Engelskraft: Cinta Malaikat Terbuang

Engelskraft: Cinta Malaikat Terbuang
Pendirian Teguh


__ADS_3

Sebuah mangkok bakso dengan wangi yang menggugah selera bertengger di atas meja kantin. Siti yang sudah tidak sabar untuk melahapnya segera mengambil sendok dan garpu lalu mengaduknya dengan sambal pedas. Kepulan hawa panas membumbung dari setiap adukan kuah bakso.


“Temannya baru saja kembali bekerja di mall ini, kamu malah asyik makan bakso.” Kata Ailey di depan Siti dengan kecewa.


“Maaf, aku lapar sekali belum sarapan dari pagi.” Balasnya sambil meniup kuah bakso.


“Tampaknya semua berjalan lancar, ya di toko Abram Elektronik.” Ujar Ailey.


“Iya, aku bersyukur, sih. Penjualannya makin lama makin membaik semenjak toko online dibuka. Banyak sekali pengunjung yang memesan barang lalu mengambilnya di cabang kita.” Kata Siti antusias sambil menyeruput kuah yang masih panas.


“Baguslah kalau begitu. Hmm… Pak Kevin apa kabarnya?” Tanya Ailey ragu-ragu.


“Nice timing!” Katanya sambil meletakkan sendok, “Gosip ter-hot abad ini! Kabarnya pertunangan Pak Kevin dengan Bu Lina dibatalkan, lho.” Lanjut Siti bersemangat.


“Oh…oh, ya?” Ailey pura-pura tidak tahu.


“Hmmm. Gelagatmu mencurigakan. Kamu yakin belum mengetahuinya?” Tanya Siti menyudutkan.


“Anu… Aku… Aku baru tahu.”


Siti melemparkan pandangan curiga pada temannya itu. Bakso yang tadi menyulut nafsu makannya kini terbengkalai di atas meja karena ada hal yang lebih menarik di depannya.


“Ailey, jangan bilang aku temanmu jika aku tidak bisa membedakan sikapmu yang tengah menyembunyikan sesuatu! Kamu yakin belum tahu?” Nadanya semakin memojokkan.


Ailey hanya diam tanpa menjawab apa-apa. Dia mengalihkan matanya ke langit-langit merasa terancam dengan pertanyaan tersebut.


“Benar, ‘kan kamu sudah tahu! Bagaimana kamu bisa tahu selama kamu di kampung?”


“Hmm… Jangan bilang siapa-siapa, ya! Pak Kevin sebenarnya pernah berkunjung ke rumahku. Dia berkata akan membatalkan pertunangannya.” Bisik Ailey.


“Wah, sudah gila!!! Sepertinya cintamu benar-benar bersambut.” Goda Siti.


“Aku tidak mau berkomentar apa-apa dulu. Di lain sisi, aku juga tidak enak karena menjadi penyebab batalnya pertunangan mereka.”

__ADS_1


“Tenang, tidak ada istilah pelakor bila janur kuning belum berkembang! Aku mendukungmu seratus persen!” Kata Siti penuh semangat.


Perkataan tersebut tidak memberikan ketenangan penuh pada Ailey. Dengan batalnya pertunangan mereka, besar kemungkinan Lina akan semakin benci padanya. Dengan kata lain, semakin sulit baginya untuk berdamai dengan situasi di Abram.


***


Jam sudah menunjukkan pukul 6 malam. Ailey yang telah menyelesaikan shift-nya sedang bersiap-siap untuk pulang. Ia menggerai kembali rambutnya setelah seharian mengikatnya dengan sesak.


“Hei, CEO yang menjemputmu sudah datang!” Sahut Ferdi dari balik meja bar.


Terlihat Kevin memasuki kafe dengan stelan kemeja yang rapi, berpadu dengan sepatu pantofel berwarna cokelat tua yang mengkilap. Dia melayangkan tatapannya ke arah Ailey yang sedang duduk menunggu di depan meja bar.


“Sudah selesai kerjanya? Bagaimana hari pertamamu?” Sapa Kevin.


“Semuanya lancar. Mereka memperlakukanku dengan baik di sini.” Jawab Ailey.


“Syukurlah. Aku tidak perlu khawatir kalau kamu bekerja di bawah pimpinan Milo. Dia ‘kan sangat memperhatikanmu.”


“Sepertinya ada yang cemburu?” Goda Ailey.


Dari kejauhan, tampak Milo sedang menghampiri mereka berdua sambil membawa kantong ramah lingkungan di tangannya. Pandangannya terarah pada Ailey sambil sesekali melihat Kevin yang tampak bahagia.


