
Sesampainya di rumah, Kevin menghampiri kedua orang tuanya yang sedang duduk menonton televisi. Mereka terlihat asyik menonton sinetron favorit yang telah diikuti sejak episode pertama. Kevin heran mengapa orang jaman dulu tidak bisa move on dari sinetron-sinetron toxic yang tidak memanusiakan manusia. Apalagi jumlah episode yang sudah menyentuh episode 1000 dengan jalan cerita yang semakin mengada-ada dan tak masuk diakal.
“Apakah Ailey sudah kamu antar dengan selamat ke rumahnya?” Tanya sang ayah menyadari kepulangan anaknya.
“Ayah tenang saja, aman. Hehehe. Ngomong-ngomong terima kasih, ya karena telah menyambut Ailey dengan baik di restoran tadi.” Ujar Kevin.
“Jangan salah paham! Bukan berarti ayah merestui kalian berdua.”
Kevin tertegun mendengarnya. Dia berusaha menelaah sikap ayahnya tersebut. Padahal pertemuan pertama antara orang tuanya dan Ailey berjalan baik. Padahal tidak ada yang salah saat makan malam tadi. Lantas, kenapa tiba-tiba ayah berkata demikian?
“Maksud Ayah bagaimana?” Tanya Kevin memastikan.
“Begini, Ailey adalah perempuan yang baik. Ayah sama sekali tidak meragukannya. Tapi kamu tahu, ‘kan betapa penting perjodohanmu dengan anak keluarga Marliani?” Lanjut ayah.
“Aku kira kita sudah sepakat untuk tidak membahas hal itu lagi. Aku sudah tidak mau mengungkitnya.” Kata Kevin kesal.
“Tidak apa-apa jika kamu membatalkan perjodohanmu. Asalkan kamu mendapat pengganti dengan status sosial yang lebih baik dari Lina Marliani.” Terangnya tanpa mempedulikan apa yang dirasakan Kevin.
Kevin berusaha menahan emosi di depan ayahnya. Wajahnya terlihat marah mendengar sang ayah yang masih ingin menjodohkannya hanya untuk mempertahankan status sosial. Rasanya dia ingin berkata kasar tetapi dia tidak bisa melakukannya pada ayahnya sendiri.
“Selain itu, saya tidak mau harga diri keluarga Abram tercoreng karena adanya perempuan pengidap HIV di dalam keluarga kita.” Katanya menegaskan.
Kevin terperanjat mendengar hal tersebut, “Ayah tahu dari mana?”
“Itu tidak penting. Jika kamu tidak mendapatkan pengganti yang lebih baik, saya sarankan kamu kembali pada Lina. Pikirkanlah baik-baik.” Katanya sambil meninggalkan ruang keluarga.
Suara speaker televisi terdengar jelas karena keheningan yang timbul setelah perdebatan tersebut. Kevin menundukkan kepalanya dengan tangan mengepal menghantam sofa yang didudukinya. Terlihat jelas kemarahan dari diri pria itu.
__ADS_1
Sang ibu yang merasa kasihan pada anaknya itu segera berpindah duduk di sebelahnya. Dia memeluk anaknya tersebut dengan hangat sambil membelai rambutnya yang hitam.
“Ibu tahu kamu sangat mencintai Ailey. Tapi, tidak ada salahnya berbakti pada ayahmu. Setidaknya, berikan dia kebahagiaan di penghujung usianya yang sudah tidak lama lagi.” Kata ibu dengan lembut.
“Ibu, aku juga ingin bahagia.” Ujar Kevin dengan suara bergetar.
“Bahagiakan ayahmu, nak. Dia sudah sangat menderita karena kanker yang memvonis hidupnya.” Ucap ibu sambil menitikkan air mata.
Kevin hanya bisa menyembunyikan tangisnya dalam kepedihan. Selama ini, dia sudah terlalu banyak mengorbankan hidupnya demi keluarga Abram. Ingin rasanya sekali saja dia mengambil jalannya sendiri. Namun, kondisi ayah yang divonis hanya bisa bertahan hidup selama 3 bulan lagi jelas tidak bisa dianggap sepele. Andai kanker usus tidak pernah diderita sang ayah, dia akan dengan tegas memberontak terhadap aturan yang mengikat hidupnya.
***
Pagi hari yang terik memantulkan panas ke dalam ruangan kerja Lina. Sambil memakan potongan buah segar yang dibelinya di minimarket, wanita itu mengecek setiap email yang masuk untuk persiapan kerjanya hari itu.
