
Kedua kaki Ailey melangkah dengan lemas menelusuri jalan menuju kosan. Mukanya tertunduk ke bawah sambil memperhatikan setiap langkah kaki yang diambilnya. Beberapa kali dia tertawa kecil sendiri saat mengingat perlakuan spesial yang diberikan oleh Kevin. Dengan hanya ditemani cahaya bulan yang mengintip dari balik langit malam, dia berjalan dengan sendu sambil sesekali mengusap matanya yang sembab.
“Manusia itu memang tempatnya kecewa.” Suara Milo terdengar di dekat perempuan itu.
Ailey menoleh ke arah datangnya suara dan melihat Milo sedang berdiri di depan tempat pembuangan sampah yang menjadi tempat pertemuan pertamanya dengan malaikat itu. Melihat wajah sedih dari perempuan yang dipujanya, Milo berjalan mendekat dengan sopan.
“Bagaimana pesta pertunangannya?” Tanya Milo.
“Dari mana kamu tahu?” Ailey balik bertanya.
“Apa yang tidak aku tahu tentang dirimu? Lagipula, sebenarnya aku juga diundang oleh Kevin tapi aku memang tidak mau datang.” Jawabnya.
“Kenapa?”
“Aku tidak ingin melihat ekspresimu yang murung seperti yang kulihat saat ini.” Kata Milo.
Ailey terdiam sejenak. Dia hanya menatap malaikat itu yang berdiri di depannya lalu menjawab, “Murung? Buat apa?”
Milo menghela napas dan menatap wanita itu dengan tulus. Suasana hening malam hari memperjelas jawaban yang tak terucapkan. Milo mengerti betul dengan apa yang dirasakan oleh Ailey meskipun wanita itu menyangkalnya.
“Kamu menyukai CEO itu, ‘kan?” Tanya Milo to the point.
“Suka? Aku tidak berani menyukai seorang laki-laki, apalagi sekelas CEO Abram.” Jawabnya.
“Kenapa kamu harus menyangkal jika memang kamu merasakannya?”
“Kamu tidak mengerti. Aku hanya tidak percaya dengan laki-laki.” Sambung Ailey.
“Karena kasus pemerkosaan itu?” Kata Milo.
Ailey terkejut mendengar hal tersebut keluar dari mulut sang malaikat. Dia bahkan tidak pernah menceritakan hal buruk itu padanya.
__ADS_1
“Oh, iya kamu malaikat. Kamu pasti tahu apa yang menimpaku tanpa aku memberitahu.” Timpal Ailey. “Karena kamu sudah mengerti, sepertinya aku tidak perlu menjelaskan apa pun lagi.”
Milo menatap wajah Ailey dengan sedih. Dia ingin mengatakan sesuatu yang mengganjal selama ini kepadanya terkait insiden kala itu, namun dia tak sanggup mengeluarkan sepatah kata pun. Sebenarnya, apa yang masih disembunyikannya pada Ailey?
“Baiklah. Aku tidak akan mengungkit kasus itu lagi. Jika kamu sudah tidak percaya dengan laki-laki, maukah kamu mempercayaiku yang malaikat ini?” Kata Milo dengan lembut.
“Mengapa tidak? Selama kamu bukan manusia, aku rasa aku bisa mempercayaimu sepenuhnya.” Jawab Ailey sambil menyunggingkan senyuman di bibirnya.
Milo membalasnya dengan senyuman bahagia. Cahaya berpendar di sekeliling tubuhnya dan memberikan terang pada malam yang kelam. Sekali lagi, ia memperlihatkan sayap megahnya yang kusam pada Ailey dan mengepakkannya beberapa kali.
“Karena kamu telah menunjukkan senyuman manis itu, aku akan memberikan sebuah hadiah padamu.” Katanya sambil mengulurkan tangan.
Tanpa ragu, Ailey menyambut tangan Milo. Dengan cepat, malaikat itu menarik dan memeluknya seperti saat pertama kali terbang bersama Ailey. Wanita itu terkejut, tapi kali ini dia tidak protes karena dia tahu bahwa sang malaikat akan membawanya terbang. Ailey memejamkan mata dan merasakan tubuhnya perlahan-lahan menjadi ringan. Hembusan angin malam semakin terasa di pipinya.
***
Mereka berdua melayang-layang di langit malam. Gemerlap lampu menghiasi permukaan dengan cantiknya. Tenang sekali, seakan semua beban di bumi lenyap begitu saja saat kaki tidak menapak tanah.
