
Cuaca mendung menyelimuti pagi itu. Deru klakson kendaraan susul-menyusul di tengah kemacetan kota Jakarta. Dengan memegang kemudi, Kevin tampak menahan emosinya. Sebisa mungkin dia tidak ingin menunjukkan wajah kesalnya. Bukan karena macetnya jalanan, tetapi pertengkaran dengan calon tunangannya.
“Kenapa kamu membela wanita itu terus?” Tanya Lina yang sedang duduk di kursi penumpang.
“Bukan membela, tapi apakah menurutmu tidak keterlaluan langsung memecat Ailey begitu saja?” Jawab Kevin.
“Aku bertanggung jawab terhadap operasional perusahaanmu, wajar aku menindak tegas perbuatannya kemarin yang menutup toko lebih cepat! Tidak sesuai SOP!” Tegas perempuan itu.
“Dia ‘kan sudah melewati 3 bulan masa percobaan, setidaknya kamu bisa mengeluarkan surat peringatan terlebih dulu. Kalau begini caranya, reputasi Abram bisa hancur di mata karyawan yang lain.” Jelas Kevin sambil menyetir dengan penuh kehati-hatian.
“Sebenarnya ada apa denganmu? Semenjak wanita itu bekerja di Mall Abram City, kamu berubah. Kamu jadi lembek.” Ujarnya.
Kevin hanya diam mendengar perkataan Lina. Dia pun menyadari perubahan yang terjadi pada dirinya bila menyangkut Ailey. Tetapi ia tidak ingin mengakuinya, harga dirinya sebagai laki-laki merasa terusik karena dibilang lembek.
“Berikan Ailey surat peringatan, jika ia melakukan kesalahan lagi, kau boleh memecatnya. Ini perintah dari CEO Abram!”
Lina tersenyum sinis karena Kevin masih berusaha melindungi anak buahnya itu. Dia membuang muka menahan amarah yang berkecamuk di dadanya. Perintah CEO adalah mutlak, wanita itu tidak berdaya dengan kekuatan jabatan calon tunangannya itu. Sambil menahan air mata untuk tidak mengalir ke pipinya, Lina menghela napas panjang menenangkan diri.
“Ini obat apa?” Tanya Lina sambil memungut satu butir obat di sela jok kursi penumpang.
“Obat?” Kata Kevin sambil menoleh sebentar untuk memastikan obat yang dipegang oleh Lina lalu kembali memusatkan perhatiannya ke jalan yang ada di depan.
“Hmmm, aku tidak tahu. Mungkin obat temanku yang sempat nebeng.” Sanggah Kevin tidak tahu-menahu.
Merasa curiga, Lina memasukkan obat tersebut ke dalam saku blazernya. Dia merasa ada sesuatu yang mengganjal dari obat tersebut karena jarang sekali terlihat di apotek-apotek pada umumnya. Lina mengambil ponsel dari tasnya dan menghubungi salah satu temannya yang bekerja di laboratorium. Sepertinya dia ingin memastikan sesuatu mengenai obat tersebut.
***
Suasana di toko Abram Elektronik terasa mencekam. Ailey dan Siti berdiri menghadap meja kasir. Di sana terlihat Lanny sedang duduk dengan muka cemberut. Keheningan merebak di toko itu hingga pengunjung tidak betah berlama-lama di sana.
__ADS_1
“Maaf.” Kata Lanny dengan suara lirih.
“Apa kubilang, yang kami takutkan beneran terjadi ‘kan,” ujar Siti. “Seharusnya kami tidak mempercayaimu. Bahkan adik kandung bos kami sendiri tidak bisa meluluhkan hati kakaknya.” Lanjut Siti.
“Iya, maaf. Aku kira dengan hasil penjualan yang bagus, kalian masih bisa diberikan toleransi untuk tutup toko lebih cepat.” Lanjut Lanny menyesal.
“Padahal kami sudah berusaha sekuat mungkin untuk meningkatkan performa toko. Kalau sampai dipecat gara-gara kasus kemarin, aku tidak akan memaafkanmu meski kamu adik atasanku sendiri.” Siti terdengar kesal.
“Sudahlah, nasi sudah menjadi bubur. Kita juga salah karena menyetujui ajakannya, bukan? Mau bagaimana lagi.” Terang Ailey menengahi.
“Ai, kamu terlalu baik. Huh!” Protes Siti melihat kelakukan temannya itu yang sangat polos.
“Maafkan aku sekali lagi. Aku akan mencoba memohon kepada kakakku untuk tidak memecat kalian. Jadi, maafkan aku!” Lanny merajuk sambil menampilkan mata besarnya yang memelas.
“Duh, kenapa dia berbeda sekali dengan Bu Lina, sih? Kalau seperti ini sikapnya bagaimana kita tidak bisa memaafkanmu.” Gumam Siti sambil menggelengkan kepalanya.
