
Keesokan malamnya, Ailey merasa tidak tenang. Setelah berdoa dengan sungguh untuk ayah Kevin dan hubungan keluarga Abram, ada sesuatu yang mengganjal hatinya. Dia hanya berpindah-pindah posisi tidur sambil memejamkan mata, berusaha untuk menemukan kenyamanan. Ada sesuatu yang meresahkan dirinya, entah apa itu.
Berkali-kali ia memejamkan mata dan berhitung untuk membuatnya terlelap. Tapi kedua matanya tetap tidak mau patuh pada rasa ngantuknya. Akhirnya, Ailey menyerah dan membuka mata. Dia menatap langit-langit atap rumah berusaha untuk menenangkan kegelisahannya.
“Pasti Kevin masih di rumah sakit menemani ayahnya.” Gumam Ailey sendiri.
Ia masih menatap langit-langit dengan mata yang terbuka lebar. Perlahan dia menyingkirkan selimut yang ada di badannya.
“Lebih baik aku ke sana menemani Kevin. Percuma juga tidak bisa tidur di sini.” Lanjutnya sambil mengangkat tubuhnya dari kasur dan bersiap.
***
Ailey berjalan menyusuri lorong rumah sakit yang sudah sepi. Dokter dan perawat juga tidak terlihat lalu lalang dan hanya beberapa yang berjaga di nurse station. Malam sudah semakin larut, banyak kamar di sana yang sudah mematikan lampunya karena pasien-pasien sudah tertidur pulas. Namun, kamar tempat ayah Kevin terbaring masih memancarkan terangnya. Dari kejauhan, berkas cahaya menyelinap keluar dari sela pintu.
Langkah kaki Ailey perlahan menuju ke sana dengan sangat hati-hati. Sebisa mungkin ia tidak ingin menimbulkan suara yang dapat mengganggu pasien lain. Dari depan kaca yang terpajang di pintu kamar, dia memperhatikan ke dalam dan melihat Kevin sedang tertidur di sofa. Malam ini adalah giliran Kevin yang menemani sang ayah, sementara ibunya beristirahat di rumah setelah seharian berjaga di rumah sakit kemarin.
Sebelum ia membuka pintu, perhatiannya teralihkan oleh sosok lain yang berdiri di depan ranjang tempat ayah Kevin terbaring. Di sanalah sumber dari cahaya yang memancar dari kamar tersebut. Tampak Milo berdiri di sana dengan sinar putih yang menyelubunginya. Kedua tangannya terulur dengan telapak yang mengarah ke tubuh ayah Kevin.
“Apa yang dilakukannya di sini?” Tanya Ailey dalam hati dan menahan dirinya untuk membuka pintu. Sepertinya ia ingin mengamati dulu dengan seksama.
Dengan mata terpejam, Milo tampak kelelahan dengan bilur keringat yang menetes dari dahinya. Mulutnya komat-kamit seakan sedang membaca sebuah mantra. Ailey yang semakin penasaran berusaha membaca gerak bibirnya.
“Tuan, sesuai perintah-Mu, maka jadilah sembuh dan hilanglah kanker yang ada pada pria tua ini.”
Ailey terperanjat setelah berhasil membaca gerak bibir Milo. Air mata mendadak mengalir dari kedua matanya. Ia tidak percaya bahwa Milo sedang berdoa kepada Tuhan untuk menyembuhkan ayah Kevin.
Ailey yang masih terpesona melihat cahaya yang berpendar di sekeliling tubuh Milo hanya bisa berdiri terpaku. Dia tidak ingin mengganggu doa atau pun ritual yang sedang dikerjakan oleh sang malaikat. Jika cahaya tersebut memang bisa memulihkan keadaan ayah Kevin, maka Ailey tidak akan membiarkan apapun mengganggunya.
Satu jam telah berlalu sejak Ailey datang dan cahaya putih yang berpendar di sekujur tubuh Milo perlahan-lahan memudar. Tepat saat cahaya itu hilang, kegelapan menyelimuti kamar tersebut. Hanya sedikit sinar lampu dari koridor menyelip ke dalam ruangan yang remang. Lalu Milo terjatuh dan tersungkur di lantai dengan keringat membasahi tubuhnya.
“Milo!” Ailey yang menyadari bahwa temannya tersebut sedang tidak baik-baik saja segera menerobos ke dalam.
“Ailey?” Milo kaget melihat wanita itu ada di ruangan yang sama. “Sejak kapan kamu di sini?”
__ADS_1
“Aku tidak ingin mengganggumu. Makanya aku hanya melihat dari luar pintu.” Jawabnya sambil memapah Milo yang tersungkur.
“Kamu benar-benar khawatir terhadap Kevin, ya sampai membuatmu ke sini tengah malam?” Tanya Milo kembali dengan suara ngos-ngosan.
“Kamu tidak apa-apa?” Ailey bertanya cemas.
“Aku tidak apa-apa.” Jawab Milo sambil mencoba berdiri dengan kakinya. Dia sedikit oleng tetapi badannya tetap bisa berdiri dengan tegap.
“Jangan terlalu dipaksakan! Duduk saja dulu.” Kata Ailey.
“Tidak bisa. Sebentar lagi Kevin akan terbangun. Dia tidak boleh melihatku di sini.” Ujar malaikat itu dengan muka yang pucat.
“Tapi mukamu pucat. Badanmu juga basah karena keringat.”