“Sebelum kalian pulang, bawalah roti ini.” Katanya sambil mengulurkan kantong tersebut.


“Tidak perlu repot-repot. Bukannya ini roti kafemu?” Kata Ailey.


“Iya, tidak perlu sungkan. Makanlah selama di perjalanan.”


“Kata-katamu seperti sedang mengantar kepergian kami ke tempat yang jauh. Pria aneh.” Sindir Kevin.


“Mau atau tidak?” Milo kembali menawarkan.


“Baiklah kalau kamu memaksa. Rejeki tidak boleh ditolak!” Kata Kevin tanpa basa-basi sambil mengambil kantong berisi roti tersebut.

__ADS_1


“Kevin, sopan sedikit sebagai CEO!” Protes Ailey tidak enak.


Sambil meninggalkan kafe Engelskraft, dua orang yang sedang dimabuk cinta itu memberikan pemandangan yang menyakitkan bagi Milo. Malaikat tersebut hanya bisa menatap mereka bedua dari belakang dan membayangkan bahwa dirinya lah yang berada di samping Ailey. Tetapi dia tidak ingin mengacaukan kehidupan Ailey untuk yang kedua kalinya. Dia tidak mau merenggut kebahagiaan dari wanita pujaannya seperti yang pernah dilakukannya dulu.


Segera setelah Ailey dan Kevin menghilang dari pandangannya, Lina menampilkan dirinya dari balik tembok. Matanya tertuju pada Milo yang masih berdiri terpaku dengan tatapan kosong. Seolah sudah mengamatinya sejak lama, dia mendekati pria tersebut.


“Sungguh bodoh. Sudah tahu kamu menyukai wanita itu, namun kamu memilih menyerah begitu saja.” Kata Lina memecah lamunan sang malaikat.


“Sedang apa kamu di sini?” Tanya Milo penasaran.


“Aku hanya penasaran dan ingin melihat-lihat saja. Sepertinya, kita berada dalam situasi yang sama.” Lanjut Lina.


“Maksudmu?”


“Kita memiliki kepentingan yang sama untuk mendapatkan hati orang yang kita sukai. Aku yakin, bila kita bekerja sama, kamu bisa mendapatkan Ailey sehingga aku bisa merebut Kevin. Cukup fair bukan?” Ujarnya mengintimidasi.


Milo terhenyak mendengar tawaran tersebut. Dirinya terdiam sambil memikirkan kemungkinan yang bisa terjadi apabila dia menerima ajakan wanita itu. Sebuah tawaran yang menarik hingga membuat kedagingannya bergejolak.


“Bagaimana? Kita akan menjadi partner yang cocok untuk kebutuhan ini.”


Jantung sang malikat berdetak dengan kencang. Jika tawaran itu tidak diambilnya, mungkin tidak akan ada kesempatan lain untuk merebut Ailey dari Kevin. Peluh keringat mengucur dari dahinya seakan ia membutuhkan energi yang besar hanya untuk memikirkan hal tersebut.


“Pikirkan saja dulu. Aku akan senang membantu.” Sambung Lina sambil melangkah pergi.


“Tunggu sebentar!” Kata Milo menghentikan langkah wanita itu.


“Cepat juga. Aku kira kamu masih butuh waktu untuk berpikir.” Ucapnya senang sambil menoleh ke arah Milo.


“Aku… Aku tidak akan menyakiti Ailey lagi. Silahkan lakukan sesukamu, aku tidak akan ikut campur jika kamu ingin merebut Kevin darinya. Tapi jika kamu menyakiti Ailey, aku tidak akan tinggal diam.” Ujarnya tegas.


Lina mengubah raut wajahnya dengan kesal. Baginya, penolakan tersebut telah menyakiti harga dirinya.


“Baiklah, jika kamu tetap ingin menjadi laki-laki yang dikasihani karena lemah dan tak berdaya. Aku tidak sama sepertimu, aku akan memperjuangkan apa yang aku inginkan!” Balasnya penuh pendirian.

__ADS_1


Kelegaan merasuk ke dalam hati Milo. Dia sadar, bila dia tidak menolaknya, banyak kerugian yang akan terjadi. Milo tidak akan bisa kembali menjadi malaikat surga seutuhnya. Namun, yang jauh lebih penting adalah Ailey akan semakin menderita karena tidak dapat menemukan kebahagiaan di hidupnya.


__ADS_2