Engelskraft: Cinta Malaikat Terbuang

Engelskraft: Cinta Malaikat Terbuang
Bintang Tak Bercahaya


__ADS_3

Di salah satu sudut Mall Abram City, Ailey duduk termenung menatap pohon-pohon rindang dengan gundah gulana. Terbayang di pikirannya wajah Milo yang mendekatinya, sungguh berparas tampan rupawan. Hanya beberapa jengkal lagi, bibirnya akan bertemu dengan bibir malaikat itu.


Wanita itu memegang kedua pipinya. Dia merasakan panas yang menyebar ke seluruh wajahnya. Jantungnya masih berdetak dengan cepat. Mengapa rasanya begitu hangat dan nyaman? Apa karena Milo adalah seorang malaikat sehingga Ailey tidak merasakan ancaman? Padahal dia memiliki trauma terhadap laki-laki karena kasus pemerkosaan yang merenggut keperawanannya dulu.


Kevin yang tidak sengaja lewat melihat karyawannya tersebut segera menghampirinya. Tidak ingin mengagetkan Ailey, dia duduk di sebelahnya dengan penuh hati-hati.


“Belum pulang? Sebentar lagi mall tutup, lho.” Sapa Kevin dengan sopan.


“Eh, Bapak! Sebentar lagi saya pulang, kok. Pak Kevin sendiri belum pulang?” Ailey bertanya balik.


“Sebenarnya saya sudah ingin pulang, tetapi tidak sengaja melihatmu sendirian termenung di sini. Apa yang sedang kamu pikirkan?”


“Tidak ada, Pak. Saya hanya menikmati angin malam saja. Hehehe.” Jawab Ailey sekenanya.


Kevin yang menyadari rona muka Ailey agak sedikit berbeda, secara refleks menyentuh pipi wanita itu dengan telunjuknya. Sontak hal itu membuat Ailey kaget dan menepis tangan CEO tersebut dengan kencang.


“Apa yang Bapak lakukan?” Tanya Ailey panik. Terbayang kejadian buruk di masa lalu yang membuatnya trauma dengan laki-laki.


“Oh, maaf saya tidak sopan. Kamu sedang demam? Mukamu merah.” Kata Kevin sambil memegang tangannya sendiri yang dihempas dengan kasar oleh Ailey.


“Apa yang Bapak inginkan dariku?” Ailey tidak mengindahkan pertanyaan Kevin barusan. Rasa tidak aman menyelimuti dirinya.


“Hei, kamu tidak apa-apa?” Kevin kembali bertanya karena merasa ada yang tidak beres pada wanita itu.


Ailey melihat Kevin dengan pandangan takut. Di hadapannya, dia tidak lagi melihat seorang CEO melainkan seorang pria normal. Napasnya tersengal-sengal karena emosi yang berkecamuk. Bisa saja kejadian yang menimpanya di masa lalu terjadi lagi.


“Ailey.” Panggil Kevin.


“Jangan mendekat!” Teriak Ailey ketakutan, air mata mulai mengalir di pipinya.

__ADS_1


CEO tersebut kebingungan dengan perilaku Ailey. Dia tidak tahu apa yang tengah terjadi sebenarnya hingga membuat wanita itu dilanda kepanikan yang luar biasa.


“Tenang, aku tidak akan berbuat macam-macam. Aku hanya mengkhawatirkan dirimu.” Jelas Kevin menenangkan. “Ok, aku akan menjaga jarak minimal 1 meter!” Lanjutnya sambil menggeser badannya menjauhi Ailey.


Ailey melihat CEO-nya tersebut menjaga jarak dengan wajah kebingungan. Namun, air mata sudah terlanjur mengalir dan tidak dapat dibendung. Dia tidak mengerti, mengapa dia merasa terancam dengan Kevin, sementara dia merasa nyaman dengan Milo meskipun berdekatan.


“Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi padamu. Tapi kamu harus tetap semangat karena besok masih harus kerja. Sayang sekali aku menggajimu jika performamu tidak maksimal.” Ujar Kevin mengalihkan suasana.


“Ba…Bapak bisa saja. Iya, saya akan tetap semangat!” Kata Ailey dengan gugup.


“Tunggu sebentar!” Kevin mengeluarkan ponsel dari sakunya dan menghubungi salah satu petugas operasional mall. “Lakukan sebentar saja, ya. Terima kasih.” Katanya sambil menutup ponsel.


Kevin berdiri dan menjejakkan kakinya dengan mantap di lantai. Sambil menatap Ailey dengan lembut, ia mengajak wanita itu untuk mengikutinya.


“Ayo, ikut aku!” Ajak pria itu sambil melangkahkan kakinya ke arah eskalator. Ailey yang tidak tahu apa-apa hanya bisa mengikutinya dari belakang tanpa bicara sepatah kata pun.


“Pak, kita mau kemana? Saya pulang saja, ya.” Kata Ailey gemetar karena takut akan perbuatan mesum yang mungkin dilancarkan oleh Kevin.


