
Dengan napas terengah-engah, Ailey menghampiri Kevin yang sedang duduk menunduk di depan kamar rawat inap rumah sakit. Terlihat Lanny menemani sambil berdiri dan menyandarkan punggungnya di tembok. Ailey memperlambat langkahnya sembari memperhatikan Kevin yang dipenuhi aura kesedihan.
“Ailey.” Sapa Lanny.
“Apa yang terjadi?” Tanya Ailey.
“Tadi pagi om pingsan dan tidak sadarkan diri. Kevin sudah di sini sejak jam 9 tadi pagi dan belum makan sama sekali.” Jelasnya.
“Tante dimana?” Ailey kembali bertanya.
“Tante masih di dalam menemani om.” Kata Lanny sambil menunjuk ke arah ruangan.
Ailey mengintip dari celah kaca yang ada di pintu. Ia melihat ibu dari Kevin sedang menggenggam tangan suaminya dengan erat. Sesekali bahunya naik turun seperti seseorang yang sedang menangis sesenggukan. Ailey lalu mengalihkan pandangannya pada Kevin yang sedang duduk di luar ruangan. Tatapan matanya kosong menatap ke lantai. Dengan lembut, Ailey menepuk pundak Kevin dan turut duduk di sebelahnya.
“Bagaimana kondisi om?” Tanya Ailey dengan suara pelan.
“Ayah masih belum sadarkan diri. Ibu daritadi memanggilnya namun belum ada respon.” Jawab Kevin sambil menitikkan air mata.
Ailey menyandarkan kepala Kevin di bahunya dan mengelus rambutnya seperti sedang memanjakan anak kecil. Dia kehilangan kata-kata dan tak mampu untuk berbuat apa-apa. Padahal tujuannya datang ke rumah sakit karena merasa bertanggung jawab atas peristiwa yang terjadi. Tapi apa yang bisa diperbuat jika ayahnya masih tertidur tak bergeming.
“Seharusnya aku tidak pergi dari rumah. Aku bahkan tidak ada di dekatnya saat kejadian itu terjadi.” Gumam Kevin dengan suara parau.
“Kita doakan yang terbaik, ya. Maaf, aku tidak bisa membantu banyak.” Ucap Ailey penuh penyesalan.
“It’s okay. Kehadiranmu di sini sudah cukup.”
Dari kejauhan, Lina melihat dua insan yang tak terpisahkan itu. Lagi-lagi dia merasakan kekalahan yang tak terelakkan. Keinginan untuk mengkonfrontasi Ailey di depan Kevin masih terbesit di benaknya. Namun, entah mengapa dia mengurungkan niatnya tersebut.
Lanny yang menyadari kakaknya memperhatikan dari ujung lorong rumah sakit segera berjalan menghampiri. Langkah kakinya dibuat sehalus mungkin agar tidak mengganggu Kevin dan Ailey. Selain itu, dia juga tidak ingin menambah runyam masalah jika mereka tahu Lina ada di sana.
***
__ADS_1
Di taman doa yang berada di rumah sakit, Marliani bersaudara tersebut duduk bersebelahan sambil menikmati daun-daun yang berguguran dari atas pohon. Keduanya duduk dengan tenang menghirup sejuknya udara yang melewati pepohonan.
“Kenapa kamu membawaku ke sini?” Tanya Lina.
“Kamu pasti tahu alasannya. Aku hanya ingin menghindari keributan di rumah sakit yang bisa kamu timbulkan, Kak.” Jawab Lanny ceplas-ceplos.
“Hahaha. Sejahat itukah aku?” Timpal sang kakak.
“Tidak. Kamu tidak jahat, hanya kurang bisa memahami keadaan saja. Hehehe.” Balas Lanny cengengesan.
Semilir angin menembus pori-pori. Kedua bersaudara itu memejamkan matanya bersama dan merasakan kesejukan yang dihasilkan dari pohon-pohon rindang. Meskipun sinar matahari begitu terik, namun dedaunan yang rimbun menahannya untuk tidak menerobos.
“Saat masih kecil dulu, kita berdua sering sekali menikmati angin sepoi-sepoi seperti ini bersama-sama. Masa-masa tenang tanpa ada beban.” Ucap Lina tiba-tiba.
“Iya. Aku rindu masa-masa itu, Kak.”
“Aku terlalu sibuk memenuhi standar orang tuaku hingga lupa bahwa begitu banyak hal yang dapat ditawarkan oleh dunia ini. Contohnya keindahan taman ini, mungkin aku tidak akan pernah menyadarinya bila kamu tidak ada bersamaku.” Sambungnya.
