
Pameran karya seni bertema malaikat itu sungguh menarik perhatian banyak orang. Terlihat sosok-sosok berpengaruh di Indonesia berseliweran di ballroom Mall Abram City. Awak media juga berlomba-lomba meliput berbagai macam kesenian yang ada di sana. Sungguh pemandangan yang cukup ramai.
Sambil menunggu Milo selesai dengan urusannya di lukisan “Akhir dari Sang Pemberontak”, Ailey melihat-lihat lukisan lain yang tidak kalah indahnya. Dia memperhatikan setiap detil dari lukisan-lukisan tersebut. Indah, namun tidak ada yang mampu mempesonanya seperti lukisan malaikat bersayap hitam yang dilihat sebelumnya. Tidak jauh dari tempatnya berdiri, dia melihat dua bersaudara Marliani sedang melihat lukisan yang sama.
“Ailey, senangnya melihatmu di sini!” Seru Lanny begitu melihat Ailey di hadapannya.
“Hai, Lanny! Halo, Bu Lina.” Sapa Ailey sopan.
“Bagaimana kamu bisa masuk ke sini? Bukankah tiket masuk pameran ini cukup mahal buatmu?” Sindir Lina.
“Oh, itu…” Kata Ailey terbata-bata.
“Sudahlah, Lina! Mau sampai kapan kamu keras terhadapnya?” Protes Lanny.
“Benar juga, aku tidak mau mood-ku berantakan di tengah pameran seni berskala internasional ini.” Lanjutnya.
“Saya… Saya pamit ke toilet dulu, ya.” Kata Ailey berusaha menghindar.
“Aku juga ikut! Dari tadi aku kebelet pipis menemani Lina mengitari pameran ini. Ayo!” Ajak Lanny sambil menggandeng lengan Ailey.
Mereka berdua berlalu meninggalkan Lina yang masih serius menimbang-nimbang lukisan mana yang akan dibelinya. Dari kejauhan, dia melihat Milo sedang menatap lukisan yang besar dengan serius. Tanpa pikir panjang ia menghampiri malaikat berwujud manusia itu.
“Apa kamu yang membelikannya tiket masuk ke pameran ini?” Kata Lina pada Milo.
“Eh?” Lamunan Milo buyar seketika. “Kamu ke sini juga?” Balasnya tanpa menjawab pertanyaan wanita itu.
“Aku sangat menyukai karya seni. Tidak mungkin aku melewatkan karya terbaik dari seniman-seniman mancanegara yang dipajang di sini. Ngomong-ngomong apa yang sedang kamu lihat?” Tanya Lina sambil memperhatikan lukisan malaikat bersayap hitam yang sangat megah.
“Lukisan ini, kamu tahu siapa pelukisnya?” Tanya Milo.
“Setauku, pelukisnya sudah meninggal dunia beberapa tahun silam dan lukisan ini merupakan karya masterpiece-nya. Saking berharganya, tidak ada yang berani memasang harga pada lukisan ini. Makanya, Akhir dari Sang Pemberontak menjadi barang tak ternilai yang selalu berpindah-pindah tempat pameran sampai akhirnya kembali ke museum barang mewah yang ada di Eropa,” jelasnya. “Memangnya kenapa?”
__ADS_1
“Aku penasaran saja dengan penciptanya. Pasti dia bukan orang sembarangan karena mampu menghasilkan karya yang sangat emosional seperti ini. Seolah-olah yang melihatnya tersedot ke dalam lukisan itu.” Jawabnya.
“Wah, kamu mengerti seni rupanya. Banyak orang yang datang ke pameran seperti ini hanya untuk bergaya saja atau dijadikan sumber untuk membuat konten. Aku tidak menyangka masih ada orang sepertimu yang menghargai sebuah karya seni.” Puji Lina dengan takjub.
Milo hanya tersenyum kecil mendengar pujian tersebut. Padahal, dirinya memang pernah merasakan kepedihan yang sama dengan sosok malaikat di dalam lukisan itu. Namun, dia hanya bisa berpura-pura di hadapan manusia yang tidak memahami cerita sesungguhnya.
“Baiklah, silahkan menikmati pameran ini! Aku duluan, ya.” Kata Lina.
Anggukan kecil diberikan padanya oleh Milo. Sambil mengamati Lina yang pergi menjauh, dia menyadari akan kepergian Ailey. Dengan tergesa-gesa, malaikat itu pergi mencari Ailey dan meninggalkan lukisan yang telah menarik hatinya.
***
Lanny berdiri di depan toilet wanita sambil membawa tas Ailey. Ailey menitipkan tas tersebut pada Lanny agar tidak basah. Maklum, tas itu adalah tas satu-satunya yang perempuan itu miliki. Jika tasnya basah atau kotor, pasti repot untuk membersihkannya ataupun membeli tas baru.
“Kamu sudah selesai?” Tanya Lina sambil berjalan menghampiri adiknya.