“Sudah sampai, kok.” Langkah Kevin terhenti di depan sebuah pintu yang terhubung dengan ballroom mall tersebut.


Pria itu mendorong pintu ballroom dengan perlahan dan cahaya terang menyeruak ke luar. Pikiran curiga Ailey segera berganti dengan decak kagum melihat apa yang ada di depannya.


“Silahkan masuk!” Ujar Kevin dengan senyuman manisnya sambil mempersilahkan karyawannya tersebut memasuki ruangan megah yang disiapkannya.


Ballroom tersebut terisi dengan berbagai macam karya seni yang memukau, dari patung pahatan dengan detail yang sangat cermat hingga koleksi lukisan seniman ternama mancanegara. Menariknya, seluruh karya seni tersebut bertemakan malaikat dengan nuansa putih bersih yang memanjakan mata.


“Indah sekali! Aku baru tahu ada ruangan seperti ini.” Seru Ailey terpukau.


“Ruangan ini memang diperuntukkan sebagai ruang serba guna. Biasanya pameran bergengsi diselenggarakan di sini, termasuk pameran karya seni berjudul Angel in Us yang sedang kamu lihat ini.” Jelas Kevin, “Sesungguhnya pameran ini baru akan dibuka besok, tetapi aku memberikan kesempatan khusus untukmu malam ini sebagai pengunjung pertama.” Lanjut Kevin dengan bangga.

__ADS_1


“Wah, apa tidak apa-apa? Sebuah kehormatan bagiku, Pak!” Kata Ailey bersemangat.


“Selama kamu tidak murung lagi, hal yang aku lakukan ini tidak seberapa.” Jawab CEO itu dengan muka malu-malu.


Sambil mengamati setiap sudut ruangan tersebut, sebuah lukisan berukuran besar menarik perhatian Ailey. Lukisan tersebut terpajang hampir di seluruh sisi kanan tembok yang bercat putih hingga tidak menyisakan banyak ruang untuk memasang karya seni lain. Wanita itu mendekati lukisan tersebut dan hanyut terbawa goresan tinta yang ada di sana.


Terpampang seorang malaikat bersayap hitam dengan jubah putih yang berlumuran darah. Sebuah pedang terhunus di dadanya hingga menembus ke belakang punggungnya. Tatapan matanya sendu menghadap ke atas seolah meminta belas kasihan kepada seseorang di sana.


“Kamu menyukai lukisan ini?” Tanya Kevin.


“Entah. Aku merasakan suasana kesedihan dalam lukisan ini.” Jawab Ailey tanpa mengedipkan matanya.


“Akhir dari Sang Pemberontak, begitu judul lukisannya.” Gumam Kevin.


“Apa maksudnya pemberontak?” Ailey penasaran.


“Kamu lihat, biasanya sayap berwarna hitam itu merepresentasikan sesuatu hal yang jahat dan sering sekali dihubung-hubungkan pada malaikat yang memberontak di surga dan dibuang ke bumi.” Jelas Kevin.


“Ah, aku pernah mendengar cerita seperti itu. Tetapi jika melihat lukisan ini, aku merasa bahwa malaikat itu merasakan penderitaan yang besar. Bukan karena pedang yang menghunusnya, tapi karena penyesalan yang begitu mendalam. Dia seperti bintang yang telah kehilangan cahayanya.”


Kevin terheran-heran dengan interpretasi karyawannya tersebut. Dia memperhatikan lukisan itu sekali lagi, namun tetap tidak mengerti yang apa dimaksud oleh Ailey.


“Jika memang itu interpretasimu, maka biarkan saja. Setiap orang memiliki pemahaman yang berbeda-beda, bukan? Karya seni memang bukan ilmu pasti, tapi tergantung pada apa yang dirasakan orang yang melihatnya.” Sambung Kevin.


Kevin memasukkan tangannya ke dalam saku celana dan meraih plastik kecil yang membungkus sebutir obat yang ditemukan oleh Lina. Dia ingin menanyakan apakah obat itu milik Ailey. Namun, karena tidak ingin merusak suasana yang sudah terbangun malam itu, ia mengurungkan niatnya. Di lain sisi, pria tersebut juga belum siap untuk mengetahui kebenarannya.


Malam itu berjalan semakin cepat. Sambil menikmati karya seni dengan visual yang memukau, Ailey tersentuh dengan perbuatan bosnya tersebut. Dia merasakan sesuatu yang spesial tumbuh di dalam hatinya.


Lampu-lampu di dalam mall sudah tidak menyala lagi, kecuali lampu ballroom yang memang sudah diminta Kevin untuk tidak dimatikan sebelum mereka berdua pulang. Sambil memperhatikan Ailey yang masih memandangi lukisan tersebut tanpa bergeming sedikit pun, Kevin seolah terhipnotis oleh cantiknya paras wanita itu. Di tengah pameran seni bertemakan malaikat, mereka berdua tampak seperti Adam dan Hawa yang sedang menikmati suasana surga di tengah nyanyian para Serafim.

__ADS_1


__ADS_2