Engelskraft: Cinta Malaikat Terbuang

Engelskraft: Cinta Malaikat Terbuang
Bersatu Kembali


__ADS_3

Ketegangan terasa di rumah konglomerat Abram. Kevin dan ayahnya duduk berhadapan dengan dingin. Seolah tak bisa diganggu, ibu Kevin hanya bisa mengamati dari dapur. Sudah hampir 1 jam mereka berdua berbicara serius, tapi tampaknya tidak ada hasil yang memuaskan.


“Jadi kamu tetap tidak mau mendengarkanku?” Kata ayah Kevin dengan nada marah.


“Bagaimana lagi aku harus memberikan penjelasan pada Ayah? Aku ingin serius dengan Ailey. Aku juga berjanji akan tetap menjalankan perusahaan Abram sebagaimana mestinya.” Jelas Kevin.


“Lalu bagaimana dengan penyakit yang dideritanya? Ini akan menjadi aib bagi keluarga kita.” Sang ayah masih bersikeras.


“Penyakitnya bukan aib. Zaman sudah berubah, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”


“Ayah tetap tidak setuju!” Tegasnya.


“Ayah, tidak bisakah kamu melihatku sebagai anakmu dan bukan penggerak roda bisnis Abram? Aku tidak meminta banyak.” Terang Kevin dengan suara lirih.


Pendiri Abram itu tidak menggubris permohonan anaknya. Dia hanya membuang muka dan menyilangkan lengannya. Sifat keras yang ada padanya tidak tergoyahkan. Ia tetap tidak mengijinkan Kevin untuk menjalin hubungan dengan Ailey.


“Aku akan tetap pada pendirianku.” Kata Kevin sambil berdiri dari tempat duduknya.


“Kevin!” Bentak sang ayah.


“Maaf, aku bukan anak kecil lagi yang bisa kamu atur sesukamu.”


Emosi meluap dari hati sang ayah dan mendidih hingga mencapai otaknya. Dia tak pernah suka dibantah oleh orang lain karena menurutnya semua keputusannya adalah yang terbaik. Tanpa mencoba untuk meredam suasana, perkataan yang tak terduga terucap dari mulutnya.


“Kalau itu maumu, jangan pernah panggil aku sebagai ayahmu lagi!” Kata sang ayah tegas.


Kevin tercekat mendengar ucapan yang keluar dari ayah kandungnya sendiri. Tubuhnya sempat gemetar sedikit, namun dia berusahan untuk menstabilkan pijakannya. Tanpa membalas satu kata pun, Kevin menuju pintu keluar dan menghidupkan mesin mobilnya. Kemudian, ia berlalu pergi.


“Ayah, apa kamu tidak terlalu berlebihan?” Tanya sang ibu dari balik pintu dapur.


“Biarkan saja anak itu! Jika dia butuh uang, dia juga akan kembali mencariku.” Katanya penuh keyakinan.

__ADS_1


***


Hari itu sudah sangat larut. Ailey harus bersiap tidur agar tidak terlambat masuk kerja besok pagi. Setelah healing time-nya dengan Lanny, dia sudah membulatkan tekadnya untuk kembali melanjutkan hidup dengan penuh semangat. Selimut sudah menutup badannya dan lampu kamar pun sudah dimatikan. Namun, ada seseorang yang mengetuk pintu sehingga mengusik tidurnya. Dia beranjak dari kasurnya dan menyalakan lampu kembali.


“Siapa, sih malam-malam begini?” Katanya sambil membuka pintu kamarnya yang terkunci.


Betapa kagetnya Ailey melihat Kevin berdiri di depan pintu kontrakannya dengan keadaan berantakan. Pipinya merah dan kelopak matanya sedikit terpejam seperti orang yang habis mabuk.


“Hai, Ailey!” Sapa Kevin dengan suara yang terseret.


“Ke… Kevin? Mengapa kamu ke sini larut malam begini?” Protes Ailey.


“Aku mau memberitahumu sesuatu.” Lanjutnya setengah sadar, “Aku cinta sama kamu. Aku… cinta…”


Belum sempat dia mengakhiri kalimatnya, tubuhnya jatuh menyambar Ailey. Kepalanya tepat bersandar di pundak wanita itu.


“Kevin?” Tegur Ailey.


Ailey merebahkan tubuh Kevin dengan perlahan di atas kasur sambil menyangga kepalanya dengan bantal agar tidak terantuk. Maklum, kasur lama sehingga busanya sudah tidak empuk lagi.


“Kenapa malam-malam harus datang dalam keadaan seperti ini dan mengucapkan hal itu, sih?” Gumam Ailey dengan wajah yang merah merona.