“Kami maafkan, kok. Kami juga sudah siap atas konsekuensi yang harus kami terima. Sebaiknya, kamu pikirkan hubunganmu dengan Bu Lina, tampaknya gara-gara kasus kemarin, kalian berdua jadi bersitegang.” Kata Ailey khawatir.
“Iya, saking emosinya aku tidak bisa menjaga perkataanku. Sepertinya aku kelewatan.” Ujar Lanny menyesal.
“Tidak berlebihan, kok. Memang harus ada yang berani melawan Bu Lina.” Sanggah Siti bersemangat. Lalu Ailey menyenggol siku Siti memberikan tanda untuk tidak memanas-manasi perempuan muda itu.
“Kamu tidak apa-apa?” Tanya Ailey.
Lanny menghela napas panjang, sambil menatap ke bawah, dia menceritakan kisah kakaknya, “Dari kecil, Lina selalu diberikan tanggung jawab yang besar sebab dia merupakan anak sulung dari keluarga Marliani. Semenjak kepergian ayah, ibuku semakin keras padanya untuk mempersiapkan dirinya menjadi penerus perusahaan minyak keluarga. Pada akhirnya, nama Marliani menjadi beban yang harus dipikulnya hingga secara tidak sadar membuatnya berambisi untuk sukses agar tidak mengecewakan keluarga, terutama ibu.” Jelasnya.
Ailey dan Siti saling bertatapan karena tidak percaya bahwa Lanny yang baru dikenalnya belum lama sudah bisa menceritakan hal yang sangat personal seperti ini. Mereka berdua menatap Lanny yang duduk dengan wajah sedih. Merasa bersimpati, Ailey menggenggam tangan Lanny yang berada di atas pangkuannya.
“Tapi jika beban tersebut harus membuat kakakku menjadi orang yang tidak punya perasaan, aku tidak menginginkannya. Aku rindu dengan kakakku yang mampu tertawa lepas dan penuh kebaikan, seperti saat ayah masih ada. Aku rindu Lina kembali menjadi dirinya sendiri.” Kata gadis itu terbata-bata dengan air mata yang berlinang di pipinya.
__ADS_1
“Maaf, jika kami pernah menjelek-jelekkan kakakmu. Kami tahu, Bu Lina pasti aslinya baik hati seperti kamu. Mudah-mudahan harapanmu itu terkabul, ya. Aku juga tak sabar melihat Bu Lina yang baik seperti katamu itu.” Ailey menyemangati.
Lanny terisak-isak sambil memeluk Ailey yang berdiri di depannya. Sepertinya sudah lama ia memendamnya sendiri dan terpaksa menerima perubahan yang terjadi pada Lina. Hal itu membuat hatinya hancur dan tersiksa karena kakaknya seperti robot keluarga Marliani yang menuntutnya untuk selalu sempurna.
“Wah, sepertinya aku datang di saat yang tidak tepat, ya.” Ujar Milo yang sedang berkunjung.
“Oh, Pak CEO Engelskraft! Maaf atas pemandangan yang tidak sewajarnya ini. Ada yang bisa dibantu?” Tanya Siti kaget.
“Aku ingin bertanya tentang salah satu produk kalian. Ailey, bisa bantu aku?” Kata Milo.
Ailey menepuk bahu Lanny dan menyerahkannya kepada Siti. Sebagai SPG profesional, dia akan siap melayani pengunjung yang datang meskipun orang tersebut adalah temannya sendiri.
“Ada yang bisa saya bantu?” Tanya Ailey sopan.
“Tidak usah kaku begitu. Sebenarnya aku ke sini ingin memberitahumu sesuatu.” Kata Milo berhati-hati.
“Apa itu?”
“Aku ingin memperingatkanmu bahwa hidupmu sedang tidak baik-baik saja. Ini berhubungan dengan rahasia terbesarmu.” Jelas Milo berbisik.
“Rahasia apa maksudmu?” Ailey bertanya khawatir.
“Aku juga tidak begitu jelas, tapi abstrak yang aku dapat adalah kamu harus berhati-hati. Tapi tetap tenang, karena hanya kamu yang bisa mengontrol hidupmu sendiri bukan orang lain.”
“Kamu kenapa, sih? Aku tidak mengerti.”
“Ailey, aku akan melindungimu apa pun itu yang terjadi.” Kata Milo penuh nada serius.
Tatapan mata Milo membuat Ailey tidak nyaman. Dia tahu bahwa malaikat itu sedang tidak bercanda. Jika rahasia yang dimaksud adalah tentang penyakitnya, Ailey pasti akan sangat terpukul. Rahasia yang dijaga bertahun-tahun dengan sempurna tampaknya tidak akan bertahan lama.
__ADS_1