
Temaram bulan purnama menghiasi langit malam. Riuh pengunjung mall mulai redup terdengar. Mobil dan motor mulai memenuhi antrean pintu keluar. Ailey yang sedang berdiri di lobi mall terlihat gugup sambil memperhatikan sekitar. Tampaknya dia tidak nyaman atas ajakan pulang bosnya tadi pagi.
“Kamu yakin Pak Kevin akan mengantarmu pulang?” Tanya Siti yang berada di sebelahnya.
“Entahlah. Dia menyuruhku menunggu di lobi seusai bekerja.” Jawab Ailey.
“Aneh sekali. Tidak pernah sekali pun CEO kita mengantar pegawai toko pulang, lho. Apa jangan-jangan dia menyukaimu?” Goda Siti.
“Jangan bicara sembarangan! Bu Lina bisa membunuhku nanti.” Kata Ailey panik.
“Hehehe. Bisa saja ‘kan seperti drama-drama Korea. Seorang CEO jatuh hati pada karyawannya yang jelata.” Bisik Siti genit.
“Sebaiknya kamu pulang sana! Jangan membuatku tambah grogi begini!”
“Hmmm. Sepertinya ada pria lain yang juga sedang menunggumu.” Kata Siti sambil menunjuk ke belakang Ailey.
Ailey yang penasaran dengan perkataan Siti segera menoleh ke belakang. Tidak disangka, Milo tersenyum kepadanya sambil berjalan mendekat.
“Sudah mau pulang, ya?” Tanya Milo.
Siti yang menduga adanya sebuah potensi asmara menyikut lengan Ailey dengan keras. “Jadi ini pemilik Engelskraft yang pernah kamu ceritakan itu? Lumayan juga.”
“Sssst!” Ailey balas menyikut Siti untuk menghentikan kenakalannya.
“Ada apa, nih bisik-bisik?” Milo bertanya penasaran.
“Tidak ada apa-apa. Saya pulang dulu, ya. Salam kenal, Pak Milo.” Sahut Siti sambil meninggalkan mereka berdua dengan senyuman nakalnya.
“Siapa dia?” Tanya Milo.
“Teman kerjaku, Siti. Hehehe.” Jawab Ailey sambil menggaruk kepalanya karena salah tingkah.
“Kamu belum pulang?” Lanjut Milo bertanya.
“Eh, anu… itu…” Jawab Ailey terbata-bata.
__ADS_1
“Wah, kamu menunggu aku, ya? Tahu saja kalau aku hari ini ke kafe.” Jawab Milo penuh percaya diri.
“Hei, kamu itu selalu percaya diri sekali, ya!” Timpal Ailey.
“Kamu mau aku antar pulang?” Tanya Milo mengalihkan pembicaraan.
“Sebenarnya, aku…”
Belum sempat Ailey menjawab. Suara klakson mobil terdengar memanggilnya. Ailey yang kaget mendengarnya langsung teralihkan oleh suara nyaring tersebut.
“Hai, Ailey! Maaf menunggu lama. Yuk, saya antar!” Sahut Kevin dari dalam mobil mewahnya.
Kevin dan Milo saling beradu tatapan. Suasana malam itu terasa semakin dingin. Bagaikan dua predator yang berhadapan satu sama lain, rasa tak nyaman hinggap di tubuh Ailey.
“Anu, aku pulang dulu, ya Milo.” Kata Ailey perlahan.
“Oh, jadi kamu menunggu CEO Abram menjemputmu, ya? Padahal terbang denganku jauh lebih cepat daripada mobilnya itu.” Keluh Milo kesal.
“Jangan mulai lagi dengan cerita malaikatmu!”
Baru selangkah Ailey menuju mobil Kevin, Milo menggenggam pergelangan tangan Ailey untuk menahannya.
“Ailey pulang denganku.” Kata Milo tegas kepada Kevin.
Perkataan Milo tersebut terdengar seperti ancaman di telinga Kevin. Dengan kesal, Kevin keluar dari mobilnya dan menutup pintu mobil dengan cukup keras. Dia melenguh menunjukkan kekesalannya.
“Aku sudah membuat janji dengannya untuk mengantarnya pulang. Ayo, Ailey!” Balas Kevin sambil memegang tangan Ailey yang satunya.
Ailey yang berada di antara kedua pria itu terlihat kebingungan melihat tingkah mereka yang sedang memperebutkannya. Dia bisa merasakan ketegangan yang terjadi di antara Milo dan Kevin. Mereka saling bertatapan tajam tak bergeming sama sekali seakan sedang mempertahankan egonya masing-masing.
“Lepaskan tangannya, kau membuatnya kesakitan!” Tegur Kevin.
