Engelskraft: Cinta Malaikat Terbuang

Engelskraft: Cinta Malaikat Terbuang
Sayap yang Ternoda


__ADS_3

Ailey terpaku melihat keajaiban yang ada di hadapannya. Tubuhnya kaku, bibirnya gemetar, dia baru saja melihat cahaya yang sangat menyilaukan datang dari tubuh Milo. Sayap yang terbentang di punggung Milo menambah pesona yang tidak terelakkan. Keheningan menyelimuti malam itu seolah mendukung Milo menyembunyikan sosok aslinya dari keramaian.


“Kalau sosokku seperi ini, apakah kamu masih tidak percaya bahwa aku adalah malaikat?” Tanya Milo dengan nada pamer.


“Ma… Malaikat? Ini… Ini sungguhan?” Kata Ailey terbata-bata, masih dengan kedua kakinya yang membatu.


“Aku tidak pernah bohong padamu.” Jawab Milo sambil mengambil tangan Ailey yang terkulai lemas menggantung di bahunya. “Rasakan apakah sayap ini asli atau tidak,” lanjutnya sambil mengarahkan tangan Ailey menyentuh bulu-bulu halus yang terajut di sayap megahnya.


Dengan penuh kehati-hatian, Ailey mengelus sayap yang dipamerkan Milo. Seperti bulu burung, tetapi jauh lebih halus dan mulus. Seolah menghayati sentuhannya, Ailey memejamkan mata sambil menelusuri setiap helai sayap malaikat itu dengan jarinya.


“Kali ini kamu percaya?” Sambung Milo bertanya dengan senyuman kecil terukir di bibirnya.


Ailey membuka matanya kembali, “Milo, bagaimana mungkin? Kamu sungguh-sungguh malaikat seperti perkataanmu.”


Tanpa ragu, Ailey berlutut di hadapan Milo dan menundukkan wajahnya. Dia merasa bersalah karena selama ini berlaku tidak sopan pada seorang malaikat. Ailey bersujud dan membenamkan wajahnya di lantai.


“Apa yang kamu lakukan? Ayo, berdiri!” Kata Milo dengan cemas.


“Maaf, tidak sepantasnya saya memperlakukan entitas mulia sepertimu dengan tidak sopan.” Ucap Ailey dengan penuh ketakutan.


“Kamu jangan aneh-aneh. Justru manusia seperti kamu yang diciptakan dengan kemuliaan Tuanku. Bukan aku yang seharusnya menjadi tujuan sujudmu.” Balas Milo panik sambil mengangkat tubuh Ailey untuk kembali berpijak dengan dua kakinya.


“Tapi kamu malaikat, Milo.”


“Lalu kenapa? Aku sama sepertimu diciptakan oleh Tuanku. Kita berdua sama-sama makhluk ciptaan-Nya.” Terang Milo.


Masih tidak percaya, Ailey memperhatikan Milo dari ujung kaki hingga kepala. Tidak ada yang berubah, perawakannya masih seperti Milo yang ia kenal. Perbedaannya hanya pada sayap yang mencuat dari balik punggungnya. Seketika, Ailey kehilangan kata-kata.


“Sudah selesai belum herannya?” Ujar Milo.

__ADS_1


“Aku…” Belum sempat Ailey melanjutkan perkataannya, dering telepon yang memekakkan telinga berbunyi dari ponsel yang ada di sakunya.


Milo yang mendengar dering tersebut hanya menghela napas kesal karena momen penting yang diharapkannya dicuri begitu saja oleh suara nyaring itu. Dengan cepat Ailey mengangkat telepon dari atasannya, Lina.


“Ya, Bu Lina? Meeting dengan Pak Kevin dan tim marketing besok? Ba… Baik, Bu! Saya akan ke kantor besok.” Balas Ailey dengan terburu-buru untuk mengakhiri telepon dari Lina.


“Bosmu memang menyebalkan, ya. Sudah malam begini masih saja mengganggumu.” Gumam Milo merasa terganggu.


“Namanya juga pekerjaan. Aku bisa makan karena mereka, jadi mau tidak mau aku harus bekerja dengan giat.” Jawab Ailey sambil menaruh ponselnya kembali di sakunya.


“Ya, tapi bukan berarti kamu harus angkat juga di jam segini?” Protes Milo.


“Sudahlah. Tadi kamu ngomong apa? Aku lupa.”


“Ehem… Aaaah sudahlah! Tidak apa-apa, hiraukan saja!” Ujar Milo kesal.


Ailey terdiam sejenak, dia baru menyadari sesuatu di sayap-sayap Milo. Dia melangkahkan kakinya mendekat dengan matanya terpaku ke sana. Tangannya kembali mengusap sayap yang tertanam di punggung Milo.