“Terima kasih karena memperhatikanku. Aku harus segera pergi dari sini sebelum Kevin terbangun.” Balasnya.
Milo berjalan terhuyung-huyung menuju pintu. Dengan sisa-sisa tenaganya, ia membuka pintu dan berjalan keluar dengan lemas. Ailey yang khawatir pada temannya itu segera menyusulnya keluar dan memanggilnya dari depan pintu.
“Kamu melakukan sesuatu pada ayah Kevin, ‘kan? Kamu bukan hanya berdoa, tetapi juga melakukan sesuatu untuk kesembuhannya.”
“Milo, terima kasih.” Kata Ailey sambil berlinang air mata.
Milo pun melanjutkan langkahnya dan berjalan pergi meninggalkan Ailey yang berdiri di depan pintu. Entah bagaimana Ailey harus berterima kasih pada malaikat tersebut karena bantuannya yang tidak pernah putus.
“Ailey, ngapain kamu ke sini malam-malam?” Suara Kevin mengagetkan Ailey. Wanita itu segera menyeka air matanya yang berlinang.
“Aku khawatir padamu karena kamu sendirian, makanya aku datang.” Jawab Ailey sebisanya.
“Harusnya kamu membangunkanku. Ayo, masuk!” Ajak Kevin dari ambang pintu.
Ailey membalikkan badannya dan menemukan keajaiban di sana. Dengan penuh haru, dia memanggil CEO Abram tersebut, “Kevin… Itu… Ayahmu.”
Kevin segera menoleh ke ranjang tempat ayahnya terbaring. Ia melihat ayahnya yang sudah tua menggerakkan jarinya. Perlahan pria tua itu membuka mata dan melihat sekeliling sambil berusaha untuk mencerna lokasi tempatnya berada.
__ADS_1
“Ayah! Ya, Tuhan terima kasih!” Teriak Kevin histeris sambil menghampiri ayahnya.
“Kevin. Saya di mana?” Katanya.
“Ayah sedang di rumah sakit. Ayah di sini karena tidak sadarkan diri selama beberapa hari.” Jelasnya sambil menangis.
Kevin memeluk ayahnya. Pemandangan tersebut sungguh indah hingga membuat Ailey terharu. Untuk kesekian kalinya, wanita itu kembali menitikkan air mata. Pelukan ayah dan anak itu sudah cukup menjawab doanya. Dia berjanji pada dirinya sendiri untuk menjaga hubungan tersebut meskipun dia harus meninggalkan Kevin.
“Syukurlah, om sudah bangun. Aku akan panggilkan suster untuk melakukan pengecekan lebih lanjut.” Kata Ailey.
Ayah Kevin melihat ke arah Ailey yang berdiri di depan ambang pintu. Saat mata mereka beradu, Ailey gemetar karena takut kehadirannya akan memperburuk suasana.
“Aku sekalian ijin pamit, ya. Aku panggil suster dulu.” Kata Ailey sambil membalikkan badannya.
“Tunggu sebentar, Ailey!” Sahut sang ayah dengan suaranya yang masih lemah.
Ailey berhenti dan kembali menoleh ke arah ayah dan anak itu. Wajahnya dia tundukkan karena takut bertemu mata dengan ayah Kevin. Dia pasti akan dimaki karena masih belum meninggalkan anaknya.
“Ailey, kemarilah!” Ajak sang ayah.
Lalu Ailey berjalan mendekat dan duduk di sebelah Kevin. Wajahnya kebingungan karena sorot mata sang ayah yang melihatnya begitu lembut.
“Maafkan Ayah karena telah mempersulit hubungan kalian.” Kata ayah pada Kevin.
Dengan gemetar, ayah Kevin meletakkan tangan Kevin ke atas tangan Ailey yang berada di sebelahnya. Dia tersenyum dengan mata berkaca-kaca. Sementara Ailey dan Kevin masih terheran-heran atas sikapnya tersebut.
“Ayah bermimpi ada seekor burung pipit yang membawa seuntai tali merah. Burung itu mengikatkan tali tersebut ke jari manis Kevin. Kemudian, ia terbang membawa sisi tali yang satu lagi dan mengikatkannya di jari manis Ailey. Saat setiap sisi tali terhubung, Ayah melihat kebahagiaan yang tulus dari kalian berdua.” Terangnya.
“Ayah.” Ucap Kevin.
“Seumur hidup saya, saya tidak pernah melihat Kevin sebahagia itu. Meskipun hanya di dalam mimpi, tapi hal itu terasa sangat nyata hingga kebahagiaan juga menjalar ke hati saya.” Katanya dengan penuh lemah lembut.
Ailey dan Kevin bertatapan satu sama lain. Mereka tidak menyangka bahwa hal tersebut dapat diperdengarkan oleh ayah Kevin yang selalu menentang mereka.
__ADS_1
“Ailey, maafkan om karena telah memintamu menjauhi anak saya. Mulai saat ini, hubungan kalian berdua saya beri restu.” Lanjutnya sambil menitikkan air mata.
Perkataan tersebut sontak membuat Ailey dan Kevin menangis bahagia. Mereka berdua langsung memeluk ayah Kevin dan menunjukkan rasa terima kasih yang paling dalam. Suasana hangat merebak ke seisi ruangan. Isak tangis haru terdengar sampai ke koridor hingga membuat suster dan dokter yang berjaga ikut menyaksikan momen indah tersebut.