Lanny menoleh dan menatap paras cantik kakaknya yang masih memejamkan mata indahnya. Dia melihat wajah Lina kembali seperti bertahun-tahun silam, penuh ketulusan dan kepolosan. Saat itu, dia merasakan kerinduan yang sangat besar dari diri kakaknya terhadap kebebasan.
“Kakak…” Kata Lanny tersentuh.
“Awalnya memang hanya sekedar memenuhi ambisi keluarga. Tapi lama-kelamaan, aku benar-benar jatuh cinta pada CEO tersebut. Kevin adalah cinta pertamaku.” Lanjut Lina.
Perasaan Lanny tergugah mendengar hal tersebut keluar dari mulut kakaknya. Sudah lama sekali ia tidak mendengar kata-kata yang begitu tulus dari Lina.
“Mungkin sudah saatnya aku menyerah. Sebanyak apa pun aku berusaha memisahkan mereka, justru cinta mereka semakin kuat. Kisah asmaraku begitu menyedihkan, ya.” Ucapnya.
“Terkadang, melepaskan adalah bentuk dari ketulusan cinta itu sendiri. Di saat kita bisa melepaskan berarti kita suduh cukup dewasa untuk membuka lembaran baru dan menemukan kebahagiaan lain yang lebih baik. Hal itu sama sekali tidak menyedihkan, kok.” Balas Lanny.
Hati Lina tergerak mendengar perkataan adiknya tersebut. Dia membuka matanya dan melihat Lanny sedang menangis berlinang air mata.
__ADS_1
“Kamu kenapa menangis?” Tanya Lina.
“Tidak apa. Sudah sekian lama, aku tidak mendengar kejujuran dan ketulusan darimu, Kak. Aku senang kita bisa berbicara heart to heart seperti ini lagi.” Kata Lanny terisak.
“Kamu seperti anak kecil saja.” Timpalnya.
“Kak, mari wujudkan impian kamu! Belum terlambat untuk memulai fashion brand yang kamu idam-idamkan.” Kata adiknya menyemangati.
“Tidak semudah itu, bagaimana dengan perusahaan orang tua kita?”
“Aku akan membantumu menjalankan perusahaan itu.”
Lina tersentak, “Jangan bodoh! Kamu tidak pernah berkeinginan untuk meneruskan perusahaan Marliani. Jangan korbankan mimpimu! Aku yang akan menanggungnya.”
Lanny menggelengkan kepala, “Aku tidak pernah mengorbankan mimpiku. Makanya, kamu juga jangan mengorbankan mimpimu! Bukan tidak mungkin jika kita menjalani dua bisnis bersamaan. Aku akan ikut membantumu menjalankan perusahaan untuk meraih mimpi kita berdua.”
“Bagaimana caranya?” Tanya Lina meragukan.
Lanny berpikir dengan keras sambil menyilangkan kedua tangannya. “Aku tidak tahu. Hehehe.”
“Kebiasaan, deh. Tapi enak, ya jadi kamu bisa melihat segala sesuatu dari sisi positifnya. Aku iri.” Timpal Lina.
“Aku juga iri padamu karena kamu wanita hebat yang tidak lari dari tanggung jawab. Kakakku keren!” Puji Lanny.
“Kamu bisa saja. Baiklah, jika itu memang keinginanmu mari kita penuhi keinginan keluarga kita sambil merintis mimpi kita.” Kata Lina bersemangat.
“Begitu, dong. Jika fashion brand-mu berhasil berdiri, ijinkan aku untuk menjadi fotografer katalog-katalogmu, ya. Hehehe.”
“Oh, jadi ini tujuanmu yang sebenarnya, menunggangi bisnis kakakmu sendiri.” Kata Lina dengan ketus.
“Ayolah! ‘Kan aku sudah bersedia membantumu di perusahaan minyak keluarga. Tak ada salahnya membalas budi sedikit.” Balas Lanny.
__ADS_1
“Ya, ya, ya! Awas saja jika kamu melarikan diri dari ucapanmu hari ini!”
Mereka berdua tertawa terbahak-bahak membahas rencana-rencana masa depan masing-masing. Sungguh pemandangan yang menyenangkan apabila melihat kakak dan adik tersebut saling bercengkerama selayaknya keluarga. Sebuah obrolan yang jujur tanpa harus dibumbui oleh tekanan dari orang-orang sekitar.