Engelskraft: Cinta Malaikat Terbuang

Engelskraft: Cinta Malaikat Terbuang
Engelskraft


__ADS_3

Kafe Engelskraft sudah mulai ramai pengunjung padahal jam makan siang belum tiba. Beberapa pengunjung terlihat menunggu namanya dipanggil melalui waiting list yang sudah dicatat rapi oleh pramusaji. Tampaknya perlu reservasi terlebih dulu untuk mendapatkan tempat di kafe itu.


“Ferdi, meja untuk dua orang, ya!” Sahut Mario, salah satu pramusaji yang sedang mencatat nama pengunjung di depan.


“Ok! Kebetulan sudah disiapkan. Silahkan ikuti saya.” Jawab Ferdi sambil mengarahkan pengunjung.


Tidak terbayang apabila jam makan siang tiba, pasti mereka akan semakin sibuk melayani pengunjung Engelskraft yang datang tanpa henti. Meja-meja di kafe tersebut sudah terlihat penuh. Suara riuh terdengar dari segala penjuru, ada yang memanggil pramusaji untuk memesan menu, ada pula profesional muda yang membicarakan potensi kerja sama dengan rekan bisnisnya. Sementara, pengunjung yang belum mendapatkan tempat duduk menunggu di luar dengan rapi.


“Selamat pagi! Untuk berapa orang?” Tanya Mario dengan sopan kepada pengunjung yang baru saja datang.


“Dua orang.” Jawab Lina mewakili Kevin yang berdiri di belakangnya.


“Antrean ke-5 ya, Bu! Atas nama siapa?” Lanjut Mario.


Lina terdiam dengan herannya melihat ramainya kafe tersebut. Padahal belum jam sibuk, tapi mereka sudah mendapat nomor antrean saja.


“Atas nama Kevin Abram.” Jawab Lina sambil mengetes sikap pramusaji tersebut setelah mendengar nama Abram.


“Ok, Kevin Abram. Eh? Abram…?” Mario terhenyak, tampaknya dia menyadari siapa yang datang.


Lina hanya memelototi Mario dengan wajah angkuhnya. Senyum puas terlukis di bibirnya. Tampaknya dia akan mendapatkan meja tanpa harus mengantre. Kevin yang berada di belakangnya menatap Mario dengan tajam, seolah mengatakan bahwa tempat ini adalah miliknya.


“Ma…maaf. Nanti akan saya panggil jika sudah ada yang kosong.” Kata Mario dengan sungkan.


“Oh, tidak apa-apa jika belum ada meja yang tersedia. Tapi kami ingin masuk untuk sekedar melihat-lihat saja.” Kevin menjawab dengan karisma CEO-nya.


Tanpa perlawanan, Mario mempersilahkan mereka berdua masuk. Dia memberi kode kepada Ferdi yang berada tidak jauh darinya bahwa tamu kali ini adalah pemilik dari mall tempat Engelskraft beroperasi. Ferdi segera mendatangi Kevin dan Lina sambil menemani mereka melihat-lihat.


“Kelihatannya bisnis kalian cukup sukses, ya. Apa menu yang paling populer di sini?” Tanya Kevin penasaran.


“Produk best seller kami ada avocado coffee dan cheese cake.” Jawab Ferdi.

__ADS_1


Lina dan Kevin saling bertatapan. Tampaknya dua produk tersebut sudah banyak dimiliki oleh kafe-kafe lain. Apa yang menyebabkannya berbeda sehingga pengunjung ramai di kafe itu? Setidaknya, itulah yang dipikirkan oleh Lina dan Kevin.


“Menunya standar, sih. Apa karena dekorasi gothic ini sehingga ramai didatangi pengunjung?” Tanya Kevin.


Ferdi berpikir keras untuk menjawab pertanyaan tersebut. Jangan sampai dia salah menjawab sehingga menghancurkan reputasi kafe tempatnya bekerja.


“Boleh saya bertemu dengan pemiliknya?” Lanjut Kevin bertanya melihat pramusaji itu kebingungan untuk menjawabnya.


“Oh, Pak Milo tidak datang hari ini. Kebetulan besok dia ada jadwal ke sini, mungkin Anda bisa menemuinya esok hari.” Jawab Ferdi.


Kevin terlihat kecewa mendapati Milo yang tidak bisa dijumpainya. Sebagai seorang pebisnis, dia ingin sekali bertukar pikiran mengenai bisnis Engelskraft dari owner-nya langsung. Bagaimana perencanaan marketingnya, serta manajemen produk yang dijalankan hingga bisa mendatangkan keramaian.


“Vin, kita datang lagi saja besok. Lagipula kamu ada meeting 15 menit lagi.” Kata Lina mengingatkan.


“Baiklah, sampaikan pada bosmu bahwa saya akan kembali besok di waktu yang sama.” Kata Kevin kepada Ferdi.


***


“Belakangan ini kafe tersebut sangat ramai, ya.” Kata Siti mengagetkan.


“Ah, iya benar juga. Waktu pertama aku ke sini, sepertinya belum seramai itu. Ada apa, ya?” Ailey bertanya penasaran.


