
Dalam kesendirian, Ailey menghampiri ballroom yang ada di Mall Abram City. Dia tahu bahwa pameran seni “Angel in Us” sudah berakhir sejak lama, namun dirinya tak tahu lagi harus pergi kemana. Ia mendorong pintu ballroom yang besar tersebut dan sebuah ruangan besar yang gelap terpampang di hadapannya. Suasana yang sungguh berbeda menyelimuti dirinya, tidak sama seperti saat pameran tersebut digelar. Sunyi, sepi seperti yang dirasakan oleh hatinya.
Ia melangkah masuk menuju ke tengah ruangan megah itu. Ia memejamkan mata seolah sedang menghayati setiap desir angin lembab yang bergerak di sekitarnya. Air mata kembali mengalir di pipi wanita itu. Suara isak tangisnya memecah kesunyian dan bergema di sana. Luapan perasaan yang ditahannya dari tadi akhirnya bisa dikeluarkan olehnya tanpa perlu takut didengar oleh orang lain.
“Kenapa? Kenapa aku begitu bodoh mempercayai laki-laki? Kenapa?” Jeritnya penuh kepedihan.
Karena terlalu terlena dengan kesedihannya sendiri, Ailey tidak menyadari bahwa ada orang lain di sana yang sedang merebahkan dirinya di lantai untuk mencari ketenangan. Orang tersebut bangkit dari posisi malasnya dan melihat Ailey sedang menangis pilu di tengah ruangan sambil berlutut tak berdaya.
“Kamu menangis?” Suara seorang pria yang begitu familiar terdengar dari salah satu sudut ruangan.
“Siapa itu?” Ailey mencari dimana suara itu berasal.
Sosok pria yang dikenalnya terlihat samar-samar. Kevin ada di sana, menyaksikan wanita itu menangis sesenggukan.
“Kevin.” Kata Ailey sambil menyapu air matanya.
Kevin terkejut melihat wajah Ailey yang sembab. Kepedihan terpancar dari sorotan matanya yang penuh genangan air mata.
“Kamu kenapa menangis seperti ini?” Lanjut Kevin khawatir.
“Hentikan!” Teriak Ailey mengagetkan.
Keheningan mengisi ruangan megah tersebut. Kevin hanya bisa menatapnya sambil menjaga jarak.
“Hentikan semua ini! Apa hak kamu bertanya seperti itu padaku?” Tanya Ailey dengan histeris. “Apa pedulimu? Kamu bahkan tidak pernah mencariku lagi! Apa pedulimu?!”
Tubuh Kevin bergetar. Dia menyadari perbuatannya telah membuat Ailey sekacau itu. Dia melangkahkan kakinya mendekat secara perlahan.
“Jangan mendekat!” Teriak Ailey.
“Ailey.” Kata Kevin dengan suara lembut.
“Tolong berhenti! Jika kamu memang tidak bisa bersamaku, beritahu saja sejujurnya. Aku sudah mempercayaimu sejauh ini. Jadi, tolong jujur padaku!” Ailey terisak-isak.
__ADS_1
Kevin terus melangkah perlahan tanpa menjawab perkataan Ailey. Dia ingin bersamanya, tetapi dia bingung bagaimana mengatakannya mengingat persoalan dengan ayahnya belum beres.
“Aku sudah lelah dengan kalian semua! Aku sudah lelah melihat kalian menutup-nutupi yang sebenarnya. Aku… Aku tidak cukup kuat untuk itu!” Jeritnya dengan air mata yang tidak ada habisnya mengalir.
Melihat kesedihan yang mendalam dari Ailey, Kevin menyambar ke hadapannya dan memeluk tubuh wanita yang rapuh itu. Tangannya melingkar dengan kuat mengepung tubuh Ailey. Sesaat, hati Ailey tergerak dengan tindakan Kevin tersebut.
“Maaf. Maafkan aku.” Bisik Kevin lirih.
“Hanya itu? Tidak adakah hal lain yang ingin kau sampaikan?” Tanya Ailey.
“Maaf.” Sambung Kevin mengatakan hal yang sama.
Ailey mendorong pria itu hingga melepaskan pelukannya. Dia menatap pria itu dengan mata yang mulai memerah. Sebisa mungkin, dia menahan air matanya untuk tidak mengalir lagi lebih deras. Ia berdiri dan memijakkan kakinya dengan tegar.
“Bukan itu yang ingin aku dengar. Tidakkah kamu mengerti?” Kata Ailey menyimpan rasa sakitnya.