Ia memperhatikan paras tampan CEO tersebut dengan seksama. Sudah lama dia tidak melihatnya sedekat ini. Rasa rindu melanda dirinya hingga membuat telapak tangannya menyusuri setiap lekukan wajah pria itu.


“Maaf karena telah meragukanmu.” Bisik Ailey.


Ketulusan terpancar dari wajah Kevin yang sedang tidur. Ailey menyadari betapa sulitnya pria itu menjalani kehidupan yang penuh tuntutan dari orang tuanya. Kevin pasti sangat lelah menghadapi semuanya sendirian. Jika tidak, mana mungkin dia sampai semabuk ini dan melantur hingga ke kontrakannya.


Pernyataan cinta setengah sadar yang dilontarkan Kevin masih menggema di telinga Ailey. Itu bukanlah sebuah pernyataan yang dibuat-buat tetapi tulus keluar dari alam bawah sadarnya. Wanita itu menitikkan air mata tanpa disadari. Kehangatan memenuhi hati hingga tak mampu mengutarakannya dengan kata-kata.


Ia merebahkan tubuhnya di sebelah Kevin yang sudah mendengkur dengan pulasnya. Sambil memperhatikan sekali lagi wajah pria yang berada di sebelahnya, dia memberikan senyuman kecil sambil meluapkan tangisannya dengan perlahan seolah dia merasakan beban yang sedang dialami oleh CEO tersebut. Ailey menangis dan terus menangis sampai matanya terpejam karena kelelahan.

__ADS_1


***


Sinar matahari menyelinap ke celah gorden. Suara bisingnya kendaraan mulai terdengar menembus tembok rumah. Di atas kasur sederhana, dua anak manusia tidur bersebelahan dengan nyenyaknya.


Kevin yang merasa terganggu dengan cahaya matahari pagi mulai terbangun dan membuka mata. Tepat di sebelahnya, dia melihat wajah Ailey yang sedang tertidur dengan polosnya. Selama beberapa detik dia terhipnotis oleh pemandangan tersebut hingga akhirnya tersadar dari lamunannya.


“Kenapa aku ada di kontrakan Ailey?” Tanyanya pada diri sendiri sambil melompat dari kasur karena kaget.


“Tunggu sebentar! Semalam habis pulang dari minum, aku tidak begitu ingat apa yang terjadi setelahnya. Jangan bilang aku ke sini larut malam dalam keadaan mabuk! Ya, ampun Kevin!” Teriaknya panik hingga membangunkan Ailey.


“Oh, sudah bangun?” Tanya Ailey sambil mengucek matanya yang masih belum sepenuhnya terbuka.


“A… Ailey. Katakan apa yang aku lakukan padamu semalam!” Ujar Kevin terbata-bata sambil bersujud di lantai.


“Ha?” Ailey masih setengah sadar untuk memahami perkataan CEO itu.


“Kita berdua satu ranjang, apakah aku…?” Katanya terpenggal.


“Ooohhh! Kamu semalam datang ke sini tiba-tiba lalu tertidur di depan pintu. Setelah itu aku membaringkanmu di kasur dan aku pun tertidur.” Jawab Ailey menyadari pertanyaan Kevin.


“Sungguh aku tidak melakukan apa pun terhadapmu? At least, apakah aku mengatakan sesuatu hal yang bodoh?” Tanyanya kembali.


Ailey mengingat pernyataan cinta pria itu semalam yang tengah mabuk berat. Tentu jika memikirkannya lagi, Ailey bisa salah tingkah jadi dia tidak berniat untuk memberitahukannya.


“Tidak. Kamu tidak mengatakan apa pun.” Kata Ailey sambil menguap.


“Syukurlah, aku kira aku mengulangi kejadian buruk yang terjadi padamu saat remaja dulu. Ah, maaf aku tidak bermaksud mengungkitnya.”


Ailey menatap Kevin yang merasa tidak enak padanya. Bagaimana mungkin dia tidak jatuh hati pada pria sebaik ini. Lalu, Ailey melangkah maju dan menyusulnya berlutut di lantai. Dengan lembut, dia memeluk Kevin erat hingga membuat pria itu tersentak.


“Aku yang harusnya minta maaf. Maaf, karena aku tidak mengerti apa yang kamu alami dan membiarkanmu melalui semuanya seorang diri.” Ujarnya penuh kasih.

__ADS_1


Sikap Ailey membuat hati Kevin tersentuh. Ia membalas pelukannya dengan melingkarkan tangannya di pinggang Ailey. Kedua insan itu terlihat tidak ingin melepaskan tangannya. Mereka berdua tampak menikmati momen rekonsiliasi yang tak terduga di pagi hari yang cerah tersebut. Ditemani suara klakson kendaraan yang mulai bersahutan, mereka berdua tertawa kecil merasakan kehangatan yang diberikan satu sama lain.


__ADS_2