“Aku malah belum ke sana sama sekali. Mau mengintip sebentar?” Ajak Siti penuh semangat.


“Tapi kita masih bertugas, lho.” Ailey menjawab dengan ragu.


“Tidak apa-apa. Masih ada SPG yang lain, kok. Tidak ada salahnya kita ijin sebentar ke toilet.” Jawab Siti sambil mengedipkan matanya.


Ailey dan Siti segera mengambil langkah seribu untuk menghemat waktu. Dengan penuh semangat, Ailey berharap dapat bertemu dengan Milo lagi. Sepertinya dia sudah mulai betah bekerja di Mall Abram City.


Saat itu keadaan mall sangat ramai karena sudah jam makan siang. Pengunjung dari berbagai kalangan, terutama eksekutif muda banyak terlihat di sana, baik hanya untuk sekedar makan siang ataupun bertemu dengan klien. Kebanyakan dari pengunjung terlihat memadati Engelskraft. Antrean pun mengular hingga ke beberapa blok di sebelahnya.

__ADS_1


“Wah, gila juga, ya kafe ini. Bagaimana kita bisa mengintip ke dalam kalau antreannya saja sudah seperti ini?” Gumam Siti.


“Serahkan padaku.” Kata Ailey mendahului langkah Siti.


Dengan wajah polos dan tidak ada rasa bersalah, Ailey berjalan dengan mantapnya melalui antrean kafe tersebut hingga berada tepat di depan pintu masuk Engelskraft. Dia mengintip ke dalam dan mendapati seluruh meja di sana sudah terisi penuh. Tak ada satu pun bangku yang kosong. Tapi sepertinya bukan itu yang dia cari, melainkan keberadaan Milo. Sayangnya, Ailey tidak menemukannya.


“Ehem. Kamu mau mengantre?” Mario mengagetkannya.


“Oh, tidak! Saya hanya ingin melihat-lihat. Hehehehe.” Jawab Ailey cengengesan.


“Jika tidak berniat mengantre, silahkan menepi. Jangan menghalangi antrean yang sudah ada! Lihat, di belakangmu sudah banyak yang tidak sabar ingin masuk.” Balas Mario dengan suara yang terdengar kesal.


“Oh, maaf. Saya menghalangi, ya. Silahkan dilanjutkan.” Kata Ailey sambil menyingkir dari sana dan berbalik ke arah Siti.


“Wah, kamu diomelin, ya? Hahaha.” Siti tertawa geli, “Jadi, ada apa di dalam sana sampai ramai begini?”


“Sama seperti kafe pada umumnya, semua terlihat biasa saja. Hanya orang-orang yang datang untuk makan dan mengobrol.” Jawab Ailey.


“Aku cek di instagramnya, tidak ada promo apa pun yang sedang berjalan. Apa yang membuatnya ramai, ya?” Tanya Siti penasaran.


Mereka berdua hanya bisa melihat antrean yang panjang dengan penuh tanda tanya. Bisa saja rasa makanannya enak sehingga ramai pengunjung. Tapi sayangnya mereka tidak bisa membuktikannya karena harga makanan di Engelskraft cukup menguras kantong. Alhasil, Ailey dan Siti memutuskan untuk kembali ke toko dengan rasa penasaran yang masih menggantung. Maklum, generasi FOMO merasa belum puas jika belum mencoba sesuatu yang sedang hype sesegera mungkin.


Lina terlihat memantau mereka berdua dari jauh. Sambil bertolak pinggang, dia menunggu dua pegawainya tersebut di depan toko. Siti yang menyadari hal itu langsung memberikan sinyal kepada Ailey dan bergegas kembali.


“Sudah puas jalan-jalannya?” Tanya Lina dengan sinis.


“Maaf, Bu. Tadi kami dari toilet sebentar.” Jawab Siti dengan panik.


“Jangan coba-coba membohongi saya, ya! Kalian tahu ‘kan sekarang masih jam kerja?” Gertak Lina. Ailey dan Siti hanya bisa menunduk pasrah. “Ailey, sebagai anak baru, kelakuanmu ini tidak bisa diterima. Jika kamu ingin lulus di masa percobaan 3 bulan ini, sebaiknya kamu patuh pada peraturan perusahaan.”


Ailey mengangkat dagunya dan menatap Lina tepat di kedua matanya. Dia ingin sekali membentaknya tapi dia sadar bahwa dirinya hanyalah pegawai yang masih butuh gaji. Ailey lalu kembali menundukkan kepalanya, “Maaf. Saya tidak akan mengulanginya lagi.”

__ADS_1


Lina yang saat itu merasa telah berhasil menaklukkan Ailey, membalikkan badannya dengan angkuh dan meninggalkan mereka berdua. Sebenarnya, Ailey hanya menurunkan egonya sedikit untuk mempertahankan pekerjaan di Abram. Tidak ada satu pun niat dalam dirinya untuk ditaklukkan oleh wanita arogan seperti Lina.


__ADS_2