Sambil menghapus air mata yang membasahi wajahnya, Ailey pergi meninggalkan Kevin di dalam ballroom. Kevin hanya bisa merasakan hawa dingin dari sikap wanita itu. Tak terasa, air mengalir dari kantong mata pria tersebut. Dia menangis sendirian di dalam ruangan besar itu karena kecewa pada dirinya sendiri. Tangisannya menggema seolah mengingatkan betapa pedihnya kisah asmara mereka.
Sambil mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja, Kevin menatap lurus ke depan dari kursi kerjanya di ruangan CEO Abram. Milo terlihat duduk di depannya dengan penuh kecemasan.
“Jadi, Ailey sudah tidak masuk kerja lagi dari kemarin?” Tanya Kevin.
“Iya, dia bahkan tidak mau mengangkat telepon dariku.” Jelas Milo.
“Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa dia bisa sekacau itu?” Tanya Kevin kembali.
“Kamu masih bertanya padaku? Bukankah kamu yang membuatnya seperti itu?” Milo balik bertanya.
“Aku tahu. Tapi dia sempat mengatakan ‘kalian’ saat menangis di ballroom. Jadi, aku rasa bukan hanya aku yang menjadi penyebabnya.” Terang Kevin.
Milo mengalihkan pandangannya. Bagaimana pun juga, dia tak bisa memberitahu masa lalunya pada manusia lain, termasuk Kevin. Jika wujud aslinya sebagai malaikat ketahuan oleh banyak orang, dia akan dihukum oleh langit.
“Kevin, kita tidak bisa membiarkan Ailey seperti ini terus. Kita harus melakukan sesuatu.” Kata Milo mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
“Melakukan apa contohnya?”
“Aku memang tidak menyukaimu bersama dengan Ailey, tapi aku sadar bahwa Ailey hanya mencintaimu seorang. Jangan menjauh lagi darinya! Hanya kamu yang bisa mengobati hatinya.” Jelas Milo.
“Aku bahkan belum mendapatkan restu ayahku.” Katanya.
Milo terdiam. Dia tampak bingung dengan situasi yang kompleks ini.
“Dia cukup dekat dengan Lanny, bukan? Mintalah bantuannya untuk menemani Ailey untuk sementara. Setidaknya, ada seseorang yang bisa menemaninya di saat seperti ini. Saat ini, kita bukanlah orang yang diinginkan olehnya.” Lanjut Milo.
“Baiklah. Aku akan menghubungi Lanny. Kita tidak bisa membiarkan Ailey sedih terus seperti itu.” Ujar Kevin.
“Lanny hanyalah solusi sementara. Kamu harus menyelesaikan permasalahan ini dengan ayahmu dan Ailey sebelum semuanya makin runyam.”
Kevin mengangguk pada saran yang diberikan oleh Milo. Bagaimana pun juga, solusi sebenarnya ada pada dirinya sendiri. Jika dia tidak mengambil tindakan segera, semuanya akan terlambat untuk diperbaiki.
“Aku akan mencari cara untuk menyelesaikan ini semua.” Kata Kevin.
“Kevin, aku tidak tahu kamu akan mempercayai perkataanku ini atau tidak.” Kata Milo tercekat. Dia menarik napasnya dalam-dalam dan lanjut berbicara, “Kamu dan Ailey ditakdirkan untuk bersatu. Jadi, jangan takut! Percaya saja!”
Kevin terbelalak mendengar pernyataan tersebut karena biasanya Milo tidak se-supportive ini padanya. Tampaknya kata-kata tersebut cukup mengagetkan dirinya.
“Wow, wow! Ada apa ini? Kamu mendukungku?” Timpalnya.
“Ah, seharusnya aku tidak berkata seperti itu! Sudahlah, tampaknya aku hanya guyonan saja untukmu. Aku pulang!” Kata Milo sambil beranjak dari kursinya.
Belum sempat Milo keluar ruangan, Kevin memanggil namanya. Dia memberikan senyuman kecil yang penuh ketulusan.
“Milo. Terima kasih, bro!” Kata Kevin menutup perbincangan.
Milo menoleh sebentar ke arah CEO tersebut dan kembali melangkahkan kakinya keluar ruangan. Tampaknya malaikat itu juga tidak terbiasa mengucapkan hal yang menurunkan egonya tersebut. Terlihat tangannya menggaruk kepalanya karena gugup.
Di balik meja kerjanya, Kevin merenungkan pembicaraannya dengan Milo barusan. Seharusnya, dia tidak perlu menjadi pria pengecut hanya karena masalah ini. Bukankah masa depannya ditentukan oleh dirinya sendiri dan bukan orang lain? Dia hanya butuh waktu untuk meyakinkan ayahnya bahwa pilihannya adalah pilihan yang tepat.
__ADS_1