“Hei, kau juga menggenggamnya terlalu erat. Sungguh tidak sopan perlakuanmu terhadap karyawanmu sendiri.” Balas Milo.
“Kalian berdua ini kenapa, sih? Lepaskan tanganku! Sakit tahu!” Protes Ailey sambil menghentakkan kedua tangannya.
__ADS_1
“Maaf!” Seru Kevin dan Milo bersamaan seraya melepaskan genggaman masing-masing. Tampaknya mereka terlalu fokus berargumen hingga lupa mengatur kekuatan cengkeraman mereka berdua.
“Tidak sepantasnya kalian memperlakukan wanita seperti ini. Sungguh keterlaluan!” Protesnya, “Begini saja, aku sudah terlanjur mengiyakan tawaran Pak Kevin jadi aku akan pulang dengannya. Milo, sebaiknya kamu juga segera pulang.”
Kevin tampak puas mendengar jawaban Ailey. Dia melihat Milo dengan tatapan meremehkan. Gelagatnya benar-benar seperti anak kecil yang baru saja mengalahkan temannya dalam sebuah perlombaan. Milo yang menyadari maksud tatapan Kevin langsung membuang mukanya dan menoleh ke arah Ailey.
“Baiklah, kamu hati-hati di jalan. Jangan sampai dia memohon sesuatu kepadamu seperti saat dia memohon padaku untuk berkolaborasi dengan Engelskraft. Hal itu sangat mengganggu!” Sindir Milo dengan sengaja.
“Hei, hati-hati kalau berbicara!” Sahut Kevin yang mendengar omongan sinis tersebut.
“Sudah, kalian seperti anak kecil saja! Mudah-mudahan setelah kejadian malam ini, kerja sama Abram dan Engelskraft masih dapat berjalan dengan baik.” Ailey menghela napas sambil menggelengkan kepalanya.
Ponsel Kevin tiba-tiba berbunyi mengganggu pertengkaran kecil yang terjadi di antara mereka bertiga. Dia memberikan isyarat untuk mempersilahkannya mengangkat telepon tersebut.
“Kamu yakin pulang dengan bosmu?” Milo bertanya memastikan di tengah Kevin yang sedang menerima telepon.
“Aku sudah menolaknya tetapi dia memaksa untuk tetap mengantar. Bagaimana pun juga dia adalah CEO perusahaan tempatku bekerja, aku tidak enak bila menolaknya terus.” Jelas Ailey sambil berbisik.
“Pulang bersamaku akan jauh lebih menyenangkan dan tentunya cepat sampai di tujuan. Kamu yakin tidak ingin terbang denganku?” Milo kembali memastikan.
“Hentikan guyonan malaikatmu itu! Sama sekali tidak lucu.” Balas Ailey.
“Ailey, maaf tampaknya saya tidak bisa menemanimu pulang. Saya ada urusan penting. Sekali lagi saya minta maaf.” Ucap Kevin setelah menerima telepon penting tersebut.
“Oh, tidak apa-apa, Pak. Saya bisa pulang sendiri.” Jawab Ailey lega.
“Kalau begitu saya pergi dulu, ya. Kamu hati-hati di jalan.” Kata Kevin sambil memasuki mobil mewahnya dan berlalu dari hadapan Ailey.
“Pria macam apa itu membatalkan ajakannya sendiri kepada seorang wanita.” Gumam Milo terdengar kesal.
“Lebih baik begini, jadi aku tidak perlu canggung semobil dengannya. Aku pulang dulu, ya. Kamu juga pulang, sudah malam.” Kata Ailey.
“Kamu harus pulang denganku. Aku akan membuktikan padamu bahwa aku benar-benar seorang malaikat.” Balas Kevin dengan suara tegas sambil memperhatikan sekeliling untuk memastikan tidak ada orang lain selain mereka berdua.
“Mau sampai kapan kamu halu begitu, sih? Aku pulang sekarang! Silahkan kamu asyik dengan imajinasimu sendiri.” Timpal Ailey.
__ADS_1
Cahaya terang tiba-tiba memancar dari tubuh Milo. Cahaya yang sangat menyilaukan itu membuat Ailey tidak dapat melihat dengan jelas. Namun secara samar, dia mendengar suara kepakan sayap burung. Tapi suaranya berbeda, jauh lebih keras dari kepakan sayap burung biasanya. Lambat laun cahaya terang yang melingkupi Milo mulai meredup. Penglihatan Ailey mulai kembali dengan jelas. Di depannya, ia melihat Milo berdiri penuh wibawa dengan sayap putih kusam yang membentang megah. Pemandangan yang amat mempesona hingga membuat Ailey terpana dan tak bisa berkata apa-apa. Ternyata Milo benar-benar seorang malaikat.