Terdengar suara ketukan dari pintu ruangannya. Terlihat Kevin membuka pintu dan masuk ke dalam ruang kerja Lina. Tanpa banyak bicara, dia menarik kursi dan duduk di depan Lina yang kebingungan melihat pria tersebut.
“Apa yang kamu katakan pada orang tuaku?” Tanya Kevin dengan tatapan lurus ke mata Lina.
“Apa maksudmu?”
“Jangan pura-pura bodoh! Kamu yang memberitahukan penyakit Ailey pada orang tuaku, bukan?!”
Lina meletakkan piring berisi potongan buah tersebut di atas meja. Dia mengelap bibirnya dengan tisu seolah sedang mengulur waktu untuk memberikan jawaban atas pertanyaan Kevin.
“Jawab aku!” Perintah Kevin tidak sabar.
“Iya, aku yang memberitahu mereka.” Kata Lina dengan santai.
__ADS_1
Napas Kevin terdengar tak beraturan. Amarah meluap dari dalam dirinya hingga naik ke ujung kepala. Rasanya dia ingin meledak dan memuntahkan lava amarah ke perempuan tersebut.
“Mengapa kamu melakukan hal itu?” Tanya Kevin.
“Apa aku salah memberitahukan kebenaran? Lagipula, cepat atau lambat mereka juga akan tahu siapa sebenarnya wanita yang merebutmu dariku.”
“Kamu sudah gila, ya! Kamu tidak berhak melakukan hal tersebut. Kalau pun mereka harus tahu kebenarannya, biarkan aku dan Ailey yang memberitahukannya!” Kevin terdengar kesal.
“Dari nada bicaramu, sepertinya orang tuamu tidak merestui hubungan kalian.” Ujarnya dengan senyuman puas.
“Berhenti ikut campur di hidupku! Kalau tidak…” Gertak Kevin.
Lina berdiri dari kursi kerjanya dan memasang muka masam. “Kalau tidak apa? Ingin memecatku? Belum puas dengan Surat Peringatan yang kamu berikan padaku waktu itu?”
“Di sini aku yang berkuasa. Aku bebas melakukan apa pun itu. Jangan lupa kamu berhadapan dengan CEO Abram!” Ucap Kevin penuh emosi sambil berdiri tegak di hadapannya hingga membuat kursi yang didudukinya bergeser dengan suara keras.
“Kamu juga jangan lupa bahwa hampir setengah dari saham Abram Corporation dimiliki oleh keluarga Marliani.” Balasnya.
Mereka berdua saling bertatapan dengan tajam. Keheningan menguasai ruangan selama beberapa detik seolah mereka sedang berperang menggunakan batin masing-masing. Sungguh ironis, dua orang yang pernah memadu kasih kini bagaikan musuh yang saling mencari kelemahan masing-masing. Terpancar jelas kepahitan bersarang di antara keduanya.
“Berbicara tentang kebenaran, kamu mau tahu kebenaran yang selama ini tidak pernah aku beritahukan padamu?” Lanjut Kevin dengan terengah-engah. “Aku tidak pernah menyukaimu. Adikmu, Lanny, bahkan jauh lebih baik dari dirimu.”
Kalimat Kevin mengakhiri perdebatan mereka berdua. Dia segera meninggalkan ruang kerja Lina tanpa membiarkannya membalas perkataan menyakitkan tersebut. Saking kesalnya, pria itu tidak menutup pintu ruangan sehingga semua orang dapat melihat ekspresi kesal dari muka Lina dan merasakan aura ketegangan yang terpancar dari dalam ruangan.
Lina masih berdiri terpaku. Selama ini dia sudah sadar bahwa hubungannya dengan CEO Abram tersebut hanya karena tujuan bisnis. Tetapi, dia tidak menyangka bahwa Kevin berani mengutarakan hal tersebut, apalagi Lina dibanding-bandingkan dengan adiknya sendiri. Harga dirinya tercabik-cabik untuk yang kesekian kali. Tak bisa terelakkan, pikiran jahat menari-nari di atas kepala wanita itu.
“Lihat saja, kau akan menyesal telah mempermalukanku. Jika kamu memang tidak bisa aku miliki, maka wanita lain juga tidak boleh memilikimu.” Gumam Lina dengan suara lirih.
__ADS_1