“Untunglah kakak datang! Aku kebelet pipis, nih. Ailey lama sekali di dalam. Aku titip tasnya padamu, ya. Sebentar saja.” Katanya sambil menyerahkan tas Ailey ke tangan kakaknya.
Entah apa yang merasuki dirinya, Lina membuka tas tersebut sekedar ingin menghilangkan rasa penasaran. Sebuah dompet kumal dan beberapa alat kosmetik berserakan di dalamnya. Namun, ada satu benda yang menarik perhatian wanita itu. Sebuah botol obat yang tidak familiar tergeletak di dasar tas.
Secara refleks, tangan Lina meraih botol obat tersebut dan membaca tulisan-tulisan medis di sana. Dia berusaha mencerna tulisan tersebut namun tidak bisa memahaminya karena tidak pernah melihat obat tersebut. Rasa penasaran memenuhi dirinya, dia membuka tutup obat itu dan menemukan bentuk obat yang sama persis dengan yang ditemukannya di mobil Kevin.
Tubuhnya mematung melihat butiran-butiran obat yang ada di dalam botol itu. Mengapa obat HIV ada di dalam tas Ailey? Jika memang obat di mobil Kevin adalah miliknya, berarti Ailey lah penumpang di mobil tunangannya itu. Belum sempat berpikir dengan jernih, dia mendengar suara adiknya dan Ailey mendekat. Lina segera menutup obat itu dan memasukkannya kembali ke dalam tas karyawannya tersebut.
“Bu Lina?” Ailey melihat atasannya tersebut berdiri dengan gugup sambil memegang tas miliknya.
“Ini tasmu! Sebaiknya kau menggantinya dengan tas baru yang lebih bagus.” Katanya sambil menyerahkan tas itu ke pemiliknya.
“Terima kasih, Bu sudah mau dititipi tasku.” Kata Ailey dengan sopan.
Suara langkah kaki terdengar mendekat dengan mantap. Dari balik kerumunan, Kevin terlihat menghampiri ketiga perempuan tersebut. Menyadari keberadaan Ailey di sana, Kevin melemparkan senyuman. Ailey hanya membalas senyuman itu dengan simpul kecil di bibirnya agar tidak terlalu terlihat oleh Lina.
__ADS_1
“Kevin, sepertinya aku sudah menemukan lukisan yang aku mau.” Kata Lina.
Belum sempat Kevin menjawab, Ailey menundukkan kepalanya dan berpamitan, “Saya pulang dulu, ya.” Katanya sambil berjalan melewati CEO tersebut.
“Aku kira kamu tidak menggunakan tiket yang kuberikan padamu.” Sela Kevin.
“Maksudmu?” Lina terkejut mendengar perkataan Kevin.
Ailey menghentikan langkahnya tanpa menoleh sedikit pun ke belakang. Sebisa mungkin dia tidak mau mengungkit tiket pemberiannya di hadapan Lina, tapi malah pria itu sendiri yang mencari gara-gara.
“Kamu memberikan tiket pameran ini kepada wanita itu?” Lina terdengar kesal.
“Jangan berlebihan! Tidak usah membesar-besarkan seperti itu.” Jawab Kevin.
Lina yang geram melihat Ailey berdiri membelakanginya tersulut api cemburu. Keinginan untuk menariknya dan menjambak rambut perempuan itu terlintas di benaknya.
“Hei, wanita tak tahu diri! Masih berani menggoda tunangan orang rupanya?!” Protes Lina penuh emosi.
Ailey tidak menjawab konfrontasi itu sama sekali. Dia masih berdiri di sana dengan kaki gemetar seolah terpaku ke lantai yang diinjaknya.
“Jangan sampai aku membeberkan rahasia terbesarmu, ya!”
Ailey mendongakkan kepalanya karena terkejut. Akhirnya, dia menoleh ke belakang dan melihat Lina dengan wajahnya yang penuh amarah. Apakah atasannya itu mengetahui penyakit yang diidapnya? Pikir Ailey.
“Ailey, aku mencarimu kemana-mana. Ternyata di sini rupanya.” Seru Milo sambil menghampiri mereka. Ia menyadari ada perdebatan yang terjadi di antara mereka.
“Sang pangeran sudah datang. Jadi, kamu membawa pria itu ke sini menggunakan tiket yang kuberikan?” Kata Kevin penuh api cemburu.
“Ailey, sebaiknya kita pulang sekarang.” Ajak Milo sambil menarik tangan perempuan itu.
Bola mata Ailey menatap Lina dengan berkaca-kaca. Lalu pandangannya dialihkan kepada Kevin. Dia melihat Kevin ingin mengejarnya tapi tertahan oleh kehadiran tunangannya itu. Mereka berdua saling bertatapan tak bergeming seolah tak memiliki kuasa apapun untuk saling menyatakan perasaan yang sebenarnya.
__ADS_1