Ailey membuka matanya perlahan. Dia melihat ke bawah dan menemukan cahaya lampu yang tersebar dengan begitu cantiknya. Tetapi dia menyadari bahwa pemandangan ini berbeda dari Jakarta biasanya.
“Indah sekali, ini dimana?” Tanya Ailey.
“Jangan lihat ke bawah! Lihatlah yang ada di depanmu.” Suara Milo masuk ke dalam telinga Ailey dengan sopan.
Begitu terkejutnya Ailey melihat apa yang ada di depannya. Sebuah menara berwarna merah dengan cahaya yang sangat cantik menjulang dari permukaan tanah dengan ujungnya tepat berada di depan mata Ailey. Arsitektur ini tidak asing, dia sering melihatnya di majalah atau pun televisi.
“Tokyo…Tower?” Tanya Ailey dengan ragu.
“Tepat sekali!” Seru Milo sambil mengedipkan matanya.
“Serius? Kita di Jepang? Cepat sekali, padahal aku baru memejamkan mata selama beberapa menit!” Teriak Ailey tidak percaya.
__ADS_1
“Bagaimana? Kamu suka?”
Ailey mendongak dan melihat rasa bangga di wajah Milo. Wanita itu mengangguk dengan bersemangat dan memeluk malaikat itu semakin erat.
“Indah sekali! Aku belum pernah sekali pun ke luar negeri dan kamu langsung membawaku ke tempat ini, sungguh aku masih belum percaya!” Seru Ailey bersemangat.
“Baguslah jika kamu senang. Aku jauh lebih berguna dari laki-laki mana pun di dunia ini, bukan?” Kata malaikat itu puas.
“Memangnya malaikat berjenis kelamin? Hahaha.” Timpal Ailey.
“Setidaknya aku hadir di hadapanmu dengan wujud laki-laki.” Balas Milo agak kesal.
Mereka berdua menapakkan kaki di salah satu kerangka menara tersebut dan duduk dengan manis sambil memperhatikan pemandangan di sekitar. Decak kagum memenuhi tubuh Ailey melihat keindahan yang ada di depannya. Sungguh tidak pernah terpikir olehnya dapat pergi ke Jepang.
“Milo, kapan-kapan bawa aku ke negara yang lain juga, ya. Dengan sayap kokohmu itu, aku bisa berjalan-jalan dengan gratis mengelilingi dunia. Sungguh menakjubkan!” Ujar Ailey.
“Hmm, mari kita simpan perbincangan ini lain waktu. Aku akan menyimpan sayapku sampai kamu yakin ingin pergi kemana.” Kata Milo.
“Mengapa begitu? Kita bisa jadwalkan satu hari untuk satu destinasi negara.” Ucapnya.
Milo terdiam. Matanya menatap bulatnya bulan yang ada di depannya. Hening, hanya suara angin yang terdengar.
“Jika aku menunjukkan sayapku lagi untuk yang ketiga kalinya, itu tandanya aku akan lenyap dari hadapanmu.” Suara Milo terdengar lirih.
Ailey yang duduk bersebelahan dengannya terkejut tanpa mengeluarkan suara apa pun. Dia melihat Milo memandangi bulan dengan tatapan yang sayu. Namun, ada rasa bahagia dari kedua mata malaikat itu yang menerawang.
“Selama misiku berjalan, aku hanya diperbolehkan memperlihatkan wujud malaikatku pada manusia sebanyak tiga kali. Itu adalah batas toleransiku. Maka itu, aku ingin kepakan sayap berikutnya dapat aku tunjukkan begitu misiku selesai. Saat itu terjadi, aku akan kembali ke rumah Tuan dan menghilang dari dunia manusia.” Lanjutnya.
Kedua mata Ailey berkaca-kaca mendengar penjelasan sang malaikat. Entah sejak kapan dia merasa terikat takdir dengan Milo sehingga kalimat tadi membuat hatinya sedih. Ucapan barusan mengingatkan Ailey bahwa manusia dan malaikat berada di dunia yang berbeda. Dia menggenggam tangan Milo dan membuat malaikat itu menoleh ke arah Ailey.
“Kalau begitu, aku tidak akan membuatmu menunjukkan sayapmu lagi setelah ini.” Bisik Ailey.
__ADS_1
Suasana manis di Tokyo Tower dengan siraman cahaya bulan menggerakkan hati Ailey. Dia mendekatkan wajahnya dan mencium pipi Milo. Hal itu membuat wajah sang malaikat memerah karena kaget sekaligus malu. Beberapa menit lagi, kedua makhluk tersebut menghabiskan waktunya di sana sebelum akhirnya terbang untuk pulang.