Milo tertegun mendengar pertanyaan tersebut. Dia menelan ludah saat melihat tatapan Ailey yang begitu tajam.


“Sa… Sayap ini sudah lama tidak kupakai makanya belum sempat aku bersihkan.” Katanya panik sambil menepis tangan Ailey yang sedang menelurusi sayap-sayapnya.


“Begitukah? Aku kira semua sayap malaikat berwarna putih. Sayapmu yang kusam itu membuat warnanya keabu-abuan.”


“Bagus, ya sudah berani menghina malaikat.” Balas Milo tidak suka.


“Katamu kita sama-sama ciptaan-Nya, jadi buat apa aku harus sungkan terhadapmu? Jangan menelan ludahmu sendiri, malaikat!” Kata Ailey sambil menjulurkan lidahnya.


“Sudah, hentikan pembicaraan tidak penting ini! Jadi kamu mau aku antar pulang atau tidak?” Tanya Milo sok jual mahal.

__ADS_1


“Siapa yang tidak mau diantar terbang oleh sosok malaikat seperti ini? Buktikan kalau kamu memang mampu membawaku terbang.” Goda Ailey sambil terkekeh-kekeh.


“Baiklah, your wish is my command!”


Tanpa basa-basi, Milo langsung melingkarkan tangannya di pinggang Ailey dan mendekapnya erat. Sayap megahnya yang kusam membentang dengan lebar. Hanya satu kali kepakan, mereka berdua sudah terangkat puluhan kilometer jauhnya dari permukaan bumi.


“Hei, hei! Apa-apaan ini? Kamu tidak bilang padaku bahwa kamu mengantarku dengan memelukku begini!” Protes Ailey di tengah hembusan angin yang cukup kencang.


“Kamu kira jika tidak memelukmu seperti ini aku bisa membawamu terbang? Jangan berpikir kamu akan menunggangi punggungku seperti binatang-binatang bersayap yang ada di sinetron televisi lokal, ya! Aku bukan kendaraanmu.” Balas Milo sambil memeluk Ailey dengan erat.


“Setidaknya kamu beritahu aku dulu kalau terbang dengan cara seperti ini.” Ujar Ailey.


“Jangan cerewet! Lebih baik kamu lihat saja pemandangan di bawah.” Keluh Milo sambil memberi saran.


Mata Ailey terbelalak melihat pemandangan malam dari atas langit. Lampu-lampu kota menghiasi suasana malam dengan indahnya, seperti pohon natal yang dihiasi oleh cahaya-cahaya cantik. Sejauh mata memandang, dia hanya melihat kegelapan yang dihinggapi semaraknya cahaya lampu, sama sekali tidak menakutkan. Pemandangannya tidak jauh berbeda dengan yang dilihatnya jika terbang menggunakan pesawat. Namun, kekaguman semakin menjadi karena kakinya sama sekali tidak menapak. Ailey benar-benar terbang menembus kegelapan malam.


“Indah, bukan?” Kata Milo.


“Indah sekali. Aku tidak pernah tahu rasanya terbang bersama malaikat ternyata seperti ini. Pengalaman yang menakjubkan dan sangat indah.” Ujar Ailey dengan tidak melepaskan pandangannya dari pemandangan malam itu.


“Syukurlah. Aku senang jika kamu senang.” Ucap Milo lembut dengan tulus.


Tidak butuh waktu lama, Milo mengepakkan sayapnya perlahan dan mulai turun tepat di tempat pertama kali mereka bertemu. Masih sambil memeluk Ailey, kaki mereka berdua akhirnya menyentuh permukaan kembali.


“Milo, kenapa harus di tempat pembuangan sampah ini?” Ailey mengeluh sambil menutup hidungnya.


“Hehehe. Maaf, koordinat penerbanganku masih payah. Belum hafal. Hehehe.” Kata Milo sambil tertawa malu.


Milo melonggarkan pelukan tangannya dan mengijinkan Ailey untuk menjaga jarak dengannya. Malaikat dan manusia tersebut terlihat malu dengan wajah memerah. Tampaknya itu adalah pelukan pertama kali yang dilakukan oleh keduanya selama hidup di dunia.

__ADS_1


“Terima kasih.” Ucap Ailey.


Milo hanya membalas dengan senyuman hangat. Sayapnya dikepakkan sekali lagi dan dia segera melesat terbang ke langit. Ailey mendongak ke atas dan tidak melihat sosok malaikat bersayap kusam itu lagi. Dengan mata berbinar, dia menatap langit malam dan tidak berhenti memuji kekagumannya terhadap pengalamannya barusan di dalam hati.


__ADS_2