Milo menggenggam tangannya dan menghentikan langkahnya. Ailey yang terkejut menoleh ke arah Milo dan menatapnya dengan muka merah.


“Bisakah kamu tidak terlalu dekat dengan CEO Abram itu?” Tanya Milo tiba-tiba dengan pandangan meminta belas kasihan.


Ailey yang bingung dengan apa yang sedang terjadi segera melepaskan genggaman tangan malaikat itu. Dengan kikuk, dia berjalan cepat meninggalkan Milo yang masih duduk dengan muka memelas. Suara detak jantungnya masih terdengar nyaring di telinga hingga membuat ritme langkah kakinya tidak beraturan.

__ADS_1


Tangannya diletakkan di pipi untuk merasakan seberapa panas hawa tubuh yang mengalir ke mukanya. Pernyataan Milo mengenai percintaan dengan manusia saja sudah membuat wanita itu berdebar, apalagi ditambah dengan permintaannya untuk menjauhi Kevin. Hal itu cukup serius melekat di hatinya. Di satu sisi, Ailey masih agak trauma dengan kejadian yang menimpanya waktu masih muda sehingga ia cukup terganggu jika ada seorang pria yang dekat dengannya, sekalipun itu adalah malaikat. Ia juga tidak mau terlalu mempercayai debaran yang ia rasakan saat itu. Rasa takutnya terhadap laki-laki ternyata masih menghantuinya.


Mario yang menyadari sesuatu telah terjadi segera mendatangi Milo yang masih terduduk dengan santai menatap langit. Awan masih menutupi malam hari itu sehingga cahaya bulan masih tertahan di atas sana.


“Kenapa Ailey berjalan keluar dengan terburu-buru begitu? Apa yang kamu katakan padanya?” Tanya Mario penasaran.


“Tampaknya perkataanmu benar. Aku menyimpan rasa terhadap wanita itu.” Jelas Milo.


“Jangan bicara aneh! Aku ‘kan sudah memperingatkanmu untuk tidak memiliki perasaan apa pun dengan manusia. Kamu sudah gila!” Protes Mario.


“Jika manusia boleh jatuh cinta, kenapa malaikat tidak bisa?” Tanya Milo dengan sedih.


“Omonganmu sudah ngelantur. Kita hanya boleh mencintai Tuan yang menciptakan kita, itu sudah menjadi aturan yang berlaku. Sepertinya aku harus membawamu kembali ke atas.” Kata Mario cemas.


“Tidak!” Tolak Milo. “Misiku belum selesai, kita tidak bisa kembali!”


“Aku tak peduli dengan misimu. Misiku sudah gagal, aku harus membawamu kembali pulang!” Jelasnya.


Keheningan menyelimuti tempat tersebut. Milo berdiri menghadap rekannya tersebut dan menunjukkan wajahnya yang memelas. Seakan sudah tidak memiliki harapan, dia menjatuhkan lututnya ke tanah dengan mata berkaca-kaca.


“Aku mohon, tunggu aku menyelesaikan misiku. Aku mohon.” Ujar Milo dengan suara parau.


Mario yang melihat kondisi temannya tersebut merasa tersentuh. Dia melihat ketulusan terpancar dari mata malaikat itu. Dengan hati yang iba, dia berusaha menahan emosinya.


“Sudah, jangan berlutut lagi! Percuma kamu berlutut di depanku, tidak akan merubah apa pun! Aku mengerti, aku mengerti.” Katanya sambil mengangkat tubuh Milo untuk berdiri.


“Berjanjilah padaku begitu misimu selesai, kamu akan segera kembali ke atas. Tidak peduli apa pun yang menahanmu, kamu tidak akan mengulur waktu lagi.” Kata Mario.

__ADS_1


Milo mengangguk sambil menyeka air mata yang menggenang di kelopak matanya. Dia tahu, sebagai malaikat bertuan, tempatnya adalah rumah Tuannya. Dia harus kembali ke surga begitu tugasnya di dunia selesai karena hanya sang Tuan yang memiliki hak atas hidupnya